
"Gak boleh nih, aku ke sana?"
Terlintas pikiran nakal pada Mei. Ia tersenyum. "Boleh aja, asal ...." Mata jenaka itu berputar.
"Asal apa?" Tama penasaran.
---------++++--------
Para tukang yang sedang duduk-duduk dekat situ jengah. Ada sebagian yang meledeknya. "Aduh Pak, aku jadi ingin pulang. Inget istri." Seorang pria yang melepas baju kaosnya karena kepanasan, menatap Tama dengan intens.
Dihadapan pria itu terpampang adegan yang tidak semua pria mau melakukannya.
"Ini Mei, aku pake kerupuk." Tama menunjuk kerupuk di pinggir wadah makanan.
"Ambil aja, makan," sahut Mei yang kemudian menyuap suaminya dengan suapan berikutnya. Ya, Mei menyuapi Tama makan di lantai kayu rumah permanen itu dan itu menjadi perhatian para tukang yang kebetulan ada di dalam rumah itu. Ada yang jengah, tersenyum geli dan bahkan geleng-geleng kepala.
Anjali yang duduk istirahat tidak jauh dari situ, bernapas lega sebab yang dikhawatirkannya tidak terjadi. Ia sempat merasa bersalah saat ia menjadikan Tama pelarian untuk tempat bercerita tentang masalahnya dengan sang pacar. Melihat Tama yang setia disuapi Istri makan di tempat kerja menjadikan ia mengerti betapa Tama saat mencintai Istrinya. Mendengar ledekan orang yang melihat dihadapinya dengan senyuman.
"Eh, ini Istri gue. Gue gak mau dipecat jadi suami," ucap pemuda itu berkelakar.
Yang lain tertawa. Juga Anjali.
--------+++-------
Waktu berlalu dengan cepat. Pernikahan Salwa dan Rojak akhirnya datang juga. Setelah melakukan akad nikah di pagi hari, malam pun diadakan pesta yang cukup meriah.
Pesta diadakan di sebuah gedung dengan cukup mewah. Kain yang menjuntai-juntai berwarna pink dipadu dengan rangkaian bunga aneka warna dominasi putih di setiap sudut menjadi ruangan bernuansa lembut. Di tambah dengan lampu-lampu gantung dan sangkar burung berisi tanaman hijau membuatnya seperti berada di dalam kebun bunga.
Pernikahan Rojak-Salwa menggunakan Adat Betawi karena keduanya masih keturunan orang Betawi. Rojak yang asli Betawi dan Salwa Betawi-Sunda.
Chris sangat menikmati prosesi adat pernikahan anak tirinya ini sejak pagi. Melihat petasan dibunyikan hingga memekakkan telinga, prosesi Palang Pintu(saat datang melamar dicegat di depan pintu dengan melempar pantun dan adegan silat), hingga lamaran dengan banyak kiriman serah-serahan ke rumahnya. Ia sangat senang menjadi bagian dari orang-orang yang masih bisa melihat beraneka ragamnya budaya Indonesia secara langsung.
Ia pun mencoba pakaian adat Betawi bersama Reina, dan Aska.
Pesta pernikahan pun cukup meriah. Teman bisnis dan keluarga banyak berdatangan. Terutama teman-teman Salwa dan Rojak.
"Ayo, kok lama sih?" tanya Tama pada Kenzo.
Kenzo masih menunggu Istrinya yang belum juga keluar. "Entahlah, wanita lama dandannya." Ia melirik Mei yang juga ikut menunggu.
"Istriku enggak, udah selesai dari tadi," ujar Tama membandingkan.
"Tadi dia kesulitan cari baju. Banyak yang sudah sempit. Dia agak gemukan sekarang."
"Mau dibantuin Kak?" Mei menawarkan diri.
"Oh, boleh."
Namun belum apa-apa Leka sudah keluar dari kamarnya.
"Akhirnya ...." ucap Kenzo dan Tama bersamaan.
Entah kenapa, Mei melihat Leka sedikit pucat walaupun telah ditutupi bedak yang tebal.
Mereka kemudian berangkat dengan mobil mereka masing-masing.
__ADS_1
Di pesta mereka berbaur. Tama pun bertemu banyak teman bisnisnya dan ia selalu membawa Mei bersamanya sedang Kenzo, entah kenapa Leka sering terpisah. Kadang mengambil makanan, mengurusi Runi, atau ingin ke toilet. Akhirnya Kenzo mengambil alih Runi yang dalam pengawasan Baby Sitter-nya, tapi Leka masih sering menghilang membuat Kenzo bingung dengan tingkah Istrinya.
