
Ayah Mei sulit tidur. Ia teringat anaknya. Mei kau di mana Nak? Ya allah, lindungi anak perempuanku satu-satunya ini. Hanya ia mutiara hati, penyejuk ragaku yang rapuh dan tua ini. Tanpa pertolonganmu, hambamu ini tiada daya dan upaya melindunginya dari mara bahaya di luar sana. Semoga pemuda itu menjaganya dengan baik dan semoga anakku menjaga diri dari godaan setan yang terselubung. Mei, ayah harus bagaimana?
"Bang, belum tidur?" Ibu Mei menyahut dari samping.
"Oh, iya. Abang tidur." Pria paruh baya itu mengajak Istrinya kembali tidur.
--------+++---------
"Jangan ngambek dong Leka, Mas minta maaf." Kenzo menyentuh lengan istrinya.
"Habis Abang gitu, jahat!" Leka menggulung bibirnya.
Mereka berdampingan di atas tempat tidur dan bersandar pada kepala tempat tidur.
"Maaf, tadi Mas stres mikirin Tama jadi ikut-ikutan marah karena emosi." Kenzo membela diri.
"Mmh ...." Wanita itu masih menggulung bibirnya.
"Leka Sayang, jangan ngambek nanti cantikmu hilang." Kenzo kembali membujuknya.
Leka hanya melirik sinis.
"Nanti cepet tua lho kalo begitu." Pria Jepang itu mencondongkan wajahnya mendekat.
"Aku kelihatan tua ya?" Wanita itu makin kesal.
"Kamu hanya satu bulan lebih tua dariku, masa kelihatan tua sih? Kamu itu masih terlihat cantik, seksi ...." Kini Kenzo menopang tubuhnya dengan tangan agar mereka bisa saling berhadapan. Ia menatap bibir indah Leka.
"Aku cantik tapi tua, gitu?" Berniat ngambek tapi tak tahan godaan netra Kenzo yang memandangnya lembut dan terus menerus melihat bibirnya.
"Aku harus bilang apa? Nanti salah lagi. Yang pasti aku tidak tahan kalau lihat kamu sedekat ini."
"Mmh."
"Boleh Mas peluk ngak?"
"Mmh."
"Kamu sudah yang tercantik Leka, apa perlu pembuktian?"
"Iya ...." pinta Leka manja sambil menyentuh lengan kekar suaminya.
Kenzo tersenyum lebar. Tidak usah aneh-aneh, permintaan Istrinya hanya sesederhana itu. Menjadi yang tersayang. "Mau main sekarang?"
"Iya sampai aku puas pokoknya." Wajah Leka memerah malu.
Kenzo tertawa kecil. "Ya udah Mas akan usaha." Pria itu menarik baju kaosnya yang berwarna putih ke atas hingga terlepas.
Leka menyentuh bekas luka di dada suaminya. Biasanya dengan begitu gairahnya naik dengan sendirinya. Kenzo langsung menyerang bibir tebal istrinya itu dengan bibirnya, dan malam itu dilewati dengan kemesraan yang didamba.
----------+++---------
Pagi itu kembali mereka sarapan bertiga, Kenzo, Leka dan Runi. Kenzo menjalani sarapannya dengan melamun.
"Mas, kenapa? Masih mikirin Tama?"
"Mmh. Mei harusnya dalam perawatan tapi dia malah kabur bersama Tama," sesal Kenzo. "Tapi aku bingung, bagaimana mereka bisa kabur bersama?"
"Maksudnya? Bukannya kalian bersama-sama?" Leka menyuapi Runi di kursi baru khusus balita. Sepotong roti yang telah dioles selai mendarat di mulut gadis kecil itu tapi kemudian ia menyodorkan kedua tangannya meminta roti itu karena ingin makan sendiri. Leka mengabulkannya.
"Masalahnya Mei kan hilang ingatan dan seorang polisi mengaku kenalan ngobrol dengannya, tapi ngak ada ngobrol sama Tama."
"Mei hilang ingatan?"
"Eh, ya. Kamu gak tau ya? Itu yang bikin kami panik. Mei masih dalam perawatan dan tiba-tiba mereka hilang berdua."
"Tapi kemarin wajah mereka biasa-biasa saja. Tidak kelihatan Mei hilang ingatan. Apa ingatannya sudah kembali?"
"Apa bisa secepat itu?"
"Aku gak tau Mas."
Kenzo meletakkan kepalan tangannya di depan mulut. "Sekarang aku harus cari Tama di mana ya? Rasanya tak mungkin ia minta pertolongan teman-temannya karena pasti ketahuan."
Tiba-tiba terdengar bunyi bel dari pintu utama. Seorang pembantu membukakan pintu. Arya muncul dan bergegas mendatangi meja makan. "Jo, kamu cover(bantu) pekerjaan Tama ya?"
