
Mobil sampai di sebuah rumah mewah yang sangat besar. Tristan menggendong Mei yang masih terlelap karena obat tidur, turun dari mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah mewah itu.
Seorang pembantu membukakan pintu utama sehingga pria itu bisa membawa Mei langsung ke lantai atas. Saat menaiki anak tangga, ia melihat Ibunya menanti di ujung tangga.
"Akhirnya kau bisa membawanya," ucap wanita itu yang melirik Tristan membawa gadis yang dikenalinya.
"Dia terlibat kecelakaan Ma."
"Oya?" Wanita itu terkejut.
"Karena itu aku minta tolong Mama menggantikan pakaiannya karena terkena noda darah. Ia sedang diberi obat tidur. Tolong dibukakan kamar tamu untuknya Ma."
Wanita itu memanggil pembantunya untuk membukakan kamar tamu yang kebetulan baru dibersihkan. Tristan segera membawa Mei ke kamar itu dan membaringkannya di atas sebuah tempat tidur. "Tolong hati-hati ya Ma, dia sedang hamil."
"Hamil?" Wanita itu mengerutkan dahi. "Tristan ...." Ia menoleh pada anaknya.
"Ilmu bela diri Mei cukup tinggi Ma, aku gak sanggup ngalahin dia."
"Mama gak ngerti maksudmu? Apa hubungannya dengan kehamilannya?"
"Dia tadi ditabrak motor karena itu dia harus bed rest Ma, gak boleh turun dari tempat tidur karena rawan keguguran."
"Lalu?"
"Setidaknya selama hamil dia tidak bisa kabur. Tristan akan langsung bawa Mei ke Kalimantan, segera."
"Tristan ...." Mata wanita itu terlihat tidak setuju.
"Mama kan bisa tengok Tristan ke sana," Tristan mencoba menghiburnya.
Wanita itu menghela napas pelan. "Bagaimana dengan suaminya?" tanyanya dengan lemas.
"Nanti kalau aku kembali, aku akan mengatakan pada suaminya kalau istrinya telah meninggalkannya dan berselingkuh denganku, dan aku rasa pria itu akan menceraikannya."
"Berapa lama kau akan di Kalimantan?" tanya Mama Tristan dengan mata sayu.
"Hanya 2 tahun kok Ma, nanti Tristan akan kembali lagi."
Wanita itu menatap Tristan dalam, ia akan sangat merindukan dan merasa kesepian kehilangan pria itu. Anak angkatnya yang paling ia sayangi, tapi ia mengalah. Demi kebahagiaan Tristan. Hanya 2 tahun. Rasanya ia akan melalui hari-hari yang sangat panjang dengan penantian yang tak berujung. Menanti anaknya pulang. "Ya sudah. Tinggalkan saja. Mama akan selesaikan semuanya."
"O ya, Ma. Kalau Mei tanya sesuatu jangan di jawab ya Ma. Serahkan semua padaku."
Sedikit bingung, Mama Tristan mengangguk.
"Soalnya kalau dia mengamuk, gak ada yang bisa berhentiin," Pria itu menjelaskan. Ia mengusap belakang lehernya. "Sudah ya, Tristan mau isi koper dulu," Ia kemudian meninggalkan kamar itu.
Mama Tristan kemudian menelepon Stylist langganannya dan memesan pakaian untuk Mei yang harus didatangkan sesegera mungkin. Untung saja Mei sangat kurus hingga tak kesulitan menemukan pakaian yang cocok untuknya.
Tak butuh waktu lama, pakaian Mei telah berganti. Tristan pun datang lagi ke kamar itu. Pada saat itu Mei mulai terbangun tapi dengan mata yang berat.
Pria itu terkejut karena Mei diberi pakaian yang cukup membuat gadis itu terlihat cantik. "Mama, apa ini tidak berlebihan?"
"Yang ada hanya ini. Gak papa kan?"
Lamat-lamat, Mei melihat Tristan bicara dengan seorang wanita paruh baya yang ia pernah lihat entah di mana. Pelan-pelan ia mulai mengenalinya.
"Oh, Mei. Kamu sudah bangun?" Tristan baru menyadari, gadis itu telah tersadar.
"Aku di mana?" Mei menyadari ia berada di ruangan yang asing baginya.
"Di rumahku."
"Di rumahmu?"
"Kau ingat Mamaku kan?" Tristan menunjuk Mamanya.
"Oh, iya Tante."
Mei berusaha bersikap sopan dengan berusaha bangun, walau kepala sedikit pusing.
"Sudah Mei, tidak usah." Tristan berusaha mencegah karena terlihat Mei melakukannya dengan susah payah.
"Maaf Tante." Gadis itu menunduk pada Mama Tristan.
"Iya, gak papa." Wanita itu tersenyum simpul.
