
Mei sedang duduk-duduk di beranda rumah permanen. Sambil memandangi bangunan yang tiangnya baru berdiri, ia menikmati sejuknya angin semilir di sore itu. Ia mencoba berdiri dan melangkah ke arah bangunan. Dilihatnya Anjali berjalan ke arah rumah permanen. "Eh, Mbak Anjali ...."
Namun gadis itu berjalan cepat. Karena terlihat terburu-buru, Mei tak jadi meneruskan memanggil gadis itu. Gadis berjilbab kuning itu meneruskan langkahnya ke arah bangunan. Ia ingin melihat-lihat para pekerja bangunan bekerja di dalamnya.
Eh, aku lupa pake helm. Kata Tama aku harus pakai helm kalau dekat-dekat bangunan proyek.
Mei akhirnya kembali ke rumah permanen untuk mengambil helm tapi tak dinyana ia malah mendapatkan pemandangan yang mengiris hatinya saat itu juga.
Di pintu masuk rumah permanen yang tertutup terpal karena udara sangat panas hari itu, ia melihat suaminya sedang memeluk Anjali yang sedang terisak di bahunya. Tama bahkan mengusap punggung gadis itu.
Kedua netra Mei memanas. Genangan yang mulai membasahi netranya sudah tak mampu lagi membendung derasnya air mata yang hangat mengaliri pipinya.
Tama kemudian sadar Mei tengah melihat mereka berpelukan hingga ia segera melepas pelukannya pada Anjali. Gadis berambut sepunggung itu menoleh dan segera menghapus air matanya.
"Eh, Mei ...."
Gadis berjilbab itu tak menggubris ucapan suaminya. Ia segera berlari menuju mobil mereka yang terparkir di dekat pagar. Sopir kantor yang sedang mengaso di dekat pagar seng segera bersiap-siap. Ia langsung masuk ke dalam mobil ketika Mei membuka pintu.
"Pulang ya!" ucap gadis itu sambil menghapus air matanya.
Mobil meluncur setelah Mei masuk ke dalam mobil.
"Mei!" Tama mengejar tapi ia tertinggal. Ia tak berhenti sampai di situ saja, ia meminta salah satu tukang yang ada di dekat situ untuk memboncengnya dengan motor menyusul istrinya. Mereka pun segera pergi.
"Bu, Bapak nyusul," ucap sopir saat melihat ke kaca spion mobil.
"Biarin aja." Mei masih berusaha membersihkan sisa-sisa air matanya dan menenangkan gejolak di dada. Ia benar-benar kesal karena tindakan suaminya sudah keterlaluan. Pemuda itu tidak memandang keberadaan dirinya di tempat itu sementara ia dengan bebasnya memeluk perempuan lain di depan matanya. Sungguh terlalu!
Ia sudah lama memendam kemarahan pada suaminya yang dekat dengan Anjali, gadis yang punya banyak kelebihan dari dirinya. Lebih cantik, lebih kaya, lebih pintar dan lebih bisa menarik perhatian Tama dibanding dirinya, tapi bukan berarti ia mau diinjak-injak seperti ini.
Sebagai Istri ia berhak marah, ia berhak kesal, ia berhak memberontak pada setiap apa-apa yang yang akan merusak rumah tangganya tapi ia sangat kecewa. Tama malah memicu segala sesuatunya jadi lebih buruk.
Padahal kedekatan suaminya saja pada Anjali sudah membuat suasana hatinya memburuk, tapi ia malah menyalahkan diri sendiri karena tidak sehebat Anjali yang lebih segalanya dari dirinya. Namun kejadian hari ini membuktikan bahwa bukan karena dirinya saja yang kurang tapi Tama juga mau digoda. Apa yang dilihatnya sudah cukup membuktikan semua kecurigaan Mei saat Tama selalu bersemangat setiap kali bertemu dengan Anjali dibanding bertemu dengan dirinya.
Ya, ia merasa Tama sudah menomor tigakan dirinya. Setelah pekerja dan Anjali.
Mei segera turun dari mobilnya ketika sudah sampai di rumah. Tama pun menyusul dengan berbonceng motor tapi Mei sudah mencapai tangga.
"Mei!!"
Gadis itu mempercepat langkahnya menaiki anak tangga begitu mendengar suara suaminya memanggil dirinya.
"Mei, Mei!" Tama mengejar Istrinya.
Leka dan Kenzo yang sedang menemani Runi bermain dengan Mimi hanya bisa melihat adegan kejar-kejaran antara Mei dan Tama. Mei lebih dulu masuk ke kamar disusul Tama. Kenzo dan Leka hanya bisa saling pandang.
