Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Bandara


__ADS_3

"Tapi di KTP Bilal Archie kok," sahut Tama bingung.


"KTP?" tanya Arya.


"Di klinik yang memeriksa Mei, orang yang membawa Mei, dia meninggalkan potokopi KTPnya."


"Potokopi KTP?"


"Tapi katanya fotonya gak jelas." Tama mengerut dahi.


"Nah, bisa jadi itu bukan fotokopi KTPnya," Kenzo ikut bicara.


"Jadi itu Tristan?"


"Tristan? Sepertinya pernah dengar nama itu, tapi di mana ya?" Leka mengerut kening. "Tristan itu siapa?"


"Tristan itu temen sekolahku, tapi ternyata dia polisi yang menyamar," Tama bercerita.


"Oh, begitu," Arya baru mengetahuinya.


"Teman sekolah?" Leka berusaha fokus. "Ah, pantas saja!" Ia sampai berdiri dari duduknya karena mengingat sesuatu yang membuat lainnya menengok padanya. "Aku baru ingat!"


"Ingat apa?" tanya Kenzo heran. Tidak biasanya Leka seperti ini.


"Pantas saja aku kok rasanya pernah lihat pria itu di mana ... gitu."


"Di mana?"


"Di rumah ini."


"Di rumah ini?"


"Iya, waktu itu ada yang ngebel rumah malam-malam, terus Mei lari ke bawah, katanya ada temennya tapi aku lihat cowok. Kalau gak salah namanya Tristan." Leka kini mengingatnya. Saat itu ia keluar kamar karena mendengar bel berbunyi, melihat sebentar tamu Mei lalu masuk kembali ke dalam kamar. "Iya, Tristan, karena Mei sempat menyebut namanya saat ia membuka pintu. Iya, cowok itu ganteng."


Kenzo tersenyum tapi Tama cemberut.


"Jadi pria yang memegang terus tangan Istriku saat perawatan rupanya dia. Aku udah curiga saat Suster itu cerita begitu tapi mendengar KTPnya beda jadi ragu-ragu. Ah, sialan! Tristan ingin mengelabui kita dengan fotokopi palsu itu. Gak ngaruh! Ada saksinya kok di pasar itu," ujar pemuda itu kesal.


"Kamu yakin, Leka, yang kamu lihat waktu itu Tristan?" Kenzo mencoba menyakinkan.


"Iya, karena gantengnya itu aku gak lupa."


Kenzo malah tertawa. Ia tidak cemburu tapi malah menggodanya. "Lalu suamimu apa?" tanyanya sambil kembali tersenyum.


"Kalau Suamiku, walau gak seganteng dia tapi yang paling aku ingin lihat setiap hari." Leka mendatangi sang suami dan memeluk lehernya dari belakang.


Arya hanya tersenyum melihat kemesraan mereka berdua sampai lupa dengan mertuanya. Arya berdehem.


Segera Leka melepas pelukannya pada suami dengan wajah sedikit memerah karena ia baru menyadari keberadaan Arya. Ia menganggukkan kepala pada Arya dan kembali duduk.


"Tapi kalau itu benar Tristan, bagaimana caranya aku mendapatkan Mei kembali, sebab Tristan juga berpangkat tinggi di kepolisian. Apa bisa kita laporkan dia pada atasannya?" Tama bertanya-tanya.


"Tristan itu, siapa nama lengkapnya?" tanya Arya. "Dia harus disiplin karena kepolisian mengandalkan peraturan dan ia telah merusak nama baik polisi, dia pasti kena hukuman karena melanggar peraturan."


"Namanya Tristan Kahar Baskara,"


"Baskara?" Arya terkejut. "Dia bukan anaknya Jendral Asrul Baskara yang terkenal itu kan?"


"Gak tau Yah, mungkin. Kenapa?"


"Wah, itu sulit, kalau Tristan itu ternyata anak Jendral Asrul, kita tidak bisa sembarangan menuduh tanpa bukti, Tama. Dia bukan orang sembarangan karena ayahnya tangan kanan Presiden, dan kalau tuduhan kita tidak terbukti, bisa-bisa kita malah yang ditangkap polisi karena menyebarkan berita bohong."


"Tapi Yah, Leka bisa jadi saksi karena dia lihat Tristan membawa Mei. Orang di Klinik itu juga bisa," Tama semakin kesal dan frustasi karena pencarian Istrinya malah makin sulit padahal penjahatnya sudah di depan mata.


"Tristan bisa saja menyembunyikan Mei di tempat lain jadi kita tidak bisa menangkapnya kecuali kita tahu tempat persembunyiannya."


"Jadi ... bagaimana Yah?" Tama hampir-hampir mau menangis.


"Coba cari di internet tentang Asrul Baskara."


