
Kembali motor Tama ditepikan ... oleh mobil yang sama tapi kali ini Tama tak akan menyerah. Seharusnya ....
"Eh, tenang Mei. Eh ... aku akan coba singkirkan. Eh, mungkin aku ajak bicara. Jangan turun ya?" Padahal saat itu tangan Tama gemetar tapi ia mencoba memberanikan diri demi Mei.
Ia turun dari motornya dan melangkah ke depan. Dari mobil keluar tiga orang polisi, salah satunya Tristan. Mereka semua orang yang sama yang ditemuinya tadi pagi.
"Tolong jangan ganggu kami lagi." Tama membuka kaca helm agar mereka mendengar suaranya.
Tristan hanya tersenyum miring. Ia mengkode anak buahnya agar menangkap Tama. Dengan mudahnya pemuda itu diringkus oleh anak buah pria itu.
"Hei, aku belum selesai bicara."
Namun anak buah Tristan menahannya. Tristan sendiri mendatangi Mei.
Gadis itu terkejut melihat anak buah Tritan menangkap Tama. Ia segera melepas helm yang talinya sudah longgar dan turun.
"Hei, apa yang akan kau lakukan pada Mei! Berhenti!!!" teriak Tama yang tangannya sudah dibekuk anak buah pria itu.
Tristan hanya berhenti dan menoleh sebentar tapi kemudian lanjut mendekati Mei.
"Kenapa kau menangkapnya? Apa salahnya?" tanya Mei pada Tristan.
"Aku hanya ingin bicara bicara padamu, kenapa dia seperti orang yang sedang kebakaran jenggot sih? Bodoh sekali orang itu!" ucap Tristan ketus.
Netra Mei menyorot tajam pada Tristan.
"Mei ... setelah kupikir-pikir aku masih menginginkanmu. Walaupun kenyataannya sangat menyakitkan. Kau tak mungkin hamil setelah sekali tidur dengannya kan?"
"Kamu bicara apa?" Mei semakin sakit hati mendengar pernyataan pria itu.
"Kalaupun hamil, aku tak peduli. Aku mencintaimu apa adanya Mei, cintaku tulus padamu. Aku tak bisa ke lain hati."
"Aku pun juga tak bisa ke lain hati."
Tristan mendekat. "Maksudmu, kau juga mencintaiku?" Saat itu juga darahnya berdesir kencang seakan baru saja kena hembusan angin surgawi.
Tugh!
"Aduh!"
Mei memukul kepala Tristan dengan helmnya. "Aku menyukainya, bukan kamu Tristan."
Bugh! Bugh! Bugh!
Mei memukul bahu pria itu dengan helm bertubi-tubi hingga pria itu mundur. "Aku hanya ingin bersamanya Tristan, bukan kamu, dan aku bersyukur aku tidak mengingatmu, dan saat ingatanku kembali aku pun juga tidak ingin mengenalmu! PAHAM!!!"
Dengan cepat Mei bergerak maju ke arah Tama, dan memukul anak buah Tristan tepat di wajah dengan helm dengan sekali pukulan. Tama terlepas.
Kembali Mei melancarkan pukulan ke tubuh kedua anak buah Tristan itu dengan helm bertubi-tubi di titik tertentu saat Tama menjauh dan itu membuat mereka pusing dan jatuh lemas di tempat dan itu dilakukan Mei dengan hanya satu tangan saja.
"Ayo Tama." Mei menyodorkan helmnya pada pemuda itu. Tama meraih helm Mei di sisi yang satunya. Mereka bersama-sama berjalan sambil menggandeng helm yang sudah hampir pecah itu.
"Mei ... tunggu!" panggil Tristan yang masih kesakitan memegangi bahunya yang baru habis dipukul Mei.
"Aku sudah selesai bicara padamu Tristan dan jangan pernah temui aku lagi!" bentak Mei pada Tristan dengan sorot mata terkelamnya.
Mei melangkah bersama Tama mendatangi motor pemuda itu. Sebentar kemudian, motor itu telah meninggalkan tempat itu.
"Mei ...." Tristan menatap nanar motor Tama yang pergi menjauh. Ia melempar topi kebesarannya ke tanah. Perjuangannya sia-sia belaka. Ia sudah kalah dan ia sudah di benci. Apalagi yang bisa ia pertaruhkan?
----------+++----------
Tama bingung. Di saat gadis itu sedang sakit seperti ini ia masih bisa menolongnya, padahal harusnya dirinyalah yang menolong Mei bukan sebaliknya. Ia benar-benar kecewa pada diri sendiri. "Maaf."
