
Pintu di ketuk.
"Apa Kak?" Wajah Mei muncul dari balik pintu.
"Kamu bikinin tugasku ya? Aku ngantuk." Mata sipit Tama hampir hilang saking lelahnya.
"Ya udah, mana?"
"Eh, aku lupa bawa."
"Ih, Kakak mah ...." Mei kesal dan keluar kamar lalu mengambil buku Tama di kamar pemuda itu. Saat ia kembali, Tama telah tertidur di tepian tempat tidurnya tengkurap dengan satu tangan turun hingga menyentuh lantai.
"Aduuh, kenapa tidur di sini sih!" Ia menghentakkan kakinya di lantai. Namun mau tak mau ia merelakan tempat tidurnya di tempati Tama karena ia sekarang harus mengerjakan tugas sekolahnya dulu sebelum mengusirnya.
Ia mengerjakan tugas sekolahnya terlebih dahulu setelah itu menyalinnya ke buku tulis Tama. Setelah selesai ia mendatangi pemuda itu.
Ia berjongkok mendekat. Melihat wajah pemuda itu yang sedang tertidur, sangat manis. Ia membayangkan wajah Tama ketika sedang ngambek dimarahi orang tuanya, mulutnya mengerucut seperti anak kecil. Sangat menggemaskan, membuat Mei ingin mencubit pipinya.
Aneh juga rasanya, di umurnya yang sekarang ini ia sudah bekerja dengan Bos yang umurnya seusia dengannya. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Bahkan berkhayal pun tidak.
Mei memeluk lututnya sambil mengamati wajah pemuda itu. Tama telah mengenalkan dunia baru padanya, dunia orang dewasa, bekerja, bahkan sekolah yang tidak mampu orang tuanya berikan. Mengenal dunia luar, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan akan dilaluinya sebagai seorang anak tukang lontong sayur keliling. Berkhayal pun tidak tapi bersama Tama semuanya mungkin. Dia laki-laki yang baik. Teman yang baik. Apa ... aku menginginkannya? Aku juga tidak tahu. Hanya saja aku mulai terdengar seperti Ibuku saat berpikir menyukainya. Mungkin aku hanya melirik harta kekayaannya saja. Mungkin ini bukan cinta, mungkin ini hanya ego semata. Ia mendengus kesal pada diri sendiri.
Mei menggerakkan tangannya ingin membangunkan Tama tapi berhenti lalu ingin menjamah rambutnya. Dirapikannya anak rambut pemuda itu ke samping telinga, tapi itu hanya awal. Ia mulai merapikan seluruh rambutnya dan mengusap kening pemuda itu.
Tama tidur dengan kepala menyamping dan itu membuat Mei bisa melihat keseluruhan wajahnya dari samping.
Hah, lucu ya? Apa begini rasanya kalau punya pacar? Mengusap rambutnya, memandangi wajahnya, dan bercerita hal-hal yang tidak penting tapi membuat kita bahagia? Mei tanpa sadar tersenyum melihat wajah Tama. Tapi Kak Tama, aku nyaman bicara dengannya. Pembicaraan kita nyambung-nyambung aja. Orangnya sangat perhatian selain kadang galak. Kembali gadis itu tersenyum.
Anehnya, ia gak pernah marah kalau aku marah padanya, kecuali ada sesuatu yang membuatnya marah. Mei memandangi wajah pemuda itu. Kamu juga rewel! Ia menyentuh hidung Tama sambil mengerut dahi.
Karena disentuh hidungnya, Tama mengeliat. Mei segera sadar dan berusaha membangunkan pemuda itu. "Kak, bangun! Tugasnya udah aku kerjain tuh!"
Tama mencoba duduk. Mengerucutkan mulutnya sambil menjernihkan pandangan. "Iya, terima kasih." Kemudian ia berdiri dan melangkah ke arah pintu lalu keluar.
Eh, kok bukunya ngak di bawa? Ih ....
-------+++--------
Sebuah hari baru, tak selamanya indah. Bisa saja itu awal dari sejarah baru yang amat menentukan, bahagia atau kecewa. Mungkin saja ada yang berharap, tidak pernah bertemu dengan hari ini, tapi takdir itu datang membawa cerita, tinggal bagaimana menghadapinya.
Tama menghempaskan tubuhnya ke dalam mobil dan menyandarkan punggungnya sejenak pada sandaran kursi belakang. Selain hari itu baru saja menyelesaikan ulangan bahasa Indonesia, entah kenapa suhu udara sangat panas. Udara sangat terik membakar kulit, sehingga sebentar saja berada di luar ruangan, kulit Tama kemerahan dan tenggorokan terasa kering. Di kantin saja ia sudah minum 2 gelas jus mangga dan air mineral tapi dahaganya tak juga terpenuhi.
