Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Silang Pendapat


__ADS_3

Tristan melirik Ayah Mei. "Iya kan Pak?"


"Oh, iya." Ayah Mei menjawab dalam kebingungan. Sejujurnya ia ingin sekali bicara dengan Tama karena ia melihat Tama anak yang jujur tapi situasi tak memungkinkannya untuk bicara berdua saja dengannya ditambah ada Tristan yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


Tentu saja, memilih menantu bukan hal yang mudah tapi ia mempercayai feeling-nya. Tama, bukan karena ia anak orang kaya tapi karena pemuda itu jujur padanya, sedang Tristan. Ia tidak tahu seperti apa.


Nasi sudah menjadi bubur. Mereka dipertemukan dengan cara yang salah dan Tristan menolongnya. Mungkin, sudah takdir Mei menikah dengan Tristan.


Kenzo menekan bel memanggil suster dan Tristan terus mengajak Mei bicara.


Pria itu menunjuk Ayah Ibu Mei. "Mereka itu orang tuamu, Mei. Apa kau ingat padaku? Namaku Tristan." Ia terus menggenggam tangan Mei.


Tristan? Tunanganku bernama Tristan? Kenapa ia terus memanggilku Mei? Namaku ... ah aku tidak ingat. Aku ... tidak ingat apapun.


Mei melirik orang tuanya. Ia benar-benar tidak ingat.


Masa aku lupa orang tuaku sendiri? Aku ini siapa? Ya allah, aku tidak ingat apapun.


Kembali Mei melirik pada pria yang mengajaknya bicara. Benarkah dia tunanganku? ia semakin bingung.


Kemudian ia melirik ke sisi yang satunya. Ia melihat Tama, Kenzo dan Arya. Kembali ia melihat ... Tama. Sepertinya ia punya perasaan dekat dengan pemuda itu.


Tama pun melihat Mei dengan hati hancur. Ayahnya tidak menyetujuinya menikah dengan gadis itu ditambah Tristan bermesraan dengan Mei di depan matanya.


"Itu siapa?" Mei menarik tangannya dan menunjuk ke arah Tama.


"Oh, itu teman sekolahmu," jawab Tristan dengan entengnya.


Mei ... kenapa kau lupa padaku? Setiap hari kita selalu bersama tapi kenapa kau lupa padaku? Tama hampir menangis. Kalau Tristan membawa Mei, ia tidak akan punya kesempatan melihatnya lagi. Mei, jangan tinggalkan aku, bagaimana aku hidup tanpamu?


Dokter dan suster akhirnya datang. Mereka memeriksa Mei.


"Sepertinya benturan di kepala menyebabkan ia hilang ingatan tapi ini hanya sementara. Cepat atau lambat ia akan segera pulih," ucap dokter itu.


"Oh, begitu." Ayah Mei akhirnya bisa bernapas lega.


Kini Tristan yang khawatir. Ia tidak ingin Mei mengingat Tama hingga mereka menikah nanti. Ia sedang memikirkan cara bagaimana bisa menikah secepatnya.


"Pasien akan di rawat intensif dulu, mengingat memorinya yang hilang pasca kecelakaan. Tiap orang tidak sama penyembuhannya, ada yang cepat ada yang lama karena itu kita observasi dulu." Kemudian dokter itu pamit dan pergi bersama susternya.


Arya mendekati Ayah Mei. "Bapak tak usah takut. Selama perawatan, ia kami tanggung. Ini kecelakaan kerja, jadi tanggung jawab kami. Semoga Mei cepat sembuh ya Pak." Arya menepuk bahu Ayah Mei.


"Terima kasih Pak," Ayah Mei sangat bersyukur karena walaupun Tama tidak disetujui menikah dengan Mei, Arya sangat sopan dan baik pada mereka.


Arya pamit. "Ayo Tama, kita pulang."


"Tapi Ayah," Tama tampak enggan. "aku boleh ke sini lagi kan ya?"


Arya tertawa. "Ayah Mei sudah menarik anaknya. Kau harus cari Bodyguard baru. Kali ini kau harus punya dua. Dengarkan kata Kakakmu. Tempat kerjamu itu berbahaya." Arya menggiring Tama keluar dan diikuti oleh Kenzo.


Tristan melirik Tama dengan senyum kemenangan. Berarti ia kini punya banyak kesempatan bersama Mei dan gadis itu harus melupakan Tama. "Eh, boleh saya tahu apa Bapak benar-benar menerima saya?"


