Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Rindu


__ADS_3

"Zack, kita kan masih bisa mengunjunginya ke sana?" Chris mengusap pucuk kepala anak satu-satunya itu, berusaha menghibur.


"Besok bisa Pa?" tanya Zack yang membuat Chris langsung tertawa.


"Apa sebegitu rindunya kamu pada adikmu?" Chris mengalungkan pelukan dari sisi yang satunya.


Zack mengangguk.


"Bagaimana kalau suatu hari Lydi menikah, mmh?" tanya Chris ingin tahu.


Zack menengadah menatap ayahnya. Ia terlihat bingung.


"Tidak ada yang abadi di dunia ini Zack. Kamu harus ikhlas demi kebahagiaan Lydi. Kini Lydi telah bersama orang tuanya. Bukankah itu yang terbaik untuk Lydi? Bukankah itu yang di inginkannya? Mempunyai orang tua yang utuh bersamanya."


Zack telah berhenti menangis, tapi ia belum puas. "Tidak bisakah kita pindah ke Amerika Pa?"


Kembali Chris tertawa. Ia memeluk Zack erat. "Kalau kau ikhlas, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik lagi."


"Tapi aku hanya mau Lydi Pa, sepi gak ada Lydi," rengek Zack.


"Kan kamu punya keponakan. Sekarang mau dua dari Kakakmu Aska. Satu Runi, entah lagi yang satunya. Apa kamu masih merasa sendirian?"


Zack berpikir sejenak. "Tapi aku tidak bisa bertemu Runi setiap hari Pa."


"Papa rasa boleh kok, kamu datangi rumahnya. Pasti diizinkan oleh Kenzo."


Zack ragu, karena sejak bertemu Runi, ia belum sekali pun berusaha mengenalnya karena perhatiannya hanya pada Lydia. Pikirannya juga masih pada gadis itu.


"Coba Zack, kau mengenal ponakanmu. Dia lucu sekali Zack, sangat lucu." Pelan-pelan Chris menghapus air mata anaknya itu dengan penuh kasih sayang.


"Eh ... kalau aku ke sana, Papa bisa temani Zack Pa?" tanya pemuda itu ingin tahu.


"Bagaimana kalau sekarang, mmh? Mumpung Papa ada di rumah."


Zack menatap Ayah Ibunya. "Ayo."


"Ganti dulu baju sekolahnya, Zack," ucap Reina mulai tersenyum.


"Yup!" Zack mengambil tas ranselnya di lantai dan pergi meninggalkan kamar orang tuanya. Ia naik ke lantai dua.


------------+++----------


Leka baru saja menyelesaikan makan siangnya yang telat karena mengurus pelanggan restoran hingga pukul 2 siang. Ia hendak pulang dan memperhatikan Runi yang tidur gelisah di dalam kereta bayinya. Wanita itu segera menghampirinya.


Tiba-tiba Runi menangis, dan terbangun. "Pa-pa ...."


Leka segera menggendongnya. "Oh, Sayang. Kamu rindu Papa ya Nak? Mmh ...."


Runi menatap Ibunya. "Pa-pa ...." Air matanya berlinang.


"Iya Nak, Bunda juga rindu Papa." Mata Leka berkaca-kaca. "Yuk, sekarang kita pulang dulu ya Nak ya?"


Leka masuk ke dalam mobil dan kereta bayi didorong Baby Sitter Runi, lalu dimasukkan ke dalam bagasi oleh Bodyguard Leka. Mobil pun bergerak pulang.


Belum lama sampai di rumah, pembantu Leka memberi tahu kedatangan Kakek dan Nenek Runi yang datang ke rumah. Leka kembali turun sambil menggendong Runi diikuti Ani.


"Oh, kami baru saja pulang dari restoran," ucap Leka sambil melangkah menuruni anak tangga.


"Oh, begitu? Masih menjalankan restoran juga?" tanya Reina ramah.


Leka segera mendatangi Reina dan mencium punggung tangannya. Juga pada Chris. "Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


"Eh, siapa ini?" tanya Reina pada Runi. Wanita itu segera mengambil Runi.

__ADS_1


"Nenek," gadis kecil itu memanggil namanya.


"Kalau itu?" Reina menunjuk Chris.


"Akek."


"Kalau itu?" Wanita itu kini menunjuk Zack.


Runi terlihat bingung yang membuat Reina tertawa kecil.


"Itu Om. Om Zack," Reina memberi tahu.


"Kok aku jadi tua Ma?" Zack protes.


"Ya kan ini anak Kakakmu Zack."