"Eh, kenapa aku di sini?" ucap Mei setengah berbisik pada pria itu.
"Mmh? Ada yang lupa kuambil."
__ADS_1
"Apa aku bisa pulang sekarang?"
"Ok. Kita berangkat dulu ya Ma." Tristan langsung menggendong Mei dengan kedua tangan kekarnya.
"Eh? Tristan aku bisa jalan sendiri," protes Mei. Ia juga malu digendong di depan Mama Tristan.
"Ingat, kamu mesti bed rest."
"Tristan ...."
"Sudah kamu ikut saja."
Mama Tristan terlihat senang melihat kedua sejoli ini. Tristan terlihat sangat perhatian pada Mei, dan gadis itu terlihat malu-malu. Yang satu ganteng dan yang satu sangat manis. Mama Tristan merasa sangat bahagia dengan ikut merasakan kebahagiaan putranya.
Tristan membawa Mei hingga ke mobil. Ia mendudukkan Mei di depan di samping kursinya, kemudian ia jalan memutar duduk di kursi yang satunya. Mobil pun ia jalankan. Sebelum keluar gerbang, Tristan sempat melambaikan tangan pada Mamanya dan Mei menganggukkan kepala tanda pamit.
Dia tak terlihat berbahaya? Mmh ... pikir Mama Tristan, sambil lalu. Aku harap kalian berbahagia.
Di rumah, Kenzo masih mendampingi Leka yang masih belum berhenti meneteskan air mata. "Sudah Leka. Yang sudah berlalu jangan dipikir lagi. Sekarang kita fokus mencari Mei saja ya? Mungkin sebentar lagi ketemu."
"Kalau bukan gara-gara aku ...." Leka kembali menangis.
Kenzo dengan lembut memeluknya. "Sudah Sayang, tidak ada yang menyalahkanmu."
"Tapi itu tetap salahku."
Kenzo menghela napas pelan. "Kasihan bayimu Leka, kamu gak boleh stres nanti mereka sakit," nasehat suaminya.
Leka menarik tubuh suaminya dan tenggelam dalam dekapannya. "Tapi aku gak bisa ngusir rasa bersalah ini." Butiran bening air matanya kembali jatuh.
Terdengar pintu diketuk. Kenzo melepas pelukan. "Ya?"
Pintu perlahan dibuka. Ada Tama berdiri di sana. "Maaf."
"Iya Tama." Kenzo segera beranjak berdiri. Ia tahu, adiknya sedang kebingungan hingga ia menghampiri.
"Mereka sudah pergi Kak," Tama bicara dengan nada kecewa. Wajahnya terlihat muram.
"Maafkan aku Tama." Untuk pertama kalinya Leka meminta maaf.
"Tidak, Mbak tidak sepenuhnya salah. Harusnya, benar kata Ayah, Mei juga harusnya punya Bodyguard. Apalagi dia hamil, bukan dipekerjakan lagi sebagai Bodyguard tapi harusnya dilindungi. Aku juga ikut bersalah Mbak. Padahal dulu Ayah Mei menariknya karena tidak ingin Mei bekerja sebagai Bodyguard lagi, tapi setelah menikah denganku, aku malah mempekerjakannya lagi dia jadi Bodyguard," sesal Tama.
Diam sejenak, seolah semua tak pandai bicara.
"Tapi bagaimana caranya?"
Kenzo berpikir sejenak. "Ah, kita lacak nomor teleponnya!"
"Tapi telepon Mei tidak dipasang lokasi."
"Ada salah satu karyawanku bisa melacaknya."
"Karyawan kakak kan di Jepang dan di Milan, bagaimana bisa?"
"Bisa. Karyawan Kakak yang di Jepang ada yang bisa melacak lokasi hp di manapun di seluruh dunia."
"Yang benar Kak?" Tama membulatkan matanya.
"Iya." Kenzo melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya.
-------+++-------
Di jalan, Mei terlihat bingung. "Siapa yang mengganti bajuku?"
"Oh, Mamaku."
"Oh, terima kasih."
"Mmh."
Sedikit canggung Mei duduk berdua bersama pria itu. "Mmh ... terima kasih telah menolongku." Ia menunduk malu dan wajahnya sedikit bersemu merah. Ia memang tidak pintar bicara tapi itu malah yang membuat Tristan menyukainya. Ramah, sopan walau sedikit ragu-ragu.
"Tidak apa-apa," Tristan melirik Mei lewat cermin kecil di atasnya. Ia tersenyum kecil.
"Eh, kita ke mana?" Mei menyadari mobil bergerak ke arah berbeda.
Tiba-tiba Tristan menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Ia mengeluarkan sesuatu dari kursi belakang. Mei sempat melihat ada koper di sana.
