Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Pulang


__ADS_3

Rafi mulai menguliti wajahnya. Agak sedikit kesulitan di awal tapi kemudian ia merobeknya. Memudahkannya melepas topeng itu.


Tak lama dengan mobil, mereka sampai di sebuah area pertokoan dan mereka turun. Romi menunggu bersama anak buahnya di depan sebuah mobil. Anna memberikan kunci mobilnya pada Romi.


"Mungkin kita akan sulit bertemu lagi, terima kasih atas bantuannya ya Rom," ucap Anna pada Romi.


Rafi menepuk bahu Romi. "Thank's."


Romi tersenyum. "Kamu gak ganti baju Bos?"


"O, iya. Baju gantinya ada di mobil kan?" tanya Anna.


"Ada."


Rafi bergegas ke mobil dan berganti baju di sana.


"Romi. Kapan-kapan mainlah ke Amerika. Kami akan menerimamu dengan tangan terbuka kalau kau berniat ganti profesi."


Romi tertawa. "Lihat saja bagaimana nasib akan membawaku."


"Bagaimana dengan Kepala Sipir itu?"


"Akan aku lepaskan dia di suatu tempat 1 jam setelah pesawat kalian tinggal landas."


Anna kemudian masuk ke dalam mobil yang di sediakan Romi. Bersama suaminya dan seorang sopir, mereka berangkat.


Terdengar hp berdering. Lydia yang dalam posisi menunggu di atas tempat tidur, segera meloncat turun dan mengambil hp-nya di atas meja nakas. Ia menjawabnya. "Halo Mommy."


Ia mendengarkan sesuatu. "Iya Mom, iya." Kemudian ia mematikan hp-nya dan segera menyandang tas ranselnya. Segera ia turun ke lantai bawah.


"Lydi, kau mau ke mana, katanya gak enak badan?" Lydia bertemu Reina di ruang makan.


"Di jemput Mommy."


Reina mengerut dahi. "Mmh? Mommy-mu datang?"


"Iya. Sebentar lagi sampai." Lydia melangkah ke arah pintu depan.


Reina mengikuti. "Eh, kamu mau ke mana? Mommy-mu tidak masuk dulu ke dalam rumah?"


"Tidak, katanya langsung berangkat. Lydi di suruh nunggu di pagar."


"Oh, Mama temani ya?" Reina keluar bersama Lydia. Aneh, tidak biasanya dia membawa Lydi tanpa bilang apa-apa kepadaku? Apa dia bilang pada Chris ya?


Di depan pagar mereka berdiri. Tak lama sebuah mobil sedan berwarna hitam datang menghampiri. Dari kaca mobil terlihat Rafi dan Anna duduk di belakang.


"Rafi?"


Rafi tersenyum. "Kau sehat-sehat saja kan?"


"Iya."

__ADS_1


"Daddy!" teriak Lydia yang melihat ayahnya ikut di dalam mobil itu. Ia mengira akan pergi jalan-jalan dengan ibunya saja tapi ternyata Ayahnya juga ada dan sudah keluar dari penjara. Lydia langsung memeluk Ayahnya saat masuk ke dalam mobil.


"Eh, Mbak. Aku pamit ya? Aku sudah gak bisa lagi datang ke Jakarta. Lydia aku bawa. Untuk selamanya. Aku membawa kabur rafi dari penjara dan dia buron. Jadi sudah tidak mungkin kembali kemari. Kami akan bersama." Anna menggenggam tangan suaminya. "For good. Wish me luck.(untuk kebaikan bersama. Doakan kami ya?)"


"Oh, jadi kalian akan membawa Lydia?" Reina terkejut. Kalimat yang tiba-tiba itu membuat ia sempat bingung.


"Mommy, aku ke U.S?(Amerika)" tanya Lydia bingung karena ia tidak menyangka akan pergi ke Amerika dengan orang tuanya tidak seperti yang di katakan ibunya kemarin, jalan-jalan.


"Tadinya mommy gak yakin bisa lolosin Daddy karena sudah lama sekali mama gak ngerjain itu, tapi ternyata tuhan mengabulkan doa mommy. Jadi kita bisa pulang bareng Daddy ke US Sayang." Anna merapikan rambut Lydia.


"Tapi aku tidak mau kalau tidak ada Mommy." mulut Lydia merengut.


"Mommy akan tinggal denganmu Sayang."


"Bener?"


"Iya."


