Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Bertahan


__ADS_3

"Kalau begitu kami akan meluaskan pencarian di sekitar sini dulu, membuka kemungkinan mereka terlempar saat truk terjatuh. Untuk sementara kita akan tutup 2 jalur ini menjadi 1 jalur dan akan mendirikan tenda darurat di sini," Komandan polisi itu memutuskan.


"Bagaimana kalau adik saya dibawa si penculik ke tempat lain," tanya Kenzo memberi alternatif.


"Itu juga kami pikirkan makanya semua tempat arah keluar akan kami blokir dan foto juga akan kami sebar jadi mobil dan truk yang lewat akan kami periksa semua."


Kenzo pun memberi tahu Chris. "... Maaf mengganggu Om, malam-malam begini urusan keluargaku, tapi aku merasa perlu mengatakannya karena Om dekat dengan Tama."


"Oh, gak-gak. Om juga merasa bertanggung jawab karena Omlah yang mengirim Tim Audit ke sana. Om lupa me-warning(memberi peringatan) Tama. Heh, jadi begini jadinya." Chris mengurut dahi.


"Maaf jadi merepotkan Om."


"Tidak apa-apa Kenzo. Ayahmu juga menitipkan kalian pada Om, jadi kalau terjadi apa-apa, Om juga turut bertanggung jawab."


"Tidak begitu Om. Justru aku yang paling tua mengemban amanah ini malah membiarkannya," ucap Kenzo menyesal.


"Well, ini sudah terjadi. Yang penting kita maksimalkan saja pencarian. Bagaimana dengan Sekretaris itu?"


"Sudah ditangkap di rumahnya sama polisi, tinggal sekarang dicari tahu siapa-siapa saja yang terlibat."


"Mmh ... tinggal kita berdoa saja, agar Tama selamat. Ngomong-ngomong dia bukannya sama Bodyguard perempuannya itu ya?"


"Oh iya Om. Makanya aku sedikit lega karena Tama itu penakut orangnya. Walaupun aku belum melihat sepak terjangnya, tapi Tama kelihatannya sangat bergantung dengan Bodyguard-nya itu."


"Pencariannya sejauh ini bagaimana?"


"Masih 2 alternatif Om, aku belum tahu antara terlempar dari truk atau dibawa penculiknya. Sejauh ini, dalam interogasi sekretaris itu menolak semua yang dituduhkan padanya termasuk penculikan itu Om, hah ... aku harus percaya atau gimana? Berarti kalau Tama jatuh bersama truk itu ...." terdengar suara Kenzo seperti orang yang kesulitan bernapas.


"Tidak ada yang tidak mungkin Kenzo, berdoalah agar ia selamat walaupun kecil kemungkinannya."


"Iya ...." Kenzo kembali menghela napas.


-----------++++--------


Awan bergeser membuat bulan timbul dan memberi sedikit cahaya. Sosok itu mulai disinari cahaya rembulan dari atas kepalanya. Perlahan tapi pasti sosok itu mulai terlihat wajahnya seiring ia mendekati Tama dan Mei yang bergerak mundur pelan-pelan menatap seseorang yang berdiri di hadapan mereka. Seorang pria berwajah sederhana yang berjongkok di depan Mei. "Au iawa?(Kamu siapa?)" Ternyata seorang pria tuna wicara. Pantas saja dia mengejar tak bicara. Ia tak tahu bagaimana cara memanggilnya sedang bicara saja ia kesulitan.


"Mmh?" Mei yang bingung, bernapas lega. Pria ini pastinya bukan ancaman. Gadis itu kemudian menceritakan apa yang terjadi dengan mereka.


Pria itu memang mendengar ada benda jatuh yang sangat keras karena itu ia keluar mencarinya. Ia melihat truk yang rusak itu dan melihat sopir yang telah meninggal dunia di dalam mobil tersebut tapi ia tidak mengira masih ada penumpang lainnya di dalam truk itu. Dalam perjalanan pulang ia bertemu Tama dan Mei. Ia kemudian membawa mereka ke gubuknya.


Sebuah rumah mungil dari kayu yang sangat sederhana, pria itu tinggal dengan istri dan anaknya yang masih kecil di sana. Mereka menawarkan makan malam yang sederhana, rebusan singkong.


Pria itu karena kesulitan bicara terpaksa tinggal di tengah hutan karena tidak punya pekerjaan dan sering di-bully warga kampung. Ia lebih damai tinggal di sana karena tidak ada yang mengganggu keluarga kecilnya.


Perumahan warga sangat jauh dari sana hingga ia memutuskan untuk menanam sendiri bahan makannya. Ubi, singkong, cabai, bawang, pisang dan ia akan menjualnya ke kota untuk membeli bahan makanan lain seperti gula dan garam. Mereka hidup sederhana tapi bahagia.


