
"Oh, iya Mbak. Aku mau ganti baju dulu," ucap Tama pada Leka.
"Oh iya, biar cepat di cuci nodanya ya?"
"Iya Mbak." Tama kemudian membawa Mei ke lantai atas dan membawanya ke kamar gadis itu. "Ini kamarmu. Cepat tukar baju dan bawa beberapa baju yang kasual aja. Ok?"
"Mmh? Kita mau pergi lagi?"
"Ayahmu mengenal aku dan Ayahku. Kamu belum ingin kembali pulang kan?"
"Iya."
"Jadi kita terpaksa harus sama-sama pergi."
Mereka kemudian berganti pakaian dan berkemas. Tama mengetuk pintu kamar Mei dan membukanya.
"Ah, sebentar, aku belum selesai." Mei sedang berusaha memasukkan pakaian tapi kesulitan karena hanya satu tangan yang berfungsi dan bisa bekerja. Segera Tama membantu dengan memasukkan pakaian Mei dalam tas kain dan meresletingnya. Ia kemudian menyandangnya. "Ayo!"
Mereka menuruni tangga dan kembali bertemu dengan Leka yang menunggui Runi bermain dengan Mimi.
"Kalian mau ke mana?"
"Eh, mau ... Eh Mei mau istirahat dulu Mbak," Tama berusaha untuk tidak berbohong.
"Oh, gitu. Memang sih kalau sakit begini harus banyak istirahat. Cepat sembuh ya?" Leka menatap Mei yang di perban kepalanya dan satu lengannya di gips.
"Ah, iya Mbak," ucap Mei.
"Pakaianmu banyak juga." Leka menatap Tama yang membawa 2 tas besar bersamanya.
Mei hanya tersenyum.
"Aku pamit ya Mbak."
"Ayah dan Mas Jo mana?"
"Oh, sebentar lagi juga pulang. Aku pergi dulu Mbak, assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Tama dan Mei keluar. Tama mengeluarkan motornya. Hanya dia yang mengenakan helm karena takut helm melukai kepala Mei. Motor pun keluar dari rumah Kenzo.
Pemuda itu tak tahu harus ke mana. Yang ia tahu, ia ingin membantu Mei dan juga bersamanya. Ia berpegang pada rasa, semoga tuhan membantunya.
"Tama, kita ke mana?" tanya Mei karena sudah hampir setengah jam mereka berkendara dan sepertinya belum juga sampai pada tempat tujuannya.
Tama menghentikan motornya. "Kamu haus atau laper?"
"Masih jauh ya?"
"Aku tidak tau."
"Kok tidak tau? Kamu gak punya tujuan?"
Tama hanya tersenyum.
"Ih, goblok banget!" Mei memukul bahu pemuda itu.
"Iya."
Mei menjadi iba. Wajah Tama begitu tulus tapi ia meledeknya begitu rupa, padahal pemuda itu ikut kabur bersamanya karena demi dirinya. "Maaf."
"Gak papa."
"Maafkan aku yang egois ini. Kamu jadi ikutan kena masalah nantinya ya?"
"Kan kita teman."
Mei menatap pemuda di depannya. Entah kenapa ia merasa teduh setiap melihatnya.
"Kamu gak mau makan? Kamu pasti belum makan kan?"
Mei melihat ke sekeliling. Ada tukang sate ayam yang sedang mangkal di dekat situ.
"Aku makan itu saja."
Tama menepikan motornya dan duduk di kursi yang tersedia. "Sate dua, satu tanpa lontong Bang."
Mei mengekor. "Kamu gak laper? Kok gak pakai lontong?"
"Lho, itu untukmu. Kamu kan gak suka nasi."
"O ya? Aku kok gak ingat." Gadis itu bingung sendiri. Ia menatap Tama. "Tam, boleh aku tanya?"
"Iya." Tama tersenyum geli, karena Mei belum pernah memanggil namanya seperti itu. Gadis itu selalu memanggil 'Kakak' tapi sejak hilang ingatan ia memanggil namanya.
"Kenapa aku tinggal di rumah kamu?"
"Kamu kerja denganku jadi Bodyguard."
Mei terperangah. "Yang bener Tam?"
"Iya."
"Aku sehebat itu?"
__ADS_1
"Iya."
"Tapi bukannya aku temen sekolahmu?"
"Iya, itu aku yang masukin."
"Beneran?"
"Iya."
Mei terdiam sesaat. "Berarti kamu Bos aku dong?"
"Iya," jawab Tama sambil tersenyum.
"Eh, aku kok nyusahin kamu ...."
"Tidak apa-apa." Senyum pemuda itu semakin lebar.
