
Saat sakit, Leka malah ingin dimanja. Ia tak sungkan-sungkan meminta Kenzo menyuapinya. Runi juga tak kalah minta perhatian. Saat ia makan biskuit bayinya, ia memanggil Kenzo beberapa kali hanya agar pria itu melihat seberapa banyak ia makan biskuit bayi dari tangannya.
Setelah menyuapi istrinya, Runi memanggil Kenzo.
"Papa!" Runi memperlihatkan bahwa ia bisa makan sendiri.
"Apa? Oh, ya." Kenzo melirik sekilas dan kembali menyendokkan nasi untuk suapan Leka berikutnya.
"Papa!" Runi seperti belum puas kalau tidak mendapat perhatian pria Jepang itu sepenuhnya. Ia berusaha merebut perhatian Kenzo dari Ibunya.
"Oh, iya Nak."
Lama-lama Kenzo kewalahan. Kedua ibu dan anak itu menuntut perhatiannya. Ani hampir tertawa melihatnya. Pria jahat dan pria baik itu ternyata hanya beda tipis rupanya. Pria jahat itu menderita karena orang yang disayanginya pergi meninggalkannya sedang pria baik harus menderita karena tuntutan perhatian dari orang yang dicinta.
"Papa!"
"Ayo Mas, lagi." Leka menunggu suapan berikutnya.
"Iya, iya." Kenzo mencoba menyendoki nasi untuk istrinya. Ia menoleh pada Runi. "Tunggu sebentar ya Nak."
-----------+++------------
Tama lama terdiam. "Kenapa tadi kamu tiba-tiba akrab sama Tristan? Bukannya gak suka ya?"
Mei menoleh ke belakang. "Oh, dia ternyata baik orangnya," Mei tersenyum.
Saat itu entah kenapa, Tama ingin memberi reaksi muntah. "Karena ganteng?"
"Oh, iyalah," Mei kembali menoleh dan pipinya merah merona.
Dasar cewek, cowok ganteng dikit langsung suka. Katanya males, muna nih! Masih gantengan gue lagi, dikit ... Tama terlihat kesal. Ia tidak lagi menanyakan setelah itu.
Mobil memasuki perkarangan rumah Kenzo. Dilihatnya pintu utama masih terbuka, berarti ada yang baru masuk.
Apa Mbak Leka baru pulang dari restoran? Aduh, Mbak Leka susah dibilanginnya nih! Nanti kalo sakit, aku harus bilang apa sama Kak Jo?
Tama dan Mei turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Kak Jo?" Tama terkejut dan segera berlari ke arah pria Jepang itu. Ia memeluknya. "Kak Jo baru pulang ya?"
"Oniichan udah dari tadi pulang Kak, tapi gak ada orang cuma aku aja yang baru pulang sekolah ada di rumah, jadi tadi jemput Mbak Leka dulu di restoran." Aiko menjelaskan. Oniichan(kakak laki-laki) adalah panggilan kesayangan Aiko pada Kenzo.
Tama melepas pelukan. Ia menoleh pada Leka di sampingnya. "Mbak Leka kerja tadi?"
"Tadi udah Kakak bawa ke dokter. Ini kakak bawa vitamin dan obat." Kenzo memperlihatkan bungkusan yang di bawanya. "Eh, ini siapa?" Ia melihat kedatangan Mei di belakang Tama.
Tama menoleh sekilas ke belakang. "Oh, bodyguard-ku Kak."
"Hah?" Kenzo menatap Mei, kagum. Gadis yang berpakaian sekolah sama dengan Tama itu terlihat sederhana. Tidak terlihat berotot, malah sebaliknya berbadan kurus dan sangat feminin. "Hebat, bagaimana kau bisa menemukan Bodyguard perempuan?"
Mei terlihat tersipu-sipu dipuji Kenzo seperti itu.
"O ho ho, Tama gitu lho!" Tama merapikan bajunya, bangga dipuji Kenzo. "Sebenarnya gara-gara dirampok di jalan sih Kak." Ia bercerita.
"Dirampok?"
"Iya, trus dia yang nolongin."
Kenzo kembali menatap Mei. Gadis itu menganggukkan kepala dengan sopan.
"Jadi memang dia bekerja sebagai Bodyguard?"
"Oh, bukan. Dia pedagang kaki lima."
__ADS_1
"Oh, gitu, tapi apa kamu butuh Bodyguard?"
"Butuh Kak karena sekarang aku harus ngurusin perusahaan Kakek yang di Jakarta karena Om Hadi kena stroke."
