
Eh, apa aku bermimpi? Ruanganku gelap dan seseorang berwajah mirip Mei tidur di sampingku. Dia memelukku. Mmh? Memelukku ... tapi aku masih bisa merasakan pelukannya.
Tama membuka mata dan menengok ke samping. Ia tercengang. Ini benar Mei! Mei tanpa jilbab. Ternyata rambutnya panjang dan wajahnya lumayan cantik. Mei, inikah wajah aslimu? Aku suka, tapi ... kenapa dia tidur di sini?
Pemuda itu mengedarkan pandang ke sekeliling yang gelap gulita. Apa karena mati lampu Mei salah masuk kamar? Eh? Salah masuk kamar? Ia kembali menoleh ke arah Mei dan mulai tersenyum nakal. Ia melihat Mei masih memeluknya dari samping. Kamu pikir aku bonekamu ya Mei?
Pemuda itu memutar tubuh menghadap gadis itu, tapi yang terjadi gadis itu mengeratkan pelukannya seperti takut kehilangan.
Tama tersenyum lebar. Iya, Mei. Aku di sini untukmu. Tama menatap gadis itu dengan jarak yang amat dekat tanpa berkedip. Sesuatu yang jarang terjadi, dan ia bisa dengan puas menatap wajah gadis itu lebih lama.
Ia merapikan rambut gadis itu yang bergelombang. Menyentuh wajah, pipi, menyusuri kelopak matanya.
Tiba-tiba Mei merasa geli wajahnya disentuh hingga bergerak mengusap wajahnya. Tama membeku. Gadis itu kembali memeluk pemuda itu.
Mei, sepertinya kau juga menyukaiku. Ya kan? Tama mengusap pucuk kepala Mei dan ... godaan egonya kembali menguasai pemuda itu. Ia menekan kepala Mei maju dan ia ingin kembali merasakan bibir tebal itu yang mengoda pandangan matanya, tapi ... ia mengurungkannya.
Aku tidak ingin mencurinya darimu. Bukan karena takut ketahuan, tapi aku ingin sesuatu yang kau ikhlas berikan padaku. Aku mau hatimu. Aku mau kau melihatku. Aku ingin akulah raja dihatimu. Hanya aku Mei. Sampai saatnya tiba, aku akan menunggumu. Yang pasti aku tidak ingin kau meninggalkanku. Aku, mencintaimu.
Tama melirik pelukan Mei padanya. Paling tidak, aku menikmati yang ini dulu. Pemuda itu memejamkan matanya dengan wajah yang tampak bahagia, hingga pagi menjelang.
Pagi hari Mei terbangun dengan terkejut yang luar biasa. Tentu saja Tama sudah bangun terlebih dahulu dan pura-pura masih tidur dengan mata terpejam.
Kenapa aku ada di sini? Kenapa aku memeluk Tama? Ia bangun dan menjauh dari pemuda itu. Tentu saja ia tidak bisa menyalahkan pemuda itu karena Tama masih tidur. Ia mulai mencurigai dirinya sendiri.
Apa aku semalam salah kamar ya? Ya ampun, untung saja dia belum bangun. Kalau dia bangun pasti dia akan meledekku habis-habisan karena telah berani memeluknya dalam tidur. Dia tidak akan percaya kalau aku salah masuk kamar. Ya allah, aku benar-benar tidak ingat apa yang ku lakukan. Mei menutup mulutnya. Yang kuingat aku masuk kamar dan memeluk bonekaku seperti biasa. Ya ampun, aku harus segera menyingkir dari sini sebelum ia berpikir aku sengaja menggodanya semalam.
Mei bergegas memakai jilbab instannya yang ia letakkan di atas meja belajar Tama, kemudian ia segera keluar dari kamar itu.
Tama membuka matanya dan tersenyum. Ia sangat menyukai saat indah tidur berdua dengan gadis itu. Ia kini bisa memantapkan hatinya, ia mencintai Mei.
Pagi itu Tama bergegas menaiki mobilnya.
"Kak, kamu belum sarapan?"
"Kamu juga kan?"
"Ah Kakak dulu saja."
Tama menatap Mei heran. "Emang kamu bisa berangkat tanpa sarapan?"
"Kalo aku sih udah biasa. Kakak gimana?"
"Biasa?" Tama membulatkan mata.
"Aku dulu biasanya ngelakuin dagangan dulu Kak."
Tama masih tercengang menatap gadis itu. Hidupnya dulu sangat ... ah! "Ayo!"