Di tempat lain, Arya dan Mariko memberi selamat pada pasangan pengantin Rojak dan Salwa. Ia juga memberi selamat juga pada Chris dan Reina dan juga Ibu Rojak yang bersanding dengan menantunya. Mereka menyambut pesta itu dengan suka cita.
Aska hanya tersenyum melihat Istrinya berpakaian berbeda, pasalnya perutnya sudah sangat besar dan sedang menunggu waktu untuk persalinan. Wanita itu terpaksa tidak bisa memakai baju adat menemani suaminya karena bajunya tidak ada yang muat untuk ukuran Ibu hamil.
"Kamu duduk saja di sana, karena gak akan kuat menemaniku ke sana kemari."
Monique merengut.
"Ya udah, aku gak ke mana-mana. Kau mau makan apa?"
Senyum wanita itu mulai terbit. Ia memikirkan sesuatu.
Kenzo kebingungan mencari Leka. Sebab sudah setengah jam ia tidak melihatnya dan juga tidak ada di toilet. Ia bingung harus mencari ke mana sedang Baby Sitter Runi terus mengikutinya sambil menggendong gadis kecil itu. "Aduh Leka ke mana ya?"
Di tempat lain, Leka berjalan sempoyongan. Ia baru masuk dari berdiri sebentar di luar gedung menghirup udara segar. Sejak pagi ia muntah-muntah dan kini tubuhnya kurang sehat. Ia mencoba menyembunyikan ini dari suaminya karena Kenzo sangat sibuk sedari pagi.
Pria Jepang itu sedang kebingungan. Ada beberapa perusahaan yang bergabung dengan perusahaannya menginginkan perluasan usaha yang didukung oleh laba yang kian meningkat tapi Kenzo berniat sebaliknya. Hal ini memicu perdebatan yang menjurus kepada rapat besar yang harus segera dilaksanakannya. Itu berarti ia harus datang ke Jepang segera.
Ia sempat melakukan Video Call(telepon dengan video) dengan beberapa petinggi di perusahaannya yang menyebabkan perhatian pada Leka teralihkan. Leka pun tidak ingin suaminya khawatir karena hari itu mereka akan menghadiri pernikahan anak Om Chris dan juga Kakak Angkat Tama.
Leka melangkah pelan menuju tempat makanan berharap dengan makan sedikit, rasa mual di perutnya berkurang.
Namun saat berjalan, kepalanya terasa berkunang-kunang. Ia mencoba mencari pegangan dan seseorang langsung menangkap lengannya karena tubuhnya mulai miring ke samping.
"Leka? Kamu kenapa?" Aska menemukannya hampir terjatuh.
"A-aku ...." Wanita itu langsung pingsan.
Aska dengan sigap menangkap tubuhnya. "Leka ... Leka? Kamu kenapa?" Ia menatap tubuh mantan istrinya itu yang telah tak sadarkan diri dalam pelukannya.
"Apa yang kau lakukan pada Istriku?" Mata Kenzo terbelalak melihat yang ada di hadapannya.
"Aku tidak tahu Kenzo, tiba-tiba dia pingsan."
Dilihatnya Kenzo masih tak percaya.
"Sumpah!"
Beberapa orang berkerumun melihat kejadian itu.
"Mas ini bener, cuma nolong istri Bapak," Seorang wanita maju memberanikan diri bicara membela Aska. Ia kebetulan melihat kejadian itu.
Monique penasaran. Ia melihat suaminya di kerumuni banyak orang hingga dengan susah payah karena kehamilannya yang sudah membesar, ia mendatangi tempat itu. Ia terkejut melihat suaminya sedang menggendong mantan istrinya di depan mata. Api cemburu segera menyambarnya. "Sayang, kamu ...!" Dengan kecewa ia segera meninggalkan tempat itu.
"Monique, Monique! Tunggu!" Aska segera menyerahkan tubuh Leka pada Kenzo. Ia sudah tak peduli lagi, apakah Kenzo percaya pada perkataannya atau tidak karena ia lebih peduli pendapat Istrinya yang saat itu salah paham tentang apa yang dilihatnya. Ia segera mengejar Monique.
Wanita hamil itu tidak bisa berlari cepat. Ia memegangi perutnya karena terlalu sulit untuk berlari. Dengan cepat Aska meraih tangan istrinya. "Monique ...."
Wanita itu, air matanya walaupun telah merusak riasan wajahnya, ia tetap cantik. Bercucuran bulir-bulir air matanya jatuh tanpa diminta. "Tidak usah bicara, aku sudah lihat," ucapnya dengan nada kecewa.
"Dan apa yang kau lihat tidak selalu benar," Aska membela diri.