"Oh, aku dengar juga Om Hadi kena stroke tapi sebenarnya Ayahlah yang akan mengambil alih perusahaan itu, tapi karena harus mengantar Ojiichan dan ada urusan di Jepang, jadi tertunda."
"Nah kakek telepon dari Jogja desak aku Kak buat mimpin perusahaan itu, karena dengar pesawat Ayah jatuh, jadi aku terpaksa ngantor."
"Memangnya perusahaannya ada masalah?"
"Iya Kak, kemarin keuangan perusahaan di periksa Papa lewat video call terus hari ini mau dikirim Tim Audit."
"Tim Audit? Seserius itu?"
"Memang kenapa Kak?"
Kenzo menatap Tama yang masih hijau soal mengelola perusahaan. Ia menepuk bahunya. "Untung kau bicara dengan orang yang tepat."
"Apa Kakak bisa ambil alih perusahaan ini Kak? Aku tidak mengerti soal perusahaan," keluh Tama.
"Kakak juga punya 3 perusahaan di luar negri yang Kakak handle(kelola) jadi Kakak tidak bisa. Lagipula Kakek mintanya padamu." Kenzo sedikit enggan mengelola perusahaan itu karena ia bukan anak kandung Arya. Tama adik kandungnya, juga sama. Bukan anak kandung Arya tapi karena sudah dipilih oleh Kakek untuk memimpin perusahaan, ia tidak ingin ikut campur. "Sebaiknya kamu jalankan saja, nanti soal detailnya Kakak akan bantu nanti. Bagaimana? Kasihan kan Bodyguard-nya, mau diberhentikan?" Ia melirik Mei yang diam membisu.
"Ah, aku akan pimpin Kak, perusahaan, tapi Kakak bener bantuin Tama kan?" Tama tiba-tiba langsung bersemangat. Sepertinya ia tidak rela harus memberhentikan Mei.
Kenzo tertawa. Ia kembali melirik Mei. "Kamu, kapan punya waktu nanti Kakak ajari."
"Oh, aku mau ke kantor dulu kak, hari ini. Aduh ... lupa lagi." Tama bergegas menaiki tangga disusul Mei.
Kenzo hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa Mas?"
Dalam senyum, Kenzo memandang wajah istrinya. "Oh, gadis itu orangnya seperti apa?"
"Namanya Mei. Anaknya kelihatannya baik. Sering makan malam bareng kita."
"Kenapa Mas?" Istrinya kembali bertanya.
"Tidak. Kita ke kamar saja ya? Aku belum istirahat sejak pulang tadi."
Mereka pun melangkah menaiki anak tangga di ikuti Ani yang menggendong Runi. Sesampainya di depan kamar mereka, Runi ternyata ingin ikut masuk. Terpaksa Kenzo membawanya masuk ke kamar.
Kenzo yang lelah akhirnya membawa Runi ke tempat tidur sedang Leka yang kurang sehat juga memilih untuk berbaring di tempat yang sama hingga ketiganya sebentar kemudian tertidur pulas.
Runi tidur tertelungkup di dada bidang Kenzo dan Leka tidur di samping suaminya. Walaupun sedikit tidak nyaman buat Kenzo karena istrinya tidur sambil memeluk lengannya dan Runi tidur di dadanya hingga ia tidak leluasa bergerak tapi dijalaninya karena itu bentuk dari kasih sayang orang-orang tercinta. Ia rela, toh ia akhirnya tertidur juga saking lelahnya.
Tama yang sudah rapi berganti pakaian, segera keluar kamar. Di sana, Mei sudah menunggunya. Mereka segera menuruni tangga dan menaiki mobil. Mobil pun meluncur keluar rumah.
Seseorang mengamati mobil mewah Tama yang keluar rumah Kenzo dengan terkejut. Orang itu melihat saja mobil mewah itu meluncur di jalan melewati mobilnya, padahal ia baru saja hendak meninggalkan tempat itu.
Tama dan Mei mau ke mana? Pakaiannya seperti orang yang mau pergi kerja? Pemuda itu mengerutkan dahinya.
Ya, pemuda itu adalah Tristan. Ia sangat tertarik pada Mei hingga mengikutinya karena ingin mengetahui tempat tinggalnya. Ia baru tahu kalau Mei dan Tama tinggal serumah tapi tak tahu kenapa. Ketika ia berniat ingin pulang, ia malah melihat keduanya kembali keluar rumah. Apa Tama mengurus perusahaan? Hebat juga dia, anak pemalas yang pintar itu mengurus perusahaan. Tristan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia kemudian menjalankan mobilnya untuk pulang.
