Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Malam Belum Usai


__ADS_3

"Aku cerita tentang keluargaku dan kamu cerita tentang keluargamu, bagaimana?"


"Untuk apa?"


"Supaya tidak terlihat bohongan lah, Ayahmu nanti kan katanya mau ke rumah."


Hanya supaya gak kelihatan bohongan ya? Mei menghela napas panjang. Belum-belum kamu tuh udah ngerusakin suasana hati aku, tau dan aku gak tau kenapa ini penting banget buat kamu. Mei menundukkan kepala.


Tama mengeluarkan ponselnya. Ia memperlihatkan foto keluarganya tanpa Leka dan Runi. "Ini orang tuaku. Ibuku orang Jepang dan Ayahku orang Indonesia, tapi dia ayah sambungku. Ayah kandungku orang Jepang-Itali sama dengan Kak Jo hanya kami beda Ibu dan Aiko adalah anak dari kedua orangtuaku yang sekarang ini."


"Ayah kandungmu sudah meninggal?"


"Iya, tapi aku tidak pernah mengenalnya karena dia meninggal saat aku berumur 4 tahun dan Ibu sudah pisah dari Ayah. Ibuku kemudian juga mengambil Kak Jo karena Ibunya juga meninggal."


"Oh, gitu."


"Kalau kamu bagaimana?"


"Aku? Aku hanya anak satu-satunya. Ayahku telat menikah dan bertemu Ibu yang masih muda."


"Oh sama seperti aku ya? Ayahku juga sudah tua bertemu dengan Ibuku yang baru lulus SMA. Saat pertama kali bertemu umur ibuku hampir setengah umur Ayah."


"Setua itu?"


"Iya. Makanya beda umurku dan Kak Jo sangat jauh."


Mei menatap Tama. "Iya ya?"


"Kau belum lihat Ayah sambungku. Dia dan Kak Jo seperti kakak adik." Tama memperlihatkan kembali foto keluarganya. "Aku tadi dikirimin Kak Jo foto ini kembali karena hp lamaku kan sudah hancur. Rencananya mau bikin lagi yang baru yang ada foto istri Kak Jo sama anaknya." Tama menoleh pada Mei. "Kamu tidak punya foto keluargamu?"


"Ada di rumah dipajang di dinding."


"Mmh."


"Kak."


"Ya?"


"Apa perlu kita ngelakuin ini?"


"Kenapa?"


"Kalau Ayahku tahu yang sebenarnya, ia akan marah besar lho."


Tama segera menegakkan punggungnya dan meraih lengan gadis itu. "Makanya jangan sampai ketahuan Mei!"


"Kita kan sering keluar dan Ayahku juga pasti jualan keliling lagi, kita pasti akan ketahuan Kak."


"Aku akan bilang kamu sekolah sama denganku."


"Tapi yang lainnya? Kalau ada kenalanku yang melihat aku sedang beraksi bagaimana?"


"Aku-aku akan cerita pada Ayahmu aku kerja di perusahaan keluarga dan kau bekerja sebagai Asistenku. Tentang aksi lagamu nanti aku gak kan bilang kamu kerja jadi bodyguard-ku, itu aja. Kamu gak perlu khawatir ya?" Pemuda itu menggenggam erat tangan Mei.


Mei mengangguk.


"Ya sudah, itu saja dulu. Cepat tidur, besok kita akan sekolah." Tama bangkit dan meninggalkan kamar Mei.


Mei menutup pintu. Sepertinya masuk akal semua yang dikatakannya tadi, tapi ah, biarin aja. Dia kayaknya bisa ngurusnya.


Mei naik ke atas tempat tidur. Diambilnya boneka beruang putih miliknya yang selalu menemaninya di tempat tidur. Seperti biasanya ia mengusap-usap bulunya sebelum memeluk dan menjadikannya teman tidur.


Gadis itu mendekap boneka itu. Senang rasanya punya boneka yang dulu selalu diimpikan. Sayang, dari pemuda yang tidak begitu dikenalnya. Untung, pemuda itu terlihat baik walau kadang tindakannya sering membingungkan Mei.


Mei menyentuh bibirnya. Tindakan Tama sebenarnya sangat tidak sopan dengan menciumnya di depan umum seperti tadi, tapi entah kenapa hatinya berkata lain.


Mmh Mei, itu tidak sopan. Wanita muslim tidak boleh melakukan itu. Kamu tidak boleh bangga dengan hal itu. Hah! Ciuman itu memang menggoda tapi itu sebenarnya racun. Racun Mei! Kau belum ada ikatan, tak boleh melakukan itu.


Eh, emangnya aku naksir dia, apa? Mending Tristan, cakep ke mana-mana. Baik lagi, daripada Tama. Tampang bloon dan gak jelas hidupnya. Huh!