"Aska, sudah. Jangan berpura-pura lagi. Aku tidak ingin kepura-puraanmu menjadikan aku dan kamu tidak bahagia. Aku tidak ingin mengikatmu. Dari awal aku sudah bilang padamu kan?" Monique berusaha menghapus air matanya yang malah makin merusak riasan wajahnya. Walaupun ia berusaha tegar tapi air matanya menyatakan berbeda. Derasnya air mata yang turun menyatakan ia tidak terima melihat Aska kembali mencari mantan Istrinya itu, bahkan sepertinya ingin berduel dengan Suami mantan istrinya tersebut gara-gara itu.
__ADS_1
"Monique, aku tidak berbohong. Aku ...."
"Sudah!" Monique berusaha menepis suaminya tapi tak bisa.
Drama rumah tangga ini juga dilihat banyak orang tapi Aska tak peduli. Ia ingin istrinya mengerti, bukan orang lain. "Monique percayalah." Ia mencoba merendahkan suaranya.
"Aska lepaskan aku!" Wanita itu berusaha melepas diri dari genggaman Aska.
"Monique, please ...."
Ayah Monique melihat dikejauhan dan berusaha mendekat bersama Ibu Monique.
Tiba-tiba Monique merasakan kram dan tegang di perutnya. Ia berusaha bertahan.
"Monique, kau kenapa?" Aska melihat Istrinya yang pucat seketika. "Monique?"
Monique hampir jatuh kalau tidak Aska segera dengan sigap menangkap tubuh wanita itu. Wanits itu memegangi perutnya. "Aduh, bagaimana ini? Perutku ... sakit ...!" Ia menggenggam tangan sang suami menahan kram yang menyerang perutnya.
"Ada apa ini?" Ayah Monique datang bersama Istrinya.
"Tidak tahu Papa. Apa Monique akan melahirkan?" Aska bertanya-tanya.
"Apa? Ayo bawa ke mobil. Kita bawa ke rumah sakit."
Pihak EO(Event Organizer) yang mengurus acara pernikahan Salwa dan Rojak juga tidak bisa berbuat banyak karena keributan dipicu dari keluarga sang mempelai wanita itu sendiri sehingga mereka hanya berusaha untuk tidak terjadi keributan yang lebih parah lagi di pesta itu.
Sementara itu, Kenzo telah membawa Istrinya dengan mobil ke rumah sakit, menyusul Aska dengan Istri dan mertuanya. Tama yang melihat kejadian ini kebingungan. Kenzo dan Aska, kedua-duanya adalah Kakaknya, demikian juga Salwa. Jadi dia harus ada di mana?
Chris menghampiri. Ia juga sempat melihat kejadian itu di kejauhan yang cukup menyita perhatian umum dan sedikit merusak suasana pesta pernikahan Rojak dan Salwa. Pasangan pengantin pun yang berada di pelaminan tak bisa berbuat banyak karena mereka sedang ada tamu.
"Tama."
Pemuda itu menoleh.
"Kau dan Mei pergilah mendamping mereka. Pastikan mereka tidak bertengkar gara-gara hal sepele. Aku mengutusmu untuk mendamaikan Kakak-Kakakmu," ucap Chris bijak.
"Tapi Pa, gimana dengan pesta Kak Salwa? Aku gak enak sama Kakak."
"Kamu sebagai mata Papa yang satu lagi. Papa jaga Kakakmu di sini dan kamu urus Kakak-Kakakmu di sana. Papa percaya padamu."
Tama masih menatap Chris dengan ragu.
"Kamu pasti bisa Tama karena kamu sayang mereka. Laporkan pada Papa hasilnya ya?"
Tama mengangguk. Ia kemudian berangkat bersama Mei.
Leka dan Monique dibawa ke rumah sakit Chris yang letaknya ternyata tidak jauh dari gedung pernikahan itu. Mereka pergi ke tempat terpisah. Leka pergi ke UGD dan Monique ke bagian persalinan. Tama yang datang belakangan, menemui Kakak kandungnya Kenzo terlebih dahulu.
Leka telah siuman dan sedang diperiksa secara intensif oleh Dokter.
"Kamu kenapa Leka, kenapa kamu pingsan? Apa yang dilakukan Aska padamu, katakan! Biar kuhajar mantanmu itu. Benar-benar tak tahu diri. Istri hamil, masih saja mengintai wanita lain," Kenzo berujar sambil menyingsingkan lengan baju.
"Apa? Aska?"
__________________________________________
__ADS_1
Author Alya Aziz dengan Novelnya berjudul Jerat Hasrat Sang Calon Duda, mengupas cerita tentang pernikahan toxic. Gimana ceritanya, cus langsung aja.