
Pintu diketuk. Seseorang membuka pintunya lebar-lebar membuat Tristan menoleh. Beberapa laki-laki dengan pakaian dinas kepolisian masuk dan menatapnya. Salah seorang dari mereka maju dan bicara. "Bapak Komisaris Polisi Tristan Kahar Baskara?"
"Iya, saya sendiri."
"Anda kami tangkap karena dugaan telah membawa lari menantu dari keluarga Christian Jhonson."
Pria yang lainnya mengepung Tristan.
"Christian Jhonson?" Tristan tahu betul siapa Christian Jhonson karena pria itu adalah pengusaha terkenal yang mempunyai aset kekayaan hingga ke luar negeri, tapi apa Tama anaknya? Setahu dirinya, Tama orang Jepang dan ayahnya asli orang Indonesia karena ia pernah melihat Arya datang ke rumah Kenzo. Apa mereka tidak salah orang?
"Tunggu dulu. Apa tidak salah tangkap ya, karena setahuku suami Mei adalah orang Jepang," Tristan masih kebingungan.
"Nama Nona ini Maysaroh Safir kan? Bersuami Pertama Wiraguna?"
"Betul ...." Tristan masih keheranan.
"Christian Jhonson adalah ayah angkat Bapak Pertama dan dialah yang sudah melaporkan Anda."
"Apa?"
Orang-orang yang mengepung Tristan mulai mendekat.
Tristan langsung berdiri dengan mengangkat tangannya ke depan. "Sudah, sudah, saya mengerti. Kalian tak usah memborgol saya. Saya akan ikut kalian, tapi masalahnya, siapa yang akan menunggui pasien ini?"
"Keluarganya sedang menuju ke sini."
Dengan enggan akhirnya Tristan menurut. Ia menoleh pada Mei untuk terakhir kalinya. Selamat tinggal Mei. Maafkan aku yang egois ini. Berjanjilah kau kembali sehat dan berkumpul dengan keluargamu agar kepergianku tak sia-sia. Netra Tristan memerah. Ia melangkah dengan ikhlas mengikuti beberapa perwira di depannya.
---------+++---------
Suasana di dalam pesawat sangat tegang. Wajah-wajah mereka seperti ingin segera sampai untuk mengetahui kondisi terakhir Mei.
Chris menyewa sebuah pesawat agar bisa sampai ke tempat tujuan tanpa halangan. Ia juga sempat menanyakan kondisi terakhir Mei pada pihak rumah sakit.
Ayah dan Ibu Mei terlihat sangat khawatir hingga saling berpegangan tangan untuk saling menguatkan.
Arya dan Mariko, mereka mengkhawatirkan Tama juga Mei. Arya memeluk Istrinya yang berada di sampingnya.
Tama duduk di samping Chris. Selain lelah berpikir, pemuda itu bingung dan ingin menangis. Ia bersandar pada Chris yang berusaha menenangkannya.
"Sudah Tama. Sebentar lagi kau akan bertemu dengannya." Chris merengkuh bahu Tama yang masih kebingungan. "Jangan khawatir, dia akan segera sembuh."
Tama hanya menatap Chris tanpa berkata-kata. Netranya masih terlihat seperti orang kebingungan. Ia memang tak berani bicara karena setiap ia mulai bicara ia akan menangis.
Pesawat akhirnya sampai di Bandara Tarakan. Setelah turun dari pesawat, mereka bergegas ke rumah sakit.
Suasana haru meliputi ketika keluarga besar itu masuk ke kamar perawatan Mei. Gadis itu telah siuman walau masih dalam keadaan lemah. Ia masih memakai masker oksigennya.
Tama sangat gembira. Ia hampir saja mendatangi tempat tidur Mei jika saja ia tidak dengan hati-hati mendengar suara panggilan pertama Istrinya.
"A-yah ...." ucap Mei yang walaupun bersuara lemah tetapi dengan jelas terdengar siapa yang dipanggilnya. Ia memanggil Ayahnya saat pertama kali melihat mereka. Ayahnyalah orang yang dicarinya, bukan Tama. Walau sedikit kecewa, Tama bungkam.
Ayah Mei sangat gembira, karena berarti Mei telah mengingat lagi semua. Anaknya telah mengingat lagi orang tuanya. Dengan rasa haru bercampur sedih kedua orangtua Mei mendatangi tempat tidur putrinya. Gadis itu langsung merangkul tangan Ayahnya dengan erat sambil meneteskan airmata haru. Kedua orang tuanya pun menangis terharu karena penantian panjang mereka membuahkan hasil.
