
Pria Jepang itu memperhatikan kamar itu lebih teliti. Setiap sudut ia datangi. Sepertinya tidak ada kerusakan di dalam kamar itu dan seingatnya pegawai hotel itu bilang, Ayah Ibunya pergi dengan 2 orang lainnya yang berarti pergi tanpa paksaan. Iya kan? Ayah, ada hubungan apa dengan pria-pria itu hingga hampir seminggu tidak pulang, bahkan mungkin di perpanjang. Apa ada hubungannya denganku? Soalnya Ayah menyinggung soal aku berbahaya tinggal di Jepang. Itu kan sudah dari dulu begitu, karena itu aku tidak pernah tinggal lama di sini, soalnya takut musuh-musuh Otousan mengenaliku dan membalaskan dendamnya padaku. Apa itu berarti kepergianmu kali ini benar-benar ada hubungannya dengan diriku? Kenzo terlihat bimbang. Ia kemudian membuka laci-laci yang ada. Kembali pria itu terkejut dengan temuannya. Ia menemukan jam tangan Arya. Arya tidak pernah pergi jauh tanpa jam tangannya, tapi apa ia lupa memakainya?
Kemudian, hp kedua orang tuanya tersimpan di dalam laci meja nakas. Terjawab sudah kenapa ia menelepon tak pernah diangkat. Ayah, kamu di mana? Aku sungguh bingung, kenapa kamu malah meninggalkan hp-mu di sini. Kenapa sepertinya kamu tidak mau dihubungi? Apa kamu berada dalam bahaya?
----------+++----------
"Ayo Mei, kita makan siang dulu," ucap Tama setelah guru itu keluar. Ia meregangkan tangannya.
Mereka mendatangi kantin yang mulai ramai.
"Kamu mau apa?"
Mei mengedarkan pandangan pada kantin yang lumayan besar dan bersih itu. Ada beberapa konter makanan yang makanan bisa dibilang, tidak murah.
Ternyata seperti ini ya, kantin sekolah orang kaya. Mei sempat berjalan berkeliling melihat makanan yang ingin dibelinya.
"Aku yang ini saja." Mei menunjuk sebuah makanan disalah satu etalase makanan.
"Soto ayam? Ngak pakai nasi? Oya, ngak ya?" Tama bergumam sendiri.
"Hei, Tama! Kenalin dong sepupumu ini." Seorang teman Tama yang tadi duduk di belakang kursi Tama memberanikan diri berkenalan. Ia datang bersama 3 temannya yang lain.
Tama langsung tersenyum. Temannya yang satu ini memang sudah sejak tadi tidak sabar ingin berkenalan dengan Mei. "Oh, ini kenalin sepupu gue, Mei." Ia menatap gadis itu. "Mei kenalin ini, Troy."
"Troy?" Nama yang aneh.
Mereka bersalaman.
Seorang pemuda tampan memperhatikan Mei. Ia duduk tak jauh dari situ.
"Oh, Mei ya?"
Soto ayam Mei telah selesai dibuat. Mei mengambilnya beserta minuman teh kotak.
"Sini Mei, aku yang teraktir," ucap Troy. Teman-teman Troy tersenyum melihat aksi cepat Troy.
Mei melirik Tama.
"Terserah kamu," Tama mengendikkan bahunya.
"Maaf." Mei langsung menolaknya.
"Lho, gak papa lagi! Ntar kita ngobrol bareng-bareng satu meja. Gue juga mau makan soto ayam, gimana? Sekalian. Iya gak?" Troy menyenggol temannya di samping.
"Yo-i," jawab teman Troy di sampingnya.
Senyum Tama makin lebar. Ia diam saja temannya menggoda Mei, tapi gadis itu merapat pada Tama. "Ya udah, ketauan lo beli sendiri-sendiri aja." Ia mencoba menengahi.
"Ya, udah deh." Troy sedikit kecewa.
Mei mencari tempat duduk. Ia sempat melihat seorang pemuda tampan yang duduk bersama seorang temannya. Dari wajahnya ia terlihat seperti pemuda dingin sedingin gunung es. Tanpa senyum. Ia sempat melirik Mei dan kemudian acuh. Saat Mei duduk, ia melihat seorang gadis mendatangi pemuda itu.
"Tris, lo bantuin gue dong belajar matematika. Lo kan jago. Gue lemot banget deh kalo soal itung-itungan. Kalo lo yang bantuin, pasti gue langsung bisa," rayu gadis cantik di sampingnya.