Keduanya naik ke mobil. Ketika mobil mulai berjalan, Tama mulai menanyai Mei. "Kamu mau makan apa?"
"Apa?"
"Kita mampir untuk sarapan."
__ADS_1
"Oh, banyak makanan Kak. Kalo pagi ada lontong sayur, nasi uduk, nasi kuning, bubur."
"Kamu kan gak bisa makan itu kan?"
"Eh, iya sih."
"Nah terus?"
"Aku bisa makan mi goreng atau kue basah, pagi."
"Kue basah?"
"Eh, Kakak mau apa? Biasanya tukang nasi uduk menjual berbagai macam makanan, gorengan dan kue basah."
"Oh, ya udah."
Mobil kemudian berhenti di sebuah warung nasi uduk dan makan di sana. Tama makan nasi uduk dan Mei makan gorengan dan kue basah yang tersedia di sana. Pemuda itu menikmati makanan sederhana itu, sehingga ia menghabiskan nasi uduknya pagi itu walau dalam porsi yang lumayan banyak. Mei sampai takjub melihat makan pemuda itu yang cukup banyak. "Kakak biasanya makan sepotong roti, tapi sekarang makan sepiring nasi, apa gak kebanyakan ya?"
"Kekenyangan aku," Tama mengusap perutnya.
Mei hanya menahan tawa. Setelah sampai di sekolah, Tama ternyata harus menahan kantuknya karena kekenyangan makan. Jam pelajaran kedua, Tama benar-benar tertidur. Sebelum jam pelajaran kedua di mulai, ia sudah melarikan diri ke kantin. Ia tidur di sana.
Setelah puas tidur, pemuda itu terbangun sendiri sambil membersihkan air liurnya. Ia terkejut melihat Bella sedang duduk di seberang mejanya. "Mmh? Udah lama lo di sini? Lo lagi merhatiin gue tidur ya? Ganteng kan gue?" Ia tak dapat menahan tawa ketika Bella mengerucutkan mulut. "Nape lo tiba-tiba mau duduk sama gue, padahal biasanya lo kalo dipanggil, ogah nengok."
"Udah bel tuh. Lo, bisa pinjemin gue duit gak? Ntar gue ganti. Lima juta aja."
"Mmh? Nape tiba-tiba lo pinjem duit? Emang lo gak punya duit sebanyak itu? Babe lu bangkrut?"
"Enak aje! Kartu gue bermasalah makanya pinjem dulu. Entar kalo udah bener, gue kembaliin kok. Berikut bunganya. Jangankan 2 kali lipat, 3 kalo lipat juga gue kasih. Tenang aja." Bella menyodorkan tangannya.
Bella kesal seakan-akan pemuda itu memperlambat pemberiannya, padahal ia sedang terburu-buru dan tak ingin teman-teman yang lain tahu.
"Aku hanya pegang 2 juta. Apa lo mau ditranfer?"
"Aku mau cash(tunai), sekarang!" Wajah gadis itu terlihat khawatir.
"Apa ikut gue, pulangnya?"
Bella mengerut kening. "Dih, ogah. Ya udah, siniin aja 2 jutanya. Ntar gue kabarin, kapan dipulanginnya." Bella kembali menyodorkan tangannya.
Tama mengeluarkan dompetnya dan memberikan pada Bella uang itu. "Nih, gue kasih aja ke elo, gak usah dikembaliin." Ia memberikannya pada gadis itu karena ia menduga keluarga Bella mungkin sedang dalam masalah keuangan sebab tak mungkin ia yang tadinya terkesan jual mahal tiba-tiba mendatanginya dan pinjam uang sebab mereka bukan teman akrab.
"Makasih ya?"
"Eh, gak papa."
Saat itu Mei melihat Tama menyerahkan sejumlah uang yang tidak sedikit pada Bella dan juga disaksikan Tristan di sampingnya yang mulai menghasut.
"Apaan tuh? Bayar cewek? Apa lu tau, Bella sekarang digosipin sebagai cewek panggilan? Pantesan Tama buru-buru keluar. Janjian rupanya dengan Bella."
Mei terperangah. Ia tidak tahu hubungan Tama dengan Bella karena ia selalu mendampingi pemuda itu tanpa pernah tahu bagaimana mereka berhubungan. Apakah ada waktu di mana mereka sempat bertemu tanpa ia mengetahuinya? Mei merasa bodoh. Ingin sekali saat itu ia marah, tapi ia merasa tak berdaya.