------------+++-----------


Kenzo menjatuhkan diri di samping istrinya dengan tertelungkup. Wajahnya terlihat lelah tapi puas. Ia menoleh pada wajah istrinya di samping dengan rambut berantakan dan peluh di dahi. Ia tetap cantik, bahkan seksi saat tadi ia melakukan gerakan-gerakan indah yang membuat pria itu semakin bersemangat. Sangat menggoda dan penuh cinta.


Kenzo menyamping dan meraih tubuh istrinya. Sambil merapikan rambut wanitanya pria itu mengecup kening Leka. "Kenapa kamu makin hari semakin cantik saja?"


Wanita itu tersenyum malu. "Mas bisa aja."


"Eh, bener kok. Makanya Mas was-was kalau kamu berpergian seorang diri."

__ADS_1


"Karena Bang Aska?"


"Salah satunya."


"Mas terlampau berlebihan."


"Lho, Mas kan bener. Banyak yang gak tau kamu punya suami, bagi pelanggan-pelanggan baru, dikiranya kamu janda karena melihat Runi. Itu kata pegawai di restoran."


"Tapi mereka langsung takut kok lihat bodyguard-ku yang langsung mengamankan orang yang tidak sopan di restoran," jawab Leka manja sambil bersandar di dada suaminya.


"Makanya lain kali belanja baju lagi. Mungkin sedikit mahal, tidak apa-apa biar tidak ada orang yang berani menggodamu."


"Masa mau bekerja di dapur harus dengan pakaian mahal?" Leka hampir tertawa.


"Kan kamu pemiliknya? Ngak masalah."


"Mas ada-ada saja." Leka menarik selimutnya ke atas dan menyusup dalam dekapan tubuh suaminya sambil mengusap rahang pria itu lembut.


Mata mereka beradu. Dekat dan membius. Kembali Kenzo memberi kecupan di dahi istri tercintanya itu.


Kenzo mendekapnya dan bersiap tidur.


Ya allah, Ayah di mana? Mama? Cepat pulanglah, keluarga kita tidak akan lengkap tanpa kehadiran kalian.


---------+++-------


Mei membuka pintu. Ia menengok ke luar. Terlihat sepi tanpa adanya kegiatan. Ia kemudian keluar dan berniat turun ke lantai bawah. Setelah menuruni anak tangga ia pergi ke dapur.


Ia sebenarnya kehausan dan mengambil gelas di dapur dan air dari lemari es. Ia sempat meneguk setengah gelas dan mengisi lagi hingga penuh, lalu ia kemudian membawanya ke lantai atas.


Ketika melewati kamar Runi ia mendengar suara anak kecil yang menangis. Ia membukanya.


Runi menoleh ke arah pintu dan kaget melihat Mei.


"Dedek, kenapa nangis?" bisik Mei yang masuk ke dalam kamar itu. Ia mendekati Runi ke tempat tidur gadis kecil itu. "Dedek belum bobo?"


Runi terlihat bingung dan menghentikan tangisnya. Ia menatap Mei tanpa suara tapi wajahnya sudah penuh dengan air mata.


"Dedek bobo ya?" bujuk Mei.


Tiba-tiba gadis kecil itu mengangkat tangannya. Mei meletakkan gelasnya pada sebuah meja dan mengangkat Runi dari tempat tidur bayinya yang besar. Ia menggendongnya.


"Iya," jawab Runi dengan sedikit merajuk.


Mei kembali membersihkan air mata gadis kecil itu. "Sekarang bobo lagi ya sudah malam."


Mei mendendangkan sebuah lagu anak-anak dan membuai gadis itu dalam gendongan. Pelan-pelan Runi mulai mengantuk. Mei mengusap-usap punggung gadis kecil itu lembut.


Tak lama gadis kecil itu tertidur. Mei hendak memasukkan Runi ke dalam tempat tidurnya tapi terkendala pagar. Ia coba membuka pagar itu yang sedikit rumit baginya tapi akhirnya terbuka. Pelan-pelan ia menurunkan pagar itu, tapi ketika ia telah meletakkan Runi, gadis kecil itu terbangun dan mulai menangis.


"Aduh, Tante harus gimana nih?"


Melihat tempat tidur Runi yang besar akhirnya Mei naik ke tempat tidur dan berbaring. Gadis kecil itu seperti mengerti apa yang harus dikerjakannya, ia menggeser tubuhnya dan merebahkan diri pada Mei. Tangisnya berhenti dan memeluk Mei.


Biar aku tunggu saja sampai ia tertidurlah ... Namun saking lamanya Runi tidur, Mei pun tertidur. Melihat Mei tidur akhirnya gadis kecil itupun ikut tertidur.


