
Akhirnya tangan kecil itu lemah terkulai di atas lengan kekar Aska. Bayi mungil itu menikmati susu hangat yang keluar dari dot botol susunya yang sedang dipegang pria itu. Netra mungilnya mulai tertutup pelan-pelan seiring ayunan perlahan tubuh pria itu menina bobokan bayi kecil itu.
"Pintar juga kamu ganggu Ayah tiap malam ya? Awas aja kamu Mad, kalo ngak berbakti sama Ayah," bisiknya di telinga kecil bayi itu. Ia tersenyum dan menarik dot dari mulut bayi mungil itu perlahan. Ternyata susunya telah habis dalam botol susu itu. Ia meletakkan botol susu bayi itu di atas meja nakas sebelum membaringkan Ahmad kecil itu di tempat tidur bayinya. Bayi kecil itu tidur dengan damai.
Aska berjalan gontai menuju tempat tidur dengan rambut yang masih berantakan dan menoleh pada Istrinya yang masih tertidur pulas di atas tempat tidur.
Ia sudah berjanji pada Istrinya akan bergantian menjaga Ahmad kecil di rumah. Monique di siang hari sedang Aska di malam hari tapi tak semudah yang dikatakannya. Ahmad kecil minum susu hampir tiap jam dan Aska hampir-hampir tidak bisa menikmati tidur malamnya. Untung saja karena ia menantu pemilik perusahaan dan Ayah Monique mengetahui perjanjian itu, ia bisa datang terlambat ke kantor.
Tak butuh waktu lama, saat kepala Aska menyentuh bantal ia sudah kembali tertidur.
---------+++--------
Rojak terbangun dan memeriksa lengan baju. "Haaaaa, lagi kan? Jorok banget deh kamu!"
Salwa terbangun di sampingnya. "Apaan sih Bang?" tanyanya setengah mengantuk. Ia melirik sekilas lalu tidur lagi.
"Kamu kok gitu sih Yang? Masa tiap malam ngiler di bajuku?"
Salwa hanya tersenyum dalam tidurnya. "Itu tandanya Sayang."
"Ih, masa ngilerin lakinya tanda Sayang? Ngeles nih ...."
Salwa membalik tubuhnya memunggungi Rojak. Ia tersenyum nakal.
"Eh, lakinya lagi ngomong dipunggungin. Dosa tau!"
"Bodo!" Salwa tertawa.
"Ih, kamu bandel ya?" Rojak meraih pinggang Salwa dari belakang dan mendekapnya.
Salwa menoleh ke belakang sebentar lalu kembali tertawa.
"Kamu kenapa iseng banget jadi bini, mmh?" Rojak mendekap istrinya erat.
"Kan ada yang dijahilin," tawa Salwa berderai.
"Aduuuh ...."
"Biar sepreinya bersih terus, lagi,"
"Terus suaminya yang dikotorin, gitu? Heeee ...."
"Biar tau, istrinya jorok," jawab Salwa manja.
"Haduhhh, kalo gak cinta aku udah pecat kamu jadi bini dari kemaren-kemaren."
"Coba kalo berani," Salwa tersenyum lebar.
"Enggak," kini Rojak berbalik menghindar.
"Yang bener ...." Salwa membalikkan punggungnya menatap Rojak.
"Ini aja mau minta di kiss pagi ini." Rojak mendekatkan wajahnya. Suasana romantis tercipta. Ia hampir saja mencium Istrinya bila tidak ada keributan di luar kamarnya.
Pintu kamarnya di ketuk-ketuk dengan keras. "Eh, bangun pade! Kagak sholat Subuh ye!!" teriak Enyak dari balik pintu.
"Ah, Enyak ganggu aja," keluh Rojak. "Bisa salah sasaran nih nyiumnya."
Salwa cekikikan.
"Apa? Lu ngomong apa Jak?!!" tanya Enyak dari luar. Ia memukul belakang penggorengan dengan sendok saji.
Beng!!!
"Eh, enggak Nyak! Iya!" teriak Rojak dari dalam kamar. Ia menepuk dahinya sendiri. "Aduuhh ...."
Salwa tertawa kecil. Biar bagaimanapun kesalnya, Rojak selalu menghormati orang tuanya. Itu yang ia suka dari Rojak.
Breng!!
"Awas lu ya, jangan ditelat-telatin sholat Shubuhnya!!" omel Enyak dari luar.
"Enggak Nyak! Aduuh, anak udah gede, masih aja ...." Rojak menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghela napas.
__ADS_1
"Dah bangkotan juga ya?"
Mereka berdua saling lirik dan tertawa. Rojak segera turun dari tempat tidur. "Nyok ah!"
Salwa mengikuti. Ia mendekati Rojak dan mengecup pipinya.
"Ayo ah, Ayang!" Rojak menarik tangan Istrinya.
