Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Gosip


__ADS_3

"Ih, nyebelin. Kenapa gue gak boleh ngisi sendiri sih, kenapa jadi marah sama gurunya? Ck, Kak Tama bikin bete nih!" Kembali gadis itu melirik ke belakang melihat Tama yang memberi kode dengan mata agar Mei segera melakukan yang diperintahkan. Mei benar-benar kesal.


"Pertama! Kamu ngapain?"


Suara guru itu seperti petir yang menyambar mengagetkan keduanya. Mei segera mengembalikan wajahnya ke depan sedang Tama sibuk berpura-pura.


"Mmh, ngak papa Bu. Iseng! He he he."


"Kamu sudah selesai? Kalau sudah selesai, letakkan saja kertas ulanganmu di meja Ibu. Tidak biasanya kamu lama mengerjakan soalmu, Tama. Kamu biasanya paling cepat."


"Iya Bu."


Ibu guru mendekati Tama membuat pemuda itu ketar-ketir. "Kamu bener belum selesai?"


"Eh, mmh udah selesai sih Bu, tapi malas keluar."


Guru itu mengambil kertas ulangan Tama dan memeriksanya. "Terus, mau apa di sini? Kamu nanti hanya mengganggu yang lain saja yang sedang mengerjakan soal. Ayo taruh di depan!" Ia menyerahkan kertas itu kembali pada Tama.


Dengan berat hati, Tama menyeret langkahnya ke depan sambil menarik lengan baju Mei saat lewat di samping gadis itu. Ia kesal Mei belum juga selesai.


Gadis itu mencebik.


Setelah meletakkan kertas ulangannya di meja guru, Tama keluar kelas.


--------+++--------


Pintu diketuk. Mariko membuka pintu. Ada Irene berdiri di depan pintu, melirik ke dalam melihat Arya yang sedang duduk di atas tempat tidur menonton TV.


"Ada apa?" sapa Mariko ramah.


"Oh, apa aku boleh berkunjung ke rumahmu bila nanti main ke Jakarta?"


"Oh, ya tidak apa-apa."


Arya melirik ke arah pintu ketika mendengar suara Irene tapi kemudian ia tidak peduli dan kembali menonton tivi.


"Eh, apa aku boleh masuk?"


"Mmh?"


Irene seperti memaksa masuk hingga Mariko terpaksa membiarkannya. Tiba-tiba sebuah tangan menarik Irene kembali keluar kamar.


"Nani yatteru no?(kamu mau apa?)"


"Eh, Ayakochan ...."


Kedatangan Ayako membuat keduanya terkejut, apalagi dengan wajah penuh selidiki. Irene terlihat pucat.


"Since I had travel a lot, do you think, I don't have an eye for you, mmh? I have reported that you keep following him while I'm not around. Irenu. Yakuza ni kekkon suru no wa eien ni naru kotoni hazu da! Nidomeini kekkon dekinai. Wakatta ka?(Karena aku sering keluar, jangan kamu pikir aku tidak pernah mengawasimu, mmh? Aku sudah menerima laporan bahwa kamu sering mengikutinya saat aku tidak ada. Irene. Sekali menikah dengan Yakuza, kamu akan selamanya jadi Yakuza! Kamu tidak bisa menikah lagi. Kamu mengerti?)" ucap Ayako dengan tegas saat menunjuk Arya tadi.


Irene syok mendengar pernyataan Kakak Iparnya. Se-se-lamanya? "Demo ....(tapi ....)"


"Ike!(Pergi!)" Ayako mengusir Irene ke arah kamarnya.


Wanita itu dengan berat hati, pergi.


"What's going on?(ada apa?)" Karena mendengar ribut-ribut di pintu, Arya mendatangi mereka.


Ayako tanpa berkata apa-apa, pergi meninggalkan mereka berdua. Arya menatap Mariko.


"Oh, gak papa." Mariko menutup pintu. Ia bercerita sambil menyusun baju di dalam tas besar.


"Jadi orang yang menikah dengan Yakuza akan selamanya jadi Yakuza?" Arya bertanya heran.


"Tidak juga sih. Kasusnya Irene begitu jadinya karena suaminya meninggal. Kalau ia cerai sebelum suaminya meninggal ia bisa bebas keluar dari lingkungan Yakuza. Lagipula Irene bukannya juga dari keluarga Mafia di Amerika, harusnya mengerti itu. Eh, tapi ngomong-ngomong kenapa dia sering mengikutimu? Kata Ayako begitu."


Arya hanya mengulas senyum.

__ADS_1


"Apa ia tertarik padamu?" Mariko baru menyadarinya.


Dasar orang Jepang, lugunya kadang kelewatan. "Kalau iya kenapa?"


