
"Iya dia," ucap Kenzo lagi.
"Bang Aska kenapa?" tanya Leka bingung. Ia tak ingat apapun perihal Aska.
"Leka ... kamu pingsan kenapa?"
"Pingsan? Aku ... aku ...."
"Maaf Pak, Istri Bapak akan kami periksa dulu." Seorang Suster menarik gorden tempat tidur Leka sehingga Kenzo terpaksa menyingkir dari situ. Seorang Dokter wanita masuk ke dalam gorden untuk memeriksa Istrinya dan Dokter lainnya keluar.
"Gimana Kak?" tanya Tama yang sudah berdiri di samping Kenzo.
"Oh, tidak tahu. Leka baru saja siuman, tapi ketika ditanyai, ia seperti tak ingat apa-apa."
"Oh, kita tunggu saja."
"Tapi Kakak rasa, Kakakmu itu juga keterlaluan. Ia sudah ...."
Tama buru-buru memotong ucapan Kenzo yang sudah naik darah itu. "Sudah, jangan sudzon. Berprasangka baik aja Kak Jo, biar hidup lebih tenang. Berprasangka baik itu doa lho Kak."
"Amin," ucap Kenzo kemudian. Kata-kata Tama cukup menyejukkannya. Sebentar ia terdiam. "Aku pagi ini cukup pusing dengan laporan keuangan yang memicu hal lain. Aku ingin biasa-biasa saja tapi mereka ingin uang lagi dan lagi. Mereka tidak tahu, saat uang di kantong mereka tambah tebal, wartawan akan mencariku, dan aku tambah terkenal setelah itu. Aku tidak lagi bisa menyembunyikan identitasku, bahkan keluargaku. Benar-benar sulit menjaga permintaan Ayah." Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudah dari dulu Kak."
Mei hanya mendengarkan obrolan keduanya. Gorden di depan mereka kemudian terbuka.
Dokter tadi kemudian mendatangi Kenzo setelah diberitahu Suster di sampingnya. "Bapak suaminya?"
"Iya Dok. Kenapa Istri saya pingsan ya Dok?"
"Selamat, Istri Anda hamil."
"Ah, yang benar Dok?" Mata Kenzo terbelalak.
"Iya benar Pak." Dokter itu tersenyum.
"Tama, aku akan jadi Ayah. Jadi Ayah!" Kenzo menggenggam kedua tangan adiknya dan meloncat-loncat bersama Tama.
"Iya Kak, aku ikut bahagia."
Mereka masih belum berhenti meloncat-loncat hingga Mei sampai Suster dan Dokter di sana tak dapat menahan tawa. Mei sampai-sampai harus membekap mulutnya saking lucunya melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil.
"Jadi Bapak harus hati-hati menjaga kedua anaknya ya Pak."
"Oh, pasti Dok. Eh, kok Dokter tahu ini anak kedua? Oh, iya ada Baby Sitter anak saya ya?" Kenzo menyadari, Dokter itu pasti memperhatikan Runi yang sedang bingung melihat Kenzo tadi melonjak-lonjak sedang Baby Sitter Runi tersenyum lebar.
"Bukan Pak. Anak Bapak kembar dua, tadi saya lihat di monitor."
"Apa? Kembar dua? Be-benarkah itu Dok?" Kenzo terbata-bata sambil mendekati Dokter wanita itu tak percaya.
"Iya Pak. Kenapa Bapak baru mengetahui kehamilan Istri Bapak sekarang, padahal Istri Bapak menurut perkiraan kami sudah hamil 4 bulan lho! Anak kembar itu perkembangan janinnya sedikit lambat. Beri nutrisi yang baik Pak untuk Istri Bapak sebab menurut pengakuan Istri Bapak, ia kurang nafsu makan belakangan ini dan ia muntah terus dari pagi tadi."
"Ya allah kenapa aku tidak tahu ya?" Kenzo menyentuh kepalanya.
"Bapak mau lihat calon bayinya? Sudah bisa melihatnya di monitor lo Pak. Tadi kebetulan saya minta dibawa kemari."
"Oh ya, aku mau," jawab Kenzo antusias.
Kenzo kemudian dibawa mendekati Istrinya. Gorden pun kembali di tutup.
Tama kemudian mencari Aska. "Mei, aku akan punya ponakan baru lagi, Mei. Aku sangat bahagia Kak Jo akan menjadi seorang ayah. Sekarang kita ke tempat Kak Aska. Mudah-mudahan ada berita baik lagi." Ia menggenggam tangan Istrinya dengan bersemangat.
Mei memberinya senyum termanisnya.
"Kalau kita punya bayi bagaimana ya?"
"Ah, gak mungkin. Kita kan masih anak-anak."
"Mmh, iya ya?"
