Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Rencana


__ADS_3

Suasana sekolah berjalan lancar. Seperti tidak terjadi apa-apa di hari sebelumnya, siswa mengikuti pelajaran seperti biasa, tetapi saat jam istirahat banyak yang menggosipkan tentang Tristan karena pemuda itu memang fenomenal.


Ia murid baru yang termasuk pintar di sekolah, punya wajah tampan rupawan dan diperebutkan banyak gadis di sekolah ini, tapi tiba-tiba saja ia diketahui punya identitas lain yaitu seorang polisi. Bukan polisi sembarang polisi karena pangkatnya cukup tinggi dan anak buahnya telah menangkapi murid-murid di sekolah itu yang terlibat narkoba.


"Bosen. Orang-orang di kantin ngegosipin Tristan semua," keluh Tama. "Lama-lama jadi artis juga tuh orang."


Troy tertawa. "Orang ganteng emang udah biasa digosipin kan, nah orang kek kita gini siapa yang mau gosipin? Udah gak ganteng, gak pintar, apa yang bisa dibanggain coba?"


"Dompet mungkin," ucap Tama. Ia sendiri tertawa. "Itu mah elu. Gue kagak. Gue masih bisa dibilang ganteng ya kan?" Ia kembali tertawa.


Troy dan teman-temannya ikut tertawa. "Masih bisa? Masih bisa apaan? Ganteng dari mananya, dari lobang idung gue iye!" Ia menyentuh hidungnya.


Yang lain kembali tertawa.


"Tapi emang, cewek maunya gosipin yang good-looking(tampan) aja. Yang kayak kita gini mah ... keinjek."


Kembali anak-anak tertawa.


"Ya kita kan juga sama. Maunya ngobrolin cewek yang peralatan tempurnya bikin ngiler. Gak mungkin kan lu-lu pade ngomongin cewek yang kaca matanya mirip mikroskop gitu," terang Tama.


"Sekali-sekali, bener juga lu ya?"


"Emang gue selalu bener."


"Au ah, gelap."


Tama tertawa.


----------+++---------


"Jadi Pa, kita kapan ke Amerika?" tanya Zack sambil memegangi hp-nya di telinga. Ia kini berada di ruang tamu rumahnya, baru bertukar baju sehabis pulang sekolah.


"Zack, apa kamu sudah makan siang?"


"Papa, jangan ngalihin pembicaraan ah!" gerutu Zack kesal.


Terdengar suara Chris tertawa di ujung sana.


"Papa!"


"Iya Zack. Kita apa tidak menunggu liburan sekolah dulu?"


"Ah kelamaan Papa, pesan sekarang saja!"


Kembali terdengar tawa Chris di ujung sana. Ia senang mengganggu Zack yang begitu ingin cepat-cepat bertemu Lydia.


"Sabar ya Zack. Papa lagi mengatur jadwal Papa dulu, bekerja. Nanti sesudah itu kita atur jadwal keberangkatan."


"Ck, ah! Lama ...."


Chris memang tak bisa berhenti tertawa mendengar Zack yang sudah tak sabar bertemu Lydia, padahal mereka belum genap satu bulan berpisah. Lagipula, Rafi hanya sekedar berbasa basi untuk datang mengunjunginya di Amerika bukan berarti harus datang segera ke sana.


"Sepertinya kalau lihat jadwal Papa, masih satu bulan lagi deh."


"Ya ... Papa ...."


Chris kembali tertawa.


-------+++-------


"Hari ini aku males ke mana-mana ah! Di kantor aja lihat jadwal kandidat interview."


"Memangnya ada jadwal keluar Kak?" Mei menoleh ke belakang menatap Tama.


"Ada, tapi lagi gak mood(ingin) ngerjainnya, soalnya harus fokus. Ada proyek pembuatan gedung tapi berhenti tengah jalan gak tau kenapa."


"Ngomong-ngomong kenapa Kakak kemarin ngebujuk mereka pake cerita tentang nabi. Kak?"


Tama tertawa. "Aku juga gak tau. Tiba-tiba teringat kotbah sholat jum'at terakhir di sekolah. Kebetulan kasusnya mirip jadi aku pake perumpamaan itu. Bukan aku sok alim tapi kebetulan yang terlintas itu di kepala ya jadi langsung eksekusi."


"Aku pikir Kakak mau jadi Ustad sampe ngomong kayak gitu Ka," canda Mei.


Keduanya tertawa.


"Amin Pak," sahut sang supir menambahi.


"Apa?" Tama melirik Mei. "Amin."