"Kau tahu apa ini?"
__ADS_1
"Tali rafia."
"Betul. Aku ingin memperagakan sulap padamu."
"Sulap?"
Tristan membuka seatbelt Mei dan melingkarkan tali itu di salah satu pergelangan Mei. "Aku ikat di sini ya?" Ia mengikatkan tali itu ke sana kemudian menyatukannya ke tangan yang satunya. "Kenceng gak?"
Mei mencoba menarik tangannya yang sudah terikat. "Kenceng."
Ia tidak sadar Tristan tengah mengikat tangannya. Pria itu kini melilit lagi ikatan itu dan kembali mengikatnya.
"Eh, kenapa tanganku diikat?" Mei baru menyadarinya.
Tristan tidak menjawab karena ia langsung menutup tangan Mei dengan memasang seatbelt.
"Tristan!" teriak Mei. Ia merasa di permainkan.
Pria itu mendekatkan wajahnya pada gadis itu dan tersenyum senang. "Kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kau lakukan padaku." Ia menyentuh hidung Mei.
"Aku melakukan apa?"
"Kau telah membuatku jatuh cinta padamu."
"Aku tidak pernah memberimu harapan dan janji apapun padamu."
"Tapi aku sudah terpikat, aku tidak bisa berpaling. Karena itu aku akan membawamu ke Kalimantan."
"Tristan, aku sudah menikah, apa kamu sudah gila?"
Pria itu mengeluarkan sebuah hp dan itu adalah hp Mei. Ia membuka jendela dan membuangnya ke trotoar.
"Tristan itu hp-ku!" Mei tercengang. Ia bingung kenapa pria ini makin nekat saja. Bukankah terakhir kali mereka bertemu, ia sudah memperjelas semuanya dan ia menganggap Tristan sudah mengerti itu, tapi kenapa sekarang berbeda?
"Aku tidak mau kau kembali pada suami bodohmu itu. Apa baiknya orang seperti itu? Dia juga terlihat cengeng," ejek Tristan tentang Tama.
"Tapi setidaknya dia jujur dengan perasaannya. Menangis, kesal, suka!"
Tristan panas mendengar hal itu. "Aku juga bisa mengekspresikan rasa sukaku padamu." Ia meraih dagu Mei dari samping dan mengecup bibir gadis itu.
"Tristan!" protes Mei geram, tapi pria itu tidak melepas genggaman pada dagunya. Tangannya pun tidak leluasa bergerak karena terikat.
"Aku akan pastikan dia tahu Istrinya selingkuh dan kabur darinya sehingga ia akan menceraikanmu." Pria itu melepas genggamannya.
"Tristan, kenapa kau sejahat ini?" Mei tak habis mengerti.
"Jahat? Kau yang membuatku jadi begini. Aku lebih segala-galanya darinya kenapa kau memilihnya?"
"Tristan!" Mei berusaha melepas ikatannya tapi tak bisa. "Kamu tidak bisa memaksa orang untuk jatuh cinta, itu kuasa tuhan."
"Bisa. Aku lihat kau tinggal bersamanya dan kemudian jatuh cinta. Bila kau tinggal bersamaku lama-lama kamu juga akan jatuh cinta padaku kan?"
"Tristan ...."
"Aku yakin itu. Kau akan tinggal denganku dan kau akan merasakan perubahannya."
"Tristan."
"Aku bukan orang jahat Mei, jadi ikuti saja mauku!" bentak pria itu yang membuat Mei tercengang. Kemudian ia menjalankan mobilnya.
Lima belas menit kemudian mobil Tama sampai ke tempat itu. Hp Mei yang telah hancur terlindas ditemukan oleh salah satu Bodyguard Tama. Ia kembali pulang dengan kecewa.
"Bagaimana aku harus mencari Mei Kak?" Tama melapor pada Kenzo. "Aku belum memberi tahu orang tua Mei soal ini. Kalau mereka tahu, mereka pasti marah padaku." Ia menunduk.
Kenzo terdiam sebentar. "Memangnya siapa sih yang membawa Mei? Kesannya seperti dia memang menculik Mei, tapi sampai sekarang belum ada yang menelepon minta uang tembusan. Lagipula belum 24 jam, jadi tidak bisa dianggap orang hilang."
"Dia juga membuang hp Mei," keluh Tama.
"Jadi dia tidak ingin dihubungi."
Arya yang datang dari luar mendatangi meja makan. "Jadi gimana?"
Tama menggeleng. "Seorang pria bernama Bilal Archie. Aneh kan?"
"Pria tampan," sela Leka.
Arya, Tama dan Kenzo saling pandang. "Tristan?" ucapnya berbarengan.
_____________________________________________
__ADS_1
Author Tyatul dengan novel terbarunya, Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku. Gimana, kepo gak?