Zack mencoba menyentuh gadis kecil itu dengan jarinya. Runi bergeming dan menatap Zack dengan polosnya. Tiba-tiba ia menggenggam jari Zack. Pemuda itu tersenyum senang. "Lucu Ma."


"Duduk dulu Ma, Pa." Leka menyilahkan mereka duduk di sofa.


Zack langsung duduk di samping Reina hingga Chris terpinggirkan. Pria itu geleng-geleng kepala melihat kelakuan Zack yang kini pindah perhatian. Mudah-mudahan ini bisa mengurangi rasa sedihnya kehilangan Lydi, batin Chris.


"Zack? Kamu datang Zack?" Aiko berlari-lari dari lantai atas menuruni anak tangga. Ia sangat senang Zack datang berkunjung ke rumahnya.


Zack hanya melihat Aiko sekilas, kemudian sibuk memperhatikan keponakan kecilnya itu.


------------+++-----------


Tama dan Mei masuk ke dalam mobil mewah itu dan menutup pintu.


"Aduuh ... capek banget Mei! Malas rasanya pergi ke kantor, mana gak ada yang kenal lagi," ucap Tama menyandarkan punggungnya.


"Lho, memangnya sebelumnya gimana?" Mei menoleh ke belakang.


"Ini hari kedua aku ke kantor. Sumpah, rasanya masuk ke freezer. Tampangnya jutek semua, oi!" Tama menggerutu.


"Iya. Ngak sinis tapi gimana ya?" Pemuda itu menyentuh dagunya. "Kayak lu kesel tapi di manis-manisin. Senyumnya gak ikhlas."


"Tapi kan setidaknya tersenyum."


"Aduuh, lu gak ngerti sih! Berasa gitu kayak mereka terpaksa melakukannya. Bisik-bisik. Diem. Heh!" Tama mengangkat bahunya tinggi-tinggi. "Kalo diem, kek kuburan." Kembali ia mengangkat bahunya, ngeri.


Mei tertawa. "Masa sih?"


"Iya. mulut mereka kayak kawat di lengkungin dikit." Tama mencontohkan dengan menarik ujung mulutnya.


Mei kembali tertawa. Entah kenapa, Tama tiba-tiba bahagia melihat Mei tertawa. Aku pikir susah membuatnya tertawa, ternyata ....


Mobil pun bergerak keluar dari pelataran parkir sekolah.


Seorang pemuda tampan memperhatikan mobil Tama yang keluar dari lingkungan sekolah sebelum ia sendiri masuk ke dalam mobilnya. Iapun juga akhirnya menyetir mobil mewahnya keluar dari lingkungan sekolah.


"Papa!" Tama yang sampai di rumah, melihat Chris dan Reina di ruang tamu. Juga Zack. Ia berlari menghambur mendatangi mereka. Ia memeluk Chris. "Papa ...."


Mei mendekat pelan ke arah mereka.


"Kamu kenapa, hah? Masih teringat kedua orang tuamu?" Chris melihat wajah Tama lekat. Walaupun setelah Mariko mengambil alih Tama di usia 4 tahun, tapi Chris masih sering mengunjungi Tama atau pemuda itu mencarinya hingga hubungan mereka sangat dekat. Tama merasa Chris dan Reina orang tua keduanya dan mereka merasa Tama adalah anaknya.


"Itu juga," jawab pemuda itu sedikit merajuk. Ia selalu merasa ia anak kesayangan Chris karena apapun yang diminta selalu dikabulkan Chris.


"Juga?"


"Iya. Kakek memberikan perusahaan miliknya untuk aku urus karena Om Hadi tiba-tiba sakit. Dia kena stroke."


"Oh, aku baru tahu kabar itu. Lalu?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu bagaimana mengurusnya Papa!" ungkapnya dengan nada kesal. "Aku kan masih sekolah. SMA lagi."


Chris tertawa.


"Ini bukan becandaan ya Pa?!!" Kembali kesal.


"Iya, Papa tahu." Chris mengakhiri tawanya. Ia menarik Tama duduk di sofa. "Yang aku tahu, Kakekmu itu punya perusahaan konstruksi yang cukup besar. Seharusnya perusahaan besar punya managemen terkendali sehingga perusahaan bisa berjalan baik ada atau tidak ada pemimpin di sana. Nah, untuk memulainya, cek dulu keuangannya, bermasalah atau tidak. Baru setelah itu mengecek proyek yang berjalan."


Tama memejamkan mata sebentar dan menghela napas, ia kemudian bicara. "Papa, apa lagi itu. Aku gak ngerti sama sekali apa yang Papa ucapin."