__ADS_1


"Amin," Mei mengikuti.


--------+++---------


"Sepertinya Bapak sudah cukup sehat jadi bisa pulang." Dokter itu mengantongi stetoskopnya setelah memeriksa tubuh Ayah Mei.


"Alhamdulillah." Pria setengah baya itu tersenyum sambil mengancingi bajunya.


Dokter itu beralih pada Ibu Mei. "Besok akan saya tuliskan surat persetujuan untuk bisa pulangnya Ibu. Nanti akan diantarkan Suster suratnya, jadi setelah itu Ibu bisa mengurus administrasi."


"Terima kasih ya Dok."


"Sama-sama." Dokter itupun pamit keluar ruangan.


"Wah, akhirnya pulang juga Pak," ucap pasien di sebelah ranjang Ayah Mei.


"Iya nih, kita jadi ngiri," sahut yang lain.


"Iya. Akhirnya aku bisa pulang juga." Ayah Mei bernapas lega.


"Doain saya ya Pak,"


"Iya, iya."


Tinggal Ibu Mei yang kini bingung. Ia tentu saja senang suaminya telah sehat kembali, tapi bagaimana dengan Mei? Ia takut suaminya mengetahui pekerjaan Mei dan membawa Mei pulang ke rumah. Lalu hutangnya dengan Bos Mei bagaimana? Ia sendiri tak punya hp untuk menelepon anaknya. Bagaimana cara memberi tahu anaknya bahwa Ayahnya telah pulih kembali dan akan segera pulang ke rumah?


"Bu, besok kita tengok Mei ya?"


"Apa? Eh, iya."


---------+++--------


Hari ini, Tama hanya memeriksa beberapa berkas baru dan lama dan juga memeriksa jalannya interview yang sudah dilakukan oleh bagian HRD. Ia juga memeriksa tawaran kerja sama dari beberapa lembaga pemerintah dan luar negri.


"Hahh, aku tidak tertarik bekerja sama dengan pemerintah karena gak ada untungnya cuma menang di nama aja. Ini mah bukan proyek kerja sama tapi proyek kerja bakti!" Tama menghempas berkas-berkas itu ke atas meja.


"Tapi Pak, kalau Bapak terkenal, kita bisa mendapat tawaran pekerjaan lebih banyak lagi, Pak," ucap staf HRD itu membujuk Tama.


"Kita gak usah gelap mata. Perusahaan kita perusahaan besar dan masih punya banyak tawaran pekerjaan. Yang kita butuhkan sekarang adalah berbenah diri, melakukan perubahan dengan staf yang baru. Itu yang paling penting sekarang sebab kalau kita ngambil job(pekerjaan) dari klien tapi perusahaan belum dibenahi kan repot. Bisa-bisa proyek yang diberikan malah berantakan di tengah jalan."


"Oh, begitu ya Pak?"


"Ya, ya, ya." Pria itu menganggu mengerti.


"Bagaimana dengan kandidat untuk CEO, apa sudah dapat beberapa?"


"Wah, itu tugas sulit Pak. Saya ada cari dari dalam perusahaan tapi kebanyakan tidak masuk standar yang dibutuhkan apalagi yang bisa menyaingi kepintaran Bapak."


"Waduh ... jangan menjilat, aku gak suka," Tama menegurnya dengan santai tapi pria itu langsung pucat pasi.


"Eh, maaf Pak. Maaf."


"Menurutmu, aku harus bagaimana mencari orang untuk posisi CEO ini?"


"Sebaiknya cari di luar saja Pak. Diiklankan atau kalau susah di headhunt."


"Headhunt ya?" Tama berpikir sejenak. Ia teringat pesan Ayahnya bahwa sulit mencari posisi CEO karena sebagian besar mereka sudah diberi fasilitas terbaik oleh perusahaan tempatnya bekerja sehingga kebanyakan dari mereka tidak ingin pindah dengan mudahnya. Posisi ini juga posisi pimpinan yang paling atas sehingga membutuhkan kemampuan khusus untuk membujuk dan menginterview mereka.


Ayahnya merekomendasikan Chris, Ayah Angkatnya untuk membantunya mendapatkan kandidat di posisi ini. "Kalau begitu, Diiklankan saja sekaligus headhunt. Aku minta daftar CEO terbaik dari perusahaan-perusahaan yang berkantor di Jakarta dan aku minta data secepatnya."


Pria di depannya melongo melihat Tama.


"Kok bengong?"


"Eh, tapi Bapak yang menginterview kan?"


"Lho, memangnya tidak ada dari bagian HRD yang bisa menginterview mereka?"


