Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
I Love You(Aku Cinta Padamu)


__ADS_3

Tar!


Mei berkelit dan tembakan mengenai kaca jendela dapur hingga retak dan bolong, tapi pria itu tak menyerah dengan mengarahkan moncong pistol itu ke mana Mei pergi.


Torr! Torr!


Mei berpikir cepat. Ia takut orang lain akan terluka jika ia terus menghindar. Tanpa sengaja ia melihat piring pajangan yang terbuat dari kuningan yang berada di atas meja bufet. Ia langsung mengambilnya untuk perisai dan memiringkan letaknya agar terpantul ke atas.


Tung!


Benar saja, peluru itu memantul ke atas. Bersamaan dengan itu Kenzo menendang tangan pria yang masih memegang pistol itu hingga benda itu terpental jatuh. Ia segera mengamankan dengan menginjaknya.


Para pembantu dan Baby Sitter Runi keluar dan memukuli penjahat dengan apa saja. Panci, penggorengan, sendok penggorengan atau apapun itu dari dapur. Mereka terispirasi dari cara Mei menaklukkan penjahat lewat apa saja yang berada di sekitarnya. Mereka terlihat bersemangat.


Penjahat pun kelimpungan dengan pukulan yang bertubi-tubi dari benda yang berasal di dapur itu. Beruntung Kenzo menyudahinya. "Eh ... sudah, sudah! Kita hanya membutuhkan tali untuk mengikat mereka."


Mereka kooperatif dengan mengerjakan apa yang diperintahkan, mereka mencari tali dan mengikat kedua penjahat itu.


Leka sambil menggendong Runi berlari ke arah suami dan mendekapnya. Ia menghapus air mata yang terlanjur jatuh. "Kamu gak apa-apa Mas?"


"Aku gak apa-apa kok."


"Aku takut banget Mas."


"Aku gak papa Leka, aku gak papa. Sebentar, Mas urus dulu, ini belum selesai." Kenzo mendudukkan Leka di kursi meja makan. Sementara ia mengamankan pistol, ia memeriksa kakek dan neneknya.


Tama juga langsung berlari mendekati Istrinya. Sedikit ragu akhirnya ia memeluk Mei. "Aku tahu kau akan marah padaku, tapi aku tak peduli. Aku sangat mengkhawatirkanmu, Mei. Aku mencintaimu," bisiknya di telinga Mei.


Gadis itu tak bisa berbuat apa-apa karena berada di keramaian dan ia juga tak ingin orang tahu masalah mereka.


Tama pun sadar diri. Ia sebentar saja memeluk istrinya, setelah itu ia memeriksa keadaan Mei. Ada darah mengalir di lengan bajunya yang sobek terkena pisau.


"Mei, kau terluka?"


"Hanya sedikit." Mei memperhatikan lukanya.


Istri Adi mengamati luka gadis itu. "Sini, nenek bantu." Kemudian, wanita itu membantu mengobati luka Mei.


"Tama."


"Ya?"


Adi menatap Tama tak percaya. "Kau menikahi Bodyguard-mu?"


"Eh, ya Kek."


"Luar biasa."


Sementara, Bodyguard Kenzo telah meringkus kedua penjahat yang menghalangi mereka masuk dari taman belakang. Rumah besar itu mempunyai rumah lagi terpisah di belakang untuk para pegawai yang bekerja di rumah itu sehingga Bodyguard Kenzo yang kebagian mendapat kamar di rumah belakang terlambat mengetahui keberadaan penjahat karena tinggal di tempat terpisah.


Juga diketahui bahwa keempat penjahat itu ternyata masuk dari pintu depan dengan mengalahkan satpam penjaga yang berjumlah 2 orang dan mengikat mereka di pos. Kini para satpam itu telah dibebaskan.


Adi kemudian memanggil polisi dan tak lama mereka datang. Kenzo kemudian menyerahkan keempat penjahat itu berikut pistol di tangan.


Menurut keterangan polisi, belakangan ini memang sedang gencar-gencarnya kelompok itu merampok orang kaya di Jogja. Polisi telah lama mengintai kelompok ini dan ternyata aksinya berakhir di rumah itu. Polisi sangat berterima kasih, Kenzo dan yang lainnya berhasil menangkap kelompok ini yang sudah banyak meresahkan masyarakat.


Setelah memeriksa tempat kejadian polisi pun akhirnya pergi.


"Terima kasih ya? Untung sekali kalian datang berkunjung. Entah bagaimana nasib Kakek kalau kalian tidak datang."


Leka memeluk lengan Kenzo, bangga. Tama juga memeluk bahu istrinya dengan sayang. Kedua pasangan itu terlihat makin mesra.


