Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Proses


__ADS_3

"Mei tidak apa-apa kan?" Leka melirik Kenzo saat ia sedang merebahkan kepalanya di lengan kekar suaminya.


Pria itu merapikan rambut di kening Istrinya. "Tidak apa-apa. Dokter menyarankan ia tidak boleh naik pesawat terbang dulu setelah kecelakaan itu, jadi terpaksa Mei tinggal di sana."


Leka menatap manik mata Suaminya. "Beneran gak papa?" Mata indah itu menyelidik.


"Leka, sudah malam sebaiknya kamu tidur ya? Tidak baik buat calon bayi kita kalau kamu begadang dan merasa bersalah seperti ini."


Wanita itu merengut manja pada Suaminya. Sejak ia diketahui hamil, Leka sangat manja pada Kenzo. Kadang ke mana-mana ia sering mengikuti Suaminya.


Kenzo terpaksa berbohong mengenai kondisi terakhir Mei karena ia tidak ingin Istrinya makin merasa bersalah dengan keadaan gadis itu. Ia hanya mampu berdoa, agar Mei cepat pulih dan bangun dari komanya. Ia sangat khawatir dengan keadaan adiknya tapi karena banyak yang mendamping Tama, rasa khawatirnya sedikit berkurang.


Aiko dititipkan di rumah Kenzo dan ia kini tidur bersama Runi. Tentu saja Runi merasa senang karena ada yang menemaninya tidur. Mereka tidur sambil berpelukan.


--------+++--------


Tama merapikan mukena di kepala Mei. Kemudian ia memasang kembali masker oksigen istrinya.


"Dah, sekarang kita sholat Subuh bersama ya," ucap Tama sambil turun dari tempat tidur.


Ia membentangkan sajadah di samping tempat tidur Istrinya, dan berdiri di sana. Ia memulai gerakan sholatnya.


Setiap merubah gerakan, Tama menyuarakan bacaan sholatnya agar Mei mengetahui ia sedang apa. Ia melakukannya hingga sholat berakhir seolah-olah Mei ikut sholat bersama. Ia sangat yakin Istrinya mengikutinya.


Setelah selesai, Tama melipat sajadahnya. Ia kemudian membuka kembali mukena Mei dengan hati-hati. Pemuda itu sempat merapikan rambut Istrinya dengan sisir sebelum memasangkan jilbab instan dan masker oksigennya kembali. Ia lalu mengecup kening Mei. "Pagi Sayang. Bagaimana kesehatanmu? Sudah merasa baikan?" Ia menatap Istrinya sambil tersenyum.


"Aku makan apa ya, buat sarapan? Mmh ...." Ia berpikir sebentar kemudian menelepon. "Pa, Papa beli apa untuk sarapan?"


Tama mendengarkan.


"Tama mau juga dong Pa. Bawain ya?" Ia menutup hp-nya.


"Mei, kita dengerin lagu yuk!" Tama menyambungkan alat Earphones ke hp-nya lalu alat pendengarnya satu ke telinga. Setelah membaringkan diri di samping Mei, ia meletakkan alat pendengar yang satu lagi pada telinga Istrinya. Mereka mendengarkan bersama.


Sambil mendengarkan, sesekali ia ikut bersenandung. Tama menatap Istrinya di samping tanpa berkedip.


Mei Sayang, kau akan sembuh kan? Hidupku bersamamu baru saja dimulai, aku tidak ingin kau tinggal. Berjanjilah kau akan bangun dan segera sehat untukku. Berjanjilah Mei ....


Tama memeluk lengan Istrinya. Walau bagaimanapun keadaan Istrinya saat ini, ia berusaha meyakinkan diri suatu saat nanti gadis itu akan bangun dan bila saat itu tiba Tama punya sejuta rencana untuknya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk hal lain karena itu ia berusaha fokus.


Sekarang hidupnya hanya untuk janji. Janji setia menunggunya hingga gadis itu terbangun, janji selalu fokus pada hidupnya walaupun gadis itu tak melihatnya dan janji akan melindunginya walau tidak sehebat yang diharapkan. Ia ingin melakukannya dengan benar sebagai seorang laki-laki dewasa dan suami yang bertanggung jawab.


Pintu diketuk dan Chris mengeluarkan kepalanya mencari Tama. "Oh, kau di situ." Ia segera masuk.


Tama segera mematikan hp-nya. "Sebentar ya Sayang, aku sarapan dulu." ucapnya pada Mei. Ia mengecup pipi Mei dan turun dari tempat tidur, kemudian ia mendatangi Chris di kursi sofa.


