Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Tak Sengaja


__ADS_3

"Papa ...."


"Sedang makan ya?" Chris tersenyum sambil melihat keduanya.


Tama terlihat panik. "Eh, iya Pa." Ia mengusap belakang kepalanya dan ikut berdiri. Apa Papa tadi melihatku sedang membersihkan mulut Mei ya? Aduh ....


Chris menarik kursi di dekat Tama dan duduk di sana. Yang lainnya kemudian ikut duduk kembali.


"Sudah lama datangnya ya?" Chris bersikap biasa-biasa saja. Justru sikap Chris yang seperti ini yang sering mengundang tanda tanya. Tama tahu betul Ayahnya ini, seperti orang yang mencoba menyimpan sikap dan akan dikeluarkan kemudian. Chris sangat bisa menyimpan rapi perasaannya, hingga tidak ada yang tau apa dia sedang marah, senang atau benci, kecuali ada yang memancingnya keluar.


Tama tak berani melakukan itu karena kalau pria itu sebenarnya marah, maka habislah dia. Saat Chris mengeluarkan kemarahannya, ia takkan pernah berhenti hingga kemarahannya menemui titik terang. Hanya Reina, istrinya yang bisa meredakan kemarahan saat itu terjadi.


"Papa ... mau pesan makanan?"


"Mmh, boleh." Chris mengambil buku menu dan mulai melihatnya. Ia melihat menu sambil melirik Tama dan Mei yang tiba-tiba diam. "Bagaimana hubungan kerja kalian? Apa segalanya lancar?"


"Oh, iya. Mmh ... Mei sekarang membantuku merangkap jadi Asisten dan Sekretaris di kantor selain sekolah seperti biasa. Mmh, kami sangat sibuk jadi kalau pulang tinggal tidur saja. Begitu. He he he." Tawa Tama terdengar aneh. Ia bahkan tidak tahu kenapa ia harus tertawa.


"Mmh, begitu ya?"


Chris kembali melihat mereka berdua yang terlihat tegang. "Kenapa makannya ngak di habiskan?"


Tama baru sadar. "Oh, iya ini juga mau dihabiskan."


Buru-buru keduanya menyentuh makanan mereka dan mulai makan. Chris kembali fokus dengan menu dan memanggil pelayan untuk memesan makanan. Setelah itu ia mulai bicara lagi dengan Tama. Mei yang merasa tak enak hati berada di sana buru-buru menghabiskan makanannya.


"Jadi sekarang kamu akan mencari CEO yang baru untuk menggantikan posisimu yang sekarang ini?"


"Iya Pa. Ayah bilang kalo CEO itu harus menjalankan perusahaan sedang aku harus sekolah jadi Ayah menyarankan aku mencari CEO yang baru dan aku cukup jadi Direkturnya saja yang hanya menerima laporan dan tak harus datang ke kantor tiap hari."


"Iya, Ayahmu benar. Kau harus fokus sekolah."


"Nah, masalahnya kalau cari CEO itu ternyata tidak mudah dan untuk menginterviewnya juga butuh skill(kemampuan) khusus dan orang-orang di HRD tidak sanggup melakukannya."


"Ya, itu benar. Karena kebanyakan CEO dan GM diinterview langsung oleh Owner(pemilik). Mereka sekalian melihat bagaimana kandidat itu berinteraksi dengan dirinya sehingga dia bisa mengira-ngira orang ini cocok atau tidak jadi bawahannya karena nantinya mereka akan berinteraksi setiap CEO memberikan laporannya."


"Oh, begitu."


"Eh, maaf. Saya sudah selesai, saya jalan-jalan dulu keluar ya?" Mei mencoba bicara sambil akhirnya meneguk segelas air mineral.


"Eh, jangan jauh-jauh ya Mei?"


Chris melirik Tama yang nada bicaranya begitu perhatian.


"Eh, iya Kak." Mei pun keluar dari restoran. Dilihatnya Tama kembali fokus berbicara dengan Chris. Ia pun kini mengalihkan perhatiannya pada lingkungan di dalam Mal yang dilihatnya.


Sudah lama ia tak berjalan sendirian. Menikmati pemandangan sekitar dengan berjalan pelan-pelan. Rasanya seperti ada yang kurang, terbiasa berjalan bersama-sama Tama berdua. Kini betapa sepinya berjalan sendirian, padahal ia tidak pernah seperti ini sebelum. Ia sudah biasa ke mana-mana sendiri, kenapa sekarang tidak bisa? Apa berjalan-jalan bersama laki-laki itu telah membuatnya lemah? Atau candu? Hal remeh ini mulai meresahkannya.