"Tidak ada Pak karena yang sebelumnya yang menginterview adalah Pak Hadi sendiri walaupun kemudian tidak pernah ada CEO di perusahaan kami. Menginterview CEO butuh kemampuan khusus Pak karena yang menginterview haruslah yang bisa memberi image bagus soal perusahaan dan seorang profesional. Jadi ya ...."


"Saya yang menginterview?"


"Iya Pak."


"Ok, aku sanggupi," Tama mengiyakan.


"Kalau begitu, saya akan cari datanya segera." Pria itu berpamitan.

__ADS_1


Setelah pegawainya pergi, Tama menelepon Chris. Ia menceritakan masalahnya.


"Ok, kalau ada waktu, kamu datang saja ke tempat Papa."


"Sekarang bagaimana?"


"Pekerjaanmu sudah selesai?"


"Ini lebih penting."


"Ok, Papa sedang di kantor. Sebentar lagi pulang. Bagaimana kalau kita bertemu di restoran?"


"Restoran apa?"


Chris menyebutkan nama restoran yang sering dipakainya untuk pertemuan dan Tama menyanggupi. Pemuda itu menutup teleponnya dan bergegas keluar.


"Mei, ikut aku. Kita ke restoran."


"Restoran? Restoran milik Ayah Bapak?" Mei berdiri dari duduknya.


"Bukan. Ayo!"


Mei mengambil tasnya dan berlari mengejar Tama. Mereka naik mobil menuju restoran itu.


Sesampainya di restoran, mereka mencari tempat duduk dan menunggu di sana.


Mei mengedarkan pandangan pada restoran Itali yang mewah itu dengan jendela kaca besar-besar dan pemandangan jalan keluar perparkiran Mal itu. Ya, restoran itu ada di dalam sebuah Mal dengan langit-langit yang tinggi berbentuk kubah, menjadikan restoran itu sungguhan serasa berada di Itali. Apalagi dengan tirai-tirai besar yang berada di jendela dengan motif timbul gambar bunga-bungaan warna putih dan emas membuat ruangan di restoran itu terlihat mewah. Mei terkagum-kagum melihat interior restoran itu. "Cantik sekali ya?"


"Oh, iya." Tama melihat mata Mei yang terpukau melihat ke sekeliling. Tapi tak ada yang seindah dirimu. "Kamu mau pesan apa?" Ia membuka buku menu.


Mei sama sekali tidak mengerti nama-nama makanan di sana.


Tama membantunya mengetahui isi makanan tersebut. "Ini sebagian besar makanannya pasta jadi tinggal pilih saja, mau yang isi apa. Ini ada keterangannya dalam bahasa inggris."


"Pasta apa?"


"Spageti itu mienya pasta namanya."


"Spageti?"


Tama menatap Mei. "Astaga. Jangan bilang kamu belum pernah makan spageti."


Mei menggeleng.


Tama menepuk dahi. "Ya sudah. Yang dasar dulu. Kamu makan spageti."


Mereka kemudian memesan makanan. Setelah makanan datang Mei mencoba spageti.


"Gimana?"


"Enak ya, mie di kasih saus tomat begini doang."


Tama tertawa kecil. Iapun mulai makan pastanya dengan menggulung pada garpu dan memakannya.


"Oh, bagus juga gitu ya, jadi mienya gak kusut."


Pemuda itu kembali tertawa. Mei mencoba menggulung pasta spageti dengan garpu seperti yang dilakukan Tama. Ia memakannya. Usai memasukkan ke dalam mulut, spageti itu meninggalkan bekas-bekas saus di sekitar mulutnya. Tama segera mengambil tisu.


Seseorang baru saja ingin mendekat ketika Tama berusaha membersihkan mulut Mei. Pria itu tertegun.


"Sini Kak." Mei berusaha mengambil tisu yang dipegang pemuda itu.


"Udah, gak usah. Kamu kan gak bisa liat. Biar aku bersihkan saja."


"Tapi Kak ...."


"Diam aja kenapa sih, biar cepat!"


Akhirnya Mei menurut. Tama membersihkan sekitar mulut Mei dengan teliti. "Udah." Ia masih memastikan dengan memandanginya. "Ya ... tapi lipstiknya sudah mau hilang."


"Gak papa Kak, kita sudah mau pulang kan?"


"Lipstiknya masih ada kan? Apa perlu dibelikan lagi?"


"Masih ada Kak."


"Halo Tama."

__ADS_1


Tama menoleh dan terkejut. Mei berdiri dan memberi hormat.


__ADS_2