"Aduuh, panas banget! Aku males keluar." Baju sekolah pemuda itu juga sudah mulai basah oleh keringat. Peluh di dahi tak juga segera kering oleh AC di dalam mobil.
"Nanti pulang kita mandi dulu aja Kak." Mei menoleh ke belakang. Ia sendiri bajunya juga mulai kembali basah oleh keringat setelah keluar dari ruang AC kelas mereka.
"Iya, tapi gak ada tanda-tanda panasnya bakal berhenti. Hujan kek, apa!"
"Ya, kita lihat saja nanti Kak."
Mobil akhirnya keluar area perparkiran sekolah menuju rumah Kenzo.
Di rumah, Tama dikejutkan dengan kehadiran Arya di ruang makan. Arya sedang mengobrol dengan Kenzo di ruang tengah dan memandang keduanya yang masuk lewat pintu depan.
__ADS_1
"Oh, Assalamualaikum. Ayah, ada apa ke sini?" Tama berdiri di depan pintu.
Arya tersenyum. Mulai kapan Tama bisa jadi orang yang pintar berbasa basi? Mungkin sejak belajar bekerja ia mulai peduli tata krama dan tidak lagi seperti anak kecil yang berlari ke sana kemari dan mengeluh. Itu adalah gambaran Tama yang dulu. Tama yang sekarang adalah pria muda yang mencoba mendengarkan orang lain atau kenalan yang di temuinya. Anakku Tama, kini kau mulai dewasa. "bagaimana dengan bacaan itu? Kapan kau akan menyelesaikannya?"
"Oh, nanti Yah, menunggu waktu luang."
"Jangan lupa baca lho, itu penting untuk dasar kamu bekerja."
"Iya Yah. Aku sibuk sekali harus survei lapangan jadi pulangnya capek banget."
"Oh, kamu sudah survei lapangan, tapi kenapa hanya Mei sendiri Bodyguard-mu? Survei lapangan itu bahaya lho Tama, untuk perusahaan kontraktor seperti kamu ini. Iya kalau ketemu warga yang mau berdamai tapi kalau ketemu preman bagaimana? Pikirkan itu. Minimal kamu harus punya satu orang lagi." Kenzo menanggapi dengan tegas.
"Iya Kak, kemarin ini ada aku telepon tapi aku belum tanya lagi."
"Itu standar yang harus kamu punyai."
"Iya Kak, tapi hari ini panas sekali. Entahlah, aku sebenarnya malas pergi."
"Sebaiknya tidak pergi saja, daripada kamu kembali dalam bahaya."
"Kembali? Memangnya Tama pernah dalam bahaya?" Arya kritis mendengarkan obrolan kedua anaknya.
Kenzo yang terlanjur bicara menbeku. Ia telah salah bicara. "Eh, itu Mei ...."
"Menangkap pencopet Pak!" Untung Mei tanggap akan situasi hingga mereka terbebas dari pertanyaan berikutnya.
"Iya begitu." Kenzo merasa lega.
"Eh, aku ke kamar dulu Yah," Tama berusaha keluar dari situasi sulit itu.
"Lho, kalian jadi pergi?" tanya Kenzo heran.
"Cuma sebentar saja, lagi pula aku sudah menundanya sejak kemarin."
"Oh, ya sudah," jawab Arya ringan.
Kenzo terlihat bingung. "Ayah!"
"Mulai besok kamu pakai standar yang dikatakan Kak Jo ya?" Arya menengahi.
Kenzo masih memelototi Arya.
"What?(apa)" Arya mengangkat bahu.
"Yang penting Ayah udah izinkan." Tama merasa dimenangkan.
Kenzo tak bisa berbuat apa-apa saat Tama akhirnya pergi.
---------+++---------
Seorang pria paruh baya dan istrinya yang terlihat lebih muda keluar dari sebuah taksi di depan kediaman Kenzo. Ya, mereka adalah kedua orang tua Mei.
Mereka dipersilahkan masuk oleh satpam karena mengenal Ibu Mei yang waktu itu pernah datang mengunjungi Mei. Ibu Mei terlihat gugup tapi berusaha diredamnya walaupun tidak sepenuhnya berhasil. Ayah Mei menyadarinya tapi tak ingin bertanya.