Ayah Mei diam sejenak. "Eh apa boleh saya memanggil Nak ya?"


"Oh, silahkan."


"Anak ini kan baru mengenal Mei, apa bisa seyakin itu ingin menikah?"


Menikah? Aku menikah dengannya? Mei menatap wajah Tristan. Aku tidak ingat apapun tentangnya bagaimana bisa aku menikah dengannya? Mei panik.


"Jabatan saya sudah lumayan tinggi Pak dan orang di usia saya pasti pemikirannya sudah matang dan tidak ingin main-main. Apa Bapak tidak tahu Jendral Asrul Baskara? Dia Papa saya. Saya mengikuti jejaknya dengan masuk kepolisian."


Ini anaknya Asrul Baskara? Jendral yang terkenal sepak terjangnya dan jadi tangan kanannya Presiden? Ayah Mei hampir tak percaya.

__ADS_1


"Kalau Bapak menerima saya, saya akan bawa orang tua saya untuk melamar."


"Tapi aku hanya seorang pedagang lontong sayur keliling Nak, apa kamu yakin ingin melamar Mei?"


"Kalau saya tidak yakin, saya tidak akan membicara ini dengan Bapak."


Mei benar-benar bingung. Saat ini ia tidak ingat apapun, bagaimana bisa ia menikah dengan pria ini. Orang tuanya saja ia tidak ingat, apalagi orang lain.


"Saat ini Bapak mau fokus dengan kesehatan Mei dulu, baru nanti kita bicarakan lagi."


Tristan kesal, permintaannya ditangguhkan Ayah Mei, tapi ia tidak bisa memaksa. Ia akan coba lagi membujuknya besok.


"Baiklah saya pamit dulu. Apa saya boleh mengunjunginya lagi besok?"


"Kalau tidak mengganggu tugas Anak ini, silahkan saja," jawab Ayah Mei dengan sopan.


Tristan pamit.


Setelah pria itu pergi Ayah Mei menatap putrinya. "Apa kamu juga benar-benar tidak ingat pada kami?"


"Ma-af."


Ayah Mei melihat wajah kebingungan Mei. Ia mencoba menyentuh kepala anaknya tapi Mei menghindar, takut. Ia mengurungkan niatnya. "Kami orang tuamu, kami menginginkan yang terbaik untukmu jadi kami bukan orang jahat. Percayalah," ucap Ayah Mei pelan. Ia begitu bingung melihat Mei yang berubah takut pada mereka.


"Apa benar Mei hilang ingatan ya Bang?" Ibu Mei masih terlihat bingung, tak percaya.


"Kau kan bisa lihat, dia ketakutan pada kita Ranah."


Sementara itu, Kenzo, Arya dan Tama setelah sholat Magrib, pergi ke kantin. Mereka makan di sana. Tama masih coba membujuk Ayahnya.


"Ayah, apa aku benar-benar ...."


"Sudah jangan di bahas," Arya menyuap nasinya.


"Eh, Yah."


Arya meliriknya.


"Apa tidak sebaiknya mereka bertunangan dulu. Mungkin dengan kehadiran Mei, Tama bisa semangat sekolah."


Tama tersenyum senang.


"Atau bahkan sebaliknya, nilai sekolahnya anjlok," ucap Arya datar.


Tama mengerucutkan mulutnya.


"Sudahlah, jangan berspekulasi. Itu paling hanya cinta monyet saja. Tidak lama lagi juga dia akan menemukan incaran baru."


"Tidak Ayah, aku hanya ingin Mei!"


Arya dan Kenzo menatap Tama.


"Ayah sudah bilang, kamu masih terlalu kecil untuk memutuskan tunangan. Sekarang pikirkan belajar saja dulu. Kalau kamu sudah sekolah yang tinggi dan bisa cari uang sendiri dari hasil keringatmu, pasti berjubel kok gadis diluar sana yang ingin menikah denganmu."


"Tapi aku sudah bisa cari uang sendiri Ayah. Aku punya perusahaan."


Arya menepuk dahinya sendiri. Gara-gara warisan Ayah ini ... anakku jadi pembangkang dan ingin buru-buru menikah. "Pokoknya saat ini pikirkan dulu sekolah karena kamu masih di usia sekolah. Cuma itu permintaan Ayah!"


Kenzo dan Tama terdiam.


Di kamar perawatan Mei, gadis itu melirik ke arah kamar mandi. Ibunya baru masuk ke dalam kamar mandi dan Ayahnya baru saja keluar untuk membeli makanan. Mei mencoba untuk duduk. Kepalanya sedikit pening. Ia masih memikirkan apa yang ingin ia lakukan selanjutnya.