"Ya Ayah ...."
"Jangan sampai Kakek yang di Jogja tahu Tama kabur dari rumah."
__ADS_1
Kenzo masih terlihat enggan. "Perusahaan yang ku pegang kan banyak Yah."
"Ayah tahu. Apa kau tidak bisa buat perusahaan itu juga online seperti perusahaanmu?"
"Banyak pegawainya yang di tangkap kemarin Yah, makanya ...." Kembali Kenzo terlanjur bicara.
"Ditangkap? Kenapa?"
Mau tak mau Kenzo bicara, karena pada akhirnya ia harus menceritakan masalah ini cepat atau lambat.
"Jadi, bukan hanya Tama yang tidak terus terang padaku, hah?" Arya memandang Kenzo tajam.
"Ayah, sekarang bukan saatnya bicara siapa yang salah dan siapa yang benar tapi bagaimana cara menuntaskan masalah ini segera."
"Pantas saja kamu berkeras Tama harus punya Bodyguard lebih dari satu, jadi itu alasannya?"
"Ayah baru pulang dari luar negeri dan kami harus membicarakan yang pantas didengar kan?"
"Kalau begitu, kamu bisa mengurus perusahaan Tama kan?"
"Ah, Ayah. Kenapa tidak Ayah saja? Ayah kan yang pewaris sebenarnya, kenapa tidak Ayah ambil? Kalau dulu Ayah yang mengambil alih perusahaan itu, kan tidak begini ceritanya? Tama tetap sekolah dan ia tidak pernah mengenal Mei." Kenzo merapikan duduknya. "Padahal sejak mengenal Mei, Tama banyak berubah. Dia aku lihat rajin sekolah dan tidak pernah telat bangun paginya."
"Dan Mei itu anak yang cerdik. Kalau aku yang mengambil perusahaan, belum tentu umurku panjang."
Kenzo menatap Ayahnya.
"Aku tidak bisa seperti Mei dan tidak akan selamat jatuh dari jurang itu!" terang Arya. "Gadis itu juga aneh. Ilmu bela dirinya tidak umum. Sepertinya ia mencampur berbagai macam ilmu bela diri dan aku penasaran siapa yang mengajarinya ilmu itu. Apa ia belajar dari Ayahnya?"
"Mungkin."
"Ya sudah, urus saja dulu perusahaan adikmu itu, biar Ayah yang akan mencari Tama. Paling takkan lama."
"Ayah akan cari ke mana?"
"Ke mana pun."
---------+++-------
Tama membuka pintu. Ia memicingkan matanya karena baru bangun tidur.
"Aku laper Tam." Mei berdiri di hadapannya.
"Oh iya, belum sarapan ya?"
"Sholat, tapi habis itu tidur karena habis main games semalam." Tama masuk ke kamarnya hendak mencuci muka.
"Kamu begadang ya?" Mei mengikuti.
"Heum."
"Ih, apa gak capek kemarin keliling-keliling naik motor?"
"Capek." Tama sudah mencapai kamar mandi.
"Lah, kenapa gak tidur?" Mei berdiri di pintu masuk kamar mandi saat pemuda itu membasuh wajahnya dengan air di gayung.
"Udah lama gak main."
"Jadi kita ngak beli sarapan?"
"Beli. Sebentar ya?" Tama kembali keluar kamar mandi dan mencari handuk di dalam tasnya.
"Kalau kamu masih ngantuk, nanti aja beli sarapannya," ucap Mei tak enak hati.
"Ngak papa. Kita jalan kaki, beli yang dekat-dekat sini saja."
Mei menatap Tama. Ia iba melihat pemuda itu masih mengantuk. "Aku beli sendiri saja deh!"
"Eh jangan. Kita pergi sama-sama. Aku ingin makan di tempat biar gak bawa sampah ke rumah. Lagi pula tanganmu masih begitu." Tama menunjuk dengan dagunya.
Keduanya kemudian keluar dan mencari-cari tempat sarapan yang ternyata banyak tersebar di daerah itu. Daerah itu ternyata dekat dengan sebuah kampus universitas swasta sehingga banyak jajanan ala anak kampus di sana-sini. Kos-kosan juga banyak dan diisi anak-anak kuliahan sehingga banyak tempat jajanan murah di sana. Sepagi itu Mei sudah menemukan banyak makanan jajanan yang dibeli saat melihatnya.
"Banyak sekali kamu jajannya sih? Apa habis sebanyak itu?" Tama melihat banyaknya bungkusan yang di pegang Mei. Ia membayar belanjaan Mei.
"Buat sekalian makan siang dan makan malam. Aku malas keluar lagi."
Tama melihat wajah Mei yang ceria. Ya sudah lah, yang penting dia suka.