Chris hanya tersenyum lebar sambil menepuk-nepuk bahu Tama. "Papa hampir tak percaya, kamu mulai beranjak dewasa."


"Papa ...." Tama kembali merajuk karena ia tidak mengerti apa yang di katakan Chris.


"Ya sudah, kamu kerjakan saja apa yang bisa kamu lakukan sementara nanti Papa akan bantu carikan orang untuk mengaudit keuangan perusahaan."


"Gitu dong. Kalo itu aku ngerti Pa!" Wajah Tama kembali ceria.


Chris menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang Tama masih terlalu kecil untuk bisa mengurusi perusahaan besar seperti milik Kakeknya tapi bukan tidak mungkin kalau ia bisa melewati ini semua, ia bisa menjadi orang sukses seperti Kakaknya Kenzo yang memang diwarisi oleh almarhum ayahnya kekayaan yang sangat berlimpah dan dengan bantuan Arya, Ayah Angkatnya, Kenzo bisa menjalankan perusahaan milik Ayahnya hingga kini. Sayang, Arya sudah tiada. Hanya ia yang bisa membantu membentuknya menjadi pemimpin di usia muda tapi harus dengan kerja keras. Soal kerja keras inilah yang masih diragukan Chris karena Tama anak tengah yang selalu terlindungi hingga tidak pernah harus kerja keras melakukan apapun jadi kemampuannya belum terlihat. Inilah yang ingin dilihat Chris dari Tama. Kemampuan yang sebenarnya dari pemuda itu karena ia berasal dari orang tua yang pintar berbisnis.


Tama dan Kenzo punya Ayah yang sama, Kenji Aratami. Semasa hidupnya, ia adalah Ketua Parlemen Jepang paling berpengaruh karena punya banyak perusahaan dan kaya raya. Ia terkenal dengan manusia tangan besi sehingga banyak juga yang membencinya karena ia banyak melakukan tindak kekeras di hampir semua pekerjaannya, hingga ajal menjemput dibunuh oleh seorang Yakuza bernama Koshino Hiro. "Eh, ini siapa?" tanya Chris pada Tama. Ia baru menyadari keberadaan Mei.


"Oh, ini bodyguard-ku."


"Bodyguard?"


Reina dan Zack yang asyik bermain dengan Runi menoleh. Penampilan Mei yang kurus dan sederhana membuat mereka hampir tak percaya kalau ia seorang bodyguard.


"Yang benar?" Chris pun tak percaya dengan matanya. "Wanita jaman sekarang ya?"


"Kenapa Pa?"


"Bodyguard ternyata tak harus seram ya?"


Tama tertawa kecil. "Oh, ya Pa. Aku harus berangkat kerja. Jadi bener Papa bantuin lo Pa, Tama gak ngerti." Pemuda itu beranjak berdiri.


"Iya, telepon Papa aja kapan kamu butuh. Papa siap bantu."


"Ya udah." Tama beralih ke Mei. "Yuk Mei kita ganti baju dulu."


Mereka berdua menaiki tangga.


Chris menatap Leka. "Bodyguard itu tinggal di sini?" tanyanya heran.


"Oh, iya. Kata Tama, biar mudah karena itu ia memasukkan Mei sekolah di sekolah yang sama dengannya. Katanya, Bodyguard harus mengikuti dia ke mana-mana."


"Ya ngak perlu harus mengikutinya ke sekolah juga karena di sekolah tidak ada yang berusaha mencelakainya kan?"


"Mungkin trauma, karena kemarin dia hampir dirampok."


"Oya? Kapan?" Chris terkejut.


"Hari Sabtu sore. Dahinya sempat terluka dan sudah dijahit. Perbannya sudah dibuka jadi tidak terlihat. Kebetulan yang menolongnya adalah Mei."


"Mmh ... beruntung juga Tama bertemu Mei."


Tak lama Tama turun dengan berpakaian rapi. Juga Mei. Dua orang anak manusia yang masih remaja dipaksa dewasa, tapi Chris merasa lega karena Mei mendampingi Tama.


"Pergi dulu Pa!"


Mei menunduk dengan sopan.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."

__ADS_1


Aiko mengambil Runi dari pangkuan Reina. Ia membawanya duduk di sampingnya. Dengan sendirinya Zack mengikuti Aiko dan duduk di samping Runi. Gadis kecil itu sepertinya menikmati perhatian kedua orang itu tapi yang lebih senang lagi adalah Aiko karena Runi, ia bisa duduk berdekatan dengan Zack.


__ADS_2