Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Tama


__ADS_3

Apa itu tadi? Tama menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir rasa yang tertinggal itu. Aneh!


"Kenapa Kak?"


"Mmh? Tidak."


Mereka kemudian pindah ke tempat toko sepatu.


"Mmh, apa? Sepatu sekolah?"


"Pagi kan aku sekolah. Kamu harus temani aku sekolah."


"Di luar?" Mei masih belum mengerti.


"Ya, enggaklah. Kamu sekolah sama-sama aku. Kamu kelas 1 SMA kan? Berarti kita bisa sekelas."


Mei menatap Tama, bingung. "Sekolah beneran?"


"Ya iyalah, masa aku bohong!"


"Sekolah Kakak pasti mahal." Mei memiringkan kepalanya.


"Nih ibu ama anak, sama aja ngebahasnya. Udahlah gak usah mikirin itu, lagian juga itu keperluanku."


"Mmh?"


"Aku butuh Bodyguard kemanapun aku pergi. Bodyguard kan selalu harus ngikutin ke mana Bosnya pergi. Iya kan? Udah ... cari dulu. Sepatu ke kantor dan sepatu kerja."


Sementara di rumah Chris, suami istri itu senang ternyata Anna akhirnya datang berkunjung ke rumah. Sudah sedemikian lamanya wanita ini sulit dihubungi dan tiba-tiba saja ia datang seakan tahu waktu eksekusi sudah dekat. Rafi suaminya akan di eksekusi hari selasa, begitu menurut pengumuman dari pengadilan.


Wajah Anna sedikit pucat dan terlihat lebih kurus dari terakhir ia datang. Chris dan Reina melihatnya dengan khawatir.


"Anna, kamu dari mana saja, kenapa kamu baru datang sekarang?"


Reina menyentuh tangan Chris dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia kemudian meraih lengan Anna. "Kau sudah sarapan?"


"Oh, sudah," jawabnya dengan wajah datar.


"Kamu mau menginap di sini kan?"


"Eh ... aku ingin bertemu Lydi." Wajahnya terlihat serius.


"Ayo ke atas, aku temani."


Anna menahan lengan Reina. "Oh, maaf Mbak. Aku ingin bicara berdua dengannya."


Reina menatapnya iba. Apa mereka, ibu dan anak ini akan menangis berdua setelah Anna menceritakan bahwa suaminya, Ayah Lydia harus menjalani hukumannya ditembak mati di depan juru tembak? Ia menyerahkan keputusan itu pada Anna dengan membiarkan wanita itu jalan sendirian menaiki tangga.


Reina dan Chris menunggu di bawah. Tak lama Anna turun sendirian. Suami istri itu segera bangkit seiring Anna datang mendekat.


"Aku pamit pulang ya Mbak, Assalamualaikum."


Reina segera meraih tangannya. "Eh, kamu tidak tinggal di sini menemani Lydi? Kamu lebih aman di sini daripada tinggal sendiri."


Anna menepuk-nepuk tangan Reina. "Ngak apa-apa Mbak. Aku ada yang harus dikerjakan jadi harus pergi. Sudah jangan khawatir."


Sepasang suami istri itu hanya bisa melihat saja kepergian Anna tanpa bisa mencegahnya. Menghiburnya saja mereka tidak sanggup.


-----------+++-----------


Tama dan Mei sedang makan di sebuah restoran cepat saji. Mereka makan burger dan kentang goreng. Tama memperhatikan Mei yang sedang memeriksa hp barunya dengan makan pelan tetapi lahap, padahal gadis itu juga memesan porsi yang sama dengannya, burger ukuran besar dan kentang goreng bungkus ukuran sedang. Ia begitu heran melihat gadis itu hingga akhirnya Mei menyadari ia tengah di perhatikan.


"Kenapa?"


"Tidak, aku hanya heran. Tubuhmu kurus tapi makanmu banyak." Tama mengunyah burgernya.


"Oh." Mei terlihat santai sambil menarik satu potongan kentang goreng, dioleskan ke saus sambal di piring dan memakannya.


Tama semakin penasaran. "Jangan-jangan kamu jarang makan lagi ...."


"Ngak."


"Lalu?"


"Ngak tau."

__ADS_1


"Mmh?"


"Dari dulu makannya sebanyak ini? Adikku saja susah makan, karena itu badannya kurus, tapi kelihatannya kamu doyan makan ...."


"Aku hanya tidak makan nasi."


Tama mengerut alis. "Kenapa?"


"Tidak suka."


"Masa?"


"Iya."


"Lho, tapi kan kamu jualan lontong sayur. Gak suka lontongnya juga dong?"


"Iya. Biasanya makan sayurnya saja."


"Aneh!"


"Iya."


Keduanya tertawa.