Lydia langsung memeluk Anna. " Tapi ...." Ia melepas pelukan dan menoleh ke arah Reina. Ia segera turun kembali dan mendatangi wanita itu. Reina tidak bisa berkata-kata tapi air matanya terlanjur bercucuran menatap gadis remaja di hadapannya dan itu menular pada Lydia. Ia menangis memeluk Reina. Biar bagaimanapun Reina sudah seperti ibunya sendiri yang membesarkannya sejak dari bayi. Tidak ada ibu yang seperhatian Reina. Hanya wanita itu yang selalu ada untuknya saat orang tuanya sedang bermasalah. Dia segala-galanya untuk Lydia.


"Mama ...." Isaknya.


"Sudah ya, Mommy-mu sudah ada sekarang bersama Daddy-mu. Kamu gak perlu cemberut lagi." Reina sendiri tak bisa menahan air matanya yang turun deras karena ia sendiri pun berat melepas Lydia walaupun pada orang tua gadis itu sendiri sebab ia sudah menganggap dan merasa Lydia itu seperti anaknya sendiri. Sangat sulit mengikhlaskannya. "Mama akan jenguk kamu di sana, ya?" Ia membesarkan hati gadis itu.


"Mama janji ya, tengok Lydi ...." Lydia masih menangis. Ia mendongak menatap Reina.


Reina berjongkok, menggenggam lengan gadis itu. "Makanya cepat gede di sana ya?" Ia menggoyang-goyangkan lengan itu.


Reina tak kuasa tidak menangis pula tapi ia berusaha menahan air matanya. "Jangan memberatkan Mama Sayang. Pergilah ...."


Pelan tapi pasti Lydia masuk ke dalam mobil. Setelah pintu mobil ditutup dan mobil berjalan, Lydia masih melihat dari kaca belakang mobil, tubuh Reina yang mulai menjauh. Lydia masih menangis.


Setelah mobil itu menghilang, Reina tak tahan untuk kembali lagi menangis. Tangisan yang berusaha ditahannya sedari tadi melihat kepergian Lydia yang begitu tiba-tiba di depan matanya. Ia berlari ke dalam rumah dan menelepon Chris. Ia mengadukan semua perasaannya saat itu.


"Honey, my dear.(Cintaku Sayangku) Aku akan segera pulang." janji Chris.


------------+++-----------


Kenzo mendatangi hotel itu dan mengecek ke bagian resepsionis. Saat Kenzo menyebutkan nama orang tuanya, mereka terkejut dan terlihat riuh. Salah seorang dari mereka memberanikan diri maju dan bicara dengan Kenzo. "Eh, to. Kenzo Wiraguna sama desuka?(Apakah anda Tuan Kenzo Wiraguna?)"


"Dou site watashi no namae ga ....(kenapa nama saya ....)"


Akhirnya resepsionis wanita itu memberitahu bahwa sejak kamar itu disewa oleh Arya, kamar itu tidak pernah bisa disewakan untuk orang lain lagi karena kedua orang tua Kenzo meninggalkan semua barang-barangnya saat pergi dan meninggalkan secarik kertas bertuliskan bahwa anaknya yang bernama Kenzo akan datang dan melunasi biaya sewa hotel itu selama barang-barangnya masih ada di sana.


Kenzo tentu saja heran mendengarnya. Untuk apa kedua orang tuanya pergi meninggalkan barang-barangnya di hotel, karena mereka bukan warga negara Jepang. Jadi ke mana mereka pergi, sedang Arya, Ayah Angkatnya itu tidak bisa berbahasa Jepang. Ia juga sempat mengunjungi Ojiichan, tapi sepertinya ia tidak tahu menahu karena dia pun menganggap anaknya ikut jadi korban pesawat naas itu. Ini benar-benar aneh! Ke mana sebenarnya mereka pergi?


Karena penasaran, Kenzo meminta untuk bisa melihat kamar Arya yang ditinggalkan tanpa membawa barang-barangnya itu.


Pegawai hotel wanita itu membawa Kenzo ke kamar orang tuanya. Di sana Kenzo melihat sendiri barang-barang milik orang tuanya masih utuh ditinggal di sana. 2 buah koper, ada pakaian yang telah digunakan masih tergeletak di atas tempat tidur. Hanya tempat tidur dan sampah makanan saja yang telah dibersihkan. Melihat baju kotor yang masih berada di luar seakan-akan mereka pergi meninggalkan kamar dengan tergesa-gesa. Ada apa? Apa mereka ....


"Ano ... aru tegami nan desu keredomo ....(Itu ... masalah surat ya ....)" Pegawai itu seperti ragu-ragu berbicara.

__ADS_1


"Tegami?(surat?)"


"Eh! Hayain desu kedo ... asu sumori nan dakara.(Ya, terlalu cepat sih ... harusnya besok)." Wanita itu memberikan surat Arya yang hanya dilipat 4.


