Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Sakit


__ADS_3

Leka sudah ke berapa kalinya ke kamar mandi, berusaha memuntahkan isi perutnya tapi sedari tadi tidak ada yang keluar dari mulutnya kecuali cairan bening saja dan itupun tidak banyak. Ia sendiri heran kenapa ia bisa mual begitu, apakah mungkin karena semalam kurang tidur?


Ia semalam tidak bisa tidur karena merindukan suaminya, berharap ia baik-baik saja. Menunggu telepon dari suaminya itu serasa berabad-abad lamanya tapi ia tidak berani menelepon langsung pada Kenzo yang berakhir rindu yang tak berkesudahan. Tidak biasanya Kenzo tidak menelepon, dan walaupun berkali-kali bicara pada diri, Kenzo pasti baik-baik saja, tetap saja ia tak bisa tidur dengan rasa khawatir yang membuatnya gelisah.


Ia akhirnya tidur di pagi hari sebentar dan terbangun dengan pening di kepala.


Leka membersihkan wajahnya dengan air yang mengalir di keran. Wajahnya sedikit pucat dan berantakan. Ia kemudian keluar dari toilet.


"Ibu sebaiknya pulang saja Bu, nanti Ibu sakit," ucap Ani Baby Sitter Runi.


Runi yang berada di kereta bayinya sibuk membolak-balik buku menu. Ia melihat banyak orang melihat kertas menu itu tapi tidak ada yang menarik selain tulisan-tulisan yang membingungkan.


"Iya sebentar lagi." Pembeli sudah berkurang dan seharusnya tiba giliran Leka untuk makan siang tapi sepertinya ia tidak tertarik untuk melakukannya. "Kamu makan duluan saja."


"Tapi Bu." Ani mengkhawatirkan Leka.


"Nanti setelah ini kita pulang, ya?"


"Eh, iya Bu."


Ani masuk ke dapur sedang Leka menarik kereta bayi Runi ke sebuah meja dan duduk di sebuah kursi yang bersandar ke dinding. Dari dekat ia bisa memperhatikan Runi bermain dengan kertas menu. Runi pun terlihat senang.


"Halo Leka ...." Tiba-tiba Aska datang dan duduk di kursi di seberangnya.


Bagaimana caranya ia bisa melewati Bodyguard-ku?


Aska tadi mencoba parkir di toko bunga Ibunya Reina, dan berjalan kaki ke restoran itu yang letaknya tidak jauh hanya beda 2 toko saja. Bodyguard Leka berjaga dengan berdiri di parkiran bukan di restoran, jadi tidak melihat kedatangan Aska.


Leka memalingkan wajahnya dan berusaha beranjak dari kursi tapi Aska menahan lengannya.


"Leka, aku ingin bicara."


"Kita sudah sering bicara," jawab wanita itu lemah. Ia malas menanggapi.


Aska melihat wajahnya yang pucat dan sedikit lemas. "Kamu kenapa? Sakit? Wajahmu pucat. Aku antar ke rumah sakit ya?"


"Tidak perlu. Lepaskan aku!" Leka berusaha menarik tangannya kembali.


"Leka jangan begitu ... di depan anak kita," bisik Aska pelan.


Mereka berdua melihat Runi yang terlihat bingung. Kesempatan itu dipakai Aska untuk tetap menggenggam lengan wanita itu. Leka mengerucutkan mulutnya.


"Leka, apa kita tidak bisa kembali bersama. Demi anak kita?"


"Maaf aku tidak bisa. Aku sudah menemukan kebahagiaanku sendiri."


"Leka dengarkan aku. Kenzo bukan pria baik-baik seperti yang kau pikirkan. Dia itu licik. Dulu, dia mengambil pacarku selagi aku pacaran dengannya dan sekarang dia mengambil kamu dari aku, Leka. Dengan bantuan ayahnya. Mereka keduanya sangat licik hingga bisa memisahkan kita yang tadinya sah suami istri menjadi tercerai-berai seperti ini."


"Itu semua kesalahanmu sendiri, Bang. Tidakkah kau bisa bercermin? Jangan selalu menyalahkan orang lain dalam masalahmu sebab kamu juga terlibat di dalamnya. Kau tidak pernah menghargaiku selama aku ada di sisimu. Kenzo beda, ia selalu menghargai setiap usahaku. Coba kau pikirkan, itu juga salah satu sebab orang tidak bisa bertahan denganmu. Ini bukan masalah Kenzo, tapi ini masalahmu. Kalau aku tidak bertemu Kenzo pun aku tetap ingin menikah dengan orang lain saja ketimbang kembali padamu."


