
"Kita berdoa saja, agar tuhan menyelamatkan kita," tutur Mei pelan.
"Jangan begitu dong Mei, aku tidak mau mati di sini. Usaha dong Mei, usaha! Kau kan Bodyguard-ku!" rutuk Tama kesal.
Dengan mata mendelik, Mei mendekatkan wajah mereka. "Bodyguard kan juga manusia, bukan malaikat! Ada juga kan yang dia gak bisa!" ucapnya geram.
Hanya dengan bergantung pada cahaya lampu dari hp-nya, pemuda itu bisa melihat wajah Mei yang menyeramkan saat ia marah. Pemuda itu bahkan harus memundurkan kepalanya karena saking angkernya. "Eh, Mei. Bukan begitu maksudku ... eh, kau kan tidak ingin kita mati berdua di sini kan?" Tama berusaha tertawa untuk mencairkan suasana walaupun terdengar aneh. "Mei, aku mohon. Jangan takut-takuti aku." Ia menyatukan tangannya.
Mei menurunkan matanya. "Yang penting sekarang, kita harus tenang."
"Lalu?"
Mei menoleh ke arah bagian dalam kontainer itu. Gelap. "Kita periksa dulu, ada apa di sini."
"Eh, Mei. Kamu saja." Tama memberikan hp-nya pada gadis itu untuk pengganti senter.
Mei baru saja melangkahkan kakinya ke arah dalam, Tama mulai bertanya lagi. "Apa kamu yakin?"
"Apa?"
"Tidak ada yang aneh-aneh gitu?" Tama mendekat.
Mei menutup mata sambil menghela napas. Ia kembali membuka matanya. "Eh, ada tikus, tikus, tikus!" Ia melompat-lompat.
Tama yang ketakutan, ikut berlompatan dan berpegang erat pada lengan Mei. "Eh, mana, mana, mana ... Mei tolong!"
Mei menepuk bahu pemuda itu. "Apaan sih! Penakut banget. Jadi laki-laki, beranian dikit napa." hardiknya.
"Mei, kamu mah, bukan nolongin malah nakut-nakutin," Tama kembali merengut.
"Oh, iya maaf. Oh, aduh kecian ...." Mei menyentuh dagu pemuda itu membercandainya, tapi Tama menepisnya kesal.
"Kamu tuh ya? Aku bener-bener takut tau!" Tama langsung ngambek.
"Iya maaf." Gadis itu menghela napas dan mulai serius. "Jadi pertama-tama kita cek dulu ada apa aja di sini." Mei mulai melangkah memeriksa isi kontainer itu.
Tama sambil memegangi ujung belakang baju gadis itu, ia mengikuti. Mei memeriksa dengan teliti ke arah langit-langit dan lantai kontainer itu secara keseluruhan. Mereka sudah berjalan sampai ke ujung tapi tidak menemukan apa-apa. Kontainer itu benar-benar kosong.
"Untuk apa mereka menyekap kita di sini?" Mei terlihat bingung.
"Mana aku tahu."
"Tapi ini truk." Mei mengerut kening.
"Iya, aku tahu. Tidak usah dibilang juga aku tahu."
"Berarti mereka ingin mengirim kita ke suatu tempat."
"Eh, ke mana?"
"Tidak tahu."
"Eh, Mei!" Tama kembali takut.
"Aku benar-benar tidak tau. Aku kan hanya mengira-ngira," Mei memberi tahu.
Tama mendenguskan napasnya dengan kasar dan kembali merengut.
Di luar, seorang pria dengan baju sederhana datang mendekati truk itu.
"Pak Gani, lama sekali," keluh Sekretaris itu.
Pria itu menggaruk-garuk kepalanya. "Maaf Bu, macet."
__ADS_1
Wanita itu hanya menarik bibirnya agar tak terlihat kesal. "Ini kuncinya." Ia memberikan kunci mobil truk itu pada pria di hadapannya. "Dan ini, saya berbaik hati membelikan Bapak bekal di jalan." Ia memberikan bungkusan berisi nasi kotak.
"Oh, terima kasih Bu." Gani menerimanya dengan senang hati. "Ibu baik sekali. Oh, iya surat jalannya Bu."
"Oh ... ini." Sekretaris itu mengeluarkan secarik kertas yang terlipat dari kantong jasnya dan memberikannya pada pria itu. "Kalau ada suara berisik, biarkan saja. Jangan dibuka karena isinya hanya kambing dalam jumlah banyak, jadi hati-hati berkendara jangan sampai nabrak."
