
"Jadi tolong jangan masuk karena akan menambah runyam suasana."
"Maksudnya?"
"Oh, apa Mei belum memberitahumu kalau Ayah Mei sangat keras dalam melindungi putrinya jadi tidak boleh sembarang orang bisa mendekatinya apalagi mempekerjakannya sebagai Bodyguard."
"Apa?"
"Jadi untuk sementara Ibu belum bilang sama suami Ibu tentang pekerjaan Mei yang sekarang sebagai Bodyguard itu. Apa kamu mengerti maksud Ibu?"
Tama melongo. Ia menatap Mei karena kebingungan.
"Maaf bukan Ibu mencurangimu tapi ini keputusan sepihak Ibu pada waktu itu. Ibu butuh uang dan kamu menawarkan pekerjaan pada Mei, di mana kamu juga dirugikan akibat mobilmu yang rusak. Ibu benar-benar minta maaf tapi sebaiknya kamu jangan masuk. Tunggulah saja di luar. Kalau tidak, Mei kemungkinan akan berhenti bekerja sebagai Bodyguard bila kau tetap memaksa masuk dan bicara padanya."
Kenapa jadi begini sih? Perasaan gak gitu ceritanya. Pantesan dulu Mei susah diajak kerja denganku. Mei begitu karena berusaha mematuhi perintah Ayahnya. "Apa tidak bisa dibicarakan baik-baik ya? Rasanya tidak enak sembunyi-sembunyi begini."
Mei hanya menunduk. Ia tak tahu harus menjawab apa. Dulu ia sudah berusaha menolak tapi Ibunya malah memaksa karena kebutuhan uang yang mendesak. Sekarang masalah ini pelan-pelan menjadi bumerang bagi keluarganya sendiri karena Tama tidak merasa melakukan tahapan yang salah dengan meminta izin Ibunya, hingga ia mempertanyakan kenapa kini ia harus sembunyi-sembunyi seakan-akan sudah melakukan kesalahan besar di belakang Ayah Mei.
"Ibu janji akan mengatakannya nanti setelah ia sembuh, tapi tidak sekarang. Apa Ibu bisa minta tolong padamu?" Ibu Mei menyatukan tangannya.
Tama terdiam, bingung. Ia sebenarnya paling tidak suka kalau harus disuruh sembunyi-sembunyi padahal ia tidak melakukan kesalahan. Ia tidak melakukan kejahatan tapi serasa disingkirkan. "Aku harus bagaimana, kok aku serasa jadi penjahatnya," Tama protes.
Mei dan Ibunya saling berpandangan.
"Ya sudah, aku tidak jadi menengok Ayah." Mei memutar tubuhnya dengan kaki sedikit pincang.
"Eh, tunggu Mei!" Tama menahan gadis itu.
Mei melirik Tama yang salah tingkah.
"Kamu ... masuk saja. Aku tunggu di luar." Tama tak berani menatap Mei. Ia mengalah.
Mei dibantu Ibunya masuk kamar perawatan Ayahnya.
"Kakimu kenapa?"
"Terkilir Bu."
"Oh."
"Mei?"
"Iya Yah."
Pintu kemudian tertutup. Tama tidak bisa lagi mendengarkan suara-suara dari dalam ruangan itu karena sudah tertutup. Yang ia tahu, saat menunggu lama ia mendengar jeritan suara Mei yang membuatnya panik. "Agghh!!!"
Saking paniknya, ia membuka pintu itu dan berlari masuk. "Mei, kamu kena ...."
Mei, Ayah Mei dan Ibunya menoleh ke arah Tama. Bukan itu saja, 3 orang pasien lainnya yang sekamar dengan Ayah Mei juga ikut menoleh. Rupanya kaki Mei sedang diurut Ayahnya sehingga ia berteriak kencang.
Sekarang Tama sudah masuk ruangan, apa yang harus dilakukannya? Damn!(Sialan!)
"Siapa dia Mei?" Ayah Mei melihat Tama dengan mengerut dahi. Ia melepaskan genggamannya pada telapak kaki Mei.
"Eh, itu teman." Mei mencoba menerangkan. Ia berdiri pelan-pelan.
"Teman? Sejak kapan kamu berteman dengan laki-laki?"
"Eh, pacar." Tama mencoba peruntungannya dari segala pertimbangan yang rumit, tapi itu malah memancing semua mata tertuju padanya.
"Pacar? Sejak kapan kamu pacaran? Apa yang kamu lakukan sejak Ayah tak di rumah, hem?" Kalimat Ayah Mei mulai memojokkan anaknya dan terlihat marah. Ia mulai panik mengingat Mei sendirian di rumah tanpa pengawasannya.
