Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Tes


__ADS_3

Arya tertawa. "Ayah kan cuma bercanda."


"Ayah, kalau aku celaka gimana?!!" Tama masih memprotes keras bercandaan Ayahnya yang di rasa sudah keterlaluan.


"Ya, tapi kan Bodyguard-mu sudah menolongmu dengan baik."


Tama masih ingin protes, tapi entah kenapa mendengar kata-kata 'Bodyguard-mu sudah menolongmu dengan baik' membuat pemuda itu melirik Mei dan tersenyum. "Iya Yah."


Arya mengerut dahi melihat cara Tama melirik Mei. Ia menyentil dahi anaknya.


"Aduh!"


"He, masih kecil."


"Apa sih Yah?" Tama bersungut-sungut mengusap dahinya.


"Awas, jangan pacaran!" Arya kembali memperlihatkan ibu jari dan telunjuk yang bersatu, siap menyentil kembali dahi Tama.


"Enggak Yah." Tama bergerak mundur, melihat wajah angker ayahnya.


Mei mendatangi Arya dan menyerahkan sepasang sumpit itu, tapi pria itu malah mencekal tangan gadis itu membuat sumpit yang dipegangnya jatuh. "Eh?"


"Aku pinjam dulu Bodyguard-nya," Arya memperlihat senyum nakalnya pada Tama membuat pemuda itu terperangah. Ia menarik Mei ke taman belakang.


"Ayah! Ayah, mau apa Ayah!" Tama terlihat khawatir.


"Aku ingin melihat kemampuannya."


Mei hanya pasrah dibawa oleh Ayah Tama, sementara pemuda itu terlihat semakin gusar.


Di taman belakang, Arya melepas Mei. Di taman itu, areanya tidak terlalu besar. Di sana ada taman kecil dan area untuk menjemur pakaian.


"Biasanya kalau ada Bodyguard tidak mengandalkan otot berarti ia mengandalkan ilmu bela diri. Aku penasaran dengan ilmu bela dirimu, sampai sejauh apa."


"Aku gak bisa apa-apa Pak, hanya pemula," Mei merendah.


"Biarkan aku yang menentukan, apa kamu boleh jadi Bodyguard anakku atau tidak?" kata Arya sambil mengambil ancang-ancang menyerang.


"Ayah! Aku sudah memilihnya, ayah tidak boleh ikut campur!" Tama semakin panik. Sejujurnya, ia tahu kehebatan Mei, tapi ia tidak tahu apa gadis itu bisa melewati tes yang diberikan Ayahnya karena Ayahnya adalah pemilik sebuah padepokan perguruan Wushu yang sangat terkenal di daerah itu.


Arya tidak mendengarkan ucapan Tama tapi langsung menyerang Mei dengan tangan kosong dengan cepat. Gadis itu hanya menangkisnya satu-satu. Ke depan, samping, juga bawah.


"Ho ho ho, hebat juga kamu," ucap Arya semakin penasaran.


"Cuma segini Pak, bisanya," Mei membungkukkan tubuhnya, memberi hormat.


Arya tertawa. "Aku tak yakin itu." Ia melirik ke 2 belah bambu yang bersandar di sampingnya. Diambilnya satu dan dilempar ke arah Mei. Gadis itu mengambilnya dengan sigap.


"Ayah!" Tama semakin kesal dan juga cemas. Ia cemas Mei tak lolos tes Ayahnya.


Arya mengambil satu lagi bambu dan kembali mulai mengambil ancang-ancang menyerang, sedang Mei dengan kuda-kudanya dalam posisi bertahan. Serangan ringan dilancarkan Arya berhasil ditangkis Mei. Gadis itu kembali diserang dengan kecepatan penuh dengan memutar tongkat bambu itu mirip baling-baling. Serangan ini cukup mengejutkan membuat Mei kewalahan dan tongkat akhirnya terlepas. Gadis itu terkena pukulan di punggung oleh tongkat bambu yang dipegang Arya. "Aghh!"


"Ayah, cukup!" Tama benar-benar marah.


Kini Mei malah mengambil tongkat bambunya yang terjatuh. Ia kembali bersiap dengan kuda-kuda bertahan.


Pantang menyerah rupanya. Bagus, benak Arya.


"Sudah Mei, sudah!" Tama menatap Arya dengan geram. "Ayah, hentikan! Ini bukan bercandaan yang benar. Bagaimana kalau ada yang terluka ...." Netra pemuda itu mulai memerah, tapi sungguh, tak ada satupun yang mendengarkannya.


Mariko dan Aiko datang berlari-lari menyambangi mereka karena mendengar Tama berteriak-teriak dari arah taman belakang.


