
Namun kembali, sebelum Mei berhasil menangkapnya, dompet itu berpindah tangan dengan dilempar ke arah teman pencopet itu di tempat lain. Mei benar-benar kesal. Ia bahkan hampir kena tendang pencopet itu, tapi beruntung Bodyguard Leka yang satu lagi menyerang pencopet itu hingga Mei bisa mengejar pencopet yang lainnya yang membawa lari dompet Leka.
Kini mereka saling berhadapan. Mereka berada di luar pasar. Pencopet itu menyerang Mei dengan tangan kosong, tapi sebentar saja pencopet itu mulai kewalahan mendapat serangan balasan darinya.
Tak jauh dari sana, Tristan membawa mobilnya melewati pasar. Ia melihat Mei berduel dengan pencopet itu di pinggir jalan. Ia menghentikan mobilnya.
Tiba-tiba sebuah motor menabrak Mei dari belakang hingga ia terpelanting ke samping dan sempat kepalanya terbentur tiang besi sebelum jatuh ke pinggir aspal.
Ternyata pengendara motor itu adalah teman pencopet yang kemudian menjemput temannya itu setelah menabrak Mei.
Tristan geram melihat pemandangan yang terpampang di depan matanya. Ia segera menabrakkan mobilnya dengan keras ke arah motor yang meninggalkan Mei itu. Saking kerasnya, motor itu terpelanting ke dinding pembatas parkiran pasar.
Pria itu sudah tak peduli lagi. Ia segera mendatangi Mei yang tergeletak di pinggir trotoar tak bergerak. Dari celana panjang hitam gadis itu mengeluarkan darah.
"Mei ...." Matanya berkaca-kaca.
Sementara kerumunan orang di sekeliling tempat itu memang sudah geram melihat dari awal Mei berduel dengan pencopet itu, hingga setelah Tristan menabrakkan mobilnya pada motor pencopet, mereka beramai-ramai mengepung para pencopet yang tak berdaya itu dan menghajar pencopet itu beramai-ramai.
Tristan tanpa pikir panjang menggendong Mei dan membawanya ke dalam mobil.
Leka yang baru saja keluar dari pasar karena mencari Mei melihat gadis itu digendong seseorang ke sebuah mobil. Ia yang tak bisa lari karena kehamilannya, hanya bisa teriak memanggil Mei ketika mobil itu pergi membawa Iparnya itu menjauh.
Mei ... Siapa yang membawa Mei? Aduh, kenapa kamu jadi ikutan kejar pencopet sih Mei? Apa kamu tidak sadar, kamu sedang hamil. Aduh ... aku harus bilang apa sama Tama, Istrinya celaka dan dibawa orang pergi? Apa dia percaya? Duh ... aku harus gimana, gara-gara aku dia kehilangan Istrinya, mungkin juga bayi mereka. Air mata penyesalan Leka turun tak terhentikan.
Sementara itu, Tristan membawa Mei ke sebuah Klinik terdekat berharap cepat mendapat pengobatan. Ia menunggu hasil.
"Alhamdulillah, janinnya selamat Pak. Tubuhnya juga hanya memar-memar saja. Tidak ada yang cidera parah. Untung Bapak segera membawa Ibunya ke sini jadi lekas di tangani."
Apa? Mei hamil? Tristan menatap Mei yang berada di atas tempat tidur terbaring pingsan. "Tapi pendarahan itu?"
"Iya, tapi janinnya kuat kok Pak. Di jaga saja ibunya. Nanti kami resepkan vitamin untuk Ibunya sambil menunggu dia siuman, ya Pak ya?"
"Oh, iya. Terima kasih." Segera setelah Suster itu pergi Tristan menghampiri Mei dan menggenggam tangannya. Ia duduk di tepian tempat tidur sambil mengecup punggung tangan gadis itu.
Mei, aku tak bisa kehilanganmu. Dirimu terlalu berharga untuk aku tinggalkan. Aku akan pergi ke Kalimantan. Apa ... aku bawa saja kamu bersamaku? Pikiran kalut Tristan mulai bicara. Ia memcondongkan tubuhnya ke depan dan kini mengecup kening Mei.
Kamu seperti candu bagiku. Aku ingin memilikimu seutuhnya, dan iapun mengecup bibir Mei.
Di tempat lain, Leka menangis tersedu-sedu dihadapan Kenzo dan Tama membuat keduanya bingung tak tahu harus berbuat apa.
"Ah, Mei. Dia membawa handphone," ucap Tama, tapi ia terlihat sangat khawatir, bahkan ingin menangis. "Mudah-mudahan dia itu pria baik. Dia mau mengantar Mei pulang." Ia segera menghubungi Mei.
Terdengar bunyi telepon berdering, tapi Tristan bisa pastikan itu bukan bunyi hp-nya. Ia memeriksa kantong celana Mei dan menemukannya. Ia mematikan hp itu.