"Eh." Tanpa sengaja ia bersenggolan dengan seorang wanita. Tepatnya wanita itulah yang menyenggolnya karena memperhatikan kerumunan. Entah ia melihat pada siapa tapi wanita itu tidak sendirian. Temannya seperti menjaga jarak di tempat lain.


Tak lama wanita itu bergerak ke seorang pengunjung wanita paruh baya yang sibuk berbelanja, membawa belanjaan dan tasnya. Tiba-tiba ia mengeluarkan pisau kecil dan mengoreskannya pada bagian bawah tas pengunjung itu. Tas itu terbuka dan dengan mudahnya ia merogoh tas itu dan mengambil dompet pengunjung itu.


Pencopet! Mei dengan sigap meraih lengan pencopet wanita yang telah mengambil dompet pengunjung itu dan menariknya ke atas sehingga semua orang melihat apa yang di lakukan pencopet itu.


"Eh, dompetku!" teriak pengunjung wanita itu.


Pencopet itu kesal dan menyerang Mei dengan pisau kecil di tangannya yang satu lagi tapi gadis itu berhasil menghindari bahkan meringkusnya.


Temannya yang satu lagi ketakutan dan berusaha kabur tapi diteriak oleh Mei. "Eh, itu temannya yang baju biru!!"


Kebetulan di dekat situ ada petugas keamanan yang sedang patroli hingga dengan mudahnya pria berbaju biru itu diringkus.

__ADS_1


Dengan kesal pengunjung itu mengambil dompetnya dengan kasar dan memukuli pencopet itu dengan dompet yang hampir di curinya.


Mei berusaha menghentikannya. "Sudah Bu, sudah. Jangan berlebihan. Nanti kan diserahkan ke yang berwajib."


"Terima kasih ya Dek. Kalau tidak ada Adek ini, bagaimana saya harus pulang. Kartuku juga semua ada di sini."


"Lain kali Bu, kalau belanja banyak jangan sendirian. Nanti jadi incaran copet Bu."


"Iya, terima kasih ya Dek. Duh, saya gak tau cara membalasnya."


"Tidak, apa-apa Bu. Yang penting mulai sekarang Ibu hati-hati saja."


Pencopet wanita itu kemudian diserahkan pada petugas keamanan. Kerumunan tak bertahan lama. Satu-satu orang mulai terurai pergi.


"Mama!" Kedua wanita itu menoleh.


"Oh itu anakku sudah datang menjemput," ucap wanita paruh baya itu lega.


Mei terkejut.


"Mei?"


"Tristan?"


"Sedang apa kamu disini dengan Mamaku?" Tristan tersenyum dengan surprise(kejutan) yang menyenangkan ini.


"Ini temanmu?" Wanita itu menunjuk Mei.


"Iya, Mama. Ini temanku. Dia sekolah di SMA Guna Bangsa."


"Oh, pantas. Ia terlihat masih anak-anak."


Mamanya Tristan? Ini Mamanya Tristan?


"Dia baru saja menolong Mama yang hampir kecopetan."


"Oh, begitu."


"Eh, permisi Bu," pamit Mei. Ia tidak ingin berlama-lama ada di sana. Apalagi ada Tristan, pria yang coba dihindarinya.


"Eh, tunggu dulu." Tristan meraih tangan gadis itu. "Kita ngobrol-ngobrol dulu yuk di Kafe di sana." Ia menunjuk sebuah Kafe dekat dari tempat mereka berdiri.


Mei menarik tangannya. "Maaf Tris, aku sedang ditunggu," jawabnya datar.


"Oh maaf." Sebentuk raut kecewa terpancar di wajah Tristan.


Mei sedikit menundukkan wajah pada wanita itu lalu pergi.


Lama Tristan memandangi punggung Mei yang mulai menjauh. Rindu ... yang terlarang.


"Kamu menyukainya?" tebak Mama Tristan yang memperhatikan anaknya memandangi gadis itu dengan cara berbeda.


"Eh?" Tristan menoleh. "Sudah punya tunangan, Ma."


"Yang sudah menikah saja bisa berpisah apalagi yang masih tunangan." Wanita itu tersenyum.


Tristan mengambil barang belanjaan Mamanya. "Tapi dia bukan anak orang kaya."


"Mama suka dengannya."


