Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Salah Paham


__ADS_3

"Ajak duduk dong istrimu. Kasihan kan kelamaan berdiri," ucap Reina pada Aska.


Aska segera menarik istrinya ke kursi sofa dekat Ayahnya. Ia kemudian menatap Rojak dan Chris satu-satu.


"Bagaimana caranya Rojak bisa masuk ke perusahaan Papa?" tanya Aska penasaran di depan Rojak.


"Oh, Head Hunt(berburu posisi penting). Aku lihat dia sangat direkomendasikan di kantornya, jadi aku bajak dia agar masuk perusahaan Papa."


Head Hunt? Memangnya dia bisa menghasilkan untung milyaran rupiah buat perusahaan multinasionalnya dulu hingga Papa berani membajaknya? Rasanya tidak mungkin si gembel ini bisa menghasilkan laba sebanyak itu untuk kantor bonafitnya itu. Rasanya dia bisa masuk kantor multinasional itu saja aku anggap karena keberuntungan. Dia tidak bisa apa-apa. Aku rasa Papa salah menilai orang yang mungkin bisa berakibat fatal bagi perusahaan.


"Ah, Pak Chris. Jangan begitu. Saya hanya berusaha," Rojak merendah.


"Tapi hasilnya memuaskan kok. Aku tak salah memilihmu. Kamu memberi nuansa baru bagi Departemen Marketing sekarang. Segala sesuatunya bisa terukur sehingga bawahan bisa mengikuti arahanmu dengan baik."


"Marketing bukankah harus begitu Pak, di sesuaikan dengan target yang diinginkan. Aku hanya membuat bagan yang jelas jadi mereka tinggal mengikuti poin-poin yang sudah saya berikan."


"Itulah yang aku bilang terarah karena GM sebelumnya hanya membicarakan target sedang cara pencapaiannya diserahkan pada tim."


"Itu juga hasil diskusi bersama Pak, bukan seratus persen dari saya idenya."


Mmh! Pria ini benar-benar pintar mencari muka. Ia sekarang berada di atas angin dan di kolam yang besar. Benar-benar sial! Aku sudah terlanjur pindah ke perusahaan Monique yang bisa digolongkan hanya kolam kecil. Dia sebentar lagi pasti bisa menguasai perusahaan Papa. Aska mengepalkan tangannya geram.


Reina yang telah meletakkan cangkir untuk Rojak dan Chris kembali ke dapur. Ia sedikit kerepotan karena pembantunya satu cuti dan satu lagi sedang sakit.


"Eh, Rojak sudah menaikkan Haji Ibunya tahun lalu lho. Papa jadi ingin naik Haji. Punya uang tapi selalu tidak punya kesempatan," Chris bicara pada Aska memberi tahu.


"Oh, bukan begitu Pak." Rojak sedikit malu, Chris Bosnya malah pamer pada anaknya soal ia menaikkan Haji Ibunya. "Mumpung ada umur, Ibuku masih sehat dan kesempatan ada kenapa tidak? Takutnya besok-besok Ibu sakit atau malah tertunda-tunda, alangkah lebih baiknya disegerakan."


"Betul ya, kita tidak boleh menunda-nunda selagi bisa."


Rojak melirik Aska yang terlihat kesal. "Ah, itu hanya pemikiran saya saja Pak, mungkin tidak sempurna."


"Oh, pemikiran yang bagus kan? Kenapa tidak diikuti."


Aska yang tadinya ingin rileks mengunjungi orang tua jadi kesal melihat kedatangan pria itu di rumahnya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena memikirkan keberadaan istrinya di sana. Ia terpaksa mendengarkan walaupun kelihatan sekali Chris sangat membanggakan Rojak di depan Aska.


"Kamu sendiri, gimana Aska, bekerja di sana. Apakah ada hambatan?"


"Oh, sebenarnya tidak, tapi karena aku juga di siapkan sebagai pewaris, aku jadi harus banyak tahu soal seluk-beluk bisnis dan produk perusahaan dan juga cara mengatur perusahaan," Aska pun tak mau kalah, pamer.


"Oh, begitu. Papa cukup senang kau mulai banyak kemajuan. Nanti Papa akan bertandang ke sana sambil melihat perusahaan Albert."


Cukup gugup juga Aska mendengar pernyataan Chris karena di sana sebenarnya ia masih belajar dan belum mendapat jabatan karena masih dilihat kemampuannya dalam bekerja. Ia pikir setelah menikah dengan Monique otomatis ia bisa menduduki sebuah jabatan penting, tapi ternyata tidak karena jabatannya masih diproses lagi dari awal melihat potensinya.


