Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Tak Bisa Pergi


__ADS_3

Seketika Tama berhenti menangis. "Kamu gak papa kan Mei?"


"Aku ingin tiduran dulu Kak. Kepalaku pusing."


"Oh, iya." Pemuda itu meletakkan tubuh Mei pelan-pelan ke atas tanah. Ia menatap wajah gadis itu yang masih memejamkan mata. Ia khawatir. Sangat khawatir. Dengan mengusap airmatanya asal, Tama berusaha memastikan. "Kamu ... ada sakit di mana gitu Mei ... ngak?"


"Mmh ... nanti ya Kak. Aku tidur dulu."


"Iya." Kembali pemuda itu mengusap kasar air matanya. Ia menatap Mei, atau lebih tepatnya ... menunggu Mei, untuk beberapa lama. Gadis itu diam tak bicara. Mungkin telah tertidur.


Ia tetap tak bisa mengusir rasa khawatirnya yang terus merongrong hati yang kian hampa. Ada kekosongan yang menjalar di sudut hati dan ia tak tahu harus berbuat apa.


Ingin rasanya ia menyentuh dan menggenggam tangan gadis itu untuk memastikan dunia tak sedang mencuranginya. Setelah hampir kehilangan kedua orang tua yang memporak porandakan hari-harinya, kembali ia tidak ingin kehilangan orang kepercayaannya, sahabat baik dan seseorang yang mau mendengarkan setiap suka duka di hidupnya. Ia tidak ingin, ini tidak boleh terjadi lagi dalam hidupnya. Tidak boleh. Tidak sekalipun.


Tama membaringkan tubuhnya di samping tubuh Mei. "Ah!" Ia menyipitkan mata, mulai merasakan nyeri di bagian paha dan lengannya tapi ia tak perduli. Ia menatap gadis itu dari samping. Mei ....


Ia menatap ke bawah dan ingin tetap menyentuh tangan gadis itu. Pelan-pelan ia melakukan dalam diam lalu menggenggamnya.


"Kak ...."


"Aku hanya ingin memastikan kamu tidak apa-apa Mei, tolong ...." Tama hampir menangis saat mengucapkan kalian itu. Ia benar-benar khawatir.


Kemudian sunyi. Saking takutnya, Tama menggenggam tangan gadis itu erat.


Malam semakin larut. Kenzo bersama pihak kepolisian yang lain berusaha mengejar truk yang diawaki Tama dan Mei. Mereka sudah bekerja sama dengan kepolisian daerah Puncak tapi karena truk tidak juga sampai masuk ke area Puncak, mereka makin melajukan kendaraan ke arah titik terakhir lokasi Tama berhenti.


Ya, Kenzo mendapati titik terakhir lokasi Tama sebelum informasi itu tiba-tiba hilang. Ia sangat takut terjadi apa-apa dengan adiknya itu, karena itu bersama polisi ia mempercepat laju kendaraan. Ya Allah. Jangan sampai terjadi apa-apa dengannya, ya Allah. Lindungi dia adikku yang paling kusayang.


--------+++--------


"Jadi, Aska sudah pulang ya Pa? Ya sudah." Monique terlihat kecewa sambil masih meletakkan hp-nya di telinga.


"Tunggu saja. Kalau nanti belum pulang juga, kita telepon polisi ya, Sayang? Tapi rasanya mungkin, dia pergi main bersama teman-temannya dan dia lupa bilang padamu," ucap Albert berusaha menenangkan putrinya.


"Iya Pa." Mata wanita itu tertunduk, berusaha mengerti. Ia kemudian mematikan hp-nya.


Sudah sedari tadi ia menelepon Aska tapi pria itu tidak kunjung menjawab teleponnya. Aska kamu ke mana?


Tiba-tiba pintu terbuka. Aska masuk dengan wajah sedikit memerah.


"Ah, Sayang! Kamu ke mana? Aku meneleponmu sedari tadi!" Monique segera turun dari tempat tidur menyambutnya, tapi ada yang aneh dengan Aska.


Pria itu pulang dengan wajah angker.


"Sayang, kamu kenapa?"


Aska tak melirik sedikit pun keberadaan Monique, ia hanya menatap tempat tidur dan berjalan ke arah sana dengan sempoyongan.


"Sayang, kamu mabuk?"


Pria itu tak menjawab. Ia terus melangkah mendekati tempat tidur dan duduk di tepian.


Monique terus mengikutinya. "Sayang, kamu mau sesuatu. Mungkin air madu?"


Aska masih diam, kini menunduk menatap lantai di dekat kakinya.


