
Tama akhirnya sampai di perusahaan milik Kakeknya yang berupa gedung bertingkat tinggi di area pinggir jalan raya besar yang penuh dengan gedung-gedung perkantoran. Gedung itu sangat luas dan memiliki ratusan karyawan di dalamnya.
Setelah lift sampai ke lantai paling atas, Mei dan Tama turun dan segera menuju kantor direksi. Di sanalah ruang kerja Tama berada.
Ia memasuki kantornya dan disambut seorang Sekretaris di sana. Sekretaris itu memandang heran pada Mei yang berpakaian seperti orang kantoran. Ia belum pernah melihat Mei sebelumnya, apa CEO yang baru itu mengangkat seorang pegawai tanpa sepengetahuannya, atau ia hanya seorang tamu? "Siang Pak."
"Oh, siang." Tama menatap Mei, sedikit kebingungan.
Mei memberi tatapan agar Tama terus bertanya pada Sekretarisnya.
"Eh, apa ada sesuatu hari ini?" Tama menggaruk-garuk kepalanya.
"Eh, tidak ada Pak."
"Oh, ya. Aku ingin memeriksa keuangan perusahaan. Apa kau bisa membawakannya?"
Sekretaris itu terlihat bingung dan mengerut alis.
"Kenapa?"
"Oh, tidak apa-apa Pak."
"Ya sudah, bawakan segera ke ruangan ya? Oya, aku ingin minum es teh manis."
"Es teh manis?"
Mei menyenggol bahu Tama dengan bahunya. Hampir saja Tama terjatuh.
Eh, eh, eh!"
Sekretaris itu hampir tertawa. Ia menutup mulutnya.
"Mau teh hangat atau air mineral." Mei memberi pilihan.
"Oh ... air mineral saja." Tama kemudian masuk ke dalam ruang kerjanya dengan sedikit canggung.
"Kenapa Kakak minta minuman dingin sih? Mana ada orang pesan minuman dingin ke Sekretarisnya? Minuman dingin mah beli di luar."
"Air mineral juga beli di luar," sanggah Tama tidak mau kalah.
"Tapi setidaknya itu lebih baik dari pada es teh manis. Memangnya Sekretarismu itu buka warung apa? Aku lihat di sinetron-sinetron semuanya pesan kopi hangat."
"Ya aku kan gak suka yang hangat-hangat. Rasanya seperti nenek-nenek gak punya gigi," gerutu Tama.
Mei hampir tertawa. Selalu ada saja bantahan dari Tama yang kadang membuatnya ingin tersenyum atau tertawa. Tingkahnya benar-benar seperti anak-anak!
Tak lama Sekretaris itu membawakan 2 buah map yang tebal dan sebotol air mineral ukuran sedang. "Ini Pak."
"Ok."
Sekretaris itu masih menunggunya.
"Oh, aku bisa sendiri," ucap Tama, mengusirnya secara halus.
"Eh, iya Pak." Mata wanita itu seperti ragu-ragu untuk pergi.
"O iya, namamu siapa ya?"
"Delia Pak."
"Ok, Delia. Terima kasih."
Sekretaris itupun berlalu.
Tama mencoba duduk di kursi dan membuka map tebal di hadapannya. Ada sederet angka yang membuat pusing saat melihatnya. Ia menoleh pada Mei yang duduk di samping. "Eh, kamu kira-kira tahu gak cara membacanya?"
"Nggak."
"Haah ...." Tama menghempas tubuhnya pada sandaran kursi.
"Kenapa tidak minta tolong pada Papamu tadi? Eh, kenapa kamu memanggilnya 'Papa'?" tanya Mei penasaran, sebab Tama memberi tahu, orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat tapi Papa yang ini ....
__ADS_1
"Oh, waktu kecil aku tinggal sama dia waktu Mama koma. Itu sebelum nikah sama Ayah. Nah, Kak Aska yang tadi pagi godain Mbak Leka itu anaknya." Tama mengeluarkan hp-nya.
Melihat Tama yang keturunan Jepang panggil 'Papa' pada Chris saja, terlihat aneh. Apalagi Aska, karena Chris berwajah bule dan Aska sepertinya asli Indonesia. Di tambah lagi Reina, istrinya juga tidak mirip Aska.
"Chris Papanya Kak Aska?"
"Oh, Papa angkat karena Kak Aska dibawa Mama sambungnya, Reina." Tama menyambung teleponnya. "Halo Pa."
