Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Masa Peralihan


__ADS_3

Seperti biasa setiap malam, Zack mengendap-endap masuk ke kamar Lydia. Gadis itu yang tidur seperti orang mati suri itu menguntungkan Zack, karena ia bisa merapikan selimut Lydia sambil menatap wajah adik yang sangat disayanginya itu.


Ia sangat khawatir belakangan ini, karena Lydia sejak mengetahui kabar terakhir tentang Ayahnya yang divonis sebagai Gembong Narkoba dan harus menjalani eksekusi mati membuat gadis itu sering sakit-sakitan hingga tak masuk sekolah. Ini membuat Zack sangat kehilangan dan malas pergi ke sekolah. Ia hanya ingin menunggui Lydia di rumah hingga gadis itu kembali sehat.


Saat Zack hendak keluar kamar, ia tak sengaja melihat tas ransel Lydia yang biasanya di pakai untuk piknik, diletakkan di lantai dengan bentuk terisi penuh. Zack belum mendengar dari orang tuanya, Chris dan Reina, mengajak mereka jalan-jalan ke luar kota atau ke luar negeri atau bahkan ke pantai sekali pun, belakangan ini. Apa mereka lupa memberi tahu Zack?


----------+++---------


Keindahan mentari pagi, takkan mengurangi sinarnya, walaupun nasib tiap orang pagi itu berbeda-beda.


Mei mengetuk pintu kamar Tama. "Kak, Kakak sudah bangun? Jangan terlambat sekolah ya Kak?"


"Iya!" sahut pemuda itu dari dalam kamarnya.


Tak lama kemudian Mei mengetuk pintu. "Kak, sudah belum?"


"Bentar lagi."


Beberapa menit kemudian pintu diketuk. Kali ini Mei mencoba membuka pintu dan mengintip. Ternyata Tama masih berbalut handuk di pinggangnya dan duduk sambil melihat hp.


"Kakak!" Mei langsung memalingkan wajah dengan kesal.


"E, eh!" Pemuda itu terkejut menyadari gadis itu membuka pintu. Ia setengah berdiri menyadari dirinya ketahuan Mei masih sibuk dengan game-nya pagi-pagi.


"Kalau gak mau sekolah ya sudah, aku tidur saja!" Mei menutup pintu dengan sedikit keras.


Tama panik dan segera berpakaian. "Iya, iya!"


Beberapa menit kemudian, Tama keluar masih sambil memakai sepatu, melompat-lompat karena telapak kakinya masih belum sepenuhnya masuk ke dalam sepatu. "Maaf, maaf, maaf." Ia mengeluarkan tas dari dalam kamar dan meletakkannya di lantai. Sambil memakai sepatu dengan benar, pemuda itu memperhatikan penampilan Mei yang nampak manis pagi itu. Apalagi dengan berdandan sederhana, wajahnya tak lagi kusam seperti kemarin-kemarin. Lebih enak dipandang mata.


"Sudah belum? Kok bengong?"


"Eh, iya." Tama seperti tersadar. Ia mengambil tasnya dan memimpin di depan. "Nanti di sekolah, kamu ngaku sepupuku ya? Pulang sekolah kita pulang dulu, ganti baju lalu berangkat lagi untuk kerja."


"Iya Kak."


Baru saja Tama menjejakkan kaki di lantai satu, di luar terdengar keributan. "Aduh, pasti Kak Aska lagi nih!"


Di meja makan sudah duduk Leka, Aiko dan Runi yang menoleh ke arah pintu depan.


Tama melangkah keluar dan meminta satpam membiarkan kali ini Aska masuk kembali. Akhirnya mobil pria itu dibiarkan masuk.


"Ada apa sih Kak, tiap hari ke sini. Kasihan kan istri Kakak dibiarkan sarapan sendiri."


"Lah, istri Kakak sendiri kok yang minta Kakak sarapan di luar."


"Lho, kok bisa?"


"Aku gak cocok sama sarapannya Monique, roti dan serel. Apa itu ... gak kenyang. Aku sudah terbiasa dengan masakan Leka."


"Tapi di sini, Mbak Leka juga gak masak. Itu semua masakan pembantu. Apa di apartemen gak ada pembantu? Kan bisa suruh dia untuk masak buat Kakak. Kalau gak, sewa aja tukang masak khusus untuk Kakak."


Aska kehilangan kata-kata. Kali ini ia tidak bisa berkelit. "Eh, iya."