Tinggal Tama yang mati-matian menahan tangisnya karena merasa tidak diinginkan Mei. Ia tahu hari ini akan datang dan Istrinya telah membuat pilihannya. Tidak apa-apa, asal kau selamat Mei. Tidak apa-apa. Tak dinyana, setetes air matanya jatuh.
Tidak ada yang memperhatikan Tama saat itu karena Chris, Mariko dan Arya langsung menuju sofa untuk beristirahat.
Chris menyadari sesuatu terjadi dengan Tama saat pemuda itu menghilang dari ruangan dan Mei memanggilnya.
"Kak ... Tama ...." Dengan susah payah Mei memanggilnya. Ia tidak menemukan Suaminya di dalam ruangan. Semua orang baru menyadari Tama telah menghilang dari kamar itu.
"Biar aku cari saja," Chris berinisiatif dan berdiri dari duduknya. Ia melangkah keluar ruangan. Sempat ia mencari ke beberapa tempat, tapi ternyata Tama sedang duduk di sebuah kursi panjang dekat pintu masuk. Ia duduk sendiri dan sepertinya pikirannya sedang menerawang jauh.
"Tama!"
__ADS_1
Pemuda itu terkejut dan menoleh. Sempat ia mengusap kedua matanya, sepertinya hampir menangis.
"Kau ke mana saja?" Chris Terengah-engah karena habis berlari mendatangi Tama.
Tama salah tingkah. "Eh, aku eh ... tidak mau mengganggu mereka. Aku hanya eh, aku tahu aku hanya pria yang memanfaatkan situasi. Pria yang tidak bisa dibanggakan karena menikahi wanita yang lupa ingatan." Lalu kemudian ia tertawa menutupi luka hatinya. Tawa yang sangat memilukan.
Chris bingung mendengar penjelasan pemuda itu. "Tama, kamu bicara apa? Istrimu mencarimu itu!"
"Eh, iya dan itu ... eh, apa?" Tama menajamkan telinga. "Istriku? Mei?" Ia tak percaya.
"Iya! Memang istrimu siapa lagi?"
"Eh aku, eh ...." Netranya membulat sempurna. Tama kehilangan kata-kata.
"Cepat Tama, Papa mencarimu dari tadi," ucap Chris lugas.
Tama segera berdiri dan berlari ke arah lift, tinggal Chris yang langsung duduk di tempat itu. Ia sedang mengatur napasnya, pelan-pelan. "Oh, aku sudah mulai tua tampaknya," ucapnya di sela-sela tarikan napasnya.
Tama segera berhambur ke dalam kamar perawatan Istrinya. Semua orang menatap pemuda itu. Tama melihat Mei sedang menatap ke arahnya. Gadis itu mengangkat tangannya. Segera ia mendatangi tempat tidur Istrinya itu dan menyambut kedua tangannya.
"Kak ... Tama," ucap gadis itu dengan susah payah. Air matanya mulai berlinang.
"Mei ...." Tama pun tak bisa memberhentikan air matanya yang turun tanpa diminta. Ia tak tega melihat kondisi Istrinya yang begitu lemah.
Kedua orang tua Mei yang mendampinginya di samping tempat tidur juga tak bisa menahan air mata haru. Arya dan Mariko hanya mampu melihat mereka berdua dari kursi sofa. Mariko menahan haru dengan membekap mulutnya, tapi air matanya tetap tak terhentikan. Arya mendekapnya.
"Aku ... ingin ...."
"Sudah jangan bicara. Nanti aku nangis terus ini!" protes Tama.
"Kak ... Tama," ucap Mei pelan. Suaranya mulai tak terdengar. Sepertinya ia sudah menunggu Tama cukup lama hingga ia kelelahan.
"Sudah ... kamu istirahat dulu ya Mei?" Tama khawatir dengan suara Istrinya yang mulai menghilang.
Namun Mei dengan kekuatannya yang tersisa saat itu malah menarik tangan Tama agar Suaminya mendekat.
"I love you."
Tama terkejut.
"Aku ... mencintaimu ... Kak."
Kembali air mata meluncur dari netra teduh milik Tama.
Mei kembali mengangkat tangannya. "A-aku ingin tidur ... bersamamu."
Tanpa malu-malu, Tama naik ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimut bersama Istrinya. Ia mendekap Istrinya dan menyatukan dahi mereka.
"A-aku ingin ... bersamamu ... selamanya."
Tanpa curiga, Tama mengangguk. "Iya."
"Semoga tuhan ... meridhoinya," Mei menutup mata.
"Cepat sembuh ya Mei." Tama melihat Istrinya diam, tak lagi bicara. Ia kemudian memejamkan mata dan tidur di sampingnya.
Tak lama Chris datang. "Apa aku melewati sesuatu?" ucapnya saat melihat Tama tidur bersama Istrinya di atas tempat tidur pasien.