Adi berdehem sebentar sambil melihat kedua pasangan itu. "Berhubung kalian masih pengantin baru dan lagi hangat-hangatnya, kalian boleh langsung melanjutkan kemesraan kalian di kamar kalian masing-masing."


Mereka berempat tersenyum. Leka, Kenzo, Mei dan Tama langsung kembali ke kamarnya dengan tak lupa mengucapkan selamat malam, padahal waktu tidur mereka tinggal sedikit karena sudah menjelang dini hari.


Leka meletakkan Runi di tempat tidur dan mereka tidur mengapitnya, sedang Tama ....


"Tunggu dulu!" Mei menutup pintu. Tama pasrah bilang Mei akan marah. "Kenapa kamu tadi main peluk-peluk aja." Ia berkacak pinggang.


"Kenapa? Kamu biasanya kalo di peluk gak marah, waktu sebelum kita nikah. Kenapa sekarang jadi masalah?"


"Kan janjimu dulu, kalau menyentuh kamu izin dulu."

__ADS_1


"Ok, aku menyalahi janji. Maaf. Lagipula aku kan suamimu."


"Eh, eh, eh, itu ngeles namanya."


Tama menatap Mei hampir menangis. "Ck, kenapa sih? Aku hanya meluapkan perasaanku padamu. Aku care.(peduli) Aku sayang padamu. Apa hal-hal seperti itu aku harus minta izin dulu padamu? Ck, ah! Cinta macam apa itu." Ia menunduk dan menaiki tempat tidur dengan kecewa.


Gadis itu menyusul sang suami. Pemuda itu memunggunginya, ngambek. Perlahan Mei menarik lengan Tama hingga tubuh suaminya tidur terlentang. Ia menarik wajah pemuda itu, tapi Tama masih menunduk.


Pelan-pelan diangkatnya dagu pemuda itu. Mei menyentuh dahinya dengan telunjuk. "Dasar cengeng!"


"Biarin!" jawab pemuda itu, masih kesal.


Kembali Mei mendekatkan wajahnya dan mengecup dahi Tama. Pemuda itu meliriknya. Terbit senyuman tanda bahagia.


"Terima kasih ya?" suara Mei lembut.


Dengan manja, Tama memeluk lengan Mei yang masih di gips dan merapatkan pada dirinya. Ia menatap Mei, minta persetujuannya.


Mei hanya tersenyum. Mereka mencoba tidur lagi walau tak lama.


---------+++--------


Jalan-jalan di Kebun Binatang Gembira Loka sangat menyenangkan bagi kedua pasangan ini. Meskipun Tama takut akan beberapa binatang melata tapi ia cukup menikmati karena istrinya menyukai suasana jalan-jalan mereka.


Runi yang paling senang pergi ke sana karena ia bisa melihat langsung binatang-binatang yang hanya bisa ia temui di tv. Ia bahkan menaiki kura-kura raksasa yang sudah berumur ratusan tahun dan berfoto bersama. Tak lupa ia memberi makan jerapah. Ia terbengong-bengong dengan banyaknya binatang di kebun binatang ini.


Leka cukup senang melewati waktunya di kebun binatang ini dengan anak dan suaminya tercinta, sedang Kenzo senang istrinya sudah tidak bewajah sendu lagi seperti tadi malam.


Setelah makan siang, mereka menemani para istri mendatangi pusat perbelanjaan. Leka dan Mei belanja batik berpasangan dan juga batik untuk di rumah. Leka yang paling senang berbelanja karena ia menemukan banyak batik untuk ukuran baju Runi.


Setelah berbelanja, mereka mencoba naik becak berkeliling tempat-tempat tertentu. Menjelang sore mereka sudah pulang.


Kembali mereka makan malam dengan Adi dan istrinya. Terlihat Adi sangat senang dengan kehadiran menantu cucunya Mei dan dan keberadaan Kenzo. Ruang makan pun kembali hangat.


--------+++---------


"Jadi malam pertama lo gimana?" Troy penasaran.


"Gue tau lo kepo." Tama mengangkat telunjuknya.


Yang lain mendekat memasang telinga. Tama pun mendekat dan ... "Duar!!" Ia tertawa. "Lagian sapa juga mau cerita. Lo kalo mau tahu, lo kawin!" teriak Tama masih tertawa. Ia kemudian pergi meninggalkan teman-temannya.


"Sialan lo Tam. Gue udah kepo, lo tinggal!" Troy menggerutu kesal. Teman yang lainnya ikut bubar.


Tama tertawa keras.