"Iya, baik Bu." Gani mengangguk sopan.
"Sudah ya, langsung berangkat." Wanita itupun masuk lagi ke dalam gedung itu bersama kedua laki-laki yang bersamanya. Tiba di dalam gedung ia langsung menelepon. "Halo, sudah beres Pak. Sekalian saya bereskan juga sopirnya."
"Bagus, kita tunggu hasilnya," ucap suara seorang pria di ujung sana.
Mei dan Tama bukan tidak mendengar. Mereka bisa mendengar suara di luar tapi tidak jelas. Suaranya sangat kecil jadi mereka kesulitan mendengar.
Mereka berdua yang duduk di lantai kontainer yang terbuat dari besi, kesulitan mendengar walaupun sudah menajamkan telinga. Tiba-tiba mobil bergerak dan kembali Tama meraih lengan Mei karena bingung. "Mei, kita mau ke mana?"
"Tidak tahu Kak."
Tama melihat wajah gadis itu dalam cahaya lampu dari hp-nya, Mei terlihat biasa-biasa saja. "Kamu kok gak ada takut-takutnya sih Mei, dalam situasi genting begini?"
"Hidup dan mati kita hanya di tangan Allah."
"Ya tapi, kalau kita celaka bagaimana?"
"Kalau Allah tidak mengizinkan tidak akan terjadi Kak, makanya kita harus berdoa."
"Memangnya kalau berdoa bisa berubah?"
"Bisa."
"Mmh?"
Mei tersenyum. "Tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah sudah berkehendak."
"Segala sesuatu telah ditulis tentang bagaimana hidup kita. Lahir, jodoh dan kematian jauh sebelum kita dilahirkan jadi serahkan saja semuanya pada yang di Atas."
"Berarti kita menyerah dong! Kita tak boleh menyerah!" ucap Tama sengit.
Kembali Mei tersenyum. "Makanya jangan takut, agar kita bisa berpikir jernih."
"Orang takut, mana bisa sih kepikiran sampai ke situ," Tama masih mengomel.
"Mmh ...."
"Apa?"
"Aku kan sedang berpikir."
"Oya ...." Tama mulai berhenti bicara. Ia menatap wajah Mei yang serius. Di dalam gelapnya ruang kontainer itu, ia bisa melihat wajah gadis itu lekat. Seorang gadis yang akan berjuang untuk hidup dan matinya, seorang pria manja yang egois. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan bergantung pada seseorang gadis yang sangat muda di mana seharusnya seorang prialah yang harus berjuang demi seorang wanita.
Diam-diam Tama salut pada keberanian Mei yang berjuang demi dirinya, juga selalu ada saat ia butuh, teman yang baik dan terkadang ia juga merasa Mei bisa jadi sisi orang tua yang mengingatkannya pada kedua orang tuanya yang kini entah di mana.
Mei juga sangat mandiri, hidup sendirian di tengah keluarganya yang pastinya sangat kesepian tapi Tama tak pernah mendengar ia mengeluh. Ia pasti menyimpan segala sesuatunya di dalam hati sendirian seperti sakit orang tuanya yang pernah ia katakan sebelumnya pada Tama. Pemuda itu berjanji di dalam hati, bila ia bisa selamat hari ini, ia akan mengantar Mei menjenguk orang tuanya di rumah sakit.
"Mmh Kak, bagaimana kalau kita jatuh?"
"Apa? Mei!!!"
Sementara itu, Delia, Sekretaris Tama memberi tahu sopir Tama untuk pulang karena Bosnya harus pergi ke tempat lain dan dengan kendaraan lain. Sopir itu akhirnya pulang tanpa membawa mobil kantor.
--------+++--------
Zack mendatangi Reina, Ibunya di toko bunga diantar salah seorang satpam rumah dengan motor.
__ADS_1
"Zack, kau sudah pulang?"
"Sudah dari tadi kan Ma," ucap pemuda bule yang semakin tampan saja walau cemberut.
"Ada apa sih, kok anak Mama jadi cemberut begitu? Kan jelek dilihatnya." Reina mengusap pucuk kepala Zack yang datang menghampirinya.
Zack duduk di samping Reina yang menghentikan kegiatan merangkai bunganya demi Zack. Wanita itu berusaha mendengarkan keluhan anaknya.