----------+++----------


Seseorang mengetuk pintu. Kunci pintu terdengar bergerak. Wajah seorang gadis berjilbab istan terlihat muncul dari balik pintu.


"Oh, ada apa Kak?"


"Ini ada parfum dan deodoran untukmu." Tama menyodorkan sebuah botol kaca berbentuk unik berwarna peach dan sebuah lagi botol kaca mungil berwarna putih.


"Oh, makasih Kak." Mei mengambil keduanya dengan senang. Hari ini, banyak sekali hadiah yang diberikan Tama padanya, membuatnya tak habis pikir, kenapa pemuda itu begitu baik padanya, Mei tak menyadari senyum bahagianya itu sedikit mengusik detak jantung Tama.


Tama masih berdiri. Ia seperti menunggu.


"Apa kak?"


"Sini ...." Ia memanggil dengan tangannya.


"Ada yang ingin aku bicarain ke kamu."


Mei meletakkan ke dua botol itu di atas meja kamarnya dan kembali ke pintu, ia terlihat bingung saat Tama melirik kanan kiri dan menarik dirinya keluar kamar. Mei menutup pintu kamar. Setelah itu Tama membuka pintu kamarnya dan memasukkan Mei ke dalam. Gadis itu panik saat Tama menutup pintu kamarnya.


"Kak untuk apa aku di sini?"


"Bantuin aku dong!"


"Hah?"


Tama menarik tas sekolahnya dari bawah meja. Ia mencari dan mengeluarkan beberapa buah buku. "Tolong kerjain tugas bahasa Indonesia, sama sejarah ya?" Ia juga mengeluarkan alat tulis.


"Tapi kan aku belum sekolah Kak, jadi gak tau."


"Alah, gampang itu. Itu kan dibahas dulu sebelum di kasih pertanyaan. Bisa pasti. Bisa kan?" tanya pemuda itu santai.


"Kalau gampang kenapa Kakak gak ngerjain sendiri?"


"Aku malas ngerjainnya cuma nyalin doang. Game Attack-ku baru level rendah belum selesai. Kamu bisa kan bantu aku ngerjainnya. Gampang ini ...."


Ini ....


Tama menarikkan kursi untuk Mei. "Kamu butuh apa bilang aja. Mau minuman dingin atau jus?"


Mei masih bingung menentukan sikap tapi perlahan ia duduk di kursi itu.


"Ini, halaman ini dan juga ini." Tama membukakan buku yang harus dikerjakan gadis itu. "Kamu mau jus ya? Dingin? Aku ambilkan dulu di bawah ya?" Tama kembali keluar.


Mei membaca tugas dari buku yang diminta Tama untuk kerjakan. Benar, tidak terlalu sulit untuk dikerjakan karena jawabannya sudah ada di sana tetapi kenapa Kak Tama tidak mau mengerjakannya ya? Hah, dasar pemalas! Apa karena setiap hari aku harus membantu mengerjakan tugas sekolah makanya dia membelikanku macam-macam? Hah, kenapa jadi makin banyak saja tugasku ...," omel Mei dalam hati.


Tak lama Tama datang dengan segelas jus jeruk di tangan. Ia melihat Mei mulai mengerjakan tugasnya. pelan-pelan diletakkan gelas itu di atas meja depan buku sejarah yang dikerjakan Mei. Gadis itu, hanya melihat sekilas dan meneruskan mengerjakan tugas sekolah milik pemuda itu.


Tama kemudian naik ke atas tempat tidur. Ia berbaring tertelungkup sambil memeluk guling lalu mengeluarkan hp-nya. Pemuda itu mulai memainkan game-nya.


Awalnya ada suara-suara berisik dari mulut Tama karena permainannya mulai seru, tapi kemudian Mei mulai tak tahan saat pemuda itu mulai berteriak.

__ADS_1


"Yeah!!" Tama berteriak sambil mengangkat tangan.


"Kakak!"


"Eh, maaf."


"Bisa gak, enggak berisik, gitu?" Mei mengomel sambil merengut.


"Iya, bisa." Tama mengangguk pelan, takut melihat gadis itu marah.


Mei masih menyorotinya kesal sebelum kembali mengerjakan tugas pemuda itu.


Tama kembali main game diam-diam, tapi lama-lama ia bosan. Ia mematikan hp-nya.


Pemuda itu kemudian menatap punggung Mei sambil mengingat kembali kenapa belakangan ini ia sering terkejut melihat senyum manis gadis di depannya, padahal hidupnya dikelilingi perempuan dan sering melihat perempuan cantik seperti Kakak Iparnya itu sendiri Leka, atau juga gadis galak seperti adiknya Aiko, tapi ia melihatnya biasa-biasa saja. Ia sudah sering melihatnya di dalam kehidupannya sehari-hari, tapi kenapa saat melihat Mei, ia merasa berbeda, padahal Mei tidak secantik Kakak Iparnya Leka atau segalak adiknya Aiko.