"Iya." terbit senyuman di bibir Salwa seiring ia meletakkan tangannya di bahu sang suami. Ia bahagia akhirnya bisa menemukan pria tambatan hatinya.
-------+++--------
Hari berganti hari, kesehatan Mei menunjukkan tanda-tanda membaik dengan air muka terlihat lebih cerah, bahkan masker oksigennya telah dilepas. Bayi dalam kandungannya pun normal tanpa masalah, hanya saja gadis itu belum juga bangun dari komanya.
"Aku jadi tidak enak ini, sampai hari ini Mei masih belum juga bangun padahal kalian pasti ingin segera mulai bekerja," ucap Ayah Mei pada Chris dan Arya.
"Bapak bicara apa. Mei sudah kami anggap keluarga sendiri Pak. Anak. Sudah semestinya kami ada di sini menungguinya. Uang bisa dicari Pak, tapi saat kebersamaan dengan keluarga itulah yang hanya terjadi sekali seumur hidup. Kita harus mensyukuri apapun yang telah terjadi di dalam keluarga ini karena di saat-saat seperti ini kita bisa dekat dan saling mengenal satu sama lain dengan lebih akrab," hibur Chris sambil menepuk-nepuk bahu Ayah Mei.
Ayah Mei mengangguk-angguk terharu mendengar penuturan Chris. Ia merasa sangat beruntung berbesan dengan Chris dan Arya yang sangat menyayangi anaknya, Mei. Tidak setiap orang seberuntung dirinya yang berasal dari keluarga miskin bisa dihargai sedemikian rupa. Tidak hanya dekat, tapi mereka juga menganggapnya keluarga. Bahkan Arya membantunya mencarikan pekerjaan mengingat ia tidak muda lagi kalau harus bekerja di pinggir jalan.
Tama yang sedang duduk di kursi di samping tempat tidur Istrinya, menelusupkan tangannya di balik selimut dan mengusap-usap perut Istrinya. "Mei, kenapa kamu lama sekali tidurnya," bisiknya sambil merengut. Ia meletakkan dagu di pinggiran tempat tidur. "Cepatlah Mei, bangun. Aku sudah bosan bicara sendirian." Ia masih meraba perut Istrinya dengan lembut.
Pintu diketuk. Dokter dan Suster datang untuk memeriksa pasien. Tama seperti biasa mendampingi.
"Mmh, sepertinya pasien sudah bisa dibawa ke tempat jauh," ucap Dokter wanita itu menurunkan stetoskop-nya.
"Maksudnya ...." Tama mulai bisa membaca arah pembicaraannya.
"Ya. Kalau mau dipindah ke rumah sakit yang di Jakarta, sudah bisa."
"Yeii!!!" Tama mengangkat tangan, bersorak, tapi kemudian ia menyadari tempat itu adalah rumah sakit dan ia baru saja menimbulkan keributan. Para orang tua bahkan sampai menengok ke arah mereka saking kagetnya dan tersenyum. Tama yang bahagia menularkan pada mereka semua.
"Eh, maaf." Tama menurunkan tangannya tinggal Suster dan Dokter yang menahan tawa.
--------+++--------
"Ayah? Ayah sudah pulang?" Kenzo terkejut ketika mengetahui yang menekan bel rumahnya ternyata Arya. Pria itu datang membawa oleh-oleh dalam plastik jinjingnya. "Wah, banyak sekali."
"Iya, di Tarakan oleh-olehnya banyak hasil laut."
"Bagaimana Mei?" tanya Leka yang kebetulan berada di samping Kenzo tapi pria itu segera mengedip-ngedipkan matanya pada Ayahnya.
Arya langsung mengerti. "Oh, dia masih di rumah sakit, hanya pindah ke rumah sakit Jakarta saja. Kondisinya masih kurang sehat."
"Mas, ayo kita tengok Mei Mas," ajak Leka.
"Oh, rumah sakit bukan tempat yang baik untuk Ibu hamil dan balita. Bisa-bisa mereka malah ketularan penyakit berbahaya setelah pulang dari rumah sakit nanti," Kenzo memperingatkan.
"Cuma sebentar saja Mas," bujuk Leka. Wanita itu begitu ingin melihat keadaan Mei hingga ingin menjenguknya.
"Udah, Mas gak mau ambil resiko. Kamu tunggu aja dulu sampai Mei pulang ke rumah, nanti kamu bisa nengok Mei kapanpun kamu mau, ya?"
"Akek!"
Arya menoleh ke bawah. "Eh, cucu siapa ini?" Ia meletakkan bungkusan plastik yang di pegangnya di atas meja makan lalu menggendong Runi. Ia bahkan mengangkat gadis kecil itu ke atas membuat gadis kecil itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Akek, mau itu." Runi menunjuk bungkusan yang dibawa Arya tadi.