Arya tertawa.
"Ah, sepertinya," Chris kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan, tapi sebelum ia menutup pintu, seorang Suster menghentikannya. "Ada apa Sus?"
"Aku ingin memeriksa pasien Pak," jawab gadis itu sopan.
"Pasien sedang tidur dengan suaminya. Apa perlu dibangunkan?"
__ADS_1
"Apa? Kapan bangunnya, kenapa kami tidak di beri tahu?" Suster itu bergegas masuk. "Maaf."
"Apa? Kami tidak tahu karena ketika masuk pasien sudah bangun. Kami pikir kalian tahu tapi belum memberi tahu kami." Chris mengekor.
Mendengar ribut-ribut, Tama terbangun. "Ada apa?"
Suster yang telah berada di samping tempat tidur segera memeriksa infus dan kemudian menyentuh Mei. "Ibu tolong bangun," ucapnya pelan.
Tama yang telah duduk di samping Istrinya juga membantu membangunkan Mei. "Sayang." Ia mengguncang bahu Mei tapi gadis itu tak bergerak. "Mei?" Ia mulai panik.
"Bapak turun dulu, saya tidak bisa memeriksa pasien kalau begini Pak," Suster itu memperingati seramah mungkin karena ia terlihat kesal melihat Tama naik ke tempat tidur pasien sedang pasien sedang dalam perawatan intensif.
"Eh, maaf." Tama segera turun.
Suster itu segera memeriksa nadi Mei, lalu menghela napas. Ia segera menekan bel yang ada di dinding.
"Ada apa?" terdengar suara wanita menjawab bel tadi.
"Pasien sempat bangun sebelum pingsan lagi Sus."
Tama segera mengucek mata dengan cepat karena baru bangun dari tidurnya. Ia hampir tak percaya dengan apa yang baru saja di dengannya. Mei pingsan lagi?
"Ok, tunggu sebentar," ujar suara itu lagi.
Tama menatap Istrinya yang berada di atas tempat tidur yang tak bergerak. Mei, kenapa jadi begini? Kamu ... tidak akan meninggalkanku kan Mei? Ia memandang nanar tubuh Istrinya itu hingga netranya mulai menggenang.
Chris meraih bahu Tama. "Yang kuat Tama."
Kalimat itu malah membuat pemuda itu lemas. Chris merengkuh bahu Tama.
Orang tua Mei saling menggenggam tangan, demikian pula Arya dan Mariko.
Tak lama kemudian, Dokter dan seorang Suster datang. Mereka menutup gorden dan melakukan pemeriksaan. Sejurus kemudian gorden itu terbuka kembali. Dokter wanita itu keluar seiring Chris menarik Tama mendekatinya.
"Ini Suaminya Dok," Chris memperkenalkan Tama pada Dokter itu.
"Ini anak Bapak Pak?" Dokter itu hampir tak percaya karena Chris berwajah bule sedang Tama berwajah Jepang.
"Ya, bisa di bilang begitu."
Dokter itu langsung mengerti. Ia malah menyalami Chris. "Senang bisa melayani Anda Pak, pengusaha terkenal dari Jakarta," ujar Dokter wanita itu berterus terang. Keterkenalan Chris yang juga diketahui sebagai pengusaha yang ramah membuat banyak orang ingin berkenalan dan membantunya.
"Ah, tidak ada apa-apanya Dok," Chris merendah.
"Eh, begini ya." Dokter itu mulai serius. "Menantu Bapak ini terlalu muda untuk hamil. Jadi secara garis besarnya, tubuhnya belum siap untuk hamil dan melahirkan tapi karena sudah hamil seharusnya dijaga karena rawan keguguran."
Chris dan Tama mendengarkan dengan seksama.
"Sepertinya pasien baru kecelakaan ya?" tanya Dokter itu yang sempat melihat tubuh Mei yang biru-biru.
"Iya Dok," jawab Tama pelan. Rasanya seperti sedang dipersalahkan.
"Itu malah lebih rawan, pasien harus bed rest."
"Tadi sudah diperiksa di Klinik Dok."
"Tapi kenapa jadi begini?" tanya Dokter itu heran.
"Begini Dok," Chris mengambil alih. "Pasien jadi korban penculikan. Ia dibawa dari Jakarta ke Tarakan ini naik pesawat."
Dokter itu menghela napas. "Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi kekuatan pasien di titik terendah. Pasien koma."
Tama syok. Ia langsung menyembunyikan wajahnya dengan memeluk Chris.
____________________________________________
__ADS_1
Terpaksa Menikahi Putri Mafia, Author Imamah Nur menulisnya untuk Anda. Siapa yang suka novel mafia?