Kenzo mencoba mengeceknya di internet. "Iya Yah. Ada fotonya dia sama anaknya dan itu memang Tristan." Ia memperlihatkan foto itu pada Istrinya. "Cowok ini kan yang kamu lihat tadi pagi?"

__ADS_1


"Iya betul," ucap Leka.


"Kenapa dia masih mengejar Mei setelah sekian lama, aku gak ngerti. Padahal aku dan Mei sudah menikah. Aku takut terjadi apa-apa dengan Mei dan calon anak kami karena kata Suster yang di klinik, walaupun janinnya selamat tapi rawan keguguran." Tama menitikkan air mata karena khawatir.


Kenzo mendatanginya dan mengusap kepala adiknya.


"Kurangi sifat cengengmu itu Tama, kamu kan laki-laki." Arya mengingatkan.


"Karena khawatir Yah," Tama berusaha menahan tangisnya tapi tak bisa. Sehari-hari ia belum pernah berpisah dari Mei selama ini.


Arya diam sejenak. "Mungkin kita bisa minta tolong Papamu Tama. Dia banyak kenal penjabat. Mungkin saja dia kenal Jendral itu." Ia mulai menelepon. "Halo."


------+++------


Mobil Tristan akhirnya memasuki area Bandara Angkatan Udara. Bandara khusus untuk para tentara dan anggota kepolisian dan Tristan mendapat fasilitas karena akan pergi dinas ke Kalimantan.


Pria itu memarkir mobilnya dekat dengan pesawat yang akan membawa mereka pergi. Ia segera turun dengan langkah memutar mendatangi Mei.


Baru saja ia membungkuk membuka seatbelt gadis itu, Mei menarik baju Tristan dan kemudian menghempaskan tubuh pria itu ke langit-langit mobil berulang kali hingga kepala pria itu juga ikut terantuk berkali-kali. "Ahh ... ah ... aah ... Mei! Aduhh!"


Mei menghempas pria itu ke trotoar.


"Ahh!"


Ada beberapa orang anak buah Tristan yang melihat kejadian itu mendekati mereka.


Tristan benar-benar marah. "Tangkap dia!"


Dibutuhkan 3 orang untuk meringkus gadis itu karena dalam keadaan begitu pun Mei masih bisa melawan.


"Gendong dia. Hati-hati! Dia sedang hamil," Tristan memperingatkan.


3 orang itu menggotong Mei. Ada yang menggendong kakinya, tubuhnya lalu tangannya.


"Tristan!" teriak Mei kesal karena berhasil di kalahkan.


Tristan yang baru saja berdiri, mengusap belakang kepalanya yang terbentur tadi. Kepalanya terasa pening. Kenapa aku bisa jatuh cinta dengan singa betina seperti dia? Hah ... Ia menghela napas pelan lalu mendekati Mei. "Mei, tolong, jangan begini. Kalau kau terus melawanku, kau bisa kehilangan bayimu."


"Bawa dia ke pesawat!"


"Siap!" ucap ketiga perwira itu. Mereka kemudian secara bersama-sama membawa gadis itu ke pesawat, sedang Tristan, ia mengambil kopernya di mobil.


Tak jauh dari situ, di sebuah hanggar pesawat, seseorang mengintip dan syok. Dia adalah Yogi, teman sekolah Mei dan Tama. Ternyata ia kebetulan mengantar Ayahnya yang seorang pilot pesawat. Ia berlari mendatangi Ayahnya di dalam hanggar yang sedang bersiap-siap akan berangkat. "Pa, nanti Papa akan mengantar pesawat yang mana?"


"Yang di depan itu."


"Yang bener?"


Pria itu mengerut kening menatap anaknya. "Kenapa?"


"Oh, gak papa."


Pria itu kemudian melangkah ke luar hanggar.


Yogi mengikutinya. "Papa pergi ke mana?"


"Tarakan, Kalimantan. Kalau gak ada masalah, Papa akan pulang nanti malam."


"Papa ngantar siapa?"


"Papa nganterin yang mau dinas. Kenapa? Kok tumben tanya-tanya?"


"Eh, gak papa Pa."


"Sudah kamu pulang saja, sebentar lagi Papa berangkat."


"Iya Pa."


Yogi tak habis pikir. Jelas-jelas ia melihat Mei, teman sekolahnya dipaksa masuk ke dalam pesawat dengan diringkus seperti itu, pasti ada hal yang sedang disembunyikan sedang Papanya saat ditanya sepertinya tidak tahu apa yang terjadi. Ia harus bertanya pada orang tua Mei sebelum memastikan apa yang dilihatnya. Ia menghubungi wali kelasnya.


Sementara itu, Arya sedang menerangkan pada Chris lewat telepon, apa yang terjadi dengan Mei dan pria bule itu cukup syok.

__ADS_1


"Apa kamu yakin Arya, anak Asrul Baskara yang menculik Mei?" Chris berusaha memastikan.