Pemuda itu tersenyum kecut. Ia melirik gadis di sampingnya dengan sinis. "Dan kalo ternyata gak bisa juga, gimana?"
__ADS_1
"Ya bantuin sampai bisa dong, Tris," ujar gadis itu manja. Ia memainkan rambut panjang bergelombangnya di sela-sela jari.
"Maaf, aku gak ngelayani orang-orang bodoh dengan banyak kepentingan," ucapnya sinis.
Gadis itu pergi dengan wajah kesal. Pemuda itu kemudian sempat memandang lurus ke depan melihat Mei yang sedang menatapnya. Merasa tak enak, Mei menganggukkan kepala dengan senyuman minta maaf karena tak sengaja melihat, tapi pemuda itu melengos acuh dan kembali meneruskan makannya.
Pantes aja, jarang ada cewek yang mau deketan sama dia. Jutek sih ... padahal ganteng ya?
"Eh geseran dong!" Tama ingin duduk di samping Mei hingga gadis itu perlu menggeser duduknya.
Troy juga ikutan duduk di depannya. "Boleh ya?" Rupanya ia pantang menyerah.
Mei hanya memberi senyum sekedarnya tapi itu cukup membuat Troy bersemangat. Pemuda itu kemudian mulai mengajaknya mengobrol sambil makan.
Dari tempat berbeda, pemuda tampan itu kembali menatap Mei sesekali sambil mengobrol dengan teman di depannya.
Bel berbunyi. Mei dan Tama kembali ke kelasnya. Mei kemudian menyadari pemuda tampan itu ternyata masuk ke kelasnya. Eh, sekelas ya, kok aku gak tau ....
--------+++--------
Kenzo dalam perjalanan ke rumah sakit bersama Bodyguard-nya dengan taksi.
Aduh, kenapa aku sampai lupa jadwal membuka gips ini ya? Ini bahkan sudah terlewat 3 hari dari jadwal yang seharusnya, padahal aku sudah tak betah mandi berendam saja tanpa mengosok-gosokkan badan. Rasanya badanku masih tetap kotor. Mungkin masalah kecelakaan pesawat terbang ayahku itu yang membuatku lupa kalau tanganku sudah kembali pulih. Ah, aku sudah tak sabar memberitahukan kejutan ini pada Leka. Leka, here I am.(Leka, inilah aku.) Suamimu akan pulang kembali ke rumah dengan seutuhnya, dan pergumulan kita akan semakin seru.
Pipi Kenzo tiba-tiba bersemu merah dengan sebuah senyuman terpatri di bibirnya. Ia menatap ke arah jalanan lewat kaca jendela mobil itu dengan bahagia.
---------+++--------
Mei bingung melihat Tama yang sudah masuk kelas, keluar lagi, padahal pelajaran bahasa Indonesia sebentar lagi di mulai, menunggu guru datang. Ia menunggu sebentar tapi Tama tak kunjung kembali. Ia kemudian menyusul.
Ia mencari ke segala tempat. Kantin, toilet hingga terpikirkan ke belakang sekolah. Terdengar suara anak-anak ramai bercanda dan tertawa dari arah belakang sekolah. Mei mendatangi tempat itu.
"Mmh?"
Beberapa dari mereka mulai berkomentar.
"Waduh, siapa tuh yang dicariin?"
"Eh, waduh. Gawat."
"Bininya sapa tuh, bininya sapa?"
"Kak!" Mei memanggil sekali lagi.
Tama terpaksa berdiri menghampiri sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya. "Nih Mei, kenapa ke sini sih lu ...." Dengan suara sedikit bergumam.
"Oh, elu Tama. Bini lu urusin dulu lah! Gempar nanti jagat pernongkrongan kita," sela seorang siswa sambil tertawa.
Tama hanya menoleh sekilas pada siswa itu lalu menatap Mei. "Ngapain sih lu Mei, ke sini. Ganggu aja! Pergi sana-sana." Tama mengusirnya.
"Kak kita kan ada kelas Kak. Bahasa Indonesia."
"Lo pikir gue gak bisa bahasa Indonesia apa? Bisa lah gue. Tuh pelajaran gak ada gunanya. Eh, ada deng. Jam gue ngerokok." Tama tertawa.