Keberadaan Tama yang sudah menikah, membuat iri banyak murid di sekolah karena hanya dia yang boleh berpacaran sebab ia sudah menikah. Ia kadang berpegangan tangan di kantin saat makan berdua dengan Mei.


"Rese juga nih Tama, gue jadi kepengen nikah cuma karena mata gue ternodai lihat dia gandengan ama istrinya di kantin," gerutu Troy.


"Lah, kalo gitu cobain lah. Ntar abis itu, lo cerita ma gue," ujar Deny temannya yang duduk di sampingnya.


"Enak aja. Lu mau gue digantung ama Babe gue?"


"Kek gimana tuh gantungnya. Gue penasaran."


"Eh, setan lu!" Troy berdiri yang menyebabkan Deny kabur seketika sambil terkekeh.


Sepulang sekolah, Tama bergegas berganti baju di rumah karena harus segera ke kantor. Mei terlihat menggulung bibir bawahnya.


"Ada apa Mei, dari tadi merengut terus." Tama merapikan kemejanya.


"Aku mau ikut." Masih dengan wajah yang sama.


"Kan aku udah bilang, Ayahmu gak ngijinin kamu jadi Bodyguard-ku lagi dan aku juga gak ngijinin kamu bekerja jadi Bodyguard, jadi untuk apa kamu ikut? Malu kan Direktur bawa-bawa istrinya ke kantor, lagi pula aku sudah punya Bodyguard baru yang sudah disiapkan Kak Jo untukku."


"Mmh ...." Mei masih menggerutu.


"Mei Sayang." Tama meraih tangan istrinya. "Nanti sore aku udah pulang kok. Nanti setelah itu mau ke mana aku temenin."


Mei masih mengerucutkan mulutnya. Tama mengecup kening Istri tersayangnya.


"Gak lama kok." Ia segera bergegas keluar meninggalkan gadis itu sendiri di kamar.

__ADS_1


Mei, hanya duduk di tepian tempat tidur. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan tanpa Tama. Rasanya seru bila berada di samping suaminya.


"Hah, jadi ibu rumah tangga harus apa ya?" gumamnya sendirian sambil merebahkan diri.


Tiba-tiba pintu terbuka, suaminya telah kembali.


"Tama?" Mei terduduk dari tidurnya.


"Eh ...."


"Ada apa?"


"Bagaimana kalau kamu kuangkat jadi Koordinator Bodyguard-ku?"


"Apa?"


"Mau kan Mei?"


"Tapi untuk apa? Kan Bodyguard yang disiapkan Kak Jo juga ada dua?" Kini balik Mei yang kebingungan melihat tingkah Tama.


"Eh itu ...."


"Apa?"


"Emm ...."


Dengan mata jenakanya Mei merasa di atas angin. Ia mendekati suaminya pelan, ingin mendengar ia memohon. "Iyaaa ...."


"Itu ...."


Mei mendorong pintu sambil mendekati wajah suaminya. "Iyaaa ...."


Wajah mereka sangat dekat. Raut wajah istrinya itu sangat mengintimidasi Tama hingga pria itu susah menelan salivanya.


"Ah, sudahlah." Akhirnya Tama menyerah. "Aku takut melihat wajah seram mereka Mei, tolong."


Mei menarik ujung bibirnya karena ia menang. Tama tetap Tama. Pria yang mudah diintimidasi olehnya. Suami kesayangan. "Ok."


Tama pun akhirnya menunggui Mei berganti pakaian.


Di kantor, Mei terlihat senang. Pekerjaannya lebih ringan karena hanya melihat-lihat. Tama pun sama. Ia juga hanya berkenalan dengan pegawai baru dan juga CEO baru yang menggantikan posisinya yang lama. Sebagai Direktur, Tama hanya menerima laporan dan memeriksa beberapa proyek baru yang sedang dipertimbangkan.


"Sayang, habis ini kamu mau ke mana?"


"Kok panggil Sayang?"


"Kan kamu istriku."


"Malu ah!"


Tama mendatangi istrinya di sofa. "Masa gitu? Kamu malu bersuami aku?"


"Ngak gitu. Malu sayang-sayangan di kantor ah!"


"Kalo di rumah, mau gak?"


"Tama ...."


"Aku mau Mei."


"Ngak ah!"


"Terus kenapa kita menikah?"


Mei diam membisu. Tiba-tiba terdengar hp Tama berbunyi. Chris menelepon.


"Papa?"


"Tama, apa kamu bisa ke sini? Ada bisnis baru untukmu."


__________________________________________


Author Ippiieee dengan novel yang berkisah tentang dosen sangat menarik untuk disimak. Kuy kepoin! Dosen Tampan Pemikat Hati.

__ADS_1



__ADS_2