Tama kemudian menemukan ruang tunggu yang ditunggui kedua orang tua Monique.
"Monique sepertinya akan mempercepat tanggal melahirkannya," terang ayah Monique.
"Oh, beneran Om?"
"Iya."
Sementara di dalam sebuah ruang persalinan, Monique sedang berusaha meregang nyawa demi kelahiran anaknya dan Aska mendampingi.
__ADS_1
Awalnya Monique hanya menggenggam jemari Aska tapi kemudian mengikuti proses bayinya yang ingin keluar, wanita itu mulai mencengkram bahu Suaminya. "Aaah, aku kesal padamu!"
"Maafkan aku Sayang."
"Aku benciii!"
"Iya, maaf."
"Aku benci padamuuuu!" Monique kini menarik rambut Suaminya.
"Aaah, iya ...." Aska berusaha bertahan dan diam di tempat. Ia tak ingin lari. Walaupun ngeri melihat Istrinya bertarung dalam kesakitan, ia bergeming. Ia ingin mendampinginya terus hingga anak itu lahir.
"Aaaah!"
"Sakit di mana Sayang?" tanya pria itu khawatir.
"Aaaaah!" Monique kembali menarik rambut Aska dengan kencang.
Sementara di luar semua orang gelisah. Ayah Monique sampai-sampai harus berjalan mondar mandir dan sesekali duduk dengan tidak tenang sementara Tama duduk sambil memperhatikan pintu. Tak lama terdengar suara tangisan bayi.
"Alhamdulillah," ucap Tama senang.
Aska yang mendampingi Istrinya di dalam juga mengucap syukur akhirnya Istri dan anaknya selamat. Dilihatnya wajah Istrinya yang letih. Ia merapikan rambut Monique yang berantakan dan mengusap bulir-bulir keringat di dahi. "Selamat Sayang, kini kita punya bayi." Ia menyatukan kening mereka.
"Aska, kenapa kamu tidak pergi?"
"Kenapa? Karena saat seluruh dunia menjauh, kau yang pertama datang padaku. Memberiku pertolongan dan mendampingiku. Berkat kamu, hidupku berubah jadi lebih baik, lebih bijak dan lebih menghargai apa-apa yang diberikan tuhan padaku. Kaulah duniaku. Tempat aku bernaung dan kembali. Apa perlu berapa banyak alasan lagi agar kamu percaya padaku? Aku sudah bilang padamu, tunggu aku mengejarmu." Ia menangkup wajah Istrinya dengan kedua tangannya agar wanita itu fokus padanya.
Terlihat tetesan air mata bahagia jatuh melewati pipi wanita itu.
Aska mengusapnya dengan lembut. "Aku sayang padamu."
Kini air mata Monique mengalir begitu deras. Penantiannya berakhir manis.
Di luar Tama menelepon Chris. "Iya Pa, kabar bahagia semua." Ia kemudian menutup teleponnya dan pamit pada orang tua Monique.
"Hahh, akhirnya. Selesai sudah tugasku. Aku lapar, belum sempat mencicipi makanan pesta," ucapnya pada Mei.
"Ya sudah. Kita makan saja di kantin."
"Aku jenguk Kak Jo dulu sebentar."
"Ok."
"Ayo Leka sesendok lagi. Masa cuma dua suap?"
"Aku mual Mas."
"Haduhhh." Kenzo menyerah.
"Jadi gimana Kak?" Tama datang bertanya.
"Sepertinya harus tinggal di rumah sakit karena Leka susah makan."
"Lah, terus Runi?"
"Dia tidak bisa ditinggal. Dia selalu ikut kami. Sekarang kamarnya sedang disiapkan. Sebentar lagi." Kenzo menoleh pada Mei. "Pastinya kan tidak bisa dititip pada kalian karena kalian bekerja."
"Kan bisa titip Ayah?"
"Bisa juga sih." Kenzo seperti setengah hati. "Oya, Mei gak diperiksa?"
"Mei? Dia lupa ingatannya belum pulih tapi kata Dokter tidak berbahaya."
"Bukan, bukan itu maksudku."
"Lalu?"
"Mungkin saja Mei hamil."
Tama tertawa. "Ah tidak mungkin. Tidak ada tanda-tanda dia berubah. Kalo kayak Kakak tuh iya. Kakak tuh tidak peka."
"Eh, barangkali ...."
Seorang suster lewat di depan tempat tidur Leka.
"Sus, sebentar. Tolong periksa Ipar saya, apa mungkin dia hamil." Kenzo menunjuk Mei.
Suster itu menatap Mei dari ujung kaki hingga ujung kepala.
__ADS_1
"Ini suaminya Suster." Kenzo menjelaskan sambil menunjuk Tama. Ia sudah menangkap keheranan Suster itu pasti karena wajah Mei yang masih sangat muda.