Ia tak kenal siapapun. Sepasang suami istri yang mengaku orang tuanya ingin menikahkannya dengan pria bernama Tristan yang merupakan tunangannya dan itu membuat pikirannya kalut. Ia ingin menghirup udara segar. Ia ingin keluar.

__ADS_1


Gadis itu mencoba untuk turun dari tempat tidur. Untung saja tangannya yang sebelah kiri yang diberi gips sehingga ia bisa turun dengan mudahnya. Ia mengendap-endap keluar kamar. Tak tahu arah, ia berusaha menjauh dari kamarnya dan turun menggunakan lift. Saat ia berjalan lurus, ia melihat Ayahnya sedang berjalan sendirian. Segera ia menghindar dan bersembunyi di satu dinding. Ia mencoba berbelok ke arah lain tapi malah menabrak seseorang.


"Aduh!"


"Mei?"


"Kamu?" Mei membulatkan matanya. "Sst!" Ia meletakkan telunjuk pada mulutnya. Ia menoleh ke atas. Rupanya pemuda itu baru keluar dari toilet pria.


"Kamu kenapa di sini?"


"Aku gak betah aku ingin keluar."


Tama bengong. Ia seperti mendapat durian runtuh. Baru saja ia berpikir takkan bisa bertemu dengannya lagi tapi kini gadis itu berdiri di hadapannya. Bila ia mendapat kesempatan kedua, apa yang harus ia lakukan?


"Kamu, apa kamu bisa bawa aku keluar? Aku gak tau jalan keluarnya."


"Kamu kabur ya Mei?"


"Sst!" Mei kembali meletakkan telunjuk di mulutnya. "Kamu mau bantuin gak? Kalo gak ya udah. Katanya teman tapi gak mau bantuin!" gerutunya dan melengos pergi.


Tama segera meraih tangan gadis itu. "Iya, iya, aku bantuin." Ia tersenyum senang. "Ayo ikut aku."


Gadis itu kemudian mengikuti Tama. Sempat mereka hampir bertemu Kenzo dan Arya yang baru saja keluar dari kantin tapi mereka bisa menghindarinya dengan hati-hati dan akhirnya mereka sampai di luar.


"Nah, sekarang kamu mau ke mana?"


Netra gadis itu menyiratkan kebingungannya yang menandakan ia tidak tahu harus ke mana. Tama pun bingung karena ia baru saja membantu Mei kabur dari orang tuanya. Apa dia tidak punya tempat tujuan? Oh iya, dia kan sedang hilang ingatan. Berbahaya untuknya pergi seorang diri ke mana-mana. Nanti kalau ada orang jahat gimana? Eh, dia kan pandai ilmu bela diri? Kenapa bodoh sih kamu, Tama.


"Oh, iya. Kamu pasti gak ingat namaku kan?"


Gadis itu menggeleng.


Tama menyodorkan tangannya. "Tama."


"Mei." Gadis itu menyambutnya. "Namaku Mei kan ya?"


"Namamu Maysaroh Safir, dipanggil Mei, sedang aku Pertama Wiguna, dipanggil Tama.


Mei tertawa. "Namamu lucu, Pertama."


"Ayah Angkatku yang memberi nama itu."


"Oh."


Senang juga melihat ia tersenyum. Entah kenapa itu juga memberiku semangat baru. "Kamu tidak tahu ingin ke mana gitu?"


Mei menggeleng.


"Mmh, ikut aku saja ya?"


"Ke mana?"


"Ikut saja." Tama menelepon sopirnya agar menjemputnya di pintu masuk. Segera setelah mereka masuk Tama meminta sopirnya untuk mengantarnya pulang. Kali ini Tama dan Mei duduk di belakang.


Sementara itu, Arya dan Kenzo sudah menyusul Tama ke toilet tapi tidak ada. Mereka pun mencoba mencari hingga ke tempat Mei di rawat. Ternyata Mei juga hilang dan orang tuanya juga sedang mencarinya. Kenzo coba menelepon Tama tapi hp-nya dimatikan.


"Apa Tama membawa lari Mei?" tebak Arya.


"Aku tidak tahu Ayah, tapi kelihatannya begitu."


Arya menghela napas.


Sementara di rumah Kenzo, Tama dan Mei bertemu Leka yang memperhatikan tubuh keduanya bernoda darah.

__ADS_1


"Kamu selamat Mei, alhamdulillah."


__ADS_2