
"Kamu kan bekerja padaku, seharusnya kamu menghindari apa yang kubenci dan memberi apa yang kusuka." Tama melepas genggamannya. Ia mulai menyesali telah bersikap kasar pada gadis itu karena emosi.
"Harusnya Kakak tidak usah jemput aku, aku bisa pulang sendiri Kak." Mei merasa tak enak hati.
"Kamu itu Bodyguardku, wajar kan kalo aku mencarimu?"
"Eh, iya sih Kak."
Amarah pemuda itu terlihat mulai reda saat Mei dilihatnya mulai mengerti. Mereka kemudian sama-sama duduk lurus dan menatap ke depan.
"Kak, aku hanya berteman," terang Mei.
"Mei, jauhi dia. Aku tidak suka padanya."
"Maaf. Maafin aku Kak," sesal gadis itu.
"Mmh." Tak banyak bicara, Tama mulai melajukan mobilnya menuju arah pulang.
------+++------
Di dalam mobil Aska mulai membujuk Istrinya. "Mmh, Monique."
"Ya?"
"Bisa gak kamu bilang ke Papamu agar aku bisa segera dapat posisi atau jabatan, karena aku sekarang bingung kalau bekerja. Papamu hingga kini belum menempatkanku di salah satu jabatan sehingga aku sekarang tidak tahu harus fokus ke mana."
"Oya?"
"Iya. Lagian orang-orang di kantor jadi memandang sebelah mata padaku seakan-akan aku tidak punya kemampuan apa-apa di sana padahal aku tadinya bagian HRD di kantor Papaku lho dan posisiku sudah lumayan tinggi."
"Ya udah, nanti aku coba bilang Papa."
"Makasih, Sayang." Aska mencoba memuji.
Monique terlihat berbunga-bunga.
----------+++----------
Reina melirik suaminya dan kembali lagi bersama-sama menatap Rojak yang duduk sendirian di ruang tamu. "Memangnya Salwa bilang jam berapa, gitu pulangnya?"
"Papa juga gak tahu tapi sejak makan siang bersama, Rojak masih menunggu Salwa tanpa berniat meneleponnya. Aku sudah coba menyarankan untuk menelepon karena ternyata mereka gak janjian, Rojak menolaknya. Jadi aku harus bagaimana?"
"Ya sudah, kita temani saja dari sini," jawab Reina.
Zack turun dari lantai atas melihat Ayah Ibunya duduk di samping meja makan sambil memperhatikan seseorang yang duduk di sofa ruang tamu. Ia menghampiri. "Lagi apa Ma?"
"Itu, Rojak nunggu Kakakmu Salwa."
Mereka bersama-sama Zack memperhatikan Rojak.
"Oh ...." Zack mendatangi Rojak.
"Eh ...." Reina dan Chris berusaha menghentikan Zack tapi pemuda itu terus saja menyambangi Rojak dan duduk di sampingnya. Mereka saling pandang.
"Kak, lagi nunggu Kak Salwa ya?"
Rojak merapikan duduknya. "Oh, kamu Zack. Iya." Senyumnya terkembang. "Kamu gak ke mana-mana Zack?"
"Ngak. Main basket yuk Kak, aku gak punya teman."
Rojak tertawa. "Kakak gak begitu pintar main basket."
"Nanti Zack ajari. Yuk! Mainnya pelan-pelan aja di taman belakang."
"Kamu pintar Zack, main basketnya?"
"Ngak juga. Zack juga baru belajar. Jadi gak malu-maluin deh main sama Zack, kan kita sama-sama belajar. Itung-itung olah raga Kak, kan hari Minggu, daripada capek nungguin Kak Salwa sendirian."
"Mmh, bener juga ya? Ok!" Rojak bangkit. Bersama Zack mereka melangkah ke taman belakang.
"Ma, potongin buah sama air es ya Ma?" ucap Zack saat melewati meja makan.
"Oh, ok." Reina tersenyum bersama Chris seiring melihat keduanya pergi ke taman belakang.
Ternyata menyenangkan menemani Zack bermain di taman belakang. Rojak yang ternyata bisa bermain basket, membuat Zack makin bersemangat bermain bersama Rojak. Mereka hanya bermain selama satu jam dan Zack sangat menikmatinya.
Sambil menikmati aneka buah potong bersama segelas air dingin buatan Reina mereka mengobrol. Tak lama mereka kembali masuk ke dalam rumah.
Bersamaan dengan itu Salwa pulang ke rumah. Ia heran melihat penampilan Rojak yang basah karena keringat. "Ngapain Jak?"