"Eh, tidak begitu." Mei menundukkan kepalanya berkali-kali. "Maaf, maaf, maaf. Aku sudah kelewatan ya? Maaf."
"Tidak apa-apa."
"Kenapa kamu biarkan aku begitu?"
"Karena aku mencintaimu."
Gadis itu terperangah dan mundur.
"Eh, Mei yang dulu tidak tahu itu."
"Tapi aku ...." Mei takut terlibat sesuatu yang akan menjeratnya. Seperti cinta.
"Aku tidak memaksamu. Aku hanya ingin kamu tahu cintaku tulus padamu. Hanya itu. Di luar itu, kita teman kan?" Tama terpaksa menyatakan itu sebelum takdir memisahkan mereka. Ia hanya ingin gadis itu tahu perasaannya. Soal jodoh, ia membiarkan takdir yang menentukan karena ia sudah pasrah. Ia sudah membawa anak gadis orang, apa mungkin ia mendapat ampunan?
Mei masih terdiam, ragu.
"Sudah, jangan pikirkan. Bebanku sudah berkurang sekarang." Tama saat itu ingin menangis. Ia menjawab pernyataannya sendiri dengan melepas gadis itu pelan-pelan. Percuma melawan takdir. Ia saat ini hanya mencoba menyenangkan gadis itu selagi bisa.
"Aku seperti memanfaatkanmu," jawab Mei pelan.
"Kita kan teman, perlakukan saja aku sebagai temanmu."
"Tapi aku sudah menyusahkanmu." Mei menunduk.
"Hei, aku kan sudah bilang, aku tidak minta kau membalas cintaku. Lagipula kamu sudah mau bertunangan dengan Tristan kan?"
"Aku sudah bertunangan apa belum dengannya?" Mei malah balik bertanya.
"Aku tidak tahu Mei. Bukankah kamu tadi bicara dengannya?"
"Dia minta pada Ayahku agar ia segera menikah denganku."
"Ayahku belum jawab."
Keduanya terdiam.
Sementara itu, Arya dan Kenzo sudah sampai di rumah Kenzo. Mereka bertemu Leka.
"Lho kok baru sampe? Lama sekali," gerutu Leka.
"Aduuh, Leka. Kasus Tama itu memusingkan," Kenzo mengusap tengkuknya.
"Kenapa tidak pulang sama-sama? Kamu ke mana dulu?"
"Aku tidak ke mana-mana Leka. Aku mengurus Tama."
"Tapi mereka sudah pulang dari tadi."
"Apa? Di mana mereka sekarang? Di kamarnya?"
Arya pun dibuat bingung mendengarnya. "Dia sudah pulang?"
"Mereka sudah pergi lagi."
"Kenapa kau biarkan dia pergi Leka, Tama itu kabur dari rumah sakit membawa Mei."
"Mana aku tau," jawab Leka kesal. Kenapa sekarang dia yang dipersalahkan.
"Maaf, maaf. Hah ...." Kenzo menghela napas. Ia jadi ikut-ikutan emosi karena persoalan menjadi rumit.
"Dia bilang ke mana dia pergi?" Arya bertanya.
"Dia hanya bilang, Mei perlu istirahat."
"Mungkin pergi ke tempat yang jauh ya?" duga Kenzo.
"Mungkin, karena dia membawa pakaiannya."
Kenzo dan Arya saling berpandangan.
"Hah, Ayah. Ini jadi tambah sulit. Seharusnya Ayah mendengarkan perkataanku. Sekarang Tama jadi nekat."
"Ada apa sih?" Leka penasaran.
"Tama membawa lari Mei."
__ADS_1
"Iya, tahu tapi untuk apa?"
"Tama ingin menikah dengan Mei."
"Apa? Apa Mei hamil?"
Kenzo dan Arya menoleh.
"Apa? Mei hamil?" tanya Kenzo lagi.
Leka salah tingkah. "Eh, aku kan bertanya."
Kenzo menyentuh dadanya. "Aduh Leka, rasanya jantungku mau copot mendengarnya tadi."
"Ya kan Tama sering main ke kamar Mei atau Meinya pergi ke tempat Tama."
"Apa benar begitu?" kini giliran Arya yang panik mendengarnya.
"Ayah, aku yakin Tama tidak akan melakukan hal-hal yang tercela!" bela Kenzo.
"Bagaimana kamu tahu?"
"Karena dia pasti bicara padaku."
Arya dan Leka menatap Kenzo.
"Eh, dia baru bertanya sebatas ciuman," jawab pria Jepang itu canggung.
"Tapi sekarang Tama di luar bersama Mei. Apapun bisa terjadi."
"Ayah, kenapa Ayah tidak percaya dengan anak sendiri sih Yah? Tama, biar begitu, prinsipnya teguh Yah. Tidak gampang goyah!" Kenzo kembali membela adiknya.