Oh ... Mei membayangkan keluarga itu berisi anggota yang tidak sedarah sama sekali. Tama, Chris, Reina, Aska dan ... anak bule itu! Ya, dia pasti satu-satunya yang sedarah karena wajahnya mirip Chris dan perawakan tubuhnya mirip Reina. Lucu sekali keluarga itu ya? Mengambil anak dari mana-mana, tapi orang tuanya pasti punya hati seluas samudra hingga mau membesarkan anak orang lain.
Tama mulai memperlihatkan lembar demi lembar lewat Video Call pada Chris, catatan keuangan di perusahaan itu. bahkan ia harus beberapa kali melangkahi ke beberapa lembar berikutnya untuk melihat beberapa catatan di belakang.
"Mmh, Tama. Sepertinya ada yang aneh dengan keuangan perusahaan. Ada beberapa pengeluaran yang tidak jelas dalam jumlah cukup besar. Sebaiknya kamu tidak menceritakan kecurigaanmu pada mereka. Besok Papa akan siapkan Tim Audit perusahaan ke sana. Kamu tidak bisa bertindak sendiri karena ini cukup berbahaya. Kemungkinan besar ada yang mencuri uang perusahaan dan mereka tidak sendirian."
"Aduh, Papa sih pake saranin ngecek keuangan perusahaan segala, jadi takut sendiri Tama sekarang Pa!" Pemuda itu mengomel dan merajuk di depan hp-nya.
Mei kadang sering gemas melihat tingkah Tama yang kekanakkan, padahal mereka seumuran tapi pemuda itu masih belum dewasa dalam berfikir. Biasanya seorang pria menyembunyikan sifat kekanakkannya di depan umum tapi Tama tidak. Ia tipe ekspresif dan juga lugu.
"Jangan takut dong. Kan katanya kamu punya Bodyguard, apa gunanya?"
Tama menoleh pada Mei. "Apa aman kalau di keroyok orang sekantor?"
Mei menahan tawa tapi Chris tidak. Ia tertawa.
"Papa!" omel Tama.
"Iya, iya." Chris berusaha menyudahi tawanya. "Yang penting sekarang jangan sudzon. Kita akan menyelesaikan masalah ini satu-satu, ok?"
"Iya ...." jawab pemuda itu lemah. Ia masih kesal Chris menertawakannya.
---------+++---------
Kenzo baru saja protes mengenai keamanan penginapan pada hotel tempatnya menginap. Ia minta keberadaan wartawan segera dibersihkan karena ia tidak bisa kembali ke hotel selama wartawan masih bisa keluar masuk dengan mudahnya. Kemudian ia menutup teleponnya.
Ia sebenarnya juga salah karena tidak mengambil kamar VIP. Kamar seperti itu biasanya keamanannya terjaga dengan baik sehingga tidak mungkin ada wartawan yang bisa menerobos masuk ke lantai ruang itu, tapi pada waktu itu kebetulan sekali kamar VIP penuh sehingga ia harus memesan kamar di bawah standar itu.
Ia menatap tangannya yang telah dengan bebas bergerak. Ia menggerak-gerakkannya tanpa rasa sakit. Tunggu aku Leka, aku akan segera pulang setelah aku bisa mengambil barang-barangku di hotel tempatku menginap.
Tama sangat senang mendengar kabar ini. "Bener Kak, Mama dan Ayah tidak ada dalam pesawat itu? Berarti mereka selamat?" Ia berdiri dari kursinya dan tersenyum lebar.
"Iya, tapi aku tidak tahu apa mereka selamat atau tidak."
"Lho kok gitu?" Wajah Tama kembali muram.
"Karena sudah hampir seminggu tidak ada kabar. Aku ke hotelnya terakhir Ayah dan Mama tinggal dan barang-barang mereka masih di sini. Bahkan hp mereka."
"Jadi mereka diculik?" Pemuda itu memikirkan kemungkinan terburuknya.
"Sepertinya tidak karena Ayah ternyata menitipkan surat untukku pada pegawai hotel agar segera pulang dan ia ada kemungkinan tinggal seminggu lagi di Nagoya."
"Jadi Ayah dan Mama masih hidup dong dan tidak diculik. Mungkin ia hanya bersembunyi dari kita-kita karena sedang honeymoon saja kali Kak. Tidak ingin diganggu," ujar Tama senang.
"Mungkin."
"Ya kalau begitu, Kakak pulang saja. Kasihan Mbak Leka Kak, sendirian ke mana-mana."
"Maksudnya? Oh, dia masih ke restoran ya? Apa gak kapok ya di ganggu Aska?"
"Kasihan Kak di rumah terus. Lagian Kak Aska sering ke rumah juga."
"Masa? Benar-benar keterlaluan!" Kenzo mengepalkan tangan, tapi ia kemudian ingat Tama dan Aska yang juga punya hubungan yang sangat dekat. "Eh, maksudku ... kakak tidak bermaksud menjelek-jelekan Aska."