Menyesal rasanya meninggalkan perusahaan Chris karena di sana ia bebas melakukan apa-apa dan kini ia mendapat ancaman orang luar yang bisa sewaktu-waktu mengambil alih perusahaan Papanya Chris, yaitu Rojak. Tak mudah untuknya kembali lagi karena ia harus menjaga perasaan Monique dan ia ingat betul bahwa Papa Chris ini memindahkannya ke pabrik yang terletak di pinggir kota yang jauh dari rumah.


Pilihan itu telah berlalu tinggal ia harus bijak menjalani apa yang sudah dipilihnya. Aska belajar berdamai dengan kesalahan dan coba menjalaninya dengan tegar.


----------+++--------

__ADS_1


"Ida!" Tama datang menyambangi gadis itu dengan tergesa-gesa. "Mei mana?"


Ida yang sedang melihat-lihat buku baru di tempat terbuka, menoleh dan menunjuk pada pada salah satu sudut ruangan yang di penuhi rak-rak buku. "Di sana, sama Tristan."


"Apa?" Tris ... tan? Tama mengepalkan tangannya tanda geram. Kenapa ada Tristan di sini? Katanya ....


"Tama, kamu beneran mau beliin aku buku? Buku yang ini lho! Mahal kan?" Ida memperlihatkan harga buku yang di pegangnya.


Mau tak mau Tama memperhatikan buku yang di pegang Ida sebelum matanya sempat menemukan Mei. "Oh, beli saja gak papa," katanya tak peduli.


"Oh, bener?" Ida, gadis berambut pendek sebahu itu terharu mendengar ucapan Tama dan memeluk buku itu. "Kamu baik sekaliii."


"Udah sana beli aja yang kamu mau. Aku gak masalah kalau kamu mau beli satu lagi juga," Tama mengusirnya.


"Oya? Ada tadi satu lagi yang di mana ya?" Gadis itu mulai merambah kembali ke rak buku dengan arah berbeda.


Tama dengan kesempatan itu mencari keberadaan Mei. Gadis berjilbab biru itu ternyata sedang melihat-lihat buku olah raga di rak buku-buku kesehatan bersama Tristan. Benar, Tristan memang ada bersamanya. Tama benar-benar kesal melihatnya. Bukankah dia berjanji untuk tidak bertemu pemuda itu lagi di luaran tapi belum apa-apa Mei sudah melanggar janjinya.


"Kamu kok lucu ya, senengnya baca buku-buku tentang olah raga," Tristan tersenyum menatap Mei sambil membuka sebuah buku dari rak lain.


"Aku ingin jadi guru. Guru olah raga."


"Oh, bagus dong! Cita-cita yang mulia."


"Ah, enggak. Cuma cita-cita yang sederhana."


"Semua orang kan belajar dari guru."


"Kenapa ada kamu Tristan, di sini?" selidik Tama dengan nada ketus.


"Oh, aku di telepon Mei, katanya dia lagi lihat-lihat buku sama Ida terus ngajakin makan siang karena kamu juga ikut katanya."


Tama mengerut dahi dan menatap Mei. Ia ingin penjelasan tapi mata Mei terlihat datar seperti tidak merasa bersalah. Ia kembali berdehem. "Kalau begitu, gak masalah. Kamu aku traktir."


"Ya, aku sih juga gak masalah kalau harus traktir kalian," jawab Tristan santai sambil meletakkan buku yang dipegangnya.


Sombong banget nih orang. Gue yang traktir mereka berdua, kenapa dia ikut-ikutan sih? Kenapa sih Mei ngundang orang ini lagi? Kan gue udah ngelarang, kenapa masih aja keluar sama cowok sombong ini! Hah, sebel gue lama-lama. Awas aja lu pulang, gue bikin perhitungan ama lu Mei, biar lu dengerin apa kata gue dan gak bisa ngebantah gue lagi.


Setelah membayar buku Ida, mereka berempat mencari tempat makan di lantai lain. Sebuah restoran cepat saji menjadi pilihan mereka untuk makan.


Usai membayar, Tristan berjalan lebih dulu dengan Mei mencari tempat duduk. Mereka duduk di tengah ruangan di samping sebuah meja berdampingan. Setelah itu segera Tama duduk di samping Mei sehingga Ida hanya dapat duduk di kursi yang tersisa.