"Apa?" Mei tidak bisa mendengar dengan jelas ucapan Tama karena pemuda itu menggunakan helm tertutup.
Mereka berhenti di depan rumah Mei dan gadis itu turun dari motor Tama.
__ADS_1
Tama membuka kaca helmnya. "Maaf. Seharusnya aku yang menolongmu bukan lagi-lagi aku yang kau tolong," sesal Tama.
"Kamu bicara apa? Gara-gara tadi aku jadi tahu kemampuanku barusan. Jadinya kini aku percaya bahwa dulu aku pernah jadi Bodyguard-mu."
"Apa aku harus pamit pada orang tuamu?" Tama menatap ke arah pintu rumah Mei yang masih tertutup.
"Sebaiknya begitu. Aku saja masih asing dengan mereka." Mei juga menatap pintu.
Tama turun dan mengetuk pintu rumah Mei.
"Oh, kalian. Untung saja. Ayah baru saja mendapatkan Penghulu untuk acara nikah kalian besok," ucap Ibu Mei senang.
"Apa?" sahut Tama dan Mei berbarengan. Mereka saling pandang. Mereka benar-benar akan menikah besok. Secepat itu?
"Tama, ayo masuk. Cepat hubungi Ayahmu. Ayah Mei ingin bicara padanya."
Tama masuk sambil mencium punggung tangan Ibu Mei yang disusul Mei, kemudian ia menemui Ayah Mei yang baru saja keluar kamar. Pembicaraan di hp Tama menyebabkan Arya kembali datang. Kali ini bersama istrinya.
"Tama kamu pulang saja, dan beristirahatlah. Kami akan mengurus pernikahanmu besok," perintah Arya.
Tama kemudian pamit.
"Oh ya Pak, kami mau pinjam Mei dulu untuk mencari pakaian pengantin untuk besok," ucap Arya pada Ayah Mei. "Biar Istri saya yang bantu carikan." Ia menunjuk pada Mariko yang duduk di sampingnya. Wanita itu mengangguk ke arah kedua orang tua Mei.
Sementara itu, kepulangan Tama disambut gembira oleh saudara-saudaranya, Kenzo dan Aiko.
"Aku pikir kamu sudah nikah Kak, habis lama banget pulangnya," ucap Aiko yang menatap Tama yang tampak letih.
"Diem lu anak kecil!"
Mereka semua tertawa.
Leka mulai sibuk berbelanja bahan makanan bersama Kenzo. Rencananya ia di bantu pembantunya di rumah akan memasak untuk menu sarapan pagi pernikahan Tama-Mei yang akan diselenggarakan di rumah Kenzo.
Sedang Chris, Istrinya sibuk berbelanja mencari mahar yang bagus untuk Mei. Tama mendapat informasi ini dari Kenzo sebelum berangkat menemani istrinya belanja.
"Sudah, jangan cengeng," kembali Aiko meledeknya.
"Anak kecil!" teriak pemuda itu gemas. Ia kembali mengejar-ngejar adiknya di ruang tengah.
----------+++---------
Mei gelisah tak mau tidur. Ia bangun dan keluar kamar. Ia terkejut menemukan Ayahnya sedang duduk di kursi meja makan.
"Kamu mau minum Mei?" Ayahnya hafal dengan kebiasaannya yang bangun tengah malam dan minum.
"Eh, mmh." Mei mengambil gelas dan air di teko. Semua ada di dapur.
Ayah Mei melihat sosok putrinya dari tempatnya duduk. Segala sesuatu telah cepat berlalu. Sekarang putri kecilnya sudah beranjak dewasa. Sebentar lagi akan dipinang orang, padahal ia belum cukup umur, belum lama ia manjakan, belum selesai sekolah dan belum juga sehat tapi takdir sudah mau membawanya pergi menjadi istri orang. Pergilah Nak, jadilah ibu dan istri yang baik. Ayah akan selalu mendoakanmu. "Cepat tidur Mei."
"Eh." Gadis itu mengangguk, kaku.
Hah, dia masih belum mengingatku.
----------+++---------
Tama mematut diri di depan cermin. Berkemeja putih dan berjas hitam. Penampilannya sudah rapi tapi ia merasa masih saja ada yang kurang. Ia sedikit gugup. Belum pernah ia merasakan hari segugup hari ini. Padahal ia tahu kalau pakaiannya hari ini kemeja putih dan jas berwarna hitam tapi ia malah sempat mencoba warna lain sebelum akhirnya mengganti menggunakan pakaian yang dipakainya sekarang. Benar-benar hari yang menegangkan.
Semuanya serba salah. Duduk salah, berdiri salah dan pikirannya tak karuan.
