
Mobil Aska mendatangi rumah orang tuanya. Ternyata Zack sedang keluar, latihan basket dan belum kembali. Aiko ngambek tidak mau pergi kalau tidak bersama Zack.
"Zacknya kali ini tidak bisa ikut. Nanti kapan-kapan aja ya?" bujuk Aska.
"Ngak mau, pokoknya harus ada Zack kalo enggak aku gak mau pergi." Aiko mengerucutkan mulutnya sambil melipat tangannya di dada.
"Atau kita antar pulang dulu saja, Aikonya?" Aska bertanya pada Leka.
"Eh, ngak boleh bawa Mbak Leka kalau ngak sama aku!" rajuk Aiko.
"Aduuh, gimana ini?"
Tiba-tiba saja Bodyguard yang mengantar Zack kembali bersamanya. Aiko senang bukan kepalang. Ia segera turun dari mobil dan menghampiri Zack, mengajaknya makan es krim bersama.
Awalnya Zack tidak mau karena ia lelah pulang dari latihan basket tapi karena dibujuk adanya Runi ponakannya ikut serta, Zack akhirnya ikut. Mereka bersama-sama berangkat ke toko es krim.
Di satu meja mereka makan es krim bersama. Aska duduk di samping Leka yang sedang memangku Runi. Baby Sitter Runi sengaja tidak diajak dengan alasan tidak muat bila Zack ikut.
Aska sangat senang bisa duduk di samping wanita itu. Seperti sudah berabad rasanya tidak bisa berada dekat dengannya dan sekalinya bisa, ia serasa mendapat lotre. Gembira bukan main. Ia bisa bercanda dan berbicara dengan mantan istrinya itu bersama anaknya Runi.
Seperti foto yang terobek dan kini bertemu lagi dengan potongannya. Foto keluarga yang dulu dengan mudahnya berjaya, kini hanya tinggal kenangan. Rasa dari tiap tokohnya sudah tak lagi bisa sama. Mereka sudah punya kehidupan masing-masing. Setidaknya itu yang dirasakan Aska sekarang. Walaupun ia ingin, tapi Leka sepertinya menganggapnya biasa-biasa saja. Seperti orang asing.
Ia kembali ingat apa yang dikatakan Leka padanya beberapa hari yang lalu bahwa sepanjang perkawinannya dulu, wanita itu hanya menghormatinya sebagai seorang suami. Tidak lebih. Tidak ada cinta seperti khayalannya dulu hingga ia mati-matian ingin merebut Leka dari Kenzo, tapi apa gunanya kalau tidak ada rasa? Aska bisa melihat tidak ada riak-riak bahagia di mata Leka, beda dengan saat ia bersama suaminya. Kalau sudah begitu, apa yang ingin ia kejar sekarang?
Zack duduk di sisi yang lain. Ia bisa bercanda dengan Runi yang sedang lucu-lucunya. Aiko juga melepas kangen pada pemuda itu karena di sekolah Zack sibuk dengan teman-temannya dan hampir jarang bisa bersama walaupun hanya sekedar makan siang.
Usai makan es krim bersama, Aska mengantar mereka ke rumah masing-masing.
Ada banyak hal yang ia pikirkan sekarang. Ia sudah menikah dengan Monique. Entah kenapa tuhan memberikan wanita itu padanya padahal tidak pernah terlintas sedikit pun juga ia akan menikahi wanita bule itu karena dalam banyaknya hal mereka berbeda. Dari makanan, cara berpikir, gaya hidup hingga cinta. Ia, telah menikahi wanita yang paling dibencinya. Gaya hidupnya yang Eropa, dari makanan, cara bicara, kenalan, dan terutama sekali gayanya yang kelewat manja, itu semua hal yang paling ia tidak sukai. Namun kenapa, wanita seperti itulah yang jadi istrinya sekarang.
Wanita itu sekarang baginya seperti noda di pakaian kesayangan. Tidak mudah dibersihkan dan sepertinya akan selamanya tinggal dengannya walau bagaimanapun cara ia mengusirnya.
Ia tidak punya alasan yang kuat untuk itu. Biar bagaimanapun ia bukanlah orang jahat yang menggampangkan sebuah lembaga perkawinan. Sekarang ia sudah menikah dengan wanita itu. Lalu, selanjutnya bagaimana?
Tanpa terasa, Aska sudah memasuki halaman gedung apartemen. Ia kemudian memarkir mobilnya di tempat biasa. Sambil berpikir ia melangkah memasuki apartemennya.
Tidak biasanya Monique tidak kelihatan di ruang tengah. Biasanya ia ada menunggunya. Ah, ia lupa kalau Monique menunggu saat malam hari. Ini kan masih sore.