"Eh, kok hp-nya di matiin sih! Ah, brengsek nih orang. Kalo deket gue hajar deh! Udah bawa istri orang gak bilang-bilang, dihubungi malah dimatiin. Setan bener!" Tama mengumpat karena tak berhasil menghubungi Mei. "Hah! Kamu di mana Mei?" Ia menjenggut rambutnya sendiri, frustrasi.
"Aaah!" Leka memegangi perutnya yang mulai terasa kram.
"Leka! Aduuhh ...! Kamu ngak boleh stres Sayang." Kenzo langsung menggendongnya. "Maaf Tama, aku harus membawa istriku dulu ke kamar," pamitnya. Kenzo menaiki tangga.
Sementara itu Tristan masih menunggui Mei. Ia sedang memuaskan matanya memandangi wajah gadis itu yang sekarang berada di hadapannya. Sesekali ia mengusap wajah Mei dan merapikan jilbab gadis itu. Ia masih menggenggam tangan Mei.
Mei, aku sudah putuskan aku akan membawamu pergi bersamaku. Aku tidak bisa kehilanganmu. Tidak kali ini.
__ADS_1
Kepala Mei mulai bergerak dengan desah kesadarannya. Kelopak matanya mulai terbuka perlahan. Tristan menunggunya dengan sabar.
Sedetik kemudian Mei kembali memejamkan matanya. "Aaah, perutku ...," rintihnya. Ia menyentuh perutnya.
"Suster!!!" Tristan yang panik segera memanggil Suster kembali dan dengan segera beberapa Suster mendatangi tempat itu. Pria itu menjauh. Ia melihat saja gorden menutupi tempat tidur Mei.
Seorang Dokter wanita datang dengan tergesa memasuki gorden itu. Masih terdengar erangan Mei yang kesakitan walaupun sayup-sayup terdengar.
Tristan khawatir dan terus berdoa. Mei, cepat sembuh. Ya allah, jangan terjadi apa-apa dengannya ya allah. Hanya ia satu-satunya yang aku miliki. Selamatkan dia ya allah, agar aku bisa membesarkan anak itu bersamanya.
Tak lama erangan gadis itu menghilang. Gorden pun dibuka. Wanita berpakaian jas berwarna putih menghampiri pria itu. "Bapak suaminya?"
"Eh, iya," jawab Tristan asal.
"Kami sudah menyuntikkan obat tidur dan sebentar lagi dia akan tertidur. Ada sedikit memar di perutnya tapi kehamilannya tidak bermasalah tapi sebaiknya ibu bed rest dulu sebab kalau tidak ia bisa keguguran."
"Terima kasih Dok." Tristan begitu bergembira. Sakit Mei tak separah yang ia pikirkan.
"Sama-sama."
Baru saja dokter itu akan pergi, Tristan memanggilnya kembali. "Eh, kalau saya bawa pulang sudah bisa Dok?"
"Oh, boleh. Aku resepkan vitamin tambahan ya? Ingat, ibunya harus di tempat tidur saja kecuali ke kamar mandi."
"Iya, terima kasih."
Setelah semua pergi, Tristan kembali mendatangi tempat tidur Mei.
Gadis itu bisa mengenali Tristan dengan baik. "Tristan, kenapa aku di sini?" Matanya yang sayu menandakan ia mulai mengantuk.
"Mmh?" Gadis itu coba mengingat-ngingat kejadian sebelum ia pingsan. Ia masih kebingungan.
Sementara itu Tristan kembali duduk di tepian tempat tidur dan menggenggam tangan Mei.
"Bukannya ... aku sedang belanja di pasar ya? Aku pergi tadi sama Mbak Leka. Di mana dia?" Mei mulai khawatir.
"Mungkin sudah pulang," jawab pria itu sembarangan. Ia mengecup punggung tangan Mei.
"Aku ingin pulang." Mei mengangkat kepalanya tapi terasa pening akibat terantuk pada tiang besi papan iklan yang berada di depan pasar. "Aagh, kepalaku ...." Ia memejamkan mata.
"Jangan bergerak dulu Mei. Ingat, kata Dokter kamu harus istirahat di tempat tidur demi bayi kamu." Tristan membantu Mei merebahkan kepalanya.
"Bayiku ...." Mei mengusap perutnya. "Tapi aku ingin ketemu Kak Tama ...," suara gadis itu mulai melemah, matanya mulai meredup.
Kak Tama? Apa ingatannya sudah pulih? "Iya nanti ya? Kita ambil obat dulu."
Tak berapa lama, Mei pun tertidur.
Di rumah Kenzo, pria itu bingung harus menolong yang mana, Istri atau adiknya terlebih dahulu sedang Istrinya sekarang sedang diperiksa Dokter di lantai atas dan kini ia menemani Tama di lantai bawah.
Arya masuk dari pintu depan dengan bergegas. "Ada apa, kenapa jadi begini?"