Anaknya yang masih kecil menatap ke arah Mei. Bocah itu mungkin sekitar 4 tahun mulai mendekat ke arah gadis itu.


"Dek, Dek, sini Dek!" Tama terlihat tertarik pada anak laki-laki kecil itu. Sepertinya ia ingin diajak bermain. Ia mendudukan anak itu di pangkuan. "Mau makan bareng kakak Dek?" Ia menyodorkan singkong rebusnya.


Bocah itu hanya menggeleng.


Pria itu kemudian mendatangi mereka yang sedang duduk di bale-bale depan rumahnya sambil tersenyum. "Ia uah agan.(Dia sudah makan.)"


Tama karena kelaparan ia lahap memakan singkong rebus itu, bahkan ia menghabiskan sepiring singkong rebus setelah dikurangi 3 potong yang dimakan Mei. Gadis itu sampai takjub melihat Tama yang begitu antusias memakan singkong rebus itu sampai tandas. Istri pria itu bahkan memberi teh hangat yang juga langsung diminum Tama.


"Ah, panas!" Pemuda itu berhenti meminumnya.


Mei tertawa. "Minumnya pelan-pelan Kak!"


"Gak tau kenapa, singkong rebus ini rasanya enak banget."


Orang tua Tama walaupun orang kaya tetapi sering mengajarkan kepada anak-anaknya untuk hidup sederhana. Kadang-kadang Arya membawa mereka ke pasar, makan di pinggir jalan atau kadang-kadang bersantai dengan keluarga mendaki gunung hingga anak-anaknya tidak merasa canggung tinggal di manapun.


Tiba-tiba 3 orang pria mendatangi mereka dengan pakaian hitam. Mereka terkejut.


"Maaf, apa Anda yang bernama Pertama Wiraguna?" Salah satu pria mendekati Tama dan bicara tegas ala polisi.

__ADS_1


"Oh, iya benar." Pemuda itu menegakkan punggungnya.


"Kami dari kepolisian sedang mencari Anda. Kakak Anda sedang menunggu di atas."


"Oh, akhirnya ... alhamdulillah."


Sebelum pergi Tama sempat membujuk pria itu untuk ikut dengannya tapi pria itu menolak. Pria itu sudah merasa bahagia dengan kehidupannya dan berharap bisa menolong banyak orang yang tersesat di hutan dengan tinggal di sana. Tama dan Mei akhirnya pamit.


Ketiga pria itu membawa Tama dan Mei kembali ke tempat awal mereka jatuh setelah sebelumnya menberi tahu Pos Pantau di sana bahwa mereka telah menemukannya.


Tak lama, mereka diangkut dengan tali ke atas. Tama yang lebih dulu sampai ke atas disambut Kenzo.


"Ya allah, kamu selamat ...." Kenzo memeluk Tama dengan berurai air mata. Ia tak menyangka keduanya selamat tanpa kurang suatu apapun.


"Kakak ...." Tama pun tak kalah lega dengan air mata bahagia.


Kenzo melihat Mei juga dinaikkan tapi segera dibawa menuju Ambulan. "Kenapa kalian bisa selamat, aku bingung," tanya Kenzo pada adiknya.


"Mei Kak. Pokoknya ceritanya panjang," Tama juga melihat Mei dimasukkan ke dalam Ambulan.


"Aku benar-benar berhutang nyawa padanya." Kenzo menatap ke arah Ambulan di hadapannya.


"Dua kali Kak."


"Apa?"


"Aku gak ada waktu Kak, aku harus menemani Mei,"


"Eh tunggu!" Belum sempat Kenzo bicara, Tama sudah berlari mendatangi Ambulan. Ia segera masuk ke dalam menemani gadis itu.


Kenzo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak apa, ia akan bersabar mendengar cerita mereka, yang penting keduanya selamat dan bisa segera pulang ke rumah. Ia menelepon Chris.


"Mei."


"Apa?"


"Hah?" Mei terlihat bingung. "Kenapa kita harus ke rumah sakit sih Kak? Aku kan gak apa-apa, cuma keseleo doang."


"Mmh, kita kan habis kecelakaan. Mungkin mastiin kita gak kenapa-kenapa."


"Memang kita gak kenapa-kenapa," Mei memastikan.


"Tadi kepalamu pusing waktu jatuh."


"Iya, tapi sekarang gak kenapa-kenapa!" Mei berusaha mengelak.


"Udah, ikut aja Mei! Kamu suka gitu."