Tristan menoleh. "Terima kasih, tapi dia bertunangan dengan seorang pengusaha."

__ADS_1


Wanita itu tertawa. "Apa yang tak bisa Mama lakukan? Papamu seorang Jendral, Tristan. Apapun bisa Mamamu lakukan, asal kamu tidak lagi mencari Ibumu."


Sebuah tawaran menarik, setidaknya ia bisa mendapatkan salah satu dari kedua perempuan yang ingin dimilikinya. Tristan kembali melihat ke arah mana gadis itu pergi dan sosoknya telah hilang ditelan kerumunan.


Mei mencapai restoran dan masuk. Ternyata Tama masih asyik berbicara dengan Chris. Pemuda itu melihat Mei dan melambai memanggilnya. "Mei, sini!"


Chris ikut-ikutan menoleh membuat gadis itu semakin canggung. Mei, mendatangi mereka.


"Ya sudah Pa. Aku mau jalan-jalan dulu, mau refreshing. Ternyata capek banget, sekolah sambil kerja itu Pa. Pusing ngatur waktunya." Tama berdiri.


"Kamu bisa berhenti bekerja kalau kamu mau."


"Tidak. Tanggung Pa. Soalnya sekolah lagi ngebosenin."


Chris tertawa. "Padahal banyak yang ingin kembali ke masa sekolah."


"Wah, pusing hidup gak jelas gitu."


Chris tersenyum lebar. "Nanti kau akan merindukannya." Ia menyilang kaki dan melipat tangannya di dada.


"Mungkin, tapi sekarang aku lagi senang-senangnya bekerja."


"Good.(Bagus)"


Tama pun berpamitan dan pergi bersama Mei. Chris melihat sosok keduanya hingga hilang di balik pintu.


"Kamu tadi habis dari mana?" tanya Tama penasaran.


"Gak ada. Jalan-jalan aja."


"Ya udah, kita ke sana yuk!" Tama menunjuk arah berbeda.


Mei mengikutinya. Sepasang mata sedang memperhatikan mereka dari sebuah Kafe terbuka tak jauh dari sana.


"Itu tunangannya?" tanya Mama Tristan.


"Iya Ma."


"Mama bisa ...."


"Biar Tristan aja Ma."


Wanita itu menoleh pada anak angkatnya. Hingga kini sulit mendapatkan hati anak muda itu sepenuhnya padahal ia sangat menyayangi anak angkatnya itu seperti anak sendiri tapi hati anak angkatnya itu tetap teringat ibu kandungnya. Ia selalu merasa tersisih. Kadang ia merasa Tristan tidak benar-benar menyayanginya dan hanya menghormatinya saja sebagai wanita yang telah membesarkannya. Setiap Tristan ingat akan Ibunya ia kadang sering emosional terhadap anak itu hingga kadang mengurung anak itu di kamar karena kesal.


Pernah suatu kali Tristan sedang menggali informasi tentang Ibunya itu pada sanak saudara di kampung dan untuk itu wanita itu sampai mengambil kartu hitam yang diberikan Papanya pada Tristan, tapi anak itu diam saja. Pada akhirnya wanita itu mengembalikan kartu itu pada anaknya.


Semakin dewasa, wanita itu semakin tidak merasa aman karena Tristan sudah bisa berdiri sendiri dan sanggup mencari tahu tentang keberadaan Ibunya di luaran. Biar bagaimanapun ia masih berjuang memenangkan hati Tristan, agar ia melupakan Ibu kandungnya. Hingga kini.


"Kalau kamu ingin menikah dengannya Mama akan restui," bujuk wanita itu pada Tristan, dan pria itu hanya menoleh.


--------+++---------


Mei dan Tama berdiri di depan bioskop.


"Nonton aja yuk, aku males jalan," bujuk Tama.


"Ya udah, Kak Tama mau nonton apa?"


"Yuk, liat aja."


Mereka kemudian masuk dan melihat-lihat. Ada satu film yang diminati Tama dan kemudian ia membeli tiketnya. Ia kemudian membeli popcorn dan kola.

__ADS_1


Mei menemani Tama menonton film itu. Sesekali Tama melirik gadis itu yang berada di sampingnya. Rasanya cinta itu tumbuh terus setiap hari tanpa perlu menyirami. Tak ada hujan tak ada angin yang ada hanya cinta. Beginikah rasanya orang yang sedang jatuh cinta? Sudah berada di dekatnya saja, merasa sangat bahagia.


__ADS_2