"Mmh? Mas kamu ...." Mariko mendekati suaminya sedikit merajuk.


Arya hanya memberi senyum nakal tanpa berucap hingga istrinya mencapainya.


"Mas, kamu pacaran ya sama Irene di belakangku?" Wanita itu menjatuhkan pandangan karena takut melihat kenyataan sambil menyentuh paha suaminya.


Pria itu menarik istrinya dan mendudukannya di pangkuan. Ia melingkarkan lengannya pada pinggang wanita itu. "Cemburu ya?" Ia menyentuh hidung bangir istrinya. "Apa aku bodoh mau pacaran dengan wanita tua seperti itu, mmh? Cantikkan istriku ke mana-mana. Lagi pula kamu bukan yang pertama tapi yang aku cinta jadi tak mungkin aku melirik yang lain lagi. Cintaku hanya buat kamu seorang, Sayang."


Mariko mengecup hidung suaminya karena senang. Kemudian bibirnya. Lalu, mereka saling berpelukan.


--------+++-------


Bel berbunyi. Mei menyerahkan kertas ulangannya berbarengan dengan Tristan. Mereka saling lirik tapi tak bicara dan kemudian kembali ke tempat masing-masing. Setelah guru matematika keluar membawa kertas ujian, suasana terlihat santai di kelas menunggu guru berikutnya datang. Tama belum kembali.


Tristan memberanikan diri mendatangi Mei. "Mei."


Gadis itu menoleh pada pemuda yang berdiri di sampingnya.


"Kemarin kok aku telepon gak nyaut?"


"Oh, nomornya ganti."


"Apa? Ganti?"


"Iya. Selasa kemarin itu kita kecelakaan dan hp-nya rusak. Tama juga ganti hp kok!"


Tristan memindai tubuh gadis di depannya yang terlihat tidak bermasalah. Memang Mei berpakaian muslim yang tertutup tapi ia tidak terlihat berjalan pincang kecuali memang ada luka gores di wajah gadis itu yang tidak terlalu kentara. Ia pikir itu bekas cakaran kucing walau ia menyadari Tama dan Mei tidak masuk sekolah hari Rabunya. "Kamu tidak apa-apa?" Ia menyentuh lengan Mei.


"Oh, gak apa-apa Tris, kami selamat. Hanya hp saja yang rusak karena terpental."


"Beneran?" Tristan terlihat antara khawatir dan hampir tidak percaya.


"Iya, kami gak kenapa-kenapa."


"Iya, udah," menjawab kekhawatiran pemuda itu dengan senyum.


"Syukurlah. Maaf aku gak tau, aku pikir Tama membolos karena itu kamu juga ikut ngak masuk."


"Oh, gak."


"Jadi nomormu?" Tristan mengangkat hp-nya dan mencatat nomor Mei yang baru ketika gadis itu mengeluarkan hp-nya.


Tak lama guru datang bersama Tama. Pemuda itu sempat melihat Mei memberitahukan nomor hp-nya pada Tristan. Ia hanya bisa melihat saja. Ia gemas pada Mei yang masih saja berhubungan baik dengan Tristan.


Ketika jam istirahat, siswa yang beragama Islam banyak yang datang memenuhi aula mesjid sekolah karena sebentar lagi akan sholat Jum'at. Siswi atau mereka yang beragama lain mendatangi kantin untuk makan siang. Mei salah satunya. Sejak kasus di mana ia diketahui sebagai Bodyguard, ia hanya punya seorang teman, Ida. Itupun karena mereka senasib. Gadis itu masuk lewat jalur beasiswa.


Kini Mei sangat terkenal di sekolah itu. Keberadaannya ada yang mencibir sebagai orang miskin tapi tidak berani terang-terangan karena mereka tahu Mei adalah seorang Bodyguard yang jago bela diri dan ada pula yang terkejut dengan posisinya sebagai seorang Bodyguard untuk salah seorang siswa di sekolah itu. Banyak pandangan beragam soal dirinya yang pro kontra yang menjadikannya buah bibir di kalangan siswa siswi sekolah bergengsi itu.


"Kamu kan ya, yang bernama Mei?"


"Eh, iya." Mei menoleh pada seorang gadis cantik yang sedikit genit. Rambut ikalnya di gulung sempurna. Gadis itu membawa teman-temannya yang berusaha mengusir Ida karena gadis itu ingin bicara dengan Mei.


Gadis itu berdehem dengan gaya putri cantik agar image-nya tidak buruk di mata orang lain. "Aku denger gosip, lu Bodyguard ya?"


"Emang kenapa?"


"Berapa tarifnya?"


Mei melihat gadis ini lekat. Apa yang dia inginkan?