"Mei!" Tama masuk kemudian. Dilihatnya Mei mengeluarkan pakaian dan dimasukkan ke dalam tas besarnya. "Mei, kamu mau ke mana?"
"Kalau kamu sudah tak menginginkanku lagi, aku akan pergi. Aku tak ingin diduakan." ucap Mei sambil menahan isak. Air matanya kembali menetes.
"Mei, siapa bilang aku tidak menginginkanmu?" Sorot mata Tama begitu nanar.
"Kamu mau bersamanya silahkan saja tapi jangan buat itu di depanku Tam, sakit," Mei menggenggam bajunya di dada.
"Ma-maaf." Tama coba merangkul Mei tapi gadis itu menepisnya.
"Aku gak mau disakiti lagi. Terlalu sakit. Ce ...." belum selesai Mei bicara, Tama menyumpal mulut Istrinya dengan mulutnya. Nekat.
"Mei aku menginginkanmu." Kembali ia mendesak mulutnya ke bibir indah Mei. Awalnya gadis itu menolak. Berusaha mendorong pelan tubuh suaminya, tapi karena Tama tak mau melepas dan malah makin memperdalam desakannya dengan menekan kepala Mei ke depan, gadis itu perlahan menikmati apa yang sudah menjadi kewajibannya.
__ADS_1
Seperti orang yang kehausan. Pemuda itu melakukan banyak hal melihat Mei yang mulai menyerah padanya dan menikmatinya bersama. Perlahan-perlahan Mei juga membalas ciuman hangat sang suami. Lama-kelamaan ciuman itu mulai tanpa jeda saat hasrat keduanya mulai memanas. Lama dan akhirnya berhenti saat keduanya hampir kehabisan napas.
"Mei, aku sangat mencintaimu. Aku ... aku sangat menginginkanmu."
Wajah mereka yang terbuai khayalan dan napas mereka yang menderu seperti menanti adegan selanjutnya. Tama dengan tanpa pikir panjang langsung menggendong Istrinya di kedua tangan dan membawanya ke tempat tidur.
Perlahan ia membaringkan Mei di atas tempat tidur. Pemuda itu kemudian naik di atasnya. "Aku akan buktikan padamu aku menginginkanmu. Asal kamu jangan marah saja." Tama mulai membuka ikatan kain untuk penyangga gips Istrinya.
Gadis itu diam saja. Bahkan saat Tama mulai melepas pakaiannya. Semuanya kemudian mengalir dengan apa adanya. Tanpa paksaan, tanpa rasa terpaksa dan mereka juga menikmatinya.
Wajah bahagia terpancar di wajah Tama saat ia menyelesaikan semuanya. Ia menyelimuti diri dan Istrinya dengan selimuti tebal sambil mendekap istrinya erat dari belakang. "Aku menginginkanmu Mei, apa kau bisa rasakan?"
Mei membalik tubuhnya menatap Tama. Air matanya kembali mengalir.
"Kenapa kau menangis?" Tama menjadi heran. Ia sudah berusaha membahagiakan istrinya tapi gadis itu malah menangis.
Gadis itu mendekatkan wajahnya pada Tama dan mengecup bibir sang suami. Tama, ia tersenyum. Ia menepikan rambut istrinya yang terurai sedikit menutupi wajah. Juga menghapus air matanya yang melewati pipi. Ia kemudian membalas kecupan Mei.
Mereka saling menatap.
"I love you Mei, I always do.(Aku mencintaimu Mei, aku selalu mencintaimu.)" Tama mengecup kening Mei. "Aku tadi bersama Anjali ...."
Telunjuk gadis itu langsung mendarat di mulut Tama. Ia kemudian menaikkan selimutnya hingga ke leher dan kembali menatap lembut suaminya.
Tama tersenyum. Tidak perlu ada orang lain saat mereka berdua. Ia sangat mengerti Istrinya. Mereka saling pandang dan bahagia.
---------++++-----------
Saat makan malam Kenzo hanya saling pandang dengan Leka. Mereka tidak tahu apa yang terjadi hingga Tama dan Mei terlihat berbeda, saling tersenyum bahagia.
Kenzo berdehem. "Gak ada apa-apa kan?" tanyanya sambil melirik Mei dan Tama.
Yang ditanya malah tersenyum simpul sambil saling menatap bahagia.
Kenzo kembali berdehem. "Kalau gitu, gak ada masalah dong ya?"