"Leka, bukankah aku sudah berusaha berubah untukmu?"


"Bang, kerusakan yang kau timbulkan itu cukup parah. Ibarat gelas kaca yang jatuh dan pecah. Itu memang bisa disambung kembali, tapi tidak bisa kembali ke bentuk semula. Aku mungkin telah memaafkanmu, tapi aku masih mengingatnya."


"Leka, tidak bisakah demi anak kita, demi cinta kita?"

__ADS_1


Leka menghela napas dengan kasar dan berusaha tersenyum walaupun wajahnya masih terlihat pucat. "Waktu aku bersamamu, yang kuingat adalah kewajibanku sebagai istri, tapi saat bersama Kenzo aku mencintainya. Aku mencintai kekurangan dan kelebihannya. Aku rasa dia cinta pertamaku dan aku harap dia pula yang terakhir dalam hidupku."


Aska menutup kedua telinganya. "A-a-aku tak mau dengar itu. Itu tak mungkin Leka. Kau hanya mencintaiku." Ia kembali menggenggam tangan mantan istrinya. "Kau hanya masih kesal padaku karena itu kamu bicara begitu. A-aku akan maafkan kamu. A-aku akan berubah seperti yang kau mau. Leka, aku benar-benar tak bahagia tanpamu," bujuknya lagi. Ia begitu syok mendengar pengakuan mantan istrinya itu.


Leka berusaha menepis tangan Aska walau tak sanggup. "Bang kita sudah punya kehidupan masing-masing Bang. Tolong hargai istrimu seperti aku menghargai suamiku, lepaskan masa lalu."


"Tidak Leka, aku hanya akan bahagia denganmu di sampingku demikian juga dirimu takkan bahagia bila tidak denganku di sampingmu. Kau hanya belum menyadarinya," Aska terus membujuk Leka.


"Lepaskan Bang, aku mau ke toilet." Leka mulai merasakan mual.


"Leka dengar dulu perkataanku ...."


Sebuah tangan lain dengan kokoh mencengkram tangan Aska. Keduanya menoleh pada si pemilik tangan.


Aska terperangah hingga melepaskan.


"Kenzo?" Namun Leka kembali mual. Ia menutup mulutnya dan berlari ke toilet.


Kenzo mengerutkan kening melihat Leka yang berlari ke toilet, kemudian beralih pandangan pada Aska. "Apa yang sudah kau lakukan padanya!!" teriaknya kesal.


Beberapa pelanggan yang tidak banyak, menoleh pada mereka berdua. Bahkan Runi pun terkejut. Gadis kecil itu hampir-hampir mau menangis. Ani pun keluar dari dapur.


Kenzo yang menyadari kata-kata kerasnya tadi hampir menakuti Runi, segera menggendong dan mendekap gadis kecil itu agar tidak menangis. Ia mengurut-urut punggungnya. "Maafkan Papa ya Nak," ucapnya lembut. Bertemu dengan Aska memang membuat urat sarafnya menegang.


Aska entah kenapa terlintas ide gilanya untuk mengganggu mereka berdua. Ia tersenyum. "Mungkin istrimu hamil, tapi pasti bukan dari kamu kali ya, karena kalian kan baru sekitar 10 hari bersama." Ia tertawa. "Mungkin dari orang lain ...." Matanya berbinar nakal.


Dua orang Bodyguard Leka sudah masuk ke dalam restoran dan segera menarik Aska keluar.


"Hei, aku bisa jalan sendiri." Aska berusaha menepis tangan-tangan Bodyguard itu. Ia seperti sebelumnya di antar paksa hingga ke parkiran.


Kenzo kemudian menunggu di depan toilet hingga Leka keluar dengan muka pucat.


"Mas," Leka tersenyum dengan lemahnya. "Akhirnya kamu pulang." Wanita itu memeluk suaminya.


"Kamu, kenapa wajahmu pucat begini?" Kenzo merasa khawatir. "Kamu sakit?"


"Tidak tahu Mas," Leka masih memeluk suaminya.


"Ani, ke sini sebentar!"


Ani datang dengan terburu-buru, makannya belum selesai.


"Tolong pegangi Runi sebentar. Kita bawa istriku ke rumah sakit."


"Iya, baik Pak," ucap Ani sambil mengambil Runi dari gendongan Kenzo tapi gadis itu malah menangis tidak ingin dipisahkan dari Kenzo.


"Jangan nangis Runi, ayo ikut Papa ya?" Pria itu mencoba menenangkan.


"Tidak usah Mas, aku tidak apa-apa." Leka mendongak menatap suaminya, bahagia.