Ada nama dan nomor telepon Kenzo tertulis di atas kertas itu dan tanggal besok. Ia membuka lipatannya. 'Kalau kamu membaca surat ini, ayah minta kamu pulang. Ayah tidak apa-apa. Ada urusan yang harus ayah selesaikan di sini. Setelah itu ayah akan kembali. Maaf membuatmu khawatir. Bayar saja biaya kamar hotel itu hingga beberapa hari ke depan. Mungkin bayarkan seminggu lagi. Kalau kamu berniat menunggu, usahakan jangan keluar hotel. Tinggal saja di kamar, tapi ayah tidak menyarankan karena sekarang situasi di Jepang justru tidak aman untukmu. Sebaiknya kamu menunggu di luar negeri saja sampai ayah menyelesaikan masalah ini. Ayah janji, setelah semuanya selesai ayah dan Mama akan segera pulang ke rumah. Arya.'


Kenzo menghempas surat itu di tangan. Apa ini? Pulang? Jadi benar ayah tidak naik pesawat itu? Tapi ayah ke mana? Kenapa Jepang jadi tempat yang berbahaya untukku? Pria itu kemudian berpikir lagi. Bukankah ayah tiba-tiba ingin memperpanjang perjalanannya di Jepang tapi setibanya di sini malah dipersingkat mau buru-buru pulang, tapi kemudian malah jadinya meninggalkan kamar hotel secara terburu-buru seperti ....


Kenzo mengedarkan pandangan ke sekeliling. Apa Ayah ... diculik? Benarkah?


"Kare wa, dokoe iku noka wakatta?(apa kamu tahu, dia pergi ke mana?)"


"Aru futari ga issho ni ikou.(mereka pergi dengan 2 orang lainnya.)"


"Futari?(2 orang.)"


"E, wakai hito desu.(Ya, orangnya masih muda.)"


Setahu Kenzo Mariko tidak pernah menceritakan punya saudara atau kerabat kepada mereka, anak-anaknya. Ia kemudian ingat Touru, teman Mariko yang pulang ke Jepang bersama anak istrinya.


"Otoko to onna?(laki-laki dan perempuan?)"


"Futariwa otoko desu.(Keduanya laki-laki)"


Kenzo benar-benar tidak tahu Ayah dan Ibunya pergi dengan siapa tapi ia memutuskan untuk pulang seperti permintaan Ayahnya. Ia kemudian membayar sewa kamar itu.


Saat ia sedang berjalan di lorong hotel tempatnya menginap, ia memperhatikan ada orang-orang yang bergerombol dekat dengan pintu kamarnya. Tiba-tiba salah satu dari mereka ada yang melihat Kenzo lalu berteriak riuh. Mereka mengejar Kenzo.


"Eh, Pak. Wartawan sepertinya." Seorang Bodyguard Kenzo langsung menghalangi pandangan dengan berdiri di hadapan pria Jepang itu. Lampu kamera mulai menyambar ke sana kemari.


Kenzo segera melangkah mundur. Kilatan kamera dan panggilan riuh masih mengejarnya. Bodyguard-nya yang berada di belakang langsung menariknya ke arah tangga dan masuk ke sana.


"Ini kan lantai 5?" ucap Kenzo membayangkan anak tangga yang harus dilalui.


"Gak bisa ya Pak? Ok, saya gendong saja."


"Eh?" Kenzo terkejut saat Bodyguard bertubuh kekar itu memanggulnya di bahu dan menuruni anak tangga dengan cepat. Karena satu tangannya gips, ia berpegang pada baju Bodyguard-nya dengan satu tangan.


Rasanya aneh. Ia ingin tertawa karena diperlakukan seperti anak kecil yang tidak bisa lari, padahal ia bisa lari menuruni anak tangga itu bersama Bodyguard-nya sedang Bodyguard yang satu lagi mengikutinya dari belakang.


Mereka akhirnya lolos dari kejaran wartawan. Pria itu menurunkan Kenzo dan mengatur napasnya pelan. Kedua-duanya. Kenzo tersenyum. "Kau hebat. Kalian berdua akan aku traktir makanan enak hari ini. Pilih saja dan makan sepuasnya."


"Wah, terima kasih Bos," jawab yang memanggulnya tadi, senang.


Kenzo akhirnya kembali ke kamar hotel orang tuanya. Ia memutuskan tinggal di sana untuk sementara waktu.


______________________________________________


Halo reader. Masih semangat kan? Jangan lupa like, komen, vote, hadiah dan koin untuk author ya? Ini visual Anna Akhyar. Mommynya Lydia. Salam, ingflora.💋


__ADS_1


__ADS_2