Arya menghela napas. Ia kini bingung harus berbuat apa. Tadi saja ia harus meminta maaf berkali-kali pada Ayah Mei karena Tama telah membawa kabur anak gadisnya. Lalu sekarang bagaimana?
"Apa kita telepon polisi?"
"Jangan Yah, nanti siapa itu. O ya, Tristan akan menangkap Tama. Aku tidak mau itu, nanti Tama kenapa-kenapa. Tanya Om Chris Yah, dia harus tahu karena dia Ayah Tama juga."
"O ya." Arya hampir lupa pada Chris karena sibuk mencari Tama. Ia akhirnya menelepon dan menceritakan persoalan Tama pada pria Indo itu.
"Aku sudah lihat Tama suka padanya," ucap Chris pelan. "Lalu kau melarangnya?"
"Da, Tama masih kecil Da. Mana mungkin aku mengizinkan Tama menikah."
"Dia sudah akil baligh, dia sudah besar Ya. Anak seumur itu sudah punya pendapat sendiri."
"Tapi aku ingin dia sekolah dulu."
"Tapi dia tidak bisa dipaksa. Seharusnya maaf, kamu bisa membujuknya. Bertunangan dulu mungkin. Sekarang, kalau kasusnya seperti ini mau tak mau kau harus menikahkan mereka."
Arya menghela napas. "Padahal aku mau Tama mapan dan dewasa dulu baru menikah."
"Tama sudah cukup mapan karena diberi perusahaan oleh Ayahmu dan kalau bicara soal dewasa, kita tidak bisa melihat dari umur sebab banyak orang dewasa yang bertingkah seperti anak-anak dan aku rasa Tama cukup dewasa dalam bertindak. Ia meminta menikah yang dianjurkan dalam Islam, menghindari zina dan tindakannya sudah benar. Lalu apa lagi?"
Arya menghela napas dengan kasar. "Bagaimana aku bisa menikahkannya, kan secara hukum umur mereka masih di bawah standar yang ditetapkan negara. Aku tidak bisa melegalkannya."
"Nikahkan mereka secara siri."
Arya terdiam.
"Kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, Arya."
"Padahal belum lama, aku menikahkan Kenzo dan sekarang Tama. Apa perlu aku punya Bodyguard untuk menjaga Aiko?"
Chris terkekeh.
---------+++--------
Malam semakin larut. Tama berkeliling dengan motornya di sekitar sebuah perumahan penduduk mencari kos-kosan untuk mereka beristirahat. Ia menemukan sebuah kost-kosan yang terlihat bersih dan bertanya pada salah satu penghuni yang kebetulan duduk-duduk di beranda rumahnya. Pria itu memberi tahu bahwa rumah pemiliknya ada di seberang kos-kosan itu. Mei dan Tama menyambanginya.
Sebuah rumah besar, dan mereka masih membuka pintu di malam selarut itu. Tama menghindari hotel karena tidak nyaman untuk Mei.
"Nyewa kos-kosan kok semalam ini?" tanya ibu-ibu paruh baya itu melihat mereka berdua. Ibu itu memakai jilbab panjang.
"Maaf Bu, temanku ini habis kecelakaan dan menghindar dari orangtuanya. Apa ada kamar untuk kami Bu?" Tanya Tama sopan.
"Kamu siapanya?"
"Teman."
"Teman?"
"Eh, kami menyewa 2 kamar Bu."
"Oh." Namun Ibu itu masih diam. Sepertinya dia ragu-ragu.
"Tolong Bu, aku kasihan padanya jadi aku temani. Daripada dia di jalan, sendirian."
Ibu itu menatap Tama, lega. "Ya sudah. Kebetulan ada kamar yang bersebelahan. Sepertinya kalian tidak bawa apa-apa selain pakaian. Ibu ada kasur gulung, nanti kalian bisa bawa ke kamar."
"Terima kasih Bu."
Ibu itu membukakan kedua kamar itu dan Tama mengambil kasur gulung di rumah ibu itu. Kini mereka punya tempat untuk beristirahat. Setelah Ibu itu pergi, Tama memeriksa kamar Mei. Ada kamar mandi di dalam kamar tapi tanpa dapur. Ia bisa benapas lega. "Kamu bisa istirahat di sini dulu ya? Kalau perlu apa-apa aku di sebelah."
"Iya Tam." Mei membuka kasur gulungnya.
__ADS_1
Tama pun keluar dan menutup pintu.
Mei menatap ke arah pintu. Ternyata pemuda itu baik sekali padanya, padahal bisa saja Tama memanfaatkannya dengan menyewa 1 kamar karena ia sekarang bergantung padanya, tapi pemuda itu tidak begitu.