--------+++--------
__ADS_1
Seorang perwira polisi yang masih berpakaian dinas berderap keluar dari rumah sakit. Tangannya mengepal kencang dengan geraham yang dirapatkan.
"Sialan, kenapa aku bisa kecolongan begini sih?" gumamnya kesal. "Harusnya aku masih meminta anak buahku mengawasi mereka karena ternyata Tama lebih cerdik. Aku tak kepikiran bahwa Tama akan membawa kabur Mei. Sialan, benar-benar sial!" Ia meninju dinding di sampingnya. "Awas Tama. Aku akan bikin perhitungan denganmu!" Ia makin mengencangkan kepalan tinjunya.
--------+++--------
Pintu diketuk. Ibu Mei mendatangi pintu dan membukanya. "Oh, kamu."
Perwira polisi itu sudah sampai di depan pintu rumah Mei. "Bapak ada?"
"Ada. Silahkan masuk. Maaf rumah kami kecil." Ibu Mei membuka pintu rumahnya lebar-lebar.
Pria itu masuk beberapa langkah ke dalam rumah. "Boleh saya bertemu dengannya?"
"Oh, boleh-boleh. Tunggu sebentar." Ibu Mei masuk ke dalam kamar dan memanggil suaminya.
"Ada apa?"
"Polisi yang suka pada Mei itu, dia mencarimu Bang."
Ayah Mei segera bangkit dari tempat tidurnya dan menemui Tristan di luar. "Eh, bagaimana kamu bisa menemukan alamat kami?"
"Oh, itu mudah bagiku. Pihak rumah sakit pasti mau memberikan alamatmu pada polisi."
Ayah Mei dari awal mengenal Tristan, sudah merasa tidak nyaman karena ia seperti tipe pria yang bisa melakukan apapun dengan kekuasaannya. Termasuk mencari alamat rumahnya. "Silahkan duduk." Ia menawari Tristan duduk di kursi meja makan karena ia tak punya ruang tamu.
Tristan duduk menghadap Ayah Mei. "Maaf saya mendatangi rumah Bapak karena Bapak sudah pulang dari rumah sakit. Kabarnya Mei hilang ya?"
"Oh, iya."
"Maaf saya tidak meninggalkan nomor telepon, tapi Bapak sepertinya tidak mengadu ke kantor polisi. Kenapa, apa karena Tama yang membawa kabur anak Bapak? Apa mereka mengintimidasi Bapak?"
"Oh, tidak. Aku hanya ingin menyelesaikan secara kekeluargaan saja."
"Jadi benar Tama membawa kabur Mei?"
"Sejujurnya Bapak tidak tahu karena Bapak tidak lihat mereka bersama dan melihat bagaimana Mei pergi, yang Bapak tahu keduanya sama-sama menghilang."
"Boleh saya mencarinya Pak?"
"Silahkan, dengan senang hati."
"Boleh saya catat nomor telepon Bapak?"
"Maaf Bapak tidak punya telepon."
Duh, susah juga ya? "Nanti kalau ada perkembangan akan Saya laporkan kemari."
"Terima kasih Nak, Bapak sangat terbantu."
Tristan pun pamit. Ia sedikit heran kenapa orang tua Mei tidak meminta bantuan polisi. Ia bertekad mencari Tama dan dan Mei dan memberi pemuda itu pelajaran.
--------+++--------
"Tam, kamu lagi ngapain?"
"Mau beli sarapan lagi?" Kali ini Tama muncul dengan mengusap rambut basahnya dengan handuk. Sepertinya ia habis mandi.
"Tumben pagi-pagi udah rapi?" Mei menatap pemuda itu yang tampak segar di pagi hari.
"Mau gak?"
"Mau."
"Ke pasar yuk?"
"Ngapain?"
"Iseng."
Mei tertawa. Mereka kemudian benar-benar pergi ke pasar untuk melihat-lihat dengan naik motor. Kehidupan mereka menyenangkan. Penuh derai tawa. Bahkan lama kelamaan Mei terbiasa dengan Tama. Ia kadang melingkarkan tangannya di lengan pemuda itu saat mereka jalan bersama. Tentu saja Tama menyukainya. Tak terasa 2 minggu mereka bersembunyi tanpa ketahuan. 2 minggu dan itu harus berakhir.
--------+++--------
"Mbak Fika, kamu sedang apa?" Mei mulai mengenal tetangganya, seorang mahasiswi jurusan akutansi di universitas swasta itu.
"Aku lagi beberes kamar," jawab gadis berambut panjang itu, ia sedang merapikan tempat tidurnya.
"Kamu lihat Tama gak?"
__ADS_1
"Tadi keluar, sendiri."
Oh, apa lagi ambil uang ya?