"Leka yang melihat sendiri Da, Tristan menggendong Mei yang pingsan di jalan masuk mobilnya. Motifnya, ya tidak jauh-jauh dari persoalan asmara. Dia memang suka dengan Mei. Dulu saat Tama aku larang menikah dengan Mei, pria itu datang melamar Mei langsung pada Ayah Mei, jadi aku bisa memastikan bahwa ia masih tidak rela Mei menikah dengan Tama. Aku harap aku tidak salah sangka."


"Ya, soalnya bisa saja kan setelah dibawa ke Klinik, Mei dibebaskan."


"Tapi menurut orang Klinik, Tristan membawanya dan mengaku suaminya."


"Tapi kenapa Mei mendukung sandiwaranya?"


"Menurut orang Klinik, Mei datang dalam keadaan pingsan dan saat ia siuman dia berada dalam keadaan lemah. Bahkan dokter menyarankan ia bed rest karena kondisinya yang rawan keguguran."


"Mmh ... ini sulit. Aku berharap yang terbaik tapi ini masalah penculikan. Tama harus siap dengan yang terburuk. Misalnya Mei keguguran. Semoga ini tidak terjadi. Aku akan coba bicara dengan Asrul soal itu. Aku memang tak begitu dekat dengannya tapi aku mengenalnya dulu saat ia menolongku mencari Reina di Padang. Sekarang posisinya semakin diperhitungkan karena jadi tangan kanan Presiden. Orangnya sangat karismatik, aku akan coba bicara padanya. Selain itu, orang tua Mei harus tahu karena kalau terjadi sesuatu, kita bisa disalahkan orang tuanya karena kita dari awal tidak memberi tahu mereka. Doakan saja kita bisa menyelamatkan Mei."


"Aku bergantung padamu Da."


"Mmh."


Telepon ditutup.


Tiba-tiba Mariko datang sambil membawa hp-nya yang masih diletakkan di telinga. Ia segera menarik dan mematikannya. "Aku dapat kabar dari salah seorang murid di sekolah Tama yang melihat Mei dibawa ke bandara Angkatan Laut. Mereka membawa Mei naik pesawat."


"Ke mana?" Tama langsung berdiri dari duduknya.


"Tarakan, Kalimantan."


"Ayah!" Tama menoleh pada Arya.


"Kita harus sabar, Tama. Biar Papamu bernegosiasi dengan Jendral itu. Sementara itu kamu harus bicara dengan orang tua Mei."


"Ayah, bagaimana caranya?" Tama kebingungan.


"Kau harus melakukannya Tama. Kau harus memberi tahu mereka. Jangan sampai mereka menyalahkan kita karena tidak memberi tahu mereka."


Tama menghela napas. Pikirannya semakin kalut.


--------+++-------


"Halo Pak Asrul, apa kabar? Apa Bapak masih ingat dengan saya?"


Pria itu tertawa. "Siapa yang tidak ingat dengan Anda Pak? Media saja sampai keluar negeri mengingat Anda. Christian Jhonson, pemilik salah satu TV terbesar di Amerika yang kini tinggal di Indonesia."


"Ah, jangan berlebihan seperti itu Pak. Hanya lewat keberuntungan saja saya memilikinya."


"Rasanya pasti Anda melewati jalan berliku hingga bisa memiliki segalanya Pak."


"Tidak sehebat perjuangan Bapak yang akhirnya bisa jadi kepercayaan Presiden, kan ya?"


Mereka tertawa.


"Ah, itu terlampau berlebihan karena kami kebetulan belakangan akrab saja," Jendral itu menjawabnya dengan kerendahan hati.


"Aku dengar anakmu ada yang mengikuti jejakmu ya? Pasti kau bangga."


"Oh, ya. Tristan. Dia anak satu-satunya. Karena berprestasi, jabatannya terus saja naik hingga ke posisi sekarang. Tentu saja aku sebagai orang tua sangat bangga padanya."


Memang basa basinya terlihat panjang tapi Chris harus melakukannya agar ia tidak terlihat lancang dan mengatakannya sehalus mungkin karena posisi Ayah Tristan yang sudah amat tinggi. Ia berusaha agar pria paruh baya itu tidak tersinggung.


"Aku dengar belakangan ia menangkap para pengedar narkoba di kalangan remaja."


"Oh, kau mengikuti sepak terjang anakku rupanya."


"Oh, aku mengetahuinya dari anak angkatku yang sekolahnya dimasuki anak Bapak dengan menyamar menjadi murid di sana."


Pria itu tertawa. "Padahal wajahnya terlalu tua untuk murid SMA. Aku juga katakan itu padanya."


_____________________________________________


Author Aveeii mencoba membuat cerita cinta remaja. Ada yang penasaran?


__ADS_1


__ADS_2