"Ya sudah, tuh kayaknya ada nasi goreng deh. Yuk Kak!"

__ADS_1


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam rumah. Di meja makan sudah duduk Leka, Runi yang di pangku Baby Sitter Ani, Aiko dan Mei.


"Dia duduk di ...." Aska bergumam menunjuk Mei.


"Dia akan sekolah bareng aku Kak."


Ada kursi kosong di antara Leka dan Mei yang sedianya untuk Tama tapi langsung direbut Aska. Ia merasa di atas awan. Tama kemudian duduk di kursi yang tersisa di samping Mei.


Tama mengambil roti yang kemudian di oles selai coklat. Mei kemudian mengikuti. Aska yang sedang berbunga-bunga mengambil nasi goreng sambil sesekali menatap Leka yang duduk di sampingnya. Ani, Baby Sitter Runi bisa melihat bagaimana Aska mengajak ngobrol Runi agar Leka bisa melihat perhatiannya yang besar pada anak mereka.


Leka hanya diam tak menanggapi.


"Kak, cepat makannya! Aku mau berangkat. Nanti kalau gak ada aku, Kakak gak bisa lho masuk-masuk rumah. Aku udah bilang satpam sama depan." Tama mengingatkan.


"Iya," jawab pria itu kesal.


Namun Aska tak berhenti mencoba. Ia menyentuh tangan Leka. Wanita itu menarik tangannya. "Aku boleh kan ajak Runi jalan-jalan?"


"Rasanya rumit," Leka menjawab sesedikit mungkin.


"Lho, kenapa? Aku kan ayahnya?" tanya Aska sambil mengunyah.


"Memang kamu bisa mengurusnya?"


"Kan ada Baby Sitter-nya."


"Aku tidak terbiasa jauh dari Runi."


"Kalau begitu, kamu ikut saja. Ya?" Pria itu sudah bisa memancing Leka untuk ikut dengannya.


"Ih, kan gak boleh ya, Mbak Leka ikut pergi kalo gak ada Oniichan," tutur Aiko mulai bicara.


Wanita itu menarik tangannya menjauh. "Aku harus bicara dengan Mas Jo dulu."


Orang-orang yang berada di meja makan terlihat geram dengan sikap Aska tapi tak ada yang tahu bagaimana menasehatinya.


"Kan Runi anakku kenapa harus tanya Kenzo?"


"Maksudnya gini Pak ...." Ani tanpa sengaja ikut bicara.


"Ssssh ... bisa gak sih, gak sok ngatur rumah tangga orang!" bentak Aska dengan kasar.


"Eh, jaga bicaramu ya? Pria itu dihormati karena bisa menghargai wanita!" Kini Mei ikut bicara. Ia tak suka ada pria berbicara kasar pada wanita.


"Eh, kamu ini siapa?" Aska mulai tersulut emosi. Kesal diomeli oleh seorang Bodyguard.


"Namaku Mei, kamu?" jawab Mei dengan berani.


Aska benar-benar kesal. Ia menyipitkan matanya sambil menunjuk Mei. "Kamu ini ya ...."


"Kakak!" Tama berusaha menyudahi. Ia berdiri dari kursinya dan menarik Aska keluar rumah. "Udah, waktu Kakak sudah habis. Semua orang ingin sarapan dengan damai di sini. Kalo Kakak gak bisa bersikap sedikit bersahabat, Kakak gak bisa lagi datang ke sini walaupun dengan alasan ingin bertemu Runi." Tama menasehati dengan nada rendah.


"Tapi Runi kan anakku, Tama."


Tama menatap Aska tepat di manik matanya. "Semua tau Kak, Kakak mencari Runi itu alasan saja. Yang sebenarnya Kakak masih ingin ketemu Mbak Leka, iya kan? Sudahlah Kak, Kakak dan Mbak Leka sudah punya rumah tangga masing-masing. Jalannya sudah beda, jadi jangan diganggu lagi. Runi di sini baik-baik saja karena ada kami yang mengurusnya. Kakak juga kan, akan punya anak dari Kak Monique. Jadi jaga saja dia dan calon bayi Kakak kelak, itu lebih baik dari pada Kakak berada di sini. Apa kata istri Kakak nanti kalau tahu Kakak masih ke sini ke tempat mantan istrinya. Pasti ia sangat kecewa."

__ADS_1


"Kan aku juga mengunjungimu dan mengkhawatirkanmu." Aska masih mengelak.


Tama menghela napas. "Pikirkan juga posisiku, Kak. Kak Jo juga Kakakku ...."