"Nemenin Zack main basket."
__ADS_1
"Oh." Salwa melangkah ke arah tangga tapi Rojak meraih lengannya.
"Eh, gua mau ketemu elu."
"Ngapain?"
"Keluar yuk?"
"Aku kan habis dari luar, capek ah!"
"Yaelah, timbang nemenin doang lo kagak mau."
"Dengan penampilan kayak gini?" Salwa menunjuk tubuh Rojak yang berkeringat dari atas sampai bawah. "Bau badan lo coba?"
Rojak memperhatikan dirinya dan mencium ketiaknya. "Eh, iye."
"Nah tuh. Gue gak mau deh ya, nempel ama orang kayak gini di motor. Bisa luntur kecantikan gue ma elo, gara-gara bau badan lo nempel ke gue semua."
"Iye, iye. Gua pulang dulu, mandi, tapi jadi kan perginya?"
"Ya, udah gue tungguin." Salwa melipat tangannya di dada.
"Azeek ...." Rojak segera pamit. Ia menaiki motornya dan pulang ke rumah.
Lima belas menit kemudian Rojak kembali. Karena terburu-buru, ia hanya mengeringkan seadanya rambutnya yang ia cuci tadi.
Salwa menghela napas. "Kenapa buru-buru? Rambut basah begitu mau keluar? Emangnya mau ke mana sih sampe rambut basah gak dikeringin? Naik motor aja, lu mau helmmu basah?" Namun tak bisa di pungkiri, Rojak terlihat keren dengan rambut basahnya.
"Gue tenteng tadi," jawab pria itu tanpa rasa bersalah.
"Ye, elu mau nentengin terus tuh helm sepanjang jalan?" Salwa bertelak pinggang.
Kini, Rojak bingung menjawabnya.
"Ahh, ya udah! Sini. Lu ikut gue ke atas." Salwa menarik tangan Rojak menaiki tangga menuju kamarnya.
"Eeeh, ngapain lu ngajak gue ke kamar lu? Mau mesum lu ya?"
"Enak aja." Salwa menepuk dahi Rojak.
"Aduh!"
Namun Salwa tetap membawa Rojak masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu. Rojak menyilangkan tangan di depan dada. "Lo mau memperkaos gue?" Rojak tersenyum miring, bercanda.
"Aduh ... udah ah, jangan lama-lama, ntar gue kayak bencis tau!" jemari Rojak mulai kemayu.
Salwa tertawa cekikikan. "Biar rapi, dong."
Tak lama mereka selesai. Rojak sudah terlihat tidak betah dirapikan rambutnya seperti itu oleh Salwa. "Udah ... ayo kita berangkat aja."
"Iya iya." Salwa mengambil tasnya dan pergi keluar mengikuti Rojak.
Mereka kemudian berpamitan dengan Chris dan Reina dan berangkat naik motor. Mereka mendatangi sebuah Mal dan masuk ke sebuah restoran makanan Indonesia.
"Jak, aku masih kenyang."
"Mmh, kita pesan minuman saja. Aku denger es cendolnya di sini enak."
Mereka menempati sebuah meja di salah satu sudut ruangan. Setelah memesan minuman, mereka mulai mengobrol.
"Aku minta maaf ya, gak bisa selalu nemenin kamu, padahal udah pindah kerja di perusahaan Papamu. Kerjaanku banyak banget, apalagi sekarang lagi promosi produk. Lagi sibuk-sibuknya, jadi hampir gak punya waktu bahkan untuk diri sendiri juga. Makanya hari ini aku sempet-sempetin datang dan punya waktu sehari bersama kamu."
"Kenapa tadi gak telepon sih? Aku kan bisa batalin janji sama Vita tadi."
"Aku gak mau ganggu kegiatanmu sama temen-temenmu."
Ini yang Salwa suka dari Rojak. Walaupun mulutnya asal bicara tapi pria itu sangat tenggang rasa, perasa juga perhatian. Ia bisa mengemukakan pendapat tanpa membuat lawan bicara merasa tersinggung padanya dan juga pria humoris. Kehadirannya di tunggu karena bisa menyenangkan dan menenangkannya walaupun Rojak lebih tua 6 tahun di atasnya.
"Lah trus, tadi nungguin?"
"Ngak. Kebetulan ada keperluan sama Papamu sebentar terus main basket sama Zack."
"Terus?" kata Salwa sambil tersenyum.
"Kamu datang nyuruh mandi."
"Ada apaan sih Jak, nungguin gue."
"Kamu ngak capek apa kita begini-begini aja?" Rojak mulai menjabarkan.
"Begini-begini apaan?"
__ADS_1
"Status temen kagak, pacar kagak."
Salwa kembali tersenyum. "Lah, kita bukannya pacaran?"
"Kata Enyak gua, gak boleh pacaran. Dosa."
"Lah emang kita ngapain? Gak ngapa-ngapain juga. Ketemu aja jarang."
"Nah entuh." Rojak menunjuk Salwa. "Kita juga gak pacaran cuma temen deket. Deket-deket ke empang. Tinggal jorokin, nyemplung deh!"
Salwa tertawa.
"Nah kita mesti ngapa?"
"Ngapain, maksudnya?"
"Ketemu aja jarang ntar lama-lama lo lupa muka gua, lagi."
"Enggaklah. Emangnya kita udah tua."
"Nah, bisa jadi. Kita kelamaan terus sadar-sadar udah tua."
"Elo udah tua, gue kagak," tangkis Salwa.
"Nah, ntar lo gak mau ma gue lagi. Mumpung muka gue masih kenceng, elu masih bahenol, gue minta tolong ama elu."
Dalam derai tawanya Salwa masih mendengarkan. "Minta tolong ape?"
Rojak mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. "Gua pengen lu jadi temen tidur gua biar gua gak pusing ketemunya. Waktu 24 jam pasti adalah saat kita bisa ngobrol hanya berdua. Biar saat itu yang lain ngontrak di ******."
Salwa makin tergelak, tapi saat itu pula air matanya mulai menetes. Rojak membuka kotak itu dan memberikan sebentuk cincin sederhana berbentuk bulat terbuat dari emas. "Salwa Mayra Irfan, maukah kamu menikah dengan Rojak Fahrezi Sidik dan mengarungi bahtera rumah tangga bersama dan mendidik anak-anak kita menjadi anak-anak yang soleh dan soleha dan membanggakan kedua orang tuanya. Aku akan berusaha menjadi pria yang soleh yang juga mengantarkan anak istrinya menjadi soleh dan solehah seperti yang diajarkan oleh agama."
Sambil menghapus air mata, Salwa mengangguk. Rojak menyematkan cincin di jari manis Salwa yang ternyata pas di jemarinya. Tepuk tangan tiba-tiba mengudara karena beberapa pengunjung mendengar lamaran Rojak.
Salwa tersipu-sipu malu dan menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Rojak. Pria itupun ikut tersenyum bahagia.
---------++++---------
Tama mengetuk pintu kamar Mei. Tak lama gadis itu membukanya. "Iya Kak?"
"Kamu gak mau makan malam? Kok kamu gak keluar-keluar?"
"Kak aku kan bukan keluarga, aku kan gak mungkin makan di bawah."
"Kan gak ada yang mempermasalahin kamu?"
"Gak enak sama pembantu dan Bodyguard yang lain Kak, seakan aku diistimewakan."
Memang kamu istimewa, Mei. "Udahlah Mei, kenapa mempermasalahin itu sih Mei? Kan kamu nemenin aku makan."
"Kalau di luar Kak, kalau di rumah kan aman-aman aja. Aku harusnya makan dengan para pembantu lainnya di belakang Kak."
"Ck, aku gak suka kamu makan di belakang!" Tama terdengar sewot.
"Aku kan harus tau menempatkan diri Kak, jangan nanti salah-salah bertindak."
Tama menatap Mei iba. Apa karena tadi aku marahin ya, jadi dia takut sembarangan bertindak?
"Ya udah lo sekarang temenin gue makan di luar."
"Tapi Kak ...."
Tama langsung menggandeng tangan Mei. Mereka menuruni tangga menuju pintu utama. Tama menengok ke belakang melihat keluarga Kenzo yang telah lengkap di meja makan. "Kak, aku makan di luar ya?" teriak Tama pada Kenzo.
"Oh, ya."
Mei dan Tama kemudian hilang di balik pintu.
"Mas."
"Mmh." Kenzo melirik Istrinya.
"Aku pernah lihat Mei keluar dari kamar Tama."
"Mmh."
Leka bingung melihat reaksi suaminya yang biasa-biasa saja. "Apa kamu melihatnya juga?"
"Ya. Kadang Tama masuk ke kamar Mei."
_____________________________________________
__ADS_1
Mau menjelang lebaran, pasti ada yang ikut pulang kampung. Jaga kesehatan ya? Jangan lupa tetep like, komen,vote, hadiah atau koin untuk author agar author semangat up datenya. Ini visual Rojak Fahrezi Sidik yang cintanya selalu untuk Salwa. Salam, Ingflora. 💋