
Arya menutup pintu mobilnya dan melangkah ke arah toko bunga Reina. Di beranda sudah menunggu Chris yang duduk di samping meja kayu di samping pintu masuk.
"Jadi sedang mengurus pernikahan Salwa nih, makanya libur?" sapa Arya pada Chris dan kemudian duduk di hadapannya.
"Ya, baru 60 persen selesai. Masih banyak yang harus dikerjakan lagi, tapi kami sudah serahkan pada EO(Event Organizer) untuk mengurus semua, itupun masih butuh konfirmasi dari kami dan kedua calon mempelai yang sibuknya minta ampun. Tinggal EOnya saja yang konfirmasi ke sana ke sini kejar calon pengantinnya." Chris tertawa.
"Salwa cocok deh, pakai EO karena ia super sibuk. Kabarnya dia mau naik jabatan ya?" Arya bersandar pada sandaran kursi, miring karena menggantungkan sebelah tangannya di sana.
"Aku sebagai orang tua hanya mendoakan yang terbaik dan yang baik-baik saja." Chris menyatukan tangannya di depan wajah dan menyentuh bibir. "Bagaimana kabar Tama?"
"Belum ada Da, aku bingung harus bagaimana? Aku sudah mencarinya berkeliling kota Jakarta ini pagi, siang, malam saat aku ada waktu, tapi susah."
"Saat ini dia tidak ingin menemuimu, menemui kita tapi bukan bermaksud lari jadi dia pasti ada di kota Jakarta ini."
"Kenapa Uda begitu yakin?"
"Tama itu anak manjamu bukan? Dia pasti takkan jauh-jauh darimu. Dia sebenarnya ingin bermanja-manja denganmu. Dia pasti merindukanmu, tapi persoalan ini yang menyebabkan dia harus jauh darimu. Dia sebenarnya kabur tapi setengah hati. Kalau suatu saat kamu menemukannya, dia ikhlas."
"Ikhlas?"
"Ikhlas kamu marahi."
Arya tertawa.
"Aku sebetulnya iri padamu. Kamu sangat dekat dengan ketiga anakmu dan mereka sangat menurut padamu, sedang aku. Lihat Aska. Aku gagal mendidiknya jadi orang yang berbudi baik, sopan dan bisa menghargai orang lain."
"Tapi sebaliknya aku merasa Ayah yang jahat. Kau malah lebih mengerti anak-anakku di banding aku sebagai ayahnya."
"Well, tidak ada manusia sempurna," Chris menyudahi.
"Mmh."
Chris menepuk tangan pria itu. "Yakin saja, dia pasti segera kembali. Kau terus saja mencarinya, ia sepertinya juga ingin di temukan." Kembali ia menepuk-nepuk tangan Arya, menenangkan.
Sekeras-keras ucapan Arya pada anaknya, ia adalah ayah yang penyayang. Ia sengaja tidak gencar mencari uang, agar ia bisa dekat dengan keluarga, menemani anak istri di kesehariannya. Kalau ia mau ia bisa saja mencari uang lebih dan menerima untuk memimpin perusahaan ayahnya yang sekarang diberikan pada Tama, tapi ia tidak mau. Ia tipe familyman yang perhatian pada anggota keluarganya karena itu ia disayang sekaligus dihormati oleh anak-anaknya.
--------+++---------
Tiba-tiba saja ada mobil yang menyudutkan motor Tama ke kanan. Untung saja jalanan tidak sedang ramai sehingga tidak memacetkan jalanan.
Tama terpaksa berhenti. Saat ia melihat siapa yang turun dari mobil, iapun memaksakan diri untuk turun dari motor.
"Lepas helmmu!" teriak pria berbaju dinas kepolisian menunjuk pada wajah Tama.
Dengan patuh, Tama melepas helmnya dan meletakkan pada dudukan motor. Ia kembali menghadap pria itu.
__ADS_1
Bugh ... Pria itu meninju wajah pemuda itu. Belum sempat berdiri tegak, tubuhnya ditarik dan pria itu kembali menendang perut Tama hingga terjatuh. Tama sama sekali diam tak melawan. Diangkatnya wajahnya. Dari sudut bibir mengalir darah segar.