"Eh, gak boleh gitu. Coba menangkan permintaanku kali ini. Aku benar-benar cemas Leka," Kenzo meminta persetujuan istrinya.


Leka cemberut dan berpikir sejenak. Akhirnya ia mengangguk. Tanpa aba-aba Kenzo langsung menggendong istrinya dengan kedua tangan dan membawanya sampai ke mobil. Ani mengekor di belakang.


Selama di mobil, Leka terlihat bahagia dengan bersandar pada bahu suaminya dan mengalungkan tangannya pada lengan lelaki itu, padahal Kenzo sangatlah cemas melihat Leka sepucat itu. Ia belum pernah melihat istrinya sakit, dan itu membuatnya panik. Apalagi kalimat Aska tadi masih terngiang di kepalanya.

__ADS_1


Benarkah Leka hamil, tapi kalau bukan anakku berarti itu anak ... Kenzo berusaha menepis semua keraguan itu walaupun tak ayal ia dibuat ragu dengan kata-kata Aska tadi. Leka, apa kamu hamil? Apa itu anak Aska lagi? Berarti kamu sempat berhubungan badan dengan mantan suamimu sebelum atau sesudah cerai, begitu kan? Kata-kata Aska mulai meracuninya.


Di rumah sakit, Leka segera diperiksa.


"Maaf ya Pak," ucap dokter itu pelan. Dokter wanita itu takut Kenzo kecewa.


"Jadi istri saya kenapa dok?" Pria itu semakin cemas.


"Istri Anda tidak hamil, dia hanya sedikit stres dan kurang tidur."


"Alhamdulillah!" teriak Kenzo, senang.


Dokter itu terlihat heran. "Bapak tidak ingin punya anak?"


"Eh, bukan begitu. Itu ... eh, aku sudah lama tidak pulang, jadi ...." Kenzo terlihat bingung menerangkannya. Keluguannya membuat dokter itu tersenyum.


"Oh, cemburu ya?"


"Eh, bukan itu." Kenzo semakin bingung bagaimana menjawabnya.


"Mmh?" Leka keluar dari balik tirai berjalan lemah.


Kenzo buru-buru menyambangi dan memapahnya. Setelah keluar dari ruang pemeriksaan mereka segera ke kantin rumah sakit.


"Ani tadi kamu belum selesai makan, kamu pesan saja lagi makanan yang kamu mau."


"Ah, iya Pak." Ani dengan senang segera melihat makanan di etalase sambil mendorong kereta bayi Runi.


Kenzo masih memeluk pinggang istrinya dari samping dan menatap etalase di depannya. "Leka kamu mau makan apa? Kenapa kamu sampai stres? Ada apa?"


"Aku rindu padamu." Leka mengeratkan pelukan pada lengan suaminya. Ia meletakkan dagunya di bahu pria itu.


Kenzo tersenyum senang. Ia mengecup pucuk kepala istrinya. "Sekarang kan kau lihat, aku ada di sini."


"Kenapa kemarin malam kau tidak meneleponku?" rengut Leka kesal. Ia semakin manja menempelkan mulutnya di bahu Kenzo.


"Oh, maaf. Aku sebenarnya ingin memberi surprise sama kamu tapi kamunya malah stres gara-gara aku gak nelepon. Kenapa ngak nelepon saja kalau kamu kangen padaku?"


Leka makin cemberut. Ia gemas hingga merem*s lengan suaminya. "Jadi kamu tidak rindu padaku?"


"A-aduh Lekaaa, sakit." Kenzo menahan nyeri di lengannya. "Iya, iya aku rindu kok sama kamu."


"Ngak ikhlas!" Leka makin merem*s lengan suaminya.


"Eh, enggak kok. Ikhlas ...." Kenzo hanya mampu menahan nyeri tanpa melakukan apa-apa. Ia benar-benar ikhlas Leka menyakiti dirinya sedemikian rupa karena tadi ia sempat meragukan istrinya masih menyukai mantan suaminya. Untuk itu ia juga merasa bersalah.


Leka pun akhirnya iba dan melepas cengkramannya. Ia memeluk tubuh Kenzo sambil membenamkan wajahnya pada dada bidang hangat yang selalu dirindukannya tiap malam. Ia kemudian menangis. "Aku rindu kamu Mas," bisiknya.


Kenzo merengkuh istrinya erat. "Maafkan aku ya?" Ia mengusap pucuk kepala Leka dan kembali mengecup kening hangat wanitanya.


______________________________________________


Author MinNami meramu kisah rumah tangga dengan judul sama, Rumah Tangga. Sederhana namun kisah sehari-hari.


__ADS_1


__ADS_2