"Oh, begitu. Ayo Mbak."
Mei kemudian mengikuti Suster itu.
"Hahh." Tama duduk di tepian tempat tidur.
"Coba kita lihat," ucap Kenzo penasaran.
Tak lama Suster itu kembali sendirian. Ia mendatangi Tama. "Pak, Istri anda hamil. Anda dipanggil Dokter."
"Apa?" sahut Tama cepat. Ia tak menyangka ucapan Kenzo menjadi kenyataan.
"Kan," ucap Kenzo memastikan.
Kini Tama menatap Kenzo.
"Kan kamu tidur dengannya masa gak tau? Kalau kamu gak tahu berarti kamu sama bodohnya denganku."
Leka tertawa. Tama kemudian mengikuti Suster itu.
Dokter memberi tahu bahwa Mei masih di bulan-bulan awal kehamilan. Perubahannya tidak diketahui karena tiap orang punya efek yang berbeda-beda di tiap kehamilan, dan Istrinya itu termasuk yang tidak terlihat efeknya ketika hamil. Mei ternyata telah 2 bulan hamil.
Tama sangat bahagia. Tiada kado terindah selain mendengar ia akan menjadi seorang ayah, tapi tidak dengan Mei. Ia sedikit canggung karena masih sangat muda untuk menjadi seorang Ibu dan dia juga harus mengorbankan sekolahnya.
"Mei Sayang, aku suka!" Tama segera memeluk Istrinya saat telah keluar dari ruang praktek dokter. "I love you. I love you more and more.(Aku mencintaimu. Aku makin-makin mencintaimu.)"
"Tama, tapi aku masih ingin sekolah."
"Kamu kan bisa Home Schoolling(sekolah dari rumah) via internet. Jangan digugurin ya Sayang." Tama mengerucutkan mulutnya.
Dengan senyum kecilnya, ia mengangguk.
"Aku akan melakukan apapun untukmu asal kamu lahirkan anak kita."
Mei tersenyum malu saat menunduk. Dengan manja ia menyentuh kancing baju Suaminya.
"Aku makin sayang deh sama kamu." Tama mencubit pipi Istrinya. "Lahirkan bayi yang lucu ya untukku. Yang secantik kamu atau yang seganteng aku."
Mei tersipu. Pipinya berwarna kemerahan.
"Yakin saja. Hidup kita akan lebih baik dengan mereka. Mmh?"
Mei mengangguk.
-------+++--------
"Jadi bagaimana? Mama sih tidak mau kamu pindah ke Kalimantan."
"Tapi ini tugas, harus dikerjakan." Tristan menunduk.
Wanita paruh baya itu memandangi anaknya. "Kau tidak bisa mendapatkan gadis itu?"
"Entahlah ...."
"Kau masih mencintainya kan? Kenapa tidak kau culik saja dia?"
"Aku ingin menikah dengannya tapi orang tuanya memilih orang lain."
"Kalau kamu menculiknya dan tidur dengannya aku rasa orang tuanya tidak punya pilihan lain."
"Aku rasa dia sudah menikah." Tristan masih menunduk.
"Apa kamu tidak bisa mencari gadis lain? Kan banyak wanita yang lebih cantik darinya."
"Tapi mereka bukan Mei."
Wanita itu terdiam sejenak. "Berarti kamu sudah tahu jawabannya kan?"
Tristan mengangkat kepala menatap Ibu angkatnya. Ia tidak mengerti apa maksud perkataan wanita itu.
"Nah, pikirkan. Apa yang mau kamu kerjakan." Wanita itu berdiri dan meninggalkannya.
Enam bulan sudah Tristan terakhir kali melihat Mei tapi hatinya tak berubah. Hatinya masih memikirkan gadis itu. Entah berapa kali dicoba untuk melihat gadis lain yang bisa menarik hatinya, tapi ia tak bisa. Hanya Mei yang terus terbayang dipelupuk matanya, padahal jelas-jelas gadis itu bilang padanya ia tidak menyukai dirinya.
Seharusnya ia bisa sadar diri karena ucapan Mei telah menjadi tamparan keras untuknya tapi cinta itu bergeming dan tak goyah walau tersakiti. Ia masih mencintai Mei walau telah lewat beberapa bulan sejak Mei menyakitinya dan ia masih mengharapkannya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Sungguh, ia tidak pernah serapuh ini bahkan pada Ibu kandungnya yang belum bisa ia temukan.
__________________________________________
__ADS_1
Author Icha_violet mengusung tema fantasi menceritakan seorang gadis yang masuk ke dalam komik yang di buatnya sendiri dengan judul Cewek Tomboy Jadi Ratu. Cus kepoin yuk!