Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Putar Haluan


__ADS_3

Sekilas melirik pada Tristan dan anak buahnya, kesal, Mei memilih membantu Tama berdiri.


"Mei ...." Tristan memulai dengan suara beratnya. Ia memberi kode dengan tangan agar Mei berjalan terus meninggalkan Tama saat gadis itu menoleh.


Dengan berat hati, gadis itu menghela napas. Ia berdiri dan melangkah ke arah Ayahnya. Belum sempat ia bicara, Ayah Mei berdiri dan memeluknya. Ia terkejut.


"Kau tidak apa-apa Mei? Ayah takut kau kenapa-kenapa," ucap Ayah Mei lirih.


"A-aku tidak kenapa-kenapa Pak," kata Mei sedikit kaku. Aneh rasanya dipeluk oleh orang yang sudah tua dan ia bahkan tidak mengingatnya padahal orang itu sangat mengenal Mei yang membuat ia merasa bersalah.


Ayah Mei melepas pelukan. Ia memperhatikan putrinya. Jadi ia masih hilang ingatan? Ia segera menyadari ketika Mei menyebutnya 'Pak'.


Melihat Tama yang mencoba berdiri sendiri, tanpa di duga, Ayah Mei malah membantu Tama berdiri.


"Te-terima kasih Pak." Tama terkejut. Bukan Tama saja tapi semua orang yang ada di sana.


Ayah Mei melihat wajah Tama yang terluka di bagian bibir dan rambut yang acak-acakan. "Ada apa denganmu?" tanyanya heran.


Tama hanya menggeleng.


"Aku hanya memberinya sedikit pelajaran karena telah membawa kabur Mei," jawab Tristan dengan tegas.


Mei melirik Tristan dengan kesal dan Ayah Mei menatap pria itu bingung.


"Aku tidak menyuruhmu mehakimi orang, aku hanya ingin Mei pulang. Itu saja," terang Ayah Mei.


"Pak, maaf. Aku yang kabur waktu itu. Tama tidak membawa kabur aku tapi aku yang minta dia menemaniku. Maaf." Mei hampir menangis.


"Mei, jangan membelanya!" tegur Tristan.


Mei kembali melirik Tristan sambil merengut.


Ayah Mei menghela napas. Ia ternyata salah, walaupun berusaha untuk tidak sudzon bahwa selama ini mengira pemuda itu membawa lari Mei karena ternyata sejauh ini Tama hanya mengawal putrinya kabur. "Eh, bisakah ini jadi pembicaraan di antara kita saja?" Ia menoleh pada Tristan dan juga anak buahnya.


Pria itu langsung mengerti. Ia memerintah anak buahnya untuk keluar dari rumah itu.


"Namamu Tama kan?" Ayah Mei berusaha memastikan namanya.


"Iya." Tama mengangguk.


"Apa kau punya hp?"


"Mmh?" Tama mengangkat wajahnya, heran.


Ayah Mei menyodorkan tangannya meminta. Dengan segera Tama merogoh kantong celana dan menemukannya di sana. Saat ia mengeluarkan hp itu, ternyata layar hp itu sedikit retak.


"Apa ini bisa?" tanya Ayah Mei.


Tama mencoba memastikan dengan menghidupkan hp itu. "Bisa Pak."


"Coba hubungi Ayahmu."


"Apa?"


"Pak ...." Tristan hendak protes.


"Ini masalah orang tua, jadi sebaiknya Ayah Tama juga tahu," ucap Ayah Mei pada semua. "Biar aku yang bicara." perintah pria paruh baya itu pada Tama.


Tama menurut. Ia menyambungkan pada nomor Ayahnya.


Saat itu Arya sedang berkendara menuju rumah ketika teleponnya berbunyi. Ia menepikan mobil dan terkejut melihat nama si penelepon. "Halo?" ucapnya ragu-ragu.


Ia mendengar sesuatu yang membuatnya menunggu si pembicara menyelesaikan ucapannya. Sebentar kemudian, ia yang bicara. "Aku tahu daerah itu. Sebentar, aku akan ke sana."


Pria gagah dengan penampilan sederhana namun trendi itu mematikan hp-nya dan segera menghidupkan mobil. Setelah melihat ke kanan dan ke kiri, ia segera memutar mobil ke arah yang dituju.


Wajahnya terlihat cerah walau sedikit penasaran karena penantiannya sebentar lagi akan segera berakhir.

__ADS_1


Sebuah rumah dengan model yang sangat sederhana terlihat olehnya dari samping. Sebuah mobil mewah telah memblokir jalan di depannya karena berada di jalan yang