__ADS_1
Bel berbunyi di kediaman Kenzo. Setelah dibukakan seorang pembantu, dan mencari tahu, pembantu itu melapor pada Kenzo.
"Oh, orang tua Mei? Biarkan dia masuk." Kenzo menatap heran pada Arya.
"Mungkin ia ingin mengunjungi anaknya," tebak Arya.
Keduanya menerima orang tua Mei di ruang tamu.
Sementara di tempat lain, Tama dan Mei sudah keluar dari mobil Tama. Sebuah pemandangan gedung setengah jadi yang ditinggalkan pekerjanya terpampang jelas di depan mata, tapi mereka tidak menemukan staf HRD Tama di sana selain mobilnya. Tama segera meneleponnya.
"Pak Andi, kamu di mana? Kok gak sambut saya di luar?"
"Oh, eh ... saya-ada-di-dalam-gedung Pak." suaranya terdengar aneh.
"Iya, apa kamu tidak bisa keluar dulu?"
"Eh, saya-sedang-ada-pertemuan Pak."
"Pertemuan dengan siapa?"
"Bapak eh, bisa-ke-sini?" Walaupun cara bicaranya yang seperti mengeja itu menimbulkan tanda tanya tapi tak ayal Tama mengikutinya.
"Ya sudah, kamu di lantai berapa?" Tama menatap ke arah gedung berlantai lima yang sangat luas di depannya.
"Saya di lantai dua Pak."
"Ok." Tama mengajak masuk Mei ke dalam gedung dan mengikuti instruksi bawahan menaiki tangga.
"Terlalu sepi Kak, ini mencurigakan. Apa bukan jebakan?" tanya Mei lagi. Instingnya menyatakan bahwa ia harus hati-hati.
"Jebakan?"
Namun terlambat. Beberapa orang muncul dengan muka garang. Salah satunya sudah menjadikan staf HRD-nya tawanan.
"Ada apa ini?" Tama tak gentar.
Salah satu dari mereka maju. Sepertinya ia pemimpinnya. Penampilannya sedikit berbeda karena tubuhnya lebih kurus dari yang lainnya. Bahkan teramat kurus. "Aku kan sudah bilang, ini daerah kekuasaanku. Kalau kalian berani ganggu berarti kalian berhadapan denganku," katanya sambil memperdengarkan suara buku-buku jemarinya yang di lipat hingga terdengar bunyi gemeletukan.
"Aku orang dari manajemen baru jadi tidak tahu masalahnya. Bisa kan kita bicara baik-baik?"
Pria itu tertawa. Tawanya di ruang kosong itu menyebabkan suaranya menggema di seluruh lantai itu. Tawa yang mengerikan. Pria dengan jaket kulit tanpa lengan yang memperlihatkan tato di sepanjang tangannya juga memelihara jenggot yang sedikit memutih di tengahnya. Ya, pria itu tak lagi muda tapi ia masih memimpin para preman itu yang menandakan ia masih berkuasa.
"Kamu itu terlihat masih anak-anak, hah. Apa anak bau kencur seperti kamu ini ingin mencoba mengatur orang dewasa seperti kami ini, hah? Memangnya kami orang bodoh!" Pria itu terlihat kesal dan pelan-pelan mulai merangsek maju. Ia merasa dipermainkan.
Tama segera merapat pada Mei. Ia melihat mereka berjumlah delapan orang. "Mei, bagaimana ini?" bisiknya.
Mei segera melepas ikat pinggangnya dan melilit kepala ikat pinggangnya di tangan. Ia menempelkan punggungnya pada punggung Tama karena mereka mulai di kepung tujuh orang, sedang yang satunya lagi menyandera Andi. "Kak, kita berputar terus ya biar mereka tidak mudah menangkap Kakak," bisiknya pada Tama.
"Oh, iya Mei."
Mereka mulai berputar. Pria itu menyadari Mei adalah Bodyguard sejak gadis itu melepas ikat pinggangnya.
Salah satu dari mereka mencoba menyerang Mei. Gadis itu memecut ikat pinggangnya pada orang itu menyebabkan pria itu merasakan pedih di kulitnya, tapi ia tak menyerah. Bersama ketiga teman lainnya ia kembali menyerang Mei.
__ADS_1
Sambil berputar dengan Tama, gadis itu melancarkan serangan pertahanan dan balasan. Bertubi-tubi gadis itu di serang dari berbagai penjuru menyebabkan ia harus berputar mengelilingi Tama.
Lambat laun, serangan itu menyebabkan mereka terdesak ke arah pagar luar.