Sambil makan, Ida mencoba mengajak ngobrol Tama. Sesekali Tama melirik keakraban Mei dengan Tristan.


"Eh, aku baru beli hp lho! Iri aja lihat kamu beli hp, Mei." Tristan mengeluarkan hp barunya.


Mei tertawa kecil. "Masa sih?"


Tristan membuka kamera. "Katanya fotonya bagus. Beberapa piksel lebih jernih. Coba kita foto selfi," ajak Tristan. Pemuda itu merentangkan tangannya ke atas. Mei mengumbar senyum pada kamera dan pemuda itu mengambilnya beberapa kali. Mereka melihat hasilnya.

__ADS_1


"Bagus kan?" pamer Tristan pada Mei.


"Iya, bagus."


"Tama, kalo kamu suka buku apa?" tanya Ida yang membuat pemuda itu terpaksa menoleh. Gadis itu terlihat sangat antusias bicara dengan Tama.


"Buku konstruksi," kata pemuda itu asal bicara.


"Oh, bacaanmu berat juga ya?"


"Ayahku pemilik perumahan Gardenia jadi aku rasa gak aneh."


"Oh, kamu mau nerusin usaha Ayahmu ya?"


"Belum tahu."


Saat Tama sedang berbincang-bincang dengan Ida, Mei sesekali mencuri dengar sambil berbicara dengan Tristan. Entah kenapa keakraban Tama dan Ida membuatnya rendah diri.


Aku memang tidak sebanding dengan mereka yang pintar seperti Ida atau yang kaya seperti Tristan. Beruntung saja mereka adalah teman-temanku, walau sebenarnya aku tak tau di mana tempatku berada. Aku tidak punya kemampuan apa-apa yang bisa aku banggakan.


Hatinya sedikit teriris melihat keakraban Tama dan Ida. Sesuatu yang ia tidak tahu kenapa.


Seusai makan siang, Tristan berdalih harus pergi ke tempat lain sehingga Tama dan Mei terpaksa mengantar Ida ke rumahnya. Gadis itu tinggal di sebuah perkampungan dengan rumah sederhana.


"Makasih ya?" Ida melambai pada Mei dan Tama. Mereka pun membalas lambaian Ida.


Setelah agak jauh, Tama berhenti di parkiran sebuah toko.


"Mau beli apa Kak?" tanya Mei heran.


"Aku mau bicara sama kamu," ucap Tama sedikit emosi. Ia melepas seatbelt-nya agar leluasa bergerak.


Mei terkejut melihat wajah Tama yang terlihat sangat serius memandangnya.


"Apa kamu lupa dengan yang kita omongkan kemarin?"


"Apa?" tanya Mei tidak mengerti.


"Aku kan udah bilang kamu jangan pergi sama Tristan, tapi kenapa sekarang kamu malah ngundang Tristan ke acara kita sih??" Tama dengan marahnya.


"Eh, tapi kan pertimbangannya kalo di Mal gak kelihatan Ayahku," jawab Mei pelan. Ia tidak mengerti kenapa Tama begitu marah dengan soal yang satu ini.


"Tetep aja aku gak suka kamu ngajak Tristan ikut!!" Tama masih berapi-api.


"Kamu kan traktir Ida buku dan makan siang. Karena kamu berduaan masa aku sendirian?" kembali gadis itu bicara pelan-pelan agar Tama mengerti maksudnya.


Cewek ini! Tama memejamkan mata sejenak, kemudian menatap Mei tajam. "Kamu pikir aku mau pacaran sama anak kutu buku itu? Sorry, gak level!! Gue neraktir dia karena dia temenmu! Ngerti gak sih?"


"Lho tapi Tristan ...."

__ADS_1


"Tristan lagi, oh my God(ya allah) ...." Tama memutar bola matanya. Ia menarik lengan atas Mei dengan kasar. "Aku membayarmu untuk berada di sisiku, bukan bersamanya, kamu mengerti gak sih? Jadi jangan sebut-sebut nama itu lagi, serasa ada kecoa yang masuk telinga setiap kali kamu menyebut-nyebut nama cowok itu di hadapanku!!!" Ia mengatakan itu di depan wajah Mei dengan amarah yang masih belum reda.


Mei terkejut sekaligus syok. Baru kali itu ia melihat Tama semarah itu. Kulitnya yang putih berubah kemerahan karena amarahnya yang meledak-ledak. Pemuda itu, tampak seperti orang lain. Wajahnya serius dengan pandangan yang ingin menembus bening bola mata Mei.


__ADS_2