Mei merengut dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


Di rumah sakit, Mei diperiksa secara keseluruhan. Sambil menunggu Mei, Kenzo yang ikut ke rumah sakit bertanya bagaimana mereka sampai selamat. Tama menceritakan kisahnya.


Sungguh, Kenzo hampir tak percaya mendengar cerita Tama, tapi pada kenyataannya memang keduanya selamat berkat pengetahuan yang dibagikan Mei pada Tama. Sebuah ilmu pengetahuan yang butuh keberanian untuk mencobanya.


"Oya. Ini dompetmu tapi hp-mu dan Mei hancur di tempat kejadian."


"Makasih Kak." Tama menerimanya. "O ya, aku menginap Kak."


"Hah, menginap? Bukannya pulang?"


"Aku ingin menginap."


"Kenapa, apa Mei sakit?" Kenzo mengerut kening.


"Kakak pulang saja sudah malam." Tama menyentuh bahu Kakaknya dan tersenyum lebar.


"Eh, tapi ...."

__ADS_1


"Pulang Kak, kasihan Mbak Leka." Tama kembali tersenyum dan meninggalkan Kenzo sendirian di kursinya.


Kenzo melongo, tapi kemudian tersenyum. Ia bisa merasakan ada yang beda dari perhatian Tama pada Mei. Entah adiknya menyadari atau tidak tapi ia bisa merasakan perhatian Tama yang sedikit berlebihan. Mereka masih anak-anak, biarlah mereka berteman dulu, perkara cinta biar takdir yang menentukan kemudian.


Mei dibawa ke sebuah ruang perawatan VIP. Tama ikut menginap di sana.


"Kak, katanya aku gak apa-apa, kenapa aku ada di sini?" ujar Mei dari atas tempat tidur.


Tama mendatangi tempat tidur Mei. "Aku yang pesan. Cuma semalam kok, biar besok pagi kita bisa kunjungi Ayahmu."


"Jadi aku ngak sakit kan?"


"Ngak."


"Alhamdulillah ... tapi Kakak tidur di mana?"


"Aku di sofa saja."


"Heh?"


"Ngak papa." Tama melangkah ke arah sofa. "Aku sehat kok. Tuh!" Ia menggerak-gerakkan tubuhnya. "Lagi pula di sini juga ada tempat tidur."


Tama membuka dudukan sofa. Ia kemudian berbaring di sana. Mei kemudian tayamum dan sholat di atas tempat tidur.


Pemuda itu juga ikut-ikutan sholat. Ia malu karena gadis itu hampir tidak pernah meninggalkan sholatnya. Setelah itu mereka tidur.


Paginya, setelah sholat Subuh, Tama membeli sarapan dan mereka sarapan di kamar.


"Nanti aku belikan tongkat ya?"


"Ngak usah Kak. Ayahku bisa kok benerin ini."


"Oh ...." Tama terkejut. "Tapi bagaimana caranya kita ke sana?"


"Nanti bisa kok pegang-pegang dinding."


"Tidak ah, ayo aku gendong kayak kemarin."


"Apa? Malu ah, nanti diliatin orang." Mei hampir tertawa.


"Eh, bener. Biar cepet!" Tama membereskan makanan di atas tempat tidur dan membuangnya ke tempat sampah. Ia kemudian memberikan punggungnya pada Mei. "Ayo cepetan!"


"Tapi Kak ...."


"Ayo!"


Karena didesak terus, Mei akhirnya naik ke punggung Tama. Mereka keluar dengan Mei membukakan pintu. Sepanjang jalan menuju lift, orang memperhatikan mereka yang terlihat lucu dan unik. Ada yang bahkan mengira mereka kakak adik padahal wajah mereka sama sekali tidak mirip.


Mereka masuk lift dan Mei menekan tombol. Setelah sampai, mereka keluar. Keduanya kemudian memasuki area ruang perawatan kelas 3 yang di tutup dengan dinding dan pintu kaca. Langsung Mei bertemu Ibunya yang kebetulan keluar kamar.


"Ibu." Buru-buru gadis itu turun, walaupun ia tidak bersepatu. Ia berjalan berpegangan pada dinding.


"Kenapa kalian ke sini?"


"Mau jenguk Bapak Bu," jawab Tama menganggukkan kepala.


"Mei boleh masuk, tapi kamu tidak."


"Lho, kenapa Bu?"


"Ayahnya tidak tahu kalau Mei bekerja sebagai Bodyguard."


"Hah?"


______________________________________________


Author Raf Sinary dengan tema cerita cinta yang cukup rumit dari sebuah pesantren. Judulnya Pernikahan Terpaksa Tamara. Kuy, kepoin yuk!

__ADS_1



__ADS_2