"Ada apa?" tanya Mariko terkejut.


"Ayah, Ma. Tolong hentikan Ayah! Bercandanya sudah keterlaluan." Netra Tama sudah berkaca-kaca.


"Oh, ada yang tanding ya? Asyik!" Aiko malah melonjak-lonjak.


"Anak kecil!" Tama semakin kesal pada adiknya. Ia beralih pada Mariko. "Ma, tolongin Ma ...."

__ADS_1


"Ayah tahu batasannya, kamu tidak usah khawatir."


"Ma ... please ...."


"Kita lihat saja."


"Tapi tadi dia memukul Mei!"


"Ngak papa." Mariko menarik Tama untuk menonton.


"Ah, Mama ...."


Mei kembali diserang tongkat bambu dengan diputar-putar seperti tadi dan mulai menyerang kiri dan kanan. Sambil menghindar, Mei mencari kelemahan serangan itu.


Awalnya Arya menyerangnya dengan pelan sambil memutar cepat tongkat kayu itu. Lama-lama, gerakan serangan pria itu semakin cepat. Arya ingin mengukur seberapa cepat Mei bisa membaca kelemahan lawan.


Saat Arya mulai mempercepat serangan, ia dikejutkan dengan serangan tiba-tiba gadis itu tepat ditengah perputaran tongkat bambu yaitu di dekat tangannya yang sedang memutar bambu, sehingga tongkat miliknya terpental. Tongkat terpental ke arah kerumunan, Tama, Mariko dan Aiko. Dengan sigap Aiko menjadi tameng di depan Ibu dan Kakaknya dan menendangnya ke samping.


Arya bertepuk tangan. "Pintar anak Ayah," sahutnya senang.


Mei mendatangi Arya. "Maaf Pak, tangan Bapak terluka." Ia melihat darah yang menetes dari sela jemari Arya. "Maaf Pak, maafkan saya." Mei membungkuk berkali-kali.


"Oh, tidak apa-apa. Hanya luka kecil ini." Arya melihat lukanya dan tersenyum.


"Jangan begitu Pak, Anda terluka karena saya." Mei meraih tangan Arya dan memperhatikan lukanya.


Tama langsung menarik gadis itu. "Gak usah Mei, biarin aja. Syukurin!" ledek Tama sambil membentengi Mei agar tak mendekati Ayahnya.


Arya tertawa dengan ledekan anaknya. Tangannya kemudian diperiksa oleh Mariko.


Tama baru saja akan membawa Mei masuk, tapi Arya kemudian memberi tahu. "Eh, jangan pulang dulu, ayah belum selesai."


"Ayah ...."


"Ayah mau bicara denganmu Tama."


"Kamu ngak papa kan? Maaf, Ayahku suka gitu. Becanda keterlaluan. Hanya aku di rumah ini yang gak suka bercandaan ala pendekar gitu. Aku lebih suka jadi orang waras yang menggunakan otak di banding orang waras yang menggunakan kekuatan tubuh untuk menyelesaikan masalah. Kekuatan tubuh itu ada masanya akan rapuh, tapi tidak dengan kekuatan otak. Ia bisa bertahan bahkan dikenang karena kemampuannya. Ia bisa menjadi bagian dari sejarah."


Mei terkejut dengan penuturan Tama yang berbeda dari biasanya. Ia seperti tidak bicara dengan Tama. Pemikirannya seperti jauh ke masa depan.


"Kamu beneran gak papa?"


"Enggak kok, gak papa."


"Tapi Ayahku tadi memukul punggungmu. Pasti sakit sekali." Tama hampir menyentuh punggung Mei, ketika Arya memanggilnya.


"Eh, Tama. Ayo ke kamar Ayah."


Tama bangkit dan mendatangi kamar Arya sedang Mariko keluar bersama Aiko. Gadis itu mendatangi Mei. "Mbak hebat!"


"Mmh? Gak juga."


Tama yang sudah masuk kamar Ayahnya, duduk berdua di tepian tempat tidur.


"Jadi Bodyguard-mu itu ...."


"Sudah Ayah, aku takkan menggantinya, apapun pendapat Ayah. Lagipula dia sudah mengalahkan Ayah."


"Aku merekondasikan Bodyguard-mu."


Sedikit terkejut tapi Tama berusaha untuk tidak terlihat bodoh. "Jadi cuma itu saja kan?" Ia mengkhawatirkan Mei dan ingin cepat-cepat kembali ke rumah Kenzo.


"Ada lagi. Aku ingin tahu kondisi perusahaan sekarang berdasarkan pengamatanmu. Apa yang sedang kamu kerjakan sekarang?"