Pintu diketuk dan terbuka. Muncul Aiko dengan wajah terkejut. "Eh, Mbak di sini ... Eh, kok disini?" Ia meralat lagi kalimatnya. Gadis itu menyipitkan mata sambil menoleh ke arah tempat tidur. Ternyata Tama telah tertidur pulas di atas tempat tidurnya sambil memegang hp. Ia menoleh lagi ke arah Mei yang sedang menulis di samping meja. "Mbak ngerjain tugas sekolah Kakak ya?"


"Eh, mmh ...." Mei bingung menjawabnya.


Aiko segera mendatangi Tama dan menjambak rambutnya. "Ihhh, kok tugas gak dikerjain sendiri sih!"


"Aduh, aduh, aduh, aduuuh ... Apaan sih!" Tama yang baru saja tertidur terbangun seketika. Ia berdiri di samping Aiko. "Kamu ngapain sih, anak kecil!"


"Tugas kerjain sendiri dong, jangan nyuruh orang!"


"Kalo gak tau, jangan sok tau deh! Gue bayar dia tau gak!"


"Ih, kan gak boleh gitu ...!"


"Boleh. Kan gue yang punya uang, kenapa ... weee!" Tama menjulurkan lidahnya.


Mei hanya melihat pertengkaran keduanya dan membisu. Pertengkaran itu akhirnya di menangkan oleh Tama. Pemuda itu mengusir adiknya keluar.


"Nanti aku bilangin Mbak Leka lho!"


"Bilangin aja, emang gue takut. Weee!" Tama masih menjulurkan lidah sebelum menutup pintu. Saat ia berbalik, ia melihat Mei menahan tawa dengan sedikit menunduk. Ia sedikit malu juga melihat Mei mengetahui gaya dia bertengkar dengan adiknya, sangat kekanakan. "Eh, itu biasa ... adikku masih SD itu." Ia mengusap belakang kepalanya.


"Tugasnya sudah selesai Kak. Aku permisi keluar," ucap Mei sopan.


"Oh ... iya, iya." Kembali Tama membukakan pintu.


--------+++--------


Chris menonton berita di laptop-nya. Ia berusaha mencari tahu berita lebih lanjut tentang keputusan pengadilan Rafi atau pesawat Mariko-Arya yang jatuh di Jepang. Ia kini mendengarkan berita dari Jepang tentang pengangkatan pesawat terbang yang jatuh itu Senin besok.


"Mmh, medannya kelihatan sulit ya karena sudah hampir seminggu pengangkatan jenazahnya, belum juga selesai. Pengangkatan pesawat juga maksudnya mungkin supaya bisa lebih cepat mengangkat jenazah yang tersisa karena banyak jenazah berada di dalam pesawat yang patah 3 itu." Chris menoleh ke arah Reina yang terdiam sedari tadi. "Kenapa?"


"Mmh, tidak. Aku bingung saja. Tadi waktu aku ke atas lihat Lydi, aku pikir ia sedang menangis karena baru bertemu ibunya, tapi ternyata tidak. Ia seperti kaget melihatku masuk kamarnya." Reina terlihat serius.


"Kaget kenapa?"


"Entahlah, ia sepertinya sedang membongkar barang-barangnya."


"Mmh? Untuk apa?"


"Aku juga tidak tahu." Reina menggeleng-gelengkan kepalanya.


---------+++----------


Pintu kamar Mei kembali diketuk. "Oh, Kakak. Ada apalagi Kak?" Gadis itu terkejut.


"Kita makan malam dibawah."


"Di bawah? Untuk apa, aku kan bukan keluarga."


Tama tersenyum. "Tidak apa-apa. Untuk meramaikan saja karena di bawah sepi. Lagipula mungkin suatu hari kamu juga akan dimintai tolong melindungi mereka, adik dan Kakak Iparku karena kamu satu-satu Bodyguard perempuan di sini."


"Tapi bajuku ...." Mei menatap piyamanya yang sudah lusuh.


"Itu tandanya kau Bodyguard bukan pemilik rumah." Tama tetap tidak peduli dan menarik Mei keluar kamar. Gadis itu akhirnya menurut.


______________________________________________


Halo kesayangan, masih tetap kirim2 komen, like, vote, juga hadiah buat Author kan? Makasih ya? Sekecil apapun itu author sangat menghargainya. Ini visual Lydia Akhyar anak pasangan Rafi dan Anna yang dititipkan di rumah Chris sejak bayi. Salam, Ingflora. 💋

__ADS_1



__ADS_2