Ia bertemu pembantunya yang baru keluar dari dapur. "Bi. Istriku mana Bi?"
"Oh, baru pulang langsung ke kamar Pak."
Aska bergegas melangkahkan kakinya menaiki anak tangga ke kamar. Ia ingin mengubah sesuatu, dimulai dari menemui istrinya.
Tak ada seorangpun terlihat di kamar. Ia mendengar suara air bergemericik di kamar mandi. Apa dia sedang mandi?
Aska melepas dua kancing bajunya karena ia juga ingin mandi tapi kemudian ia mengingat sesuatu. Bukankah kalau suara gemericik air itu tandanya sedang mengisi bak mandi? Istrinya tak pernah suka menunggui saat mengisi bak mandi jadi ia biasanya menunggu di tempat tidur sambil sesekali memeriksanya ke kamar mandi. Jadi, istrinya sedang apa?
Pria itu mendekati kamar mandi sambil mengetuk-ngetuk pintunya. Tak ada jawab. "Monique."
Sunyi. Aska mencoba membuka pintu yang ternyata tidak di kunci. Sebuah pemandangan menakutkan terpampang di depan mata.
Istrinya Monique terbaring di dalam bathtub(bak mandi besar) dengan air yang sudah penuh dan terus melimpah karena kerannya masih terbuka lebar. Airnya pun mulai berubah warna merah pekat. Kepala istrinya hampir tenggelam dalam air dan ia sepertinya telah pingsan.
__ADS_1
"Monique!" Aska syok melihat pemandangan ini. Ada apa dengannya? Apa ia ... mencoba bunuh diri? "Monique!!!"
Ia mendekati wajah istrinya yang pucat. Ia benar-benar syok. Di sentuhnya wajah wanita itu. Kenapa jadi begini? Ah, masih hangat. Aska kemudian mengecek nadi di lehernya. Masih bernafas.
Segera ia mengeluarkan istrinya dari bak mandi dan meletakkannya di lantai. Terlihat ada luka sayatan di tangan istrinya. Ia langsung mengikatnya dengan saputangan untuk menghentikan pendarahan. Setelah itu, melihat pakaian istrinya yang basah, ia segera menutupinya dengan selimut tipis. Dengan bergegas ia menggendong Monique dengan kedua tangan dan membawanya keluar kamar.
----------+++----------
Kenzo memanggil semua karyawan di posisi managerial ke atas untuk mengikuti rapat terbuka mengenai pengisian posisi strategis yang ternyata kosong karena pemegang jabatan telah diamankan pihak kepolisian kemarin. Posisi ini akan dilepas pada karyawan yang potensial dibidangnya. Ia mengumumkan bahwa setiap orang bisa bersaing untuk satu jabatan tanpa pandang usia. Kandidat dengan suara terbanyak yang akan diangkat ke posisi tersebut.
Pemberitahuan ini di sambut dengan tepuk tangan yang riuh. Sepertinya, kantor ini sudah terlalu lama tidak disentuh oleh keadilan.
Di dalam rapat itu juga Kenzo meminta para Manager mendukung dan membantu Tama sebagai Direktur dan CEO sementara sebelum Direktur sebelumnya pulih dari sakitnya dan demi kelancaran perkembangan perusahaan.
Rapat berlangsung dengan lancar dan penuh antusias di kalangan Manager. Mereka banyak memberi pertanyaan dan dukungan pada kepemimpinan perusahaan yang sekarang.
Mei mencatat apa-apa yang penting pada rapat itu. Sambil mencatat, pikirannya melintas pada pembicara Kenzo dan Tama tadi di mobil yang membuatnya bimbang. Apakah ia akan terus bisa bekerja dengan Tama atau tidak, sebab mereka biar bagaimanapun adalah masih tergolong anak-anak. Bisa saja, saat Ayah Tama pulang, ia mengambil alih perusahaan sedang Tama sudah mengeluarkan uang banyak untuknya. Memasukkannya ke sekolah mahal, membayarkan biaya rumah sakit Ayahnya sedang ia baru bekerja dengan Tama dalam hitungan hari. Belum sampai seminggu.
Apakah Tama akan menarik kembali uang yang sudah diberikan untuk biaya rumah sakit Ayahnya bila ternyata pemuda itu berhenti bekerja? Lalu ia akan mengembalikan dengan apa? Ia tak punya uang sebanyak itu untuk mengembalikannya. Juga uang sekolahnya. Setengahnya pun ia tak sanggup bayar. Lalu ia harus bagaimana? Kenapa bekerja padanya malah menambah hutang, Mei menghela napas.