Kembali gadis itu berdehem. "Gue butuh elu untuk ngawal gue, gitu." Ia memainkan ujung rambut dan menatap ke arah lain.


"Kamu siapa?"

__ADS_1


"Masa lo gak kenal gue, Clarisa Putri, anak Sutradara terkenal itu lho! Banyak Artis yang jadi terkenal gara-gara Babe gue!"


Mei mengerut dahi. Gadis itu kemudian menggebrak meja membuat anak-anak lain di kantin itu menoleh padanya. "Eh, gue bakal bayar elo! Sok jual mahal lagi lo!" ucapnya kesal karena Mei tak juga menyebutkan tarifnya.


Mei kesal dianggap wanita miskin yang mudah dibeli. Dengan wajah seram Mei berdiri dan mendekati Clarisa. Tentu saja gadis itu mundur pelan-pelan karena ngeri melihat wajah Mei yang angker. Teman-temannya pun ikut pula menjauh.


"Maaf tapi aku cuma kerja sama satu orang saja," ucapnya pelan dengan pandangan tajam ke arah Clarisa.


Gadis berambut ikal itu tertawa. "Bagaimana kalo lo gue bayar dobel dari yang di bayar Tama sama elo." Ia meletakkan telunjuknya di dada Mei.


Mei geram. Gadis itu semakin merendahkannya. Entah ia ingin benar-benar mendapatkan Mei sebagai Bodyguard-nya atau hanya sekedar ingin merendahkannya tapi kata-katanya benar-benar menyakitkan untuk didengar karena saat itu banyak siswi di sana yang melihat ke arah mereka dan para siswa yang juga baru keluar dari mesjid datang ke sana ikut melihat kejadian itu.


Sebelum Mei melakukan apa-apa, seseorang berusaha memisahkan dengan menangkap jari Clarisa dan menghempaskannya.


"Jangan sok suci. Punya Bapak yang tidur sama banyak Artis aja lo banggain."


Ucapan Tristan ternyata terasa lebih pedas daripada ucapan Clarisa pada Mei hingga gadis dengan gaya bak Artis Korea itu langsung syok di tempat. Ini gosip murahan yang dikatakan padanya di depan umum di hadapan banyak siswa. Mau ditaruh ke mana wajahnya saat itu, bukan main malunya. Clarisa segera meninggalkan tempat itu tanpa berkata apa-apa.


"Eh, makasih." Mei merasa lega Tristan menolongnya. "Tapi kan kamu tidak harus bicara sekasar itu padanya."


"Dari pada kamu bertengkar dengannya bakal panjang ceritanya sampai ke ruang guru, mau?"


Mei menggeleng.


"Makanya ada situasinya bicara keras dengan seseorang."


Mei kembali duduk.


"Eh, bagaimana dengan pertanyaanku kemarin?"


"Apa?" Mei menyuap kentang gorengnya.


"Soal kita," tanya Tristan memelankan suaranya.


"Mmh, gimana ya?"


Tristan mencoba duduk. "Masalahnya apa? Tama? Memang kamu gak punya kehidupan pribadi? Pasti semua orang punyalah. Dia gak bisa kekang kamu kayak gitu."


"Bukan itu."


"Lalu?"


"Aku gak boleh pacaran sama orang tua."


"Kamunya?"


"Aku ikut orang tualah."


Tristan terdiam. Sebenarnya dia gadis yang baik, tak percuma aku jatuh cinta padanya. Dia menurut pada orang tua. Gadis yang sempurna. "Kalau aku dekat denganmu? Misalnya, aku ajak kamu keluar, gitu. Mau gak?"


Mei menatap Tristan. Kenapa dia begini? Apa dia sungguh-sungguh padaku?


"Teman dekat aja Mei. Kalau bosen di rumah, kita jalan-jalan sebentar keluar hanya cari makan, gimana?"


"Ya sudah."


"Nanti malam ya?"


Tama baru saja memasuki kantin. Ia sudah melihat Mei bicara dengan Tristan dari jauh. Saat ia mendekati mereka berdua, Tristan melihatnya dan segera pergi menjauh.


"Aku beli makan dulu ya?" ucap Tristan pada Mei.


____________________________________________


Halo yang puasa, reader sekalian makin cantik dan ganteng-ganteng gak nih setelah puasa secara berat badan menurun dengan sendirinya. Jangan lupa kasih author biar semangat dengan like, komen, vote, hadiah dan koin. Ini visual Mei kalo lagi marah. Tetep manis kan? Salam, Ingflora. 💋


__ADS_1


Author Dara dengan cerita kisah pertemuan di tempat yang tidak biasa yang membuat mereka bisa berjodoh dengannya. Cekidot!



__ADS_2