__ADS_1
"Mei tidak begitu Yah, Mei cari uang buat biaya Ayah berobat," jawabnya sambil menunduk.
"Dengan pacaran dengan anak orang kaya ini, heh? Jadi ia memberimu uang untuk biaya berobat ayah. Gitu?" Nada suara pria itu mulai meninggi.
"Bukan Yah, aku kerja."
"Jangan bohong pada Ayah Mei." suara pria itu tajam seperti mengintrogasi Mei.
"Bener Yah," Mei hampir menangis.
"Jadi apa?"
"Eh, Mei kerja di restoranku Pak," Tama mencoba menjawab.
"Restoran?" Pria itu menoleh pada Tama. "Kamu punya restoran?"
"Oh ... itu milik Ayahku," jawab Tama sedikit gugup.
Ayah Mei melirik Mei dan Tama. "Dan kamu tinggal di mana Mei sekarang? Jawab yang jujur!" ucapnya dengan nada tegas.
"Mmh, itu Yah. Tinggal sama dia." Suara Mei dikecilkan.
"Apa?" Seperti dugaannya, dan ini membuat Ayah Mei geram mendengarnya. "Kalau begitu kamu berhenti saja dan keluar dari rumah itu segera. Ayah tidak mau mendengar suara-suara sumbang di luaran mengenai anak perempuan Ayah."
"Ayah ...." Mei merengut tak tahu harus bagaimana.
Tama panik, Mei tak boleh keluar dari rumahnya. Tidak boleh. Ia masih membutuhkannya. Bagaimana ini? "Kalau begitu, bagaimana kalau aku melamarnya?"
Tidak hanya ketiga orang di hadapannya itu saja yang menoleh kaget pada Tama tapi ketiga orang pasien yang seruangan dengan Ayah Mei juga terkejut. Mereka yang tak sengaja mendengar jadi ikut memperhatikan Tama karena melihat kegigihan pemuda itu untuk mempertahankan pacarnya.
Mei yang paling syok mendengar penuturan pemuda itu. Ini bohong atau nyata, karena Tama mengawalinya dengan kebohongan. Apakah ini kebohongan yang beranak pinak? Kalau benar, ia hampir saja terpeleset mempercayainya.
"Kamu ... melamar anakku?" Ayah Mei hampir tak percaya. "Bukannya kalian baru saling kenal?" Itu mengingat, baru beberapa hari ia masuk rumah sakit.
"Kamu yakin dengan kata-katamu?" Ayah Mei menyipitkan matanya seperti mencari tahu tentang kejujuran Tama.
"Eh, yakin Pak," Tak ayal Tama tertunduk. Apa yang sebenarnya ia telah lakukan? Kenapa ia bisa berbohong sampai sejauh ini? Harusnya kan ini tanggung jawab mereka bukan aku karena aku yang membantu mereka, gimana sih? Kenapa aku jadi setolol ini, Tama mengutuk dirinya. Ia menoleh pada Mei yang terlihat membutuhkan banyak penjelasan darinya. Aduh Mei, aku sendiri tidak tahu kenapa aku jadi bicara seperti ini ya? Kan harusnya aku diam saja, pasti kalian punya solusinya. Hah ....
"Baik, bapak percaya dengan niat baikmu. Bapak akan mengunjungi rumahmu setelah bapak keluar dari rumah sakit."
Terdengar tepuk tangan dari 3 pasien lain yang berada dalam satu ruang yang sama. Mereka memberi selamat pada Tama dan Mei. Juga kedua orang tua Mei. Mei dan Ibunya walau sedikit risih, menerima selamat dari pasien-pasien seruangan dengan senyum yang dipaksakan. Tak lama Mei dan Tama pamit.
Mei berusaha berjalan mendahului, dengan kepala menunduk dan tangan dikepal geram. Ia melangkah lebar-lebar.
"Mei tunggu!" Tama berusaha mengejar dan berjalan sejajar dengan gadis itu. "Mei!"
Gadis itu bergeming sehingga Tama terpaksa meraih lengannya.
"Mei!"
Mei menoleh dengan kening berkerut dan wajah marah. Tama tahu, ini pasti akan rumit jadinya.
"Apa?"
"Ini ...." Tama tak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Ia sudah terlanjur basah masuk dengan cara yang salah.
"Apa? Apa???" teriak Mei ke wajah Tama.
Tama hanya menunduk. "Eh ...."