"Iya Kak, ngerti. Aku jagain Mbak Leka kok biar Kak Aska gak keterlaluan. Makanya Kakak cepet pulang kalau sudah selesai."
"Iya, iya. Makasih ya?"
"Jangan lupa oleh-olehnya."
Kenzo tertawa. "Iya."
Tama menutup hp-nya. Ia menoleh pada Mei dan tersenyum senang.
__ADS_1
"Apa?" tanya Mei bingung.
"Orang tuaku selamat dan mereka akan pulang minggu depan," kata pemuda itu antusias.
"Oh, iya. Aku dengar tadi."
"Aku sangat senang, Mei. Aku sangat senang!" Tama tiba-tiba memeluk Mei yang duduk di sampingnya di kursi sofa.
"Eh? Hei!" Mei mendorong Tama menjauh. "Kita bukan mahram-nya. Peluk ... peluk," omel gadis itu.
"ck, ah! Kamu gak seru. Orang lagi gembira juga ...!" Tama merengut.
"Enak aja cari-cari kesempatan mentang-mentang aku bodyguard-mu!" Mei menyentuh dahi Tama dengan telunjuknya.
Tama menarik jari itu turun. "Ntar aku gigit nih, gemes!" Ia mencoba memasukkan jari Mei ke mulutnya.
Mei segera menarik jarinya dan menepuk keras bahu Tama.
"Aduh!"
"Rasain!"
"Ih!" Tama semakin kesal.
Seseorang mengetuk pintu dan masuk. Sekretaris itu lagi. "Maaf Pak, besok ada jadwal barang pesanan kita dari Itali datang. Biasanya Pak Hadi mengeceknya Pak."
"Ya sudah, aku akan cek." Tama merapikan duduknya. "Hari ini tidak ada lagi kan? Aku pulang saja. Laporan keuangannya sudah aku periksa jadi sudah, bawa lagi sana!" Tama menggerakkan jari jemarinya dengan angkuh.
Ingin rasanya Mei menggetok kepalanya karena Tama terlihat angkuh dan sombong, tapi juga terlihat konyol. Ingin juga ia tertawa.
Tama kemudian melangkah mendekati pintu diikuti oleh Mei. "Oh, iya. Aku lupa memberi tahu. Ini Asistenku Mei, jadi dia akan ikut ke manapun aku pergi."
"Oh, iya Pak." Delia menganggukkan kepala.
Tama pun akhirnya pulang bersama Mei.
------------++++-----------
Apa yang sebenarnya terjadi pada Arya dan Mariko? Ke mana mereka pergi?
Sebenarnya semua berawal dari 3 bulan yang lalu saat Arya datang ke kantornya untuk bekerja. Ia mendapat telepon langsung dari seorang klien di Jepang yang ingin menawarkan kerja sama di bidang perumahan. Asistennya memberikan telepon itu pada Arya.
"Halo?" Arya ragu-ragu kalau harus berbahasa Jepang tapi asistennya tadi berbahasa Indonesia.
"Halo Arya, kamu lupa padaku?" Suara wanita di seberang sana.
Sepertinya Arya pernah mendengar suara itu, tapi ia lupa siapa.
"Come on, it's me. Irene.(Ayolah, ini aku. Irene.)"
"Oh, apa kabarmu?" Irene? Mau apalagi sih dia sekarang? Irene adalah wanita yang dulu sempat mengejar-ngejar Arya sebelum akhirnya menikah dengan Koshino Hiro, Yakuza mantan pacar Mariko.
"Baik, aku ingin berbisnis denganmu."
"Oh ...."
"Eh, aku sungguh-sungguh. Aku ingin melanjutkan bisnisku yang dulu denganmu."
"Perumahan untuk karyawanmu? Tapi aku tidak punya banyak rumah tersisa di perumahanku yang sekarang."
"Tanah?"
"Ah itu masih ada tapi belum kubangun."
"Ah, itu saja. Aku beli tanahmu dan aku menyewa kamu sebagai kontraktor yang akan membangun rumah-rumah untuk karyawanku. Bagaimana?"
"Kau kan di Jepang, kenapa kau mengurusi perusahaan Ayahmu. Serahkan saja pada iparmu."
"Iya ini aku cuma perantara saja, memastikan kau masih punya tanah untuk dibangun. Selanjutnya, nanti Kak Chyntia yang akan meneruskan, bukan aku."
"Ya silahkan datang saja, pintu terbuka untuknya."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong apa kamu tahu, ada pemuda Jepang berambut emas yang kabur ke Indonesia?"