"Oh, ini?" Arya menarik kursi meja makan dan duduk di situ sambil memangku Runi. Ia mengeluarkan salah satu bungkusan berisi kerupuk ikan yang bentuknya bulat-bulat.
"Apa itu Runi?" goda Kenzo.
Runi mengambil di kedua tangannya satu-satu. "Mmh, mau?" Ia menawarkan dengan mengarahkan kerupuk itu pada mulut Kenzo.
Pria itu memakannya dengan menggigit separuh dan separuhnya lagi dipegangnya. "Ini kerupuk ya?"
"Iya, namanya amplang di sana," sahut Arya membaca nama di bungkusnya.
"Mmh."
Runi memasukkan sendiri tangannya ke dalam bungkusan.
"Runi, kamu belum makan yang satunya lagi," tanya Arya bingung.
__ADS_1
"Biarin aja Yah. Dia memang gitu. Harus megang dua tangan baru dimakan," terang Kenzo.
"Oh, gitu."
"Akek mau?" Kini Runi menyodorkan ke mulut Arya.
Kenzo dan Arya tertawa.
"Ayah!" Aiko berlari menuruni tangga. "Gimana Mbak Mei Yah?" ucapnya setelah dekat.
Arya jadi salah tingkah. Ia tertawa sedikit aneh. Segera ia menarik Aiko keluar rumah. "Ayo kita pulang. Mama sudah menunggu di rumah."
"Tapi ...."
Arya menarik Aiko sampai keluar. "Kamu! Mulutmu dijaga. Mei sudah di bawa ke rumah sakit Chris di Jakarta tapi dia masih koma."
"Koma?"
"Ssst!" Arya meletakkan telunjuknya pada mulutnya. "Jangan sampai Leka tahu karena dia sedang hamil. Kalau dia dengar nanti stres lagi. Akibatnya bisa keguguran," dengan suara dikecilkan.
"Kenapa stres Yah?" bisik Aiko.
Arya memelototi Aiko. "Kamu ini, di kasih tahu ...."
Aiko hanya tertawa kecil melihat wajah Ayahnya yang tiba-tiba angker. "Iya, Yah." Akhirnya ia mengamini.
---------+++---------
Tama merapikan selimut Mei di atas tempat tidur. Gadis itu baru saja dipasangkan infus di tangannya.
"Papa pulang dulu ya? Nanti Papa ke sini lagi." Chris menepuk bahu Tama. "Sekalian antar orang tua Mei."
"Iya Pa."
"Ayah juga pulang dulu nanti ke sini lagi," beritahu Ayah Mei.
Kedua orang tua Mei dan Chris pulang dengan menarik kopernya tinggal Tama dan Istrinya tinggal di sana.
Mei tadi telah di periksa oleh Dokter sehingga tanpa pikir panjang, Tama menaiki tempat tidur Istrinya.
"Hah, capek juga Mei naik pesawat. Kamu sih belum bangun jadi acara tidur berduanya jadi gak seru," ucap pemuda itu sambil memeluk Istrinya. Tak lama ia tertidur.
Tama terbangun saat ada seseorang yang mengecup pipinya. Ia membuka matanya. "Mei? Ada apa?"
Gadis itu hanya tersenyum.
"Mei aku ngantuk. Tidur aja yuk?" Tama meraih pinggang Mei dan merapatkan tubuhnya, tapi kemudian ia mengerut kening. Kembali ia membuka matanya. "Mei?"
Gadis itu tersenyum menatap Tama.
Pemuda itu mengucek-ngucek mata meyakinkan pandangan matanya. Gadis itu, yang berhadapan dengannya adalah Istrinya. Pemilik mata jenaka yang indah itu. Dia tentu saja tidak bisa melupakannya. "Mei?" katanya mencoba meyakinkan diri.
Gadis itu kembali tersenyum padanya.
"Cubit pipiku."
Mei melakukannya.
"Auh!" Namun Tama masih tak percaya. "Mei, ini nyata kan?"
"Ih!" Gadis itu kini merengut kesal. Ia sudah membangunkan Suaminya untuk memberi surprise(kejutan) tapi suaminya tak kunjung percaya. Ia malah jadi kesal.
Tiba-tiba Tama menghujaninya dengan kecupan di wajah bertubi-tubi tanpa henti.
"Kak Tama!!!" Mei berusaha menepisnya karena merasa tak nyaman.
___________________________________________
Maaf author lagi kurang sehat, jadi mood2an nulisnya. Ini visual Ahmad kecil di tempat tidur bayinya. Jangan lupa vote, komen, likenya buat author ya? Love you all! Salam, Ingflora. 💋
Author Mayya_zha menulis tentang gadis yang di sia2kan kekasihnya krn tidak cantik dlm Fake Love. Kepoin yuk!
__ADS_1