Dengan marahnya Mei menarik kerah baju Tama, ia menyeret pemuda itu hingga ke samping pintu toilet. "Kamu sadar gak sih? Yang kamu lakukan itu menyangkut hidup orang lain, hah? Jangan main-main dengan kata 'melamar' dan 'menikah', ngerti gak sih?" Mata Mei mulai memerah. Ingin rasanya ia menghajar pemuda itu.
__ADS_1
"I-iya, tapi Mei, kalau aku tidak berkata seperti itu Bapakmu tak akan percaya!" Tama mengeluarkan argumentasinya.
Mei memejamkan matanya. Ternyata benar dia hanya pura-pura. Huh! Entah kenapa di salah satu sudut hatinya ada luka yang membuatnya duka. Ada sedih yang membawa perih. Entah kenapa ....
"Brengsek," ucap gadis itu pelan. Ia melepas baju Tama dengan kasar.
"Mei dengar dulu ...."
"Kamu brengsek!" teriak Mei sambil menendang paha belakang pemuda itu menggunakan lututnya hingga terjatuh. Ia kemudian tak peduli dan meninggalkan Tama sendirian.
"Mei!"
------------++++----------
Aska terbangun dengan kepala pusing. Ia menyadari seseorang sedang berada dalam pelukannya. Ia terkejut. Sungguh luar biasa pagi ini, ia telah memeluk istri yang seharusnya sudah semestinya, tapi ... kenapa ia tak berpakaian? Apa yang terjadi semalam?
Monique tiba-tiba terjaga dari tidurnya. "Oh, Sayang. Kau sudah bangun? Aku tadi sudah mandi dan sholat. Kulihat kau masih nyenyak tertidur jadi tidak kubangunkan." Ia bangun dan mendekatkan wajahnya pada Aska sambil menyentuh hidung pria itu dengan jari telunjuknya. "Sayang, makasih ya semalam kamu sangat hebat. Aku tak berdaya melawan terjanganmu," ucapnya manja.
Astaga ... untuk kedua kalinya aku melakukan itu lagi? Aku sudah gila, apa? Aska memejamkan matanya tanda kesal.
Monique masih menelusuri hidung suaminya. "Kenapa, kamu mau lagi? Nanti malam saja ya, sekarang aku siapin sarapanmu dulu. Eh, pembantu kita ternyata bisa masak lho! Tadi dia masak nasi goreng. Mau coba? Aku siapkan dulu ya?" Ia turun dari tempat tidur dan bergegas keluar kamar.
Ah, Aska. Kenapa kau melakukan ini lagi? Bukankah kau tidak menginginkan istrimu, tapi kenapa sekarang kau malah tidur dengannya lagi? Pria itu kemudian mengacak-ngacak rambutnya, kesal. Brengsek! Kau memang pantas di sebut pria brengsek Aska, karena kamu memang pria brengsek! Pria Brengsek!!
Ah, tak aneh kalau Leka menjauhiku ....
Hp Aska berdering. Ia mengambil dari kantong celananya yang berada di atas lantai. "Halo Papa," ucapnya sambil mengurut-urut dahi. Pusingnya belum seluruhnya hilang.
"Apa kau tahu, adikmu Tama diculik orang semalam?"
"Mmh? Yang bener Pa?" Aska mengerut dahi.
"Tapi alhamdulilah selamat berkat Bodyguard-nya itu," Chris terdengar bangga.
"Oh, iya. Wanita kurus itu," Aska menanggapinya dengan datar.
"Hebat ya? Penampilannya sangat mengecohkan."
"Mmh. Perempuan," jawab pria itu sinis.
"Eh, jangan salah lho! Ia menyelamatkan Tama yang jatuh ke jurang. Mereka keduanya selamat."
Aska terkejut. "Yang bener Pa?"
"Iya."
Sementara itu taksi Tama sudah sampai di depan pintu utama rumah Kenzo. Mei keluar lebih dulu disusul Tama yang mengejarnya setelah membayar taksi.
Seorang pembantu yang baru saja membuka pintunya, bingung melihat Tama yang sedang mengejar Mei. Gadis itu terlihat tak peduli.
"Mei ... Mei!"
Kenzo, yang baru saja bermain piano dengan Runi juga melihat heran, termasuk Leka yang berada di sampingnya. Kenzo yang menggendong Runi mendatangi Tama yang terdiam di samping tangga. Ia juga menatap ke atas tempat Mei yang berlari masuk kamarnya.
"Ada apa?"
"Mei ngambek Kak, aku harus bagaimana?"
"Eh?"
____________________________________________
__ADS_1
Author Eveliniq dengan novel terbarunya, Cinta Online. Cekidot!