"Yang, kamu kenapa? Ada masalah?" Wanita itu duduk di samping dan menyentuh bahu suaminya.


Dengan segera Aska menepis tangan istrinya dan menatap ke arahnya. "Untuk apa kamu pura-pura peduli? Kau tak membutuhkanku kan?"ucapnya ketus.


"Ka, aku gak akan pernah gitu sama kamu. Aku peduli. Kamu kan suamiku dan cinta pertamaku. Mana mungkin aku tidak peduli?" Monique berusaha meyakinkan. Ia berusaha menyentuh kembali bahu suaminya.

__ADS_1


Pria itu kembali menepisnya dengan kasar. "Bohong!"


"Aska, kenapa kau tidak percaya padaku?" Monique bingung, kenapa suaminya tiba-tiba berubah dalam semalam. Tentunya Aska tahu bahwa ia sangat mencintai pria itu sampai kapanpun.


Tak disangka, Aska menarik lengan Monique dengan kasar ke arahnya. Ia menatap wajah istrinya lekat. "Jangan asal omong saja, buktikan!" teriaknya di depan wajah wanita itu. Ia menarik istrinya ke atas tempat tidur dan mulai menindihnya. "Buktikan kalau kau memang mencintaiku!"


Aska mulai mencumbu istrinya. Dalam kebingungan, Monique hanya bisa mengikuti perintah suaminya. Toh, ia kini sudah sah menjadi istrinya dan ia memang menginginkan ini bersama suami tercinta walaupun Aska melakukannya saat ia mabuk. Mereka melewati malam itu dengan semangat yang menggebu.


---------+++----------


"Mmh ...." Mei menggerakkan kepalanya dan membuka mata. "Aku haus."


"Aku lapar," Tama menyahut dari samping.


Mei menoleh. Ia berusaha duduk dan melepas genggaman Tama. Pemuda itu ikut-ikutan duduk dan menatap Mei. Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling yang diliputi hutan rimba. Gelap karena masih malam hari tapi tak segelap hutan di depannya.


Ia mencoba berdiri. "Ah!"


"Kenapa Mei?" Tama mencoba mendekat.


"Kakiku terkilir sepertinya." Mei memegang pergelangan kakinya. Diperhatikannya sepatu hak tingginya yang sudah tidak ada haknya lagi karena patah. Mungkin saat tadi ia meloncat beberapa kali di dalam kontainer yang bergerak jatuh, hak sepatu itu patah tanpa ia sadari.


"Eh, sakit Mei?" Tama menatap wajah Mei dalam-dalam.


"Iya. Aku gak bisa berdiri," keluh gadis itu sambil menahan ngilu di pergelangan kakinya itu.


"Kau mau apa?"


"Berdiri."


"Sini aku gendong." Tama menggendongnya dengan kedua tangannya yang membuat Mei terlihat bingung.


"Untuk apa kamu menggendongku seperti ini. Ih!" Mei menekan dahi Tama dengan telunjuknya. "Memangnya aku ini istrimu? Gendong belakang, tau!" omel Mei lagi.


"Coba kita jalan ke arah hutan, mungkin ada sungai tempat kita bisa mengambil air untuk minum."


Tama terlihat ragu-ragu.


"Hei, kenapa bengong?"


"Eh, tidak."


"Kamu takut ya, ada ular atau harimau."


"Meiii ...." Tama merengek dengan suara kecil.


"Jangan sudzon. Berpikir positif aja, jadi tuhan juga akan menjauhkanmu dari hal-hal buruk di jalan."


Tama masih ragu.


"Yang bikin seseorang jadi penakut itu adalah sudzon-nya, padahal tidak ada apa-apa yang akan terjadi dengan dirinya tapi pikiran sudah merusaknya. Orang sudzon juga umurnya pendek karena gila sama pikirannya sendiri."


"Mei!"


"Yakin aja gak ada apa-apa."


Tama mulai melangkah.


"Inshaallah."


"Mei!" rengut pemuda itu tiba-tiba berhenti.

__ADS_1


Mei tertawa.


Mobil Kenzo dan mobil polisi akhirnya sampai ke titik di mana terakhir sinyal hp Tama memberi tanda dan setelah itu menghilang. Tempat itu adalah jalan menuju Puncak yang di sampingnya terdapat jurang. Jalan itu memang tidak ramai karena jalan alternatif dan setelah diperiksa ada kendaraan truk yang jatuh ke jurang dalam keadaan rusak dan hancur.