Kenzo segera berdiri. "Aku tidak tahu Ayah. Mei dan Leka pergi berbelanja ke pasar dan kemudian hanya Leka yang pulang. Leka bercerita Mei membantunya mengejar pencopet tapi Mei, entah terluka atau tidak, seseorang membawanya pergi. Dompetnya kembali tapi Mei, aku tak tahu ke mana."
__ADS_1
"Kenapa kalian tidak cari?"
"Aku menelepon Mei tapi malah dimatikan," ucap Tama bingung. "Apa Mei diculik? Apa semua hanya rekayasa? Apa ... Tristan menculiknya?" Terbersit nama itu di kepala pemuda itu.
"Jangan sudzon. Mungkin dia sedang di rawat, Tama. Istrimu mungkin membutuhkanmu, ayo sekarang cari. Cari di rumah sakit atau klinik terdekat. Cepat!"
Tama segera menaiki tangga.
"Bagaimana dengan Istrimu Jo?"
"Dia terus menangis dan merasa bersalah. Sekarang ada dokter yang sedang memeriksanya karena dia mengeluh kram di perut."
"Segera bujuk Istrimu itu agar jangan stres karena masalah ini akan segera selesai. Entahlah, aku sendiri merasa tak yakin. Tidak ada polisi atau seseorang yang menelepon, ini aneh," Arya temenung memikirkannya.
Tama menuruni tangga.
"Mungkin mulai hari ini Istri kalian harus punya Bodyguard. Istrimu tidak boleh jadi Bodyguard lagi Tama. Mei belum mengerti posisinya sekarang adalah Istri Direktur perusahaan Merita Karya. Ia harus dijaga bukan menjaga orang lain."
Sebuah tamparan keras buat Tama mendengar peringatan Arya. Ia yang telah kembali mempekerjakan Mei sebagai Bodyguard ikut merasa bersalah. "Iya, Yah."
"Ayo cepat, jangan membuat Istrimu menunggu!" seru Arya pada Tama.
Sementara itu, Tristan telah membaringkan Mei di kursi belakang mobilnya. Ia kemudian menaiki mobil yang bampernya sedikit rusak. Ia tidak mempedulikan itu dan segera memasang seatbelt. Saat ia memutar mobilnya keluar, ia melihat mobil Tama masuk ke dalam parkiran Klinik itu. Tristan tersenyum.
Kau tidak akan menemukannya Tama, karena hari ini aku akan membawa Mei ke Kalimantan. Dua tahun lagi aku akan mencarimu untuk menceraikan Mei. Karena kalian dibawah umur, kau pasti tidak punya surat-surat, jadi perceraiannya bisa cepat selesai bukan? Tristan tersenyum dengan liciknya. Ia membawa mobilnya keluar dari area Klinik itu.
Sementara itu Tama kecewa. Ia terlambat datang karena Mei sudah dibawa pergi oleh Tristan.
Suster yang melihat foto Mei di hp Tama, memberi keterangan. "Bener Dek, tadi dia sama Mas-Mas itu, aku pikir Mas-Mas itu suaminya."
"Aku suaminya," jawab Tama kesal.
Suster itu hampir tertawa tapi ditahannya karena melihat kesungguhan Tama tapi penampilannya memang tak bisa di bohongi. Ia terlihat masih sangat muda.
"Habis Mas-Mas itu pegangin terus tangan Istri Bapak jadi saya pikir itu Istrinya." Suster itu memperbaiki panggilannya pada Tama.
Tama mengerut dahi. Pegangan? "Memangnya namanya siapa, Mas-Mas itu?"
Seorang suster yang lain kemudian menyodorkan kertas kwitansi pembayaran pada Tama. Namanya jelas tertera disitu : Bilal Archie.
Mmh? Bukan Tristan?
"Masnya itu lagi buat KTP katanya, jadi dia kasih potokopinya. Sayang fotonya gak jelas di potokopiannya," jelas Suster itu lagi.
___________________________________________
Novel ini akan sebentar lagi habis dengan menyisakan bab-bab terakhir. Inilah novel terpanjang yang pernah saya buat. Novel pertama saya dan mungkin novel yang banyak kenangannya karena mungkin tidak bisa lagi membuat novel sepanjang ini di mulai dari Senandung Cinta Jilbab Reina 1 dan 2. Lalu season 2, Sungai Rindu dan season 3 Junior CEO and Bodyguard Mei.
Author bersyukur selama hampir 2 tahun hampir tidak pernah absen menulis novel ini dah alhamdulillah hampir selesai.
Terima kasih pada para pembaca novel ini dan yang masih ingin melihat karya Author lainnya, Author akan mengeluarkan novel terbaru berjudul Puisi Topeng Cinta. Kalau ada yang berbaik hati menyumbangkan nama-nama yang bagus agar author bisa cepat mengeluarkan novelnya, dengan senang hati Author seleksi. Jangan lupa vitamin Author, like, komen, vote dan hadiah2nya. Salam, Ingflora.💋
Author Mom Al dengan novel terbarunya Hasrat Sepupu. Singkat tapi jelas. Gak kepo nih?
__ADS_1