Tama akhirnya sampai di kantor tapi kini kantor terasa semakin membingungkan baginya. Ada tatapan aneh yang tak juga reda dari orang-orang yang di temuinya di lobi hingga lift untuk naik ke atas.
Di lift pun sama. Beberapa orang yang ikut satu lift dengan Tama dan Mei sedikit menjaga jarak, tapi itu sudah biasa. Bedanya ada aura ketakutan dan kebingungan pada pandangan para karyawan di sana. Tama berusaha menggenggam tangan Mei. Walaupun para karyawan takut dipandangi olehnya tapi tak ayal Tama ngeri. Apa yang terjadi dengan kantor sebenarnya saat ia tidak ada?
"Ada apa sih?" bisik Tama di telinga Mei.
"Aku tak tahu." Mei terlihat bingung.
Tama makin mengeratkan genggamannya pada Mei.
__ADS_1
"Kak." Mei tak nyaman.
"Aku takut Mei."
Mei terpaksa diam melihat gelagat Tama yang terlihat bingung. Di beberapa lantai orang-orang mulai turun dan berkurang hingga tinggal mereka berdua di dalam lift itu.
Tama akhirnya bisa bernapas lega dan melepas genggamannya pada Mei. Ia lalu berdiri di depan pintu lift. Saat pintu lift terbuka ia segera melangkah hingga masuk ke dalam kantor.
"Oh, Pak." Sekretarisnya segera berdiri. "Barangnya sudah datang menunggu untuk diperiksa."
"Barang?" Tama terlihat bingung. Ia tidak tahu bagaimana cara memeriksa barang. Ia melirik pada Mei.
"Iya Pak."
Tama mau tak mau mengikuti Sekretarisnya kembali keluar kantor dan turun menggunakan lift bersama Mei. Mereka kemudian keluar gedung lewat pintu belakang. Di sana ada sebuah truk peti kemas, terparkir di sana. Dua orang pria telah menunggu mereka datang.
"Itu Pak, di dalam kontainer itu Pak," ucap Sekretarisnya pada Tama.
"Oh."
Sekretaris itu meminta kedua orang pria itu membuka kunci pintu kontainer itu dan kosong.
"Mana?" tanya Tama lagi terlihat bingung. Kontainer itu besar dan panjang bentuknya. Di bagian dalamnya gelap sehingga tidak terlihat tapi sekilas terlihat kosong.
"Tapi katanya ada. Mungkin di ujung kali Pak, barangnya."
Tama terlihat ngeri masuk kontainer gelap itu, ia hanya mengintip saja. "Kalau barangnya hanya sedikit kenapa ditaruh di tempat sebesar ini sih!" omelnya.
"Kita dapat pengiriman terakhir dan langsung dikirim ke sini," kilah Sekretaris itu.
"Barangnya apa sih?" Tama masih takut masuk ke dalam kontainer itu. Ia takut barangnya berupa ular dan sebangsanya.
"Lantai keramik Pak, dari Itali."
"Ya allah, pusing amat gue," gumam pemuda itu kesal.
"Ya pak?"
"Eh, gak papa. Ayo, bantu naikkan aku." Tama berpegangan pada salah satu pria itu. "Mei, kamu ikut naik!"
Tama pun naik ke dalam kontainer itu diikuti Mei. "Di mana? Di ujung ya?"
"Iya katanya Pak!" teriak sekretarisnya dari luar.
"Kalian gak punya senter. Di dalam gelap," tanya Tama pada orang di luar.
"Pakai lampu hp juga bisa Pak," kembali Sekretaris itu menjawab.
"O iya." Pemuda itu mengeluarkan hp-nya. Ketika ia menghidupkan lampu hp, seketika pintu kontainer itu langsung ditutup. Juga terdengar pintu dikunci dari luar. Dengan mengandalkan cahaya lampu dari hp yang di pegangnya, Tama berlari ke pintu bersama Mei. Mereka mengetuk hingga memukuli pintu itu agar segera dibuka.
"Woi, bukain. Bukaaaa!!" Tama terlihat panik.
Mei juga membantu memukuli pintu, tapi apa daya ia tak sanggup. Pintu itu terbuat dari besi tebal yang kokoh. Sulit untuknya merusak pintu itu.
Tidak ada jawaban dari luar. Sepi.
"Mei, kita harus bagaimana?" ratap Tama. Ia hampir menangis.
____________________________________________
Author masing semangat nih. Jangan lupa penyemangat author berupa like, vote, koin, komen dan hadiah. Ini visual Mei dengan pakaian kantornya. Salam, Ingflora.💋
__ADS_1
Author Muda Anna menuliskan tentang pedihnya nikah siri dalam novel berjudul, Apa Salahku Tuan?