"Ma, kita kapan ke Amerika?"
Reina tertawa dan memeluk Zack. "Kamu sudah rindu ya sama Lydia, mmh?"
"Habis, sepi Ma."
"Mama juga."
Zack menengadah menatap Ibunya. Ada sebutir bening di sudut mata wanita yang membesarkannya itu. Ia tak menyangka apa yang diucapkannya, telah menancapkan rindu yang sama di hati wanita paling lembut yang pernah di kenalnya. Hati seorang Reina. "Mama, maaf."
"Tidak apa-apa." Reina mengusap sudut matanya dengan asal. "Kita kan harus tau, Lydia pergi untuk kebaikannya. Tinggal kita yang ditinggalkan harus bisa hidup lebih baik lagi. Kita harus gembira demi kebahagiaannya. Hidup itu selalu perkara datang dan pergi. Kita tidak bisa menahan yang ingin pergi seperti juga kita tidak bisa menolak yang akan datang. Kamu harus kuat dan jadi pria mandiri tanpa Lydia. Kamu harus bisa menemukan kehidupanmu yang baru seperti juga Mama yang juga merasa kehilangan gadis kecil Mama. Toh, dia pergi tidak untuk selamanya. Suatu saat kita akan bertemu lagi di kehidupan kita yang mungkin sudah berbeda, tapi tak apa. Begitulah kalau ingin menjadi dewasa, bertemu dengan banyak kehidupan yang akan mengispirasimu menjadi seseorang yang berbeda. Jadi, kita harus belajar menerima kedatangan dan kepergian itu dengan hati lapang ya?"
Zack terdiam. Ia hanya tidak ingin melihat Ibunya menangis. Ia kemudian memeluk Reina.
----------+++---------
Truk itu diparkirkan di sebuah area tempat peristirahatan.
Haaah, baik sekali Sekretaris Direktur itu memberiku bekal makan siang. Kelihatannya enak dan mahal. Pria itu membuka isi nasi kotaknya yang telah disiapkan bersama dengan sebotol air mineral.
Mei dan Tama yang sedang duduk di lantai kontainer kosong itu terkejut, ketika mobil seperti mendatangi tempat baru karena sedikit bergoyang dan kemudian terhenti. Mereka menajamkan telinga.
"Apa kita mendatangi tempat penyekapan kita?" tanya Tama khawatir.
"Ngak tau Kak."
"Mei, tolong aku ya Mei?" Tama menggenggam lengan gadis itu, meminta perlindungan.
"Kita lihat dulu ya Kak?" Mei menepis tangan Tama pelan.
Mei melihat sepatunya yang berhak tinggi. Apa sepatu ini berguna dalam keadaan darurat seperti ini ya? Ia pun berdiri.
Gadis itu segera melangkah ke pintu. Sepatunya sebenarnya cukup berisik bila berjalan di atas lantai kontainer yang juga berbahan besi itu tapi tetap saja, tidak membantu membuat sopir itu mendengar ada hal yang mencurigakan ada di dalam kontainer yang di bawanya.
Mei mencoba mencari cela di pintu agar bisa mengintip keluar. Ia mendorong pintu itu hingga terlihat cahaya masuk dari sebuah cela. Dari situ Mei mengintip keluar.
Ia melihat sebuah area luas di pinggir jalan. Di luar sudah mulai gelap. Tidak banyak mobil-mobil yang lewat di daerah itu dan sepertinya truk mereka sudah masuk area luar kota, tapi kenapa mobil mereka berhenti di sana? Mungkin sopirnya sedang beristirahat.
Mei kemudian mendekati Tama yang masih memegang hp-nya dengan lampu yang masih menyala. "Sepertinya sopirnya sedang istirahat. Bagaimana kalau kita coba menarik perhatiannya?"
"Caranya?"
"Kita pukul-pukul bagian kontainer yang dekat ke dia, mudah-mudahan dia dengar dan membantu kita."
"Apa kau yakin dia orang baik?"
"Aku tidak tahu tapi kita coba saja."
Tama bangkit dan bersama Mei mereka mendatangi dinding kontainer yang berada di ujung yang satunya.
"Tolong ... tolong ...," teriak Tama. Ia ikut membantu Mei memukul-mukul dinding kontainer sekuat tenaganya.
_____________________________________________
Author SRN27 menyodorkan cerita kasmaran ala anak remaja. Penasaran? Baca Heavanna.
__ADS_1