Aduuuh, bakal lama nih, padahal kantor kan sekarang tinggal beberapa jam lagi. Bakal lembur deh! "Ayah, tidak bisa besok? Atau nanti malam saja."


"Bacaanmu sudah sampai mana?"


"Ayah!"

__ADS_1


"Kamu belum bisa keluar sebelum menjawab pertanyaan Ayah."


Sambil melihat perban di tangan Arya, Tama terpaksa mulai menerangkan satu-satu masalah di kantornya tanpa melibatkan cerita tentang penculik yang hampir dua kali dirasakannya.


--------+++--------


Mobil kini menepi di kediaman Kenzo. Tama dan Mei keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Kini mereka bergegas agar bisa ke kantor segera karena pekerjaan mulai menumpuk di sana.


Mei segera membuka pintu kamarnya. Yang ia tidak tahu, ternyata Tama mengikutinya dari belakang.


"Eh, Kak!"


Tama segera menutup pintu dan menghadap gadis itu.


"Ada apa?"


"Apa kau ... tidak terluka?" suara pemuda itu seperti hendak menangis.


"Oh, tidak apa-apa, hanya sakit sedikit. Sebentar lagi juga hilang."


"Yang bener?" Netra pemuda itu kembali berkaca-kaca.


"Iya, gak papa."


Tiba-tiba Tama memeluk Mei.


"Aduh!"


Tama tanpa sengaja menyentuh punggung gadis itu. Ia melonggarkannya dan kembali merengkuh gadis itu dengan melingkarkan tangannya di pinggang.


"Kakak!" Mei mendorong Tama tapi pemuda itu tidak mau melepasnya.


"Maaf, sebentar saja. Aku merasa bersalah padamu."


Mei memukul dada pemuda itu kencang.


"Aduh!" Lalu pelukan Tama akhirnya terlepas.


"Aku lebih baik kesakitan dari pada nyaman tapi melanggar agama."


Tama menunduk. Ia kembali merasa bersalah. Mei rupanya gadis yang memegang teguh prinsipnya berdasarkan agama, tidak seperti dirinya yang baru saja terhanyut akibat perasaannya yang entah ....


"Maaf Kak, aku ...."


"Gak papa Mei kamu benar."


Mereka kemudian terdiam sesaat.


"A-aku bersiap-siap dulu ya?"


Tama segera keluar dan masuk ke dalam kamarnya. Tama sadar, Mei banyak membuatnya berbenah diri dalam perbuatan, menemukan jati dirinya dan menjadi Tama yang baru. Tama yang bernilai dalam segi manusia yang telah menemukan jalan hidupnya di banding teman-teman seusianya yang masih mencari jati diri. Iapun mulai merasa telah menemukan tambatan hati.


Di kantor, Tama menerima laporan dari bagian HRD dengan banyak aplikan yang masuk untuk pemilihan berbagai posisi yang kosong. Mereka mulai merencanakan jadwal interview bagi aplikan itu dan melihat sepak terjangnya selama bekerja di perusahaan itu. Setelah seleksi terlewati, mereka barulah diajukan untuk dipilih oleh anak buahnya di tiap divisi.


Setelah itu Tama juga memeriksa beberapa proyek yang sedang berjalan dan ada beberapa yang macet atau berjalan di tempat yang perlu di telusuri lebih dalam masalahnya. Ia memeriksa bersama beberapa staf hingga malam.


Mei mencatat hal-hal yang penting untuk diingat, setelah itu mereka pulang.


Di dalam mobil keduanya terlihat kelelahan dan tertidur di kursi masing-masing membuat sopir kantor yang mengantar mereka hanya geleng-geleng kepala.


Setelah sampai mereka tak lagi memikirkan makan malam. Mereka segera masuk ke dalam kamar mereka masing-masing dan langsung menuju tempat tidur.


-------+++-------


Tengah malam Mei terbangun dan menyadari lampu kamarnya padam, padahal ia kehausan. Dalam keadaan masih mengantuk iapun keluar. Rumah yang dirancang dengan banyak kaca ternyata sangat berguna di saat mati lampu karena mereka masih bisa bergantung pada cahaya rembulan dan bintang di langit.


Mei masih bisa melangkah di kegelapan dan mengambil minum di lantai bawah. Setelah minum, ia kembali ke kamar. Lampu masih mati sehingga ia langsung naik ke tempat tidur. Ia bergeser dan memeluk bonekanya di samping. sebentar saja ia telah tertidur.


Yang ia tidak tahu, benda yang ia kira boneka itu sedikit bergerak dan kemudian kembali tertidur.

__ADS_1


__ADS_2