Seseorang menyentuh bahunya. "Mei." Tama menatapnya heran.
"Eh, kenapa?" Mei terkejut.
"Ngelamun ya? Di panggil berkali-kali gak nyaut."
Eh, apa iya? "Maaf Kak."
"Oh, iya eh, Pak."
"Tolong ambilkan aku minum."
"Oh iya." Mei pun berdiri.
----------++++----------
Monique berbaring membelakangi suaminya. Ia tak mau bicara. Aska yang duduk di kursi di samping tempat tidur sudah lelah bertanya tapi wanita itu tak kunjung bicara. Iapun akhirnya diam sejenak. Tafakur. Apa yang sebenarnya diingini istrinya itu?
"Maaf."
Hening.
"Apa ... maafku tidak bisa menghapuskan lukamu?"
Terdengar suara tangis pelan yang berusaha di tahan. Kemudian menjadi isak yang mulai mengguncang tubuhnya. Aska mencoba bangkit dan duduk di tepian tempat tidur. Diraihnya tubuh istrinya itu dengan perlawanan hebat seiring tangisnya pecah menyayat.
"Kenapa tak kau biarkan saja aku mati bersama bayiku? Kenapa?" Monique memukuli Aska dengan lemah. "Kenapa tak kau biarkan aku mati saja agar kau bahagia bersamanya."
"Maaf."
"Aska." Wanita itu masih terisak. "Ceraikan aku."
Dalam keterkejutan, Aska melepas pelukan. Ia melihat wajah istrinya dalam-dalam.
__ADS_1
"Aku sudah pikirkan. A-aku tidak ingin membebanimu dengan masalah bayi ini. A-aku ...."
"Tidak."
"Aska ...." Monique terkejut dengan jawaban suaminya.
"Kau istriku. Aku tidak ingin bercerai untuk kedua kalinya." Aska kembali memeluk istrinya. "Maaf, a-aku memang tidak mencintaimu tapi beri aku kesempatan, berada di sisimu. Kamu boleh memarahiku, memukulku, atau mendiamkanku tapi aku takkan meninggalkanmu. Tuhan pasti telah membuatmu dengan sangat spesial hingga sampai hari ini aku masih belum bisa menemukan keistimewaanmu, tapi aku pasti menemukannya. Beri aku waktu. Aku pasti bisa melihatnya." Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata dan menetes pelan. Ya, ia yakin suatu saat cinta itu pasti tumbuh, walau kecil kemungkinan itu. Setidaknya niatnya ini bisa di dengar hingga ke langit, berharap dengan keajaiban.
Monique akhirnya menyerahkan diri dalam dekapan hangat suaminya dan saling menguatkan. Berharap pelangi tak meninggalkannya.
----------+++-----------
Mei menatap Tama kesal. Mengapa ia harus bersama pemuda ini dari pagi hingga malam hari sih?
"Kak, ngapain sih, aku kan mau istirahat."
"Belajar itu penting Mei."
"Iya, tapi gak sekarang. Besok kan libur Kak? Besok aja. Sekarang aku mau istirahat."
"Atau kita jalan-jalan yuk, sambil cari makanan."
"Males ah, tadi kan barusan makan." Mei berusaha menutup pintu, tapi Tama menahannya.
"Kita naik motor?" Tama masih membujuknya.
"Mmh! Udah ah!" Mei menghentakkan kakinya.
"Kamu mau ke mana, aku anterin!"
"Aduuh ... Aku mau ke kamar mandi dulu." Mei meletakkan hp-nya di meja belajar sebelum ke kamar mandi.
Dengan mudahnya Tama masuk ke dalam kamar Mei. Ia menutup pintu. Tiba-tiba terdengar notif dari hp Mei. Sambil memperhatikan pintu kamar mandi, Tama membuka hp gadis itu. Dari Tristan. 'Keluar yuk!'
Tama tersenyum. Ia mengetik jawabannya. 'Aku pergi sama Kak Tama.'
'Yaaa.'
Tama kemudian menghapus percakapan itu dan meletakkan kembali hp Mei. Gadis itu keluar dari kamar mandi.
"Ya udah kalo kamu mau istirahat. Besok aja deh kita jalan-jalannya," Pemuda itu mengusap pucuk kepalanya dan membuka pintu. "Bye, oyasumi.(Dah, selamat malam)"
"Apa?"
"Selamat malam." Tama menutup pintu.
Aneh, kenapa sekarang tiba-tiba pergi?
____________________________________________
Author Chocooya dengan novel tentang perjodohan yang unik dalam Falling Into Your Trap. Keren kayaknya. Kuy!
__ADS_1