"Katamu, tak tahu malu mencuri tunangan orang lain, tapi sekarang Mei itu tunanganku!! Sekarang siapa yang lebih tidak tahu malu lagi menurutmu, hah? Kau telah membawa kabur calon istriku!!!" teriaknya murka. Ia kembali menendang pemuda itu yang tersungkur di trotoar.
Tama menahan sakit di sekujur tubuhnya karena pria itu membabi-buta menendangi tubuhnya karena marah. Setelah tendangan itu berhenti, ia mencoba membuka mata. Pria itu, Tristan, ia tidak sendirian. Ada 2 orang polisi lagi yang berpangkat lebih rendah bersamanya, sudah turun dari mobil dan berdiri di samping. Tama pelan-pelan mencoba duduk.
Dengan pakaian yang kacau dan rambut berantakan, pemuda itu duduk di trotoar dengan lemahnya. Sudut bibirnya terasa perih. Ia mencoba tersenyum pada Tristan tapi alih-alih mereda, pria itu kembali naik darah.
"Berdiri!" Ia menggerakkan jari telunjuknya.
Tama terkejut.
"Ber-di-ri! Kau dengar tidak!!" teriak pria itu geram.
Tama dengan kesatria mencoba berdiri, walaupun sedikit limbung. Tristan segera menarik kerah baju kaos Tama hingga wajah mereka saling berdekatan. "Kamu ini hanya anak ingusan kemarin sore, jangan pernah berpikir bisa mengakali polisi, KAU MENGERTI?!!" teriaknya marah dengan mata berapi-api. Kemudian ia mendorong Tama menjauh dengan kasar. "Nah, katakan. Di mana Mei?"
Tama terbatuk-batuk.
Tristan tersenyum licik. "Kau pikir aku tidak tahu? Aku tahu kini di mana kau tinggal. Kalau kau tidak jujur padaku, pukulanku itu setimpal dengan usahamu yang tidak jujur padaku." Ia mengkode anak buahnya untuk memegangi Tama. Setelah itu dilakukan, pria itu kembali mendatangi Tama.
Bugh! Satu buah pukulan kembali bersemayam di perut pemuda itu.
"Ugh!"
"Itu tambahan untuk ketidak jujuranmu!" ucap Tristan tegas. Ia mengkode bawahannya untuk membawa Tama ke dalam mobil sementara bawahan yang satunya membawa motor pemuda itu. Mobil dan motor beriringan berjalan bersama.
Mobil sampai di depan kos-kosan Tama dan Mei, beserta motor mereka. Tama menunduk. Tristan yang menyetir mobil, turun dan mendatangi tempat Mei. Ia mengetuk pintu.
Beberapa orang yang lewat melihat pada penampilan Tristan yang gagah sebagai polisi, beberapa penghuni kos-kosan juga berdecak kagum sekaligus segan karena polisi, pun bertanya-tanya ada apa hingga Mei bisa berurusan dengan polisi. Mau tak mau mereka menyorot kamar Mei.
"T-tristan?" ucap Mei terbata-bata saat menemukan pria itu di depan pintu. Netranya nanar melihat kedatangan pria itu.
"Mei, apa kau baik-baik saja?" terlihat wajah Tristan yang khawatir.
"A-apa maksudmu?" Mei masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya di depan pintu.
"Tama. Kau telah dibohonginya. Entah apa yang dikatakannya tapi itu semua bohong."
"Bo-bohong?" Mei mencoba mengerti tapi tak mampu.
"Sudahi semua ini Mei, kau harus pulang. Tama sudah kutangkap."
"Apa?" Mei mengalihkan pandangan pada belakang punggung Tristan. Ada sebuah mobil terparkir di depan kos-kosan dan ia melihat walaupun samar, Tama diapit oleh dua orang polisi di dalam mobil. Motornya pun terparkir di depannya.
Mei bergegas mendatangi mobil itu dan mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil agar pemuda itu mendengarkan. Ia juga mencoba membuka pintu mobil itu tapi tak bisa. Akhirnya ia memanggil-manggil nama pemuda itu. "Tama, Tama!" Ia kembali mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil.
__ADS_1
Tama mengangkat wajahnya dengan raut sedih. Mei, dia syok melihat wajah Tama yang berantakan dan luka di sudut bibirnya. Saking syoknya, ia mundur sambil menutup mulutnya. Tubuhnya kemudian terbentur tubuh Tristan yang kebetulan sudah berada di belakangnya. Dengan sigap pria itu menangkap tubuh gadis itu.