Aska terdiam.


"Sudah Kak, bukan aku ngusir Kakak tapi aku juga mau berangkat sekolah. Di rumah hanya ada perempuan semua, gak baik Kakak di sini." Tama mendorong pelan Aska ke mobilnya.


Aska menghela napas panjang. Ia dengan enggan menaiki mobilnya. Ia tidak bisa lagi beralasan makannya belum habis atau yang lainnya karena ia juga kasihan pada Tama. Kalau Tama sudah bilang 'posisiku' ia mengatakan bahwa ia sayang kedua Kakaknya. Aska menyerah, untuk sementara.


Di meja makan, Leka meminta maaf pada Ani, tapi memang wanita itu senang membela Leka karena Leka sangat baik padanya. Ia juga mendapat dukungan Aiko dan Mei.


"Hei, mau sekolah gak? Ntar telat nih!" teriak Tama dari pintu depan. Aiko dan Mei segera menyusul. Mei membawakan tas Tama.


Tama duduk di depan sementara Aiko dan Mei duduk di belakang. Mobil mengantar Aiko ke sekolah kemudian Mei dan Tama. Jarak sekolah mereka tidak begitu jauh karena masih satu area sekolah. Hanya saja, Aiko biasanya pulang lebih cepat karena masih SD.


Tama menyentuh lengan Mei. "Lain kali jangan bertengkar lagi dengan Kakakku ya? Biar dia aku yang urus."


"Maaf Kak, tapi tadi aku agak emosi soalnya dia sepertinya suka ngerendahin orang lain."


"Dia memang orangnya sulit diajak bicara."


Mereka kemudian masuk ke kantor Kepala Sekolah. Tama meminta Kepala Sekolah untuk memasukkan Mei di kelasnya. Setelah memeriksa ijazah Mei, Kepala Sekolah itu meminta Tama membayar biaya masuk dan biaya-biaya yang lain di kantor TU. Setelah itu Mei mendapat pakaian dan buku sekolah. Hari itu juga Mei bisa masuk ke kelas bersama Tama. Mei mengganti pakaiannya di kamar mandi.


Tama mengusir teman yang duduk di depannya. "Eh, lo pindah gih! Sepupu gue mau duduk di sono!" Ia mendorong kursi seorang siswa yang duduk di depan dengan kakinya.


"Woilah ... iye, iye. Istimewa banget kayaknya."


Yang lain tertawa. Tak lama, guru matematika datang bersama Mei. Ada yang berdecak kagum melihat kecantikan Mei.


"Sst, boleh nih. Kosong kan die." Teman Tama yang duduk di belakang menusuk-nusuk punggungnya dengan pulpen.


"Apa sih." Tama ikut tersenyum.


"Pokoknya lo kenalin ma gue dulu ye?"


"Iye beres. Inget traktirannya," canda Tama.


"Iye itu mah. Gampang. Tinggal sebut. Sultan ...." bisiknya membanggakan diri.


Mei kemudian duduk di depan Tama saat guru itu mencarikan Mei tempat duduk. Tama sudah mengkode gurunya agar Mei duduk di situ.


Mei tidak membawa tas, karena tidak punya. Buku-bukunya di satukan dalam tas Tama, untuk sementara.


Ibu guru itupun mulai mengajar.


----------+++---------


Pagi-pagi, tim evakuasi sudah mulai mengerjakan persiapan pengangkatan pecahan badan pesawat dengan beberapa helikopter. Keluarga penumpang yang anggota keluarganya belum ditemukan diminta melapor. Kegiatan pengangkatan badan pesawat dibantu oleh pihak luar yaitu Amerika. Karena tangannya masih di gips, Bodyguard Kenzo mengantri untuk pria itu. Tiba gilirannya, Kenzo mengambil alih.


"What?(Apa?)"


"I'm sorry Sir but I already checked those name and they're not in our list. I'm afraid they're not got in, and we gave their seat to other passengers.(Maaf Tuan tapi saya sudah memeriksa nama-nama itu dan mereka tidak ada di dalam daftar penumpang kami. Takutnya mereka tidak naik pesawat dan kami telah memberikan kursinya pada penumpang lain.)"


______________________________________________

__ADS_1


Reader kesayangan, jangan lupa vote, like, komen, hadiah dan koin untuk author agar bisa tetap semangat menulis. Ini visual Aiko Wiraguna, adik Kenzo dan Tama. Salam, ingflora 💋



__ADS_2