---------++++----------


Aska pulang sedikit larut. Ternyata istrinya menunggunya.


"Kau belum tidur?"


"Aku belum tenang kalau kamu belum pulang." Monique merapikan selimutnya di tempat tidur.


"Ya sudah. Sekarang tidurlah."


Monique melirik suaminya yang sepertinya sudah lelah. "Jangan mandi terlalu malam Sayang, nanti kamu sakit."


"Tidak apa-apa. Aku tidak bisa tidur kalau tidak bersih." Aska mengambil handuknya dan pergi ke kamar mandi.


--------+++--------


Paginya, Leka terkejut melihat Mei yang tertidur bersama Runi. Mei yang baru bangun memberi penjelasan.


"Oh, makasih ya Mei, jadi ngerepotin."


"Oh, ngak Mbak, ngak apa-apa. Aku hanya tidur kok, sampai pagi."


"Tante," sapa Runi dengan ceria. Ia memperlihatkan senyumnya di pagi itu.

__ADS_1


"Oh, senang ya, di temani Tante tidur," goda Leka pada Runi. Gadis kecil itu memperlihatkan giginya yang mulai banyak.


"Ya sudah Mbak. Aku mau mandi dulu."


Setengah jam kemudian, mereka semua berada di meja makan. Kenzo takjub dengan keberadaan Tama di meja makan sepagi itu tanpa diingatkan.


"Tumben, ada apa denganmu?" Kenzo menyatukan kedua tangannya di atas meja.


"Mmh? Tidak ada." Tama mengoles rotinya.


Kenzo yang melirik Leka mendapat isyarat dengan dagu ke arah Mei. Pria itu tersenyum lebar.


---------+++---------


Mei kembali keluar lebih dulu dari kelas agar bisa menyapa teman-teman kelasnya yang perempuan. Ia sedang menimbang-nimbang makanan yang ingin di makannya di kantin bersama segerombolan anak perempuan lainnya. Setelah membeli makanan ia mencari tempat duduk. Ia duduk lebih dulu dari teman-teman yang lainnya. Ketika duduk, tiba-tiba Tristan menyerobot kursi temannya yang hendak duduk di depannya.


"Oh."


"Aku mau duduk sama Mei ya?" ucap pemuda itu ramah.


Ucapan Tristan itu cukup mengejutkan teman-teman Mei yang lainnya sebab Tristan terkenal sangat ketus dan dingin setiap diajak bicara oleh lawan jenis. Ini terlihat luar biasa dan mereka langsung tahu apa maksudnya.


"Oh, ya udah."


Gadis-gadis itu saling melirik dan tersenyum meninggalkan Mei.


"Eh, Friska, Selly, Mira! Kok aku di tinggal sih?" Mei terlihat bingung.


"Sudah, biarkan aja. Mungkin dia mau ngobrolin yang lain. Ngak enak ada kamu," Tristan memberi alasan.


"Obrolin apa?"


"Ngak tau."


Dengan pelan Mei membuka bungkus kebabnya.


"Boleh tanya gak?"


"Apa?"


"Kok kamu gak mirip ya, kayak Tama."


Mei melirik Tristan sekilas. Kenapa dia ingin tahu? Memang sih, kulitku sedikit gelap tidak seperti Tama tapi apa terlihat jelas?


"Tama kan Ayahnya orang Indonesia."


"Oh, jadi kamu dari keluarga Ayahnya?"


"Iya."


"Mmh ...."


"Kenapa?"


"Ngak." Tristan menggigit sedikit burger-nya. "Mmh. Boleh aku main ke rumah?"


"Mmh?" Mei terkejut hingga berhenti mengunyah. "Tapi itu kan bukan rumahku?"


Tristan tersenyum dalam hati. Jujur ya dia. "Jadi kamu tinggal dengan Tama?" tanyanya pura-pura terkejut.


"Eh, iya."


"Apa aku harus izin Tama juga?"


"Kenapa ngomongin aku?" Tama tiba-tiba datang mendekatkan wajahnya pada mereka.


"Oh, pas banget. Apa aku boleh main ke rumahmu?"


Tama mengerut dahi.


___________________________________________


Jaga kesehatan ya reader. Author sampe sakit tenggorokan. Well, jangan lupa like, vote, komen, hadiah dan koin biar author semangat terus nulisnya. Ini visual Tristan Kahar Baskara, atau yang biasa dipanggil Tristan, si gunung es. Salam, Ingflora. 💋



Author Amandaferina06 menulis cerita yang tak biasa. Hubungan antara majikan dan pelayan di Nona Muda Dihamili Pelayan. Cekidot guys ....


__ADS_1


__ADS_2