Mei segera berbalik dan memukuli dada bidang polisi itu walaupun dengan satu tangan karena tangan yang lain masih di gips, tapi dengan sigap pria itu menangkap tangannya karena pukulan Mei cukup menyakitkan di tulang dadanya. "Mei!" bentak Tristan.
"Kamu jahat, kamu jahat! Kenapa kamu menangkapnya? Kenapa kamu memukulinya?" Air mata Mei mulai menetes. Rasa bersalahnya mulai merambati hati dan otaknya. Sesal kemudian tak berguna.
"Karena dia membawa lari kamu Mei."
"Itu aku! Itu akuuuu. Aku yang kaburrr ... kenapa kamu menganiayanya," ungkap Mei. Hatinya seketika terluka melihat Tama babak belur gara-gara dirinya.
Dari dalam mobil Tama bisa mendengar Mei menangis. Ia tak tega, tapi ia bisa apa? Ia hanya orang luar yang tak bisa apa-apa. Air matanya pun turun tanpa diminta.
"Ayahmu mencarimu Mei, dan kalau kamu tidak pulang maka urusannya akan panjang," setengah mengancam, Tristan memberi ultimatum.
Mei jatuh terduduk sambil terisak. Ia menatap mobil yang berada di depannya. Nasib Tama kini bergantung padanya dan tak ada orang lain yang dapat menolong mereka.
Orang-orang di sekitar walaupun iba, tak berani mendekat.
Gadis itu berusaha tegar dengan berdiri sendiri dan menghapus air matanya.
"Mei, kamu tunanganku. Lupakan Tama, lupakan pembohong itu. Kau hanya akan terus dimanfaatkannya sebagai kacung seumur hidup. Sadarlah. Aku lebih memberimu masa depan."
Dengan tubuh lemas, Mei mengikuti Tristan. Pria itu membukakan pintu untuknya dan kemudian Tristan di kursi pengemudi. Mobil pun meninggalkan kos-kosan itu perlahan.
Mei melirik Tama dari cermin kecil di depannya. Pemuda itu sudah kembali menunduk menyembunyikan air matanya.
"Aku tak ingin Tama merusak kebahagiaan kita. Bisakah kita menyegerakan pernikahan kita?"
Omongan Tristan makin membuat dada Mei sesak. Ia lari karena pemikiran pria itu tapi kini, kalau ia kembali menghindar, Tama bagaimana?
Lama ia berdiam dan berpikir akan keputusannya nanti. Sama-sama pilihan yang buruk, tapi ia tak bisa egois. Ia harus menghadapinya.
Mobil pun akhirnya sampai di depan rumah Mei. Jalanan di depan rumah Mei kembali terblokir gara-gara mobil mewah Tristan yang memblokade jalan.
Tristan membantu Mei keluar mobil dan Tama ditarik keluar dari mobil. Mereka sama-sama mendatangi pintu rumah Mei.
Tristan mengetuk pintu. Tak lama Ibu Mei membukakan. "Mei!" Wanita itu memeluk anaknya. Mei hanya pasrah karena ia sama sekali masih belum ingat orang tuanya. "Kau tidak apa-apa Mei?" ucapnya sambil mengusap lembut pucuk kepala gadis itu yang tak lagi di perban. Dilihatnya ada bekas luka yang dijahit samar di dahinya.
Mei dengan sedikit kaku dan bingung, mengangguk.
Sempat Ibu Mei melihat Tama yang babak belur, tapi ia tak bisa apa-apa karena ada Tristan di situ. Orang kecil seperti mereka sangat takut pada polisi. "Ayo kita masuk." Ia menyerahkan pilihan pada suaminya.
Mereka semua masuk. Kebetulan Ayah Mei sedang duduk di kursi di samping meja makan. Ia terkejut dengan datangnya rombongan dan juga Mei. "Mei?"
Gadis itu mencoba memberanikan diri mendatangi Ayahnya. Disaat yang bersamaan kedua polisi bawahan Tristan di kode Tristan untuk mendorong Tama maju ke depan.
__ADS_1
Tama didorong jatuh bersujud di depan Ayah Mei yang juga di samping Mei. Gadis itu menoleh pada Tama.