Terdengar ribut-ribut di depan kamarnya. Pemuda itu mendekati pintu. Kemudian senyap. Ia membuka pintu. Tidak ada seorangpun kecuali ... seorang Bodyguard Kenzo yang berdiri di bekas kamar Mei.
"Ada apa?"
"Pengantin wanita sudah datang, jadi Bapak tidak boleh masuk," jawab Bodyguard itu.
"Apa?" Tama keluar. "Ada Mei di situ?" Ia menunjuk dengan dagunya sambil mengancingkan satu jasnya.
__ADS_1
"Eh, maaf Pak. Anda tidak boleh masuk." Pria kekar itu mengangkat kedua telapak tangannya.
"Ngak boleh ngintip dikit aja."
"Kakak!" Aiko berlari menaiki tangga. "Kakak udah ditunggu di bawah."
"Apa?"
"Semua orang menunggu di bawah," ulang Aiko menarik tangan Tama dan menuruni anak tangga.
Dilihatnya semua orang telah berkumpul di ruang tengah. Meja besar yang ada di sana sudah berganti dengan meja kecil untuk duduk di lantai. Permadani sudah memenuhi ruang tengah dan keluarganya serta keluarga Mei juga sudah berada di sana.
Saat menuruni tangga, semua mata tertuju padanya. Aiko menariknya ke meja kecil itu. Ada Chris, Arya, Ayah Mei dan seorang pria yang pastinya penghulu.
Tama menelan ludah saat di persilahkan duduk berhadapan dengan Ayah Mei.
Pak penghulu memulai pidatonya. Tama tak bisa konsentrasi dengan tenang saat Pak Penghulu membercandainya. Wajahnya tampak tegang. Beberapa orang tampak tak bisa menahan senyum karena beberapa kali ditanya oleh Pak Penghulu, Tama menjawabnya dengan terbata-bata. Terlihat sekali ia sangat gugup.
Akhirnya, sesi ijab kabul pun tiba.
"Tama, aku sudah kirim ke hp-mu, ijab kabulnya," bisik Kenzo dari belakang.
Tama merogoh kantong celananya. Ternyata ia lupa mengantonginya!
"Aduuuh, Tama." Akhirnya Kenzo meminjamkan hp-nya. "Nanti kamu bacanya pelan-pelan saja ya, biar gak salah."
Pak Penghulu kemudian memandu Tama dan Ayah Mei mengucap ijab kabul. "Sah!"
"Sah!" jawab yang lain. Kemudian bergema tepuk tangan di antara yang hadir.
"Hah!" Tama mulai bernapas lega.
Arya menepuk bahu anaknya dan Chris memberinya senyum. Kenzo juga menepuk-nepuk bahu Tama yang lain. Leka naik ke atas dan membuka kamar Mei. Ia membawa Mei turun.
Tama terpana melihat dandanan Mei yang cantik sekali hari itu. Mungkin yang tercantik yang pernah ia lihat. Semua orang memandang kagum pada penampilan Mei saat itu. Gadis itu berjalan dengan anggunnya bak seorang ratu. Dengan baju gamis panjang berwarna putih bertabur hiasan manik-manik berwarna sama, ia dituntun Leka duduk di samping Tama.
Tama kehabisan kata-kata. Ia masih akan terus terpana kalau tidak Kenzo yang menyentuh bahunya memberi tahu.
"Tama."
"Apa?"
"Ini cincinnya, sematkan pada jari Mei."
Tama mengambil kotak cincin itu. Di bukanya perlahan kotak berwarna merah itu. Ia menemukan sebentuk cincin sederhana berwarna emas.
Ia menatap Mei yang menjatuhkan pandangannya ke bawah. Gadis itu menyodorkan jemarinya. Segera Tama menyematkan cincin itu di jari manis gadis itu. Juga sebaliknya. Mei memasangkan cincin di jari manis Tama.
"Cium istrinya dong," ledek Rojak.
Salwa tertawa mendengarnya.
"Aku boleh *****?" tanya Tama pada Mei.
Mei hanya melirik sekilas dengan wajah bersemu merah. Tama mencari jalan aman, ia mengecup kening istrinya.
"Kamu sekarang sudah menjadi seorang suami Tama. Bertanggung jawablah," nasehat Chris pada anak angkatnya.
"Iya Pa."
_____________________________________________
Halo reader semua, tetap semangat baca Junior CEO and Bodyguard Mei kan? Jangan lupa vitamin Author, like, komen, vote, hadiah dan mungkin koin. Ini visual Mei dengan baju pengantinnya. Salam, Ingflora. 💋
Maysaroh Safir
__ADS_1