"Cuaca mendung pagi ini. Untung tidak hujan." Chris membuka bungkusannya. "Bagaimana Mei?"


"Mmh? Baik-baik saja. Ternyata benar Pa, Mei bisa mendengar."


"Tahu dari mana?" Kening Chris berkerut.


"Semalam ia menangis."


"Menangis? Kenapa?" Pria itu menghentikan kegiatannya. Ia terkejut.


Ditanya begitu, Tama berusaha menghindar. "Mmh? Tidak apa-apa."

__ADS_1


"Tama ...."


"Beneran Pa. Aku lagi ngomong tiba-tiba air matanya keluar," sedikit membela diri.


Chris mencari tahu dengan menatap pemuda itu. "Wanita itu sangat sensitif Tama, jadi hati-hati kalau bicara."


"Iya Pa."


Sementara itu, orang tua Tama dan Mei yang juga beristirahat di hotel sedang menikmati sarapan paginya di lantai satu hotel itu. Ibu Mei sedang bersama Mariko memilih makanan sarapan sedang Arya dan Ayah Mei sedang mengobrol di meja makan.


"Jadi kemungkinan sembuhnya bagaimana itu ya Pak?" tanya Ayah Mei pada Arya, ia sedikit bingung dengan kondisi anaknya.


"Sepertinya Dokter masih belum bisa menyimpulkan karena baru semalam Mei masuk rumah sakit. Bersabar saja Pak, mudah-mudahan ada perbaikan."


"Tapi Pak, kalau sampai koma begitu ...."


"Istriku pernah koma selama hampir 4 tahun, tapi ia bangun dan selamat. Lihat dia sesehat orang normal kan?" Arya menunjuk Istrinya yang sedang memilih-milih makanan.


"4 tahun ya?"


"Iya."


"Dulu kenapa?"


"Oh, itu aku kurang tahu persis karena aku belum menikah dengannya tapi Istriku saat itu sedang mengandung Tama."


"Oh, jadi Tama juga bukan anak kandung Bapak?"


"Kenzo dan Tama punya ayah yang sama. Kenzo kami ambil karena orang tuanya telah meninggal dunia."


"Begitulah." Arya hanya memberi senyum.


"Lain denganku yang sudah punya anak saat sudah tua. Anakku hanya Mei seorang." Ayah Mei merenung.


Arya menepuk-nepuk lengan Ayah Mei yang berada di atas meja. "Aku lihat anak Bapak sangat tangguh. Ia pasti cepat sembuh."


Mariko dan Ibu Mei telah kembali ke meja mereka dengan membawa sarapannya.


"Ayo Pak, kita sarapan," ajak Arya. Pria itupun bangkit bersama Ayah Mei.


-------++++---------


Tama telah kembali ke tempat tidur Mei dan berbaring di samping Istrinya. Pemuda itu tengah sibuk menonton film berdua dengan Mei lewat hp-nya sambil menceritakan apa yang dilihatnya pada gadis itu seolah-olah gadis itu mendengarnya. Ia terlihat bersemangat.


Chris yang melihat hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ia bersyukur Tama cepat melewati rasa sedihnya dan kini menunggu Mei berjuang demi kesehatannya.


Pintu diketuk. Kini Suster dan Dokter datang menyambangi.


"Eh, Tama ...," panggil Chris.


Tama segera bangkit dan turun dari tempat tidur. Ia tidak mau untuk kedua kalinya dirinya dicemberuti Suster.


Gorden kembali ditutup tapi kali ini Tama boleh berada di sana melihat Istrinya diperiksa. Dokter banyak memberinya petunjuk bagaimana dan apa yang harus di kerjakan selama mendamping Istrinya di rumah sakit sementara Chris menunggu di kursi sofa.


Pintu kembali diketuk. Arya, Mariko dan kedua orang tua Mei masuk. Mereka melihat gorden di tempat tidur Mei tengah ditutup.


"Ada dokter ya?" bisik Arya pada Chris saat menyambangi pria bule itu.

__ADS_1


"Iya."


Mereka kemudian menunggu. Tak lama gorden pun dibuka. Suster dan Dokter pamit pada para orang tua dan pergi.


"Bagaimana Tama?" tanya Ayah Mei.


"Detak jantungnya sudah mulai normal jadi sesaknya juga sudah mulai berkurang tapi wajahnya masih pucat," Tama sedikit murung.


Ayah Mei menepuk bahu Tama. "Alhamdulillah. Syukuri saja segala kemajuan walaupun sedikit. Segala sesuatu butuh proses Tama, gak bisa cepat. Syukuri Mei telah segera mendapat perawatan."