Kenzo tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Setelah sebelumnya ia hampir kehilangan orang tuanya kini ia terancam kehilangan adiknya. Betapa dunia sangat kejam padanya, memberi cobaan yang begitu berat. Bagaimana ia akan menghadapi orang tuanya nanti saat mereka pulang ketika tahu Tama sudah tinggal nama, padahal jelas-jelas Tama izin padanya dan ia abai akan keselamatannya.


Sebutir air mata Kenzo jatuh tak bisa di tunda. Kenapa di saat ia mendapatkan kebahagiaan, orang-orang di sekelilingnya malah menderita satu-satu? Apa ia tak boleh mereguk kebahagiaannya? Apakah ia penyebab orang-orang yang disayangi mendapat kemalangan? Ia sendiri tak tahu jawabannya.


Hp Kenzo berdering. Ia mengangkatnya.


"Halo, Mas. Kenapa belum pulang?" tanya Leka cemas.


Dengan berat hati Kenzo akhirnya menceritakan semuanya.


"Jadi, apa Tama benar jadi korban truk yang jatuh ke jurang itu?"


"Mmh ..." Kenzo menahan air matanya agar tidak keluar dengan mudah tapi kemudian lolos juga. "Kalau dilihat dari truk yang hancur itu ...." Ia tak sanggup meneruskan karena ia sudah terisak.


"Mas, yang kuat ya? Berharap penculiknya membawa mereka pergi. Pastikan saja Mas."


Kenzo berusaha menguatkan diri, menghapus air matanya dengan kasar, dan menghirup cairan di hidung yang sudah mulai menyumbat pernapasannya. Salah satu Bodyguard-nya menepuk-nepuk bahu pria Jepang itu agar membantunya lebih tegar. Pria itu menoleh dan mengangguk-anggukan kepalanya dalam kesedihan mendalam yang berusaha di tekannya.


Di tempat lain Tama dan Mei sudah memasuki hutan, tapi sejauh mereka melangkah mereka belum menemukan sungai. Tama mulai kelelahan dan kelaparan.


"Hah ... aku capek Mei. Dari tadi jalan gak ketemu sungai. Bagaimana ini?"


"Ya sudah. Kita balik saja."


"Apa? Meiii ...." Tama semakin kesal. Sudah berusaha jalan sampai sejauh itu, gadis itu malah menyuruhnya balik.


Mei mendekap bahu Tama dan menyandarkan dagunya pada bahu itu. "Ya gimana dong Kak, kita apa tidur di sini saja?"


"Mmh ...." Dasar cewek, kalo minta gak pake mikir! Gini nih jadinya. "Ya sudah. Kita balik lagi saja." jawab pemuda itu dengan enggan. Baru saja Tama bicara begitu, ia mendengar sesuatu. "Apa itu?" bisiknya pada Mei.


Mei menajamkan telinga. Ada yang bergerak di semak-semak di depan mereka. Tama yang panik segera berlari menjauh. Sialnya sesuatu itu malah ikut mengejar mereka.


Mei yang digendong Tama berusaha melihat ke belakang. Ada sesosok bayangan yang bergerak dalam gelap yang mengejar mereka dan gadis itu sulit mendefinisikan mahluk apa itu. Langit yang berbintang pun tak sanggup menyinari bayangan itu karena hutan itu cukup lebat di penuhi dengan pohon-pohon tinggi yang tumbuh rapat.


Sekali waktu kali Tama tersandung akar pohon yang tidak dilihatnya. Mereka berdua jatuh terguling di tanah.


"Ah!"


"Uh!"


Mereka berdua tak berkedip ketika sosok itu datang mendekati mereka.


---------+++--------


Seorang polisi naik ke atas dengan tali setelah ia turun untuk memeriksa. Ia melapor pada komandannya yang menunggu bersama Kenzo. "Ini maaf, hp siapa? Hp adik Bapak ya yang bernama Pertama Wiraguna itu?"


Kenzo memperhatikan kedua hp itu. Yang satunya memang hp milik Tama tapi ia tak mengenali yang satunya. Mungkin milik Mei. Keduanya dalam keadaan rusak parah. "Iya, tapi bagaimana kau tahu namanya?"


"Karena aku temukan dompetnya." Polisi itu menyerahkan dompet milik Tama.


Air mata Kenzo mulai menganak sungai ketika ia menerima dompet adiknya itu. "Jadi dia ...."


"Mmh maaf, tapi aku hanya menemukan jasad supir truk saja. Tidak ada yang lain."


"Apa?"


_____________________________________________

__ADS_1


Author Covievy dengan tema novelnya yang sedikit berbeda. CEO Playboy Terjerat Nona Hacker, sebuah tema kekinian tentang teknologi online dibalut dengan cerita percintaan. Kepo kan? Kuy, kuy, kuy.



__ADS_2