"Masalahnya, aku gak bisa ke lain hati." Tama meminjam ucapan Mei dulu pada Tristan, dan istrinya hanya tersenyum malu.
"Ok ...." Kenzo menatap adiknya yang sedang kasmaran dengan Istrinya. Sepertinya tidak ada yang perlu ia khawatirkan karena drama tadi sore saat ia melihat Tama mengejar Istrinya itu telah diselesaikan dengan damai. Dengan sangat damai yang berakhir di tempat tidur. Begitulah drama suami-istri yang baru menikah, seperti dirinya. Ia mengira-ngira seperti itu.
Sehabis makan malam pun Tama masih meneruskan kemesraannya di kamar bersama istrinya. Kebetulan Mei masih mau dan tidak ada tugas sekolah untuk besok. Mereka mengulang episode tempur mereka tadi.
----------+++----------
Mei tidur masih dalam dekapan suaminya. Ia tersentak dan hari mulai siang. "Tam, kita gak sekolah?"
"Hari ini enggak Sayang, kita kan gak ke sekolah karena mau ke dokter. Kamu kan mau lepas gips."
"Ini udah siang Tama."
Tama membuka matanya. Ada cahaya mentari yang masuk ke dalam kamarnya tapi tak mencapai tempat tidur. Ia sendiri silau menatap cahaya yang menyinari hampir sepertiga kamarnya. "Jam berapa Mei?"
"Ini udah jam sepuluh lewat." Mei menatap jam di dinding.
Tama menguap dan merentangkan tangannya. Sebentar ia mengerjap-ngerjapkan matanya. "Aku maunya sih tidur sambil memeluk kamu terus sampai besok."
Mei cekikikan. "Mana bisa manusia begitu?" Ia mendorong kepala Tama dengan telunjuknya.
"Ini jari nakal bener sih!" Tama menangkap tangan Mei.
__ADS_1
"Lagi kamu ada-ada aja."
"Tapi suka kan?"
Wajah Mei memerah. "Ih, mesum."
"Biarin. Ada Mei ini." Tama malah tertawa. Ia menertawakan kalimatnya sendiri.
"Iiih!" Wajah Mei kembali memerah. Ia mencubit pinggang Tama.
"Aduh ... aduh ... aduh. Bahaya nih cubitannya," Tama menggerutu.
Sebentar kemudian kedua sejoli telah bertukar pakaian dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Mereka menuruni tangga.
"Kak, aku pergi ke rumah sakit dulu ya, antar Mei buka gips," ucap Tama saat menemui Kenzo di lantai bawah.
"Lho kamu kan belum sarapan?"
"Nanti aja, di sana."
Mereka bergegas ke mobil dan memasukinya dari pintu terpisah. Mobil pun bergerak keluar rumah.
Tama menyentuh jilbab Mei dari samping.
"Mmh?"
"Ada yang kurang."
"Apa?"
Tama segera mengecup pipi Istrinya.
"Ih!" Mei merengut dan memalingkan wajahnya ke jendela. Diam-diam ia mengkulum senyum bahagianya yang tertahan.
Tak lama Tama dan Mei sampai juga di rumah sakit. Melalui proses pemeriksaan akhirnya gips Mei dilepas juga.
"Coba peluk aku."
"Apa-apaan sih Tam, masih ada Dokter juga," protes Mei. Wajahnya kembali memerah.
Tama tertawa. "Aku berani bilang I love you di sini," tantang Tama.
Dokter, suster dan yang lainnya menjadi penonton yang harus mendengarkan drama percintaan mereka dan itu membuat mereka harus menahan senyum karena yang berbicara masih tergolong remaja menjelang dewasa.
"Ih, Tama!"
"I love you! I love you Mei, I love you so much!(Aku mencintaimu, aku mencintaimu Mei, aku sangat mencintaimu)" teriak Tama.
Lagi-lagi wajah Mei memerah. Ia malu pada Dokter, suster dan yang lainnya.
"Iiiih!" Wajah Mei merah padam.
Mereka kemudian kembali ke dalam mobil.
"Mei, kita kan gak bisa ke sekolah karena jamnya nanggung. Bagaimana kalo ke lokasi pembangunan hotel itu aja? Aku mau lihat ...."
Dilihatnya wajah Mei langsung cemberut.
____________________________________________
__ADS_1
Author Eet Wahyuni masih setia dengan Fantasi Timur mencoba cerita fantasi masuk ke dalam novel. Ayo kamu-kamu yang penasaran, cus ngintip langsung novelnya.