"Makanya jangan percaya sama Bos lu, dia tukang bohong. Lihat, dia deketnya sama cewek murahan kayak gitu. Dia gampang nyepelein cewek. Mending lu berhenti dari dia. Gue bayar kompensasinya berapapun biayanya."
__ADS_1
Tapi yang diajak ngobrol malah terlihat diam dan memandangi Bella yang segera beranjak meninggalkan Tama sendirian, dengan tatapan tak percaya.
Tristan mengerut kening. Kenapa Mei diberi tahu malah terlihat kecewa? Tak mungkin kan dia suka pada Tama?
Tama melihat kedatangan Mei. "Mei!" Ia beranjak berdiri tapi Mei malah menatap ke arah lain dan meninggalkannya.
"Mei, Mei!"
Tristan dengan senangnya mengejar Mei dan menatap sinis pada Tama. Inilah hari kemenangan yang ditunggu-tunggu olehnya. Sebentar lagi gadis itu bisa dibujuk untuk berhenti bekerja dari Tama dan beralih padanya. Betapa indahnya hidup ini, ia tersenyum.
Kok dia jalan sama Tristan sih, Tama menggebrak meja.
Mei, tampak kesal. Ia tak menyangka Tama yang terlihat serius beberapa hari ini kembali membuat ulah dengan berhubungan dengan cewek penjual diri. Padahal ia sangat menghormati Bosnya yang akhir-akhir ini mulai serius bekerja.
Kenapa dia membayar Bella? Bukannya ia model profesional kenapa jadi jual diri begitu? Apa mereka akan ketemuan nanti di luar. Hah!Mei benar-benar kesal. Rupanya semua lelaki sama saja, kalau punya banyak uang mereka lupa sama yang namanya kesetiaan. Kesetiaan? Eh?
Mei menyadari ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Kenapa juga aku marah Tama berhubungan dengan siapa? Kan aku tahu dia memang suka sama Bella sejak dulu. Terus, kalo mereka deket, bukannya bagus?
Resahnya belum berakhir. Ia membayangkan Tama mencium Bella seperti yang dilakukan padanya waktu itu, hanya saja Bella membalasnya. Mei semakin kesal. Rasanya, hatinya serasa ditusuk duri yang banyak sekali.
"Mei, lo kok diam? Itu antriannya udah jalan tuh, kok kamu masih di sini." Tristan memberitahu.
Mei sadar ia baru saja melamun. Ia kembali merapatkan barisan. Sementara Tama kembali ke kelas karena masih kenyang dan ia kesal melihat Tristan masih mengekor pada Mei.
Tristan merasa di atas angin. Ia bisa ngobrol sepuasnya dengan Mei tanpa gangguan Tama.
"Lo kerja ma gue, kenapa sih? Gue sanggup bayar lo 2 kali lipat tapi kerjaan gak sebanyak yang diberikan Tama sama lo."
Mei hanya tersenyum. Ia tidak ingin menanggapi soal ini karena rumit.
"Gimana kalo ntar malem kita jalan-jalan cari kulineran?"
"Gak ah, gue banyak kerjaan Tris."
"Ck, lu sih Bos kayak gitu didengerin. Sekali-sekali bolos aja kenapa sih! Memangnya kamu kuat pagi-siang-malam kerja terus gitu? Paling Bosmu ntar malem pergi sama Bella, nah kamu mau sendirian di rumah?"
"Gak tau deh! Lihat nanti aja ya?" Mei mulai tersenyum.
"Nah, gitu dong." Tristan mulai menyuap makanan dengan senyum terbaiknya.
---------+++--------
Kenzo sibuk dengan layar laptop hingga tak menyadari Leka telah masuk ruang kerjanya. Ia mengetahui setelah istrinya itu mengalungkan tangannya ke leher pria itu dari belakang. "Oh, Leka." Ia mendongak sambil menyentuh tangan wanitanya di dada.
Wanita itu mendekap suaminya erat. "Aku ingin yang hot-hot." Bahasa Inggris Leka terkadang masih terdengar aneh, tapi ia berusaha untuk mengimbangi suaminya.
"Apa?"
"Apa kamu tidak punya mimpi yang sama denganku?"
"Apa sayang," Kenzo pun mulai belajar memanggil istrinya dengan sebutan mesra, walaupun itu hanya saat berdua saja.
"Melihat Kenzo Junior."
__ADS_1
Kenzo tertawa pelan. Ia melirik istrinya yang sudah tidak tahan.