"Iya. Katanya telat sedikit saja ...." Tama tak bisa meneruskan bicaranya. Netranya langsung terlihat mendung.


Ayah Mei langsung memeluk Tama. Ia tahu pemuda itu juga merasa bersalah.


"Maafkan aku Yah, aku tidak bisa menjaga Mei dengan baik." Netra pemuda itu kembali berkaca-kaca.


"Sudah, jangan terlalu banyak menangis. Simpan air matamu karena matamu sudah bengkak seperti itu," nasehat Ayah Mei. Saat pria paruh baya itu melepas pelukannya, Tama melihat mata pria itu berkaca-kaca. "Ayah jadi ikut nangis kan gara-gara kamu."


Mereka berdua tertawa. Setidaknya tawa mereka bisa mencairkan suasana.


"Tapi, gimana dengan Tristan Pa?" Tiba-tiba Tama memunculkan masalah Tristan.


Semua orang menatap Chris.


Chris berdehem. Selama ini mereka terfokus akan kesehatan Mei tapi mereka lupa tentang nasib penculiknya, Tristan. "Tristan, mmh, dia akan bertugas di pulau ini selamanya. Itu bentuk hukuman yang diberikan oleh Ayahnya."


"Enak banget," sela Ibu Mei.


"Ranah," Ayah Mei memperingati.


Chris kembali melirik Tama. "Terserah padamu kalau kamu mengajukan laporan, sah-sah saja, tapi apa tidak lebih baik kita fokus pada kesehatan Mei."


"Enak banget dilindungi orang tuanya!Jangan-jangan saat kita lengah Ia kabur lagi ke luar negri," Ibu Mei terlihat sewot sejak masalah Tristan diungkit.


"Ranah!" Ayah Mei kembali memperingatkan Istrinya dengan keras.


"Tidak apa-apa Pak. Bapak dan Ibu berhak marah dan mengajukan tuntutan terhadap Tristan karena kalian orang tua korban. Aku akan memfasilitasi kalau itu diperlukan," Chris memberi tahu kemungkinannya.


Ayah dan Ibu Mei saling berpandangan.


"Papa, aku ingin segera membawa Mei ke Jakarta agar Tristan tidak bisa bertemu dengan Istriku lagi," Tama memutuskan.


"Aku juga, menyerahkannya pada kalian semua, bagaimana baiknya. Aku ingin kita sama-sama sepakat soal ini," Ayah Mei menyerahkannya lagi pada semua yang hadir di situ walaupun sebenarnya Ibu Mei terlihat berat menerimanya.


"Begini. Aku maunya kita kerjakan satu-satu dulu. Aku ingin fokus pada kesehatan Mei dulu karena Ayah Tristan sudah berjanji bahwa anaknya tidak akan menemui Mei lagi. Aku ingin memberikan yang terbaik buat Mei. Bahkan kalau harus berobat ke luar negeri sekalipun. Setelah Mei sembuh, baru kita pikirkan lagi, sebab aku sebenarnya ingin menanyakan pendapat Mei juga. Bagaimana?" Chris memberi usulan.


Arya dan Mariko menoleh ke arah Ayah dan Ibu Mei yang terlihat fokus berpikir. Semenit kemudian, "Aku setuju-setuju saja. Mungkin lebih baik Mei ikut terlibat di sini karena aku ingin tahu, sebenarnya apa yang terjadi antara Tristan dan Mei hingga Mei seperti ini? Apa ini murni karena kecelakaan dan kecopetan waktu itu atau Tristan dan Mei terlibat hal lainnya, jadi kita tidak asal tuduh orang," terang Ayah Mei bijak.


Satu-satu yang hadir di situ mulai mengiyakan pendapat Ayah Mei. Hanya Tama yang terlihat berat karena ia sempat membayangkan hal yang buruk terjadi pada Mei, Tristan memaksa hubungan badan yang menyebabkan ia terlihat sedikit emosional.


Tak ingin yang lain melihat, ia kembali menyambangi tempat tidur Istrinya dan kembali memeluk lengan Mei sambil berbaring di sampingnya. Ia mengecup pipi Istrinya. "Jahanam itu tidak mencoba merusakmu kan Mei?" bisiknya. Air matanya kembali tergenang. "Kalau dia berani akan kuhajar. Aku takkan berhenti menghajarnya biar pun ia tinggal jasad sekalipun!" Ia mendengus kesal.


____________________________________________


Author Oktavia Hamda Zakhia menuliskan cerita tentang duda ganteng beranak satu yang jatuh cinta pada gadis bar bar dalam Duda Cassanova Terjerat Cinta Gadis Bar Bar. Cekidot!


__ADS_1


__ADS_2