"Kak," bisik Mei lagi membujuknya untuk pergi.
__ADS_1
"Udah ah! Sana, sana," bisiknya lagi. Ia mendorong bahu gadis itu menjauh.
Namun apa yang terjadi. Mei menjewer telinga Tama.
"A-a-a. Aduuh ...." Tama memiringkan kepalanya mengikuti tangan Mei yang menarik telinganya ke atas.
"Apa gunanya pergi sekolah kalau hanya membolos. Hah?" Kini Mei mengomeli karena sudah kesal bujukannya tak di dengar. "Denger gak?"
"Iya, iya," Tama menjawab pasrah karena telinganya masih dijewer gadis itu. Ia mengikuti ketika Mei menggiringnya keluar dari tempat itu.
Seorang siswa yang masih merokok tertawa melihat Tama yang digiring Mei menjauh. "Makanya jangan punya bini galak."
Yang lain ikut tertawa.
"Eh, buang dulu puntung rokoknya," ucap Mei menunjuk rokok yang masih dipegang Tama. Mereka sudah sampai di depan kelas.
Tama membuang rokoknya yang masih menyala ke selokan. "Udah tuh!" Ia cemberut. "Kenapa sih, lo gak suka gue seneng dikit aja."
"Kesenangan apa? Kamu bayar uang sekolah, tapi bolos. Apa gunanya coba?"
"Sekolah itu, pelajarannya kan kita tidak bisa memilih? Ada pelajaran yang kita tidak suka, ya bolos saja. Untuk apa kita menyiksa diri sendiri dengan belajar sesuatu yang kita tidak sukai."
"Kalau gak mau belajar, ya udah gak usah sekolah. Gampang kan?" ledek Mei.
"Aku kan butuh ijazahnya untuk masuk perguruan tinggi. Masa, gimana caranya masuk kuliah tanpa ijazah SMA?"
"Ya kalau kamu memutuskan untuk sekolah, konsekuen dong. Memang ijazahmu, kalau ada yang kosong, bisa keluar dengan sendirinya, gitu? Enggak kan? Belajar bertanggung jawab dong dengan pilihan sendiri. Jangan mentang-mentang gak ada orang tua jadi malah makin liar tak terkendali. Memangnya sekarang kalau kamu salah, ada yang memberi tahu, gitu? Ya enggak lah! Silahkan terjerumus sendiri sampai lubang neraka sekalipun dan teman-temanmu itu tadi, mereka tidak akan menolongmu, bahkan mungkin mereka tertawa dan menyorakimu karena sudah salah jalan. Nah sekarang, apa kamu masih mau nongkrong di belakang sekolah itu lagi, hah?"
Tama merengut, memasukkan kedua tangannya pada kantong celananya. Ia menunduk sambil menggeser sepatunya di lantai. "Mei, aku pusing mikirin perusahaan, Ayah, Mama."
"Itu alasan."
"Mei."
"Aku juga pusing mikirin Ayahku yang masuk rumah sakit dan tak punya uang, tapi itu bukan alasan kita untuk salah jalan. Segala masalah pasti ada jalan keluarnya, hanya kita belum menemukannya saja."
Tama menatap Mei. Ia melangkah gontai masuk ke dalam kelas yang telah di mulai.
--------+++--------
Reina mengusap punggung Zack yang sedang bersandar padanya. Zack yang duduk di samping, memeluk Ibunya dan masih terisak. Reina masih berusaha menghiburnya walau ia sendiri masih merasa sedih dengan kepergian Lydia yang mendadak itu, tapi ia tahu, tak ada yang sesedih Zack yang kehilangan adik tercintanya itu.
"Kenapa mereka membawa Lydi Ma, kenapa mereka tidak pamit pada Zack?"
"Karena mereka orang tuanya Sayang."
Zack melepas pelukan dan menatap Reina. Pipinya sudah basah dengan air mata dan matanya mulai sembab.
"Tapi setidaknya biarkan Lydi pamit padaku," ucap Zack lagi.
"Dan kau pasti takkan mengizinkannya kan?"
Zack kembali menangis dengan isak yang menyayat hati.
_____________________________________________
__ADS_1
Halo, reader? Masih nongkrongin novel ini kan? Terima kasih reader masih menyemangati author dengan like, komen, vote dan hadiah2. Ini visual Muhammad Zakaria atau yang biasa di sapa Zack. Salam, Ingflora 💋