
Pulang sekolah, Tama segera pulang ke rumah. Ia berganti baju lalu pergi lagi ke rumah sakit.
"Yang, kamu udah makan?" Tama datang melihat Ibu Mei sedang menyisir rambut Istrinya.
"Oh, aku kira siapa." Mei sempat terkejut karena ia belum memakai jilbabnya dan Tama langsung saja masuk tanpa mengetuk.
"Baru mandi ya Yang?"
"Iya."
"Jangan sering-sering turun ya Bu, Mei masih Bed Rest," ucap pemuda itu pada Ibu Mei.
"Bed Rest itu apa?" tanya Ibu Mei tidak mengerti.
"Istirahat di tempat tidur. Dia masih masa pemulihan."
"Oh, begitu? Di kampung juga ada yang begitu. Apa separah itu?"
"Mei habis kecelakaan dan rahimnya katanya gak kuat karena terlalu muda hamilnya Bu."
"Oh, gitu. Padahal banyak di kampung umur muda-muda gini hamil dan melahirkan dan lancar-lancar saja tuh!"
"Mungkin Mei tidak bisa."
"Mmh."
"Ibu sudah makan?"
"Belum, tapi Mei sudah. Ibu mau ke kantin dulu beli makan siang."
"Ah, Ibu di sini saja. Aku akan belikan makan siangnya Bu."
"Makasih ya?"
"Gak papa Bu."
Setibanya di kantin, Tama bertemu Ayah Mei di depan kantin.
"Ayah?"
"Kamu mau makan?"
"Iya. Ayah sudah?"
"Belum, baru mau ke tempat Mei, menanyakan. Mungkin ada yang belum makan. Ayah baru mau beli, jadi sekalian."
"Ayah baru datang?"
"Iya."
"Ibu yang belum makan, Ayah. Ya sudah, biar sekalian aku belikan buat Ibu sama Ayah."
Mereka kemudian berdua ke kantin. Sekembalinya dari kantin, mereka bertemu Chris di ruang VVIP perawatan Mei.
"Papa?"
"Assalamualaikum," sahut Ayah Mei.
"Waalaikum salam," jawab Chris. Pria itu sedang bicara dengan Mei di kursi di samping tempat tidur. "Oh, Tama datang bersama Ayah Mei?"
"Ketemu depan kantin Pa."
"Papa tadi sudah ketemu Dokter, katanya Mei sudah bisa pulang."
"Bener Pa?" Tama membulatkan matanya.
"Iya, asalkan tetap Bed Rest di rumah. Jadi Papa pesankan perawat satu untuk mengurus Istrimu di rumah. Bagaimana?"
"Iya gak papa Pa," Tama mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju.
__ADS_1
"Selain itu, Papa mau menanyakan kasus penculikan itu bagaimana? Aku serahkan keputusannya pada kalian berdua."
Tama melirik Mei. Sejak pertama Istrinya bangun dari komanya, Tama belum pernah sekalipun menanyakan hal itu. Ia tidak berani mengetahui apa yang terjadi, takut Mei trauma karena itu adalah salah satu pertanyaan yang ia curigai menyebabkan Istrinya berada dalam keadaan koma, tapi kini ia harus mengetahui demi keadilan.
"Boleh aku bicara dulu dengan Mei, Papa?"
"Oh, iya. Papa menunggu di kursi sofa."
Ketika Chris, dan orang tua Mei pindah ke kursi sofa, Tama mulai menanyai Istrinya. "Mei, boleh aku tahu?"
"Tahu apa?"
"Yang terjadi waktu itu," tanya pemuda itu hati-hati sambil menyiapkan hati dan perasaan.
"Aku ngejar pencopet dompet Mbak Leka tapi ternyata mereka banyak. Mereka sempat lempar-lemparan dompet biar aku gak bisa ambil tapi akhir aku duel dengan pencopet terakhir. Mereka curang. Salah satu dari mereka menabrak aku dengan motor hingga ngak sadarkan diri. Pas sadar aku udah di Klinik sama Tristan. Sempet sakit sampai diberi obat tidur sama Dokter di sana, tapi Tristan ternyata bawa aku ke dalam pesawat terbang dengan paksa. Waktu ngelawan, perutku sakit lagi terus pingsan."
"Jadi ...."
"Dia hanya melakukan kejahatan kecil dan sudah dihukum sama orang tuanya kan? Apa lagi?"
"Tapi dia ...."
"Aku bisa jaga diriku sendiri Kak dan tidak pernah terjadi apa-apa. Jangan berpikir buruk tentang dia Kak Tama sebab dia gak seperti itu."
"Kamu membelanya?"
"Bukan. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi dan hukumannya sudah sesuai." Mei menyentuh tangan Suaminya. "Kalau tuhan bisa memaafkan kenapa kita tidak?"
Tama terlihat sedikit ragu.
"Apa cinta dariku saja tidak cukup? Aku hanya cinta sama Kakak saja gak ada yang lain." Mei menggenggam tangan Suaminya.
Tama sudah tidak bisa berkata apa-apa, karena memang Tristan tidak seburuk dugaannya. Ia berharap keputusan Istrinya benar, Ia merangkul Mei.
Mei akhirnya pulang ke rumah. Ia di dorong masuk ke dalam rumah dengan kursi roda hingga tangga oleh Suster yang akan merawatnya. Ketika salah satu Bodyguard Tama hendak membantu menggendong, Tama melarangnya. "Eh, itu Istri gue. Ngak boleh ada yang nyentuhnya."
"Maaf Pak."
Mei tersenyum. Tama mencoba menggendong Mei dengan kedua tangan walau dengan susah payah.
Mei takut jatuh. "Kak, kalau tidak bisa ...."
"Tenang Mei," jawabnya Terengah-engah menaiki tangga.
"Kak, nanti jatuh." Mei berpegang erat pada leher Tama. "Kak ...."
Tama berkonsentrasi. Salah satu Bodyguard Tama yang mengikuti dari belakang juga merasa tak yakin. Juga Suster dari rumah sakit. Sesampainya di lantai atas mereka tetap mengikuti hingga ke depan pintu kamar. Bodyguard itu membukakan pintu.
Mei menatap suaminya yang sudah bersusah payah ingin menggendongnya hingga ke tempat tidur mereka. Pemuda itu terlihat bersungguh-sungguh ingin membuktikan sesuatu.
Kenzo dan Leka yang melihat kedatangan mereka belum sempat menyapanya, karena melihat Tama yang sedang bersusah payah menggendong Istrinya membuat mereka berdua juga hanya memperhatikannya saja. Tama terlihat sangat serius melakukannya. Seolah ia ingin mengatakan ia sanggup melindungi Istrinya.
Perlahan Tama menurunkan Mei di atas tempat tidur. Mei tersenyum tapi masih melingkarkan tangannya erat ke leher Suaminya. Melihat adegan itu Bodyguard Tama dan Suster rumah sakit buru-buru keluar dan menutup pintu.
"Suamiku."
Tama tertawa geli. Ia segera naik ke tempat tidur dan berbaring sambil merangkul pinggang istrinya. "Cepet keluar ya De. Papa gak tahan ingin peluk kamu juga." Ia mengusap lembut perut istrinya.
--------+++--------
"Mei, udah ketemu belum?" Tama yang sudah rapi memakai setelan jas, menggendong bayinya. Bayi itu tetap tertidur nyenyak walaupun ada orang yang berteriak di dekatnya. Tama sangat menyayangi bayi perempuannya yang cantik. Tak henti-hentinya ia mengagumi wajah mungil itu yang tertidur dalam gendongannya. "Mei!"
"Belum Mas." Mei datang dengan wajah bingung.
"Ke mana lagi dia? Aku sudah terlambat untuk wisuda di gedung ini, aduh ...." Tama menoleh pada anak kecil berwajah Jepang berusia 5 tahun di sampingnya. "Tomio, kamu lihat adikmu di mana gak?"
Bocah kecil itu menggeleng. "Ngak tau Papa."
"Aduh, ada aja bule kecil satu itu. Giliran orang mau berangkat, dia menghilang."
__ADS_1
"Torrens ... Torrens!" Mei memanggilnya, tapi tak terdengar suara apapun.
Malah Kenzo yang muncul dari lantai atas kamarnya. "Ada apa? Torrens lagi?"
Tiga orang anak kecil keluar dari kamar Kenzo dan mengintip dari balik tubuh pria itu. Seorang gadis kecil berumur 7 tahun dan 2 adik kembarnya, laki dan perempuan berusia 5 tahun. Kenzo menoleh pada ketiga anaknya. "Kamu ada lihat Torrens gak di mana? Runi, Kirin, Azo?"
Mereka serempak menggeleng.
"Kayaknya cuma Adenya yang bisa manggil Kakaknya yang bengal satu itu." Tama membuka kain bedong anak perempuannya.
Tomio yang melihat itu langsung mendekat dan memukul kaki Tama. "Jangan Papa, Ade bobo," ucapnya dengan marah tapi Tama tak mendengarkan.
Pemuda itu segera membangunkan anak perempuannya dengan menepuk-nepuk lengannya. "Toya, Toya. Panggil Kakakmu Torrens, suruh keluar."
Bayi perempuan itu menangis keras karena terganggu tidurnya dan Kakaknya Tomio juga kesal karena Tama membangunkan tidur adiknya, ia memukul-mukul kaki Ayahnya.
"Papa, Papa jahat," Tomio mulai menangis.
Tiba-tiba seorang bocah kecil bule berlari dari arah dapur. "Toya!"
"Ah, Ketemu." Mei langsung menangkap dan menggendong bocah kecil itu.
"Mami, Toya nangis!" Bocah bule itu menunjuk-nunjuk dengan sendok ke arah bayi perempuan yang di gendong Tama. Terlihat wajahnya berkaca-kaca.
"Iya, iya," ucap Mei lembut.
Kenzo tersenyum dari lantai atas. "Ayo, selesaikan mengajinya, nanti kita menyusul. Runi, Kirin, Azo!" Ia menggiring anaknya kembali ke dalam kamar.
Tama berjongkok membiarkan Tomio melihat adik bayinya sedang menyelesaikan isak. Matanya yang mungil terlihat tergenang.
"Papa gak jahat kok, ayo Dek, bobo lagi." Tama mulai menyelimuti bayi Toya dengan selimut kecilnya.
"Dede Toya, jangan nangis." Tomio pun masih sedikit terisak menatap adik bayinya yang mulai diam.
Dalam tangis, Torrens seperti hendak memukul Tama dari jauh dengan sendok yang berada di tangannya. Mei tersenyum.
Keduanya, Torrens yang berwajah bule, dan Tomio yang berwajah Jepang sangat menyayangi dan melindungi adik perempuannya Toya yang masih bayi yang berwajah Indonesia sehingga bilang mendengar adik perempuannya itu menangis, mereka langsung mencarinya.
"Makanya, tadi Mama panggil ke mana, pura-pura gak denger, hah?" Mei menggoyang-goyangkan tubuh mungil bocah 2 tahun itu.
"Maeeen," ucap Torrens sambil menangis. Wajah bulenya memerah seketika dengan rambut pirangnya yang bergelombang menambah lucu wajah kecil itu.
Saat Torrens lahir, Tama dan Mei sempat bingung karena wajahnya yang sangat Eropa dan berpikir anaknya tertukar dengan anak orang lain. Namun pada saat kelahirannya tidak ada orang bule yang sedang melahirkan di sana sehingga kecil kemungkinan bayi mereka tertukar, tapi kemudian setelah Mariko datang semuanya jelas.
Torrens sangat mirip wajahnya dengan almarhum Ayah kandung Tama dan Kenzo, Kenji Aratami yang memang asli berwajah Eropa diperkuat dengan Arya, Chris, Reina, Aska dan juga Salwa yang pernah melihat wajah Kenji. Hanya Tama yang belum pernah melihat wajah Ayahnya itu hingga kemudian Kenzo memperlihatkan foto kedua orang tua Kenzo pada adiknya, Tama. Mei pun juga akhirnya bisa melihat wajah mertuanya. Foto itu kemudian dipajang di rumah Kenzo atas saran Mariko.
"Ayo cepat kita ke mobil, Papa sudah telat wisuda ini!" Tama menggendong bayi Toya dan menggandeng Tomio sementara Mei menggendong Torrens.
Mereka akhirnya sampai juga ke gedung tempat Tama di wisuda. Di sana sudah menunggu Arya, Mariko dan Aiko yang sudah kelas 2 SMA. Chris, Reina juga Zack yang sekelas dengan Aiko ikut datang bersama rombongan anak-anak Chris lainnya. Ada Rojak, Salwa dan si kecil Zia 2 tahun, lalu Aska, Monique, Ahmad kecil berumur 6 tahun dan adik perempuannya Medina 3 tahun. Mereka menyambut gembira kedatangan Tama dan keluarga kecilnya. Tak lama Kenzo dan keluarga kecilnya juga ikut bergabung. Tak lupa Ayah dan Ibu Mei.
Tama ternyata adalah mahasiswa yang pertama dipanggil. Ia merupakan mahasiswa teladan karena lulus dengan Cumlaude, nilai tertinggi yang pernah diraih mahasiswa kampus itu. Selain mendapatkan ijazahnya, ia mendapat tawaran bea siswa untuk S2-nya.
Setelah selesai, mereka melakukan acara foto-foto. Agak kerepotan karena Tama sendiri harus memegangi kedua anaknya dan Mei dengan satu anak tapi acara foto-foto mereka terlihat seru karena harus mengurus anak yang masih kecil-kecil sedang Aiko sibuk berusaha mengambil foto selfie berdua dengan Zack yang selalu menghindar.
Akhirnya Reina dan Ibu Mei membantu mengurus Tomio dan Toya agar Tama bisa melempar topi wisuda sambil difoto dengan teman-temannya yang lain.
"Gimana Tama, kamu mau melanjutkan S2-mu?" tanya Arya meminta kepastian.
"Lanjut Ayah!" Tama melempar topi wisudanya bersama teman-teman sambil tersenyum riang.
T A M A T
___________________________________________
Novel ini akhirnya tamat juga. Nantikan novel terbaru Author Puisi Topeng Cinta hanya di Noveltoon. Salam, Ingflora.💋
Author Santi Suki dengan novel Duda Vs Anak Perawan menceritakan tentang seorang pria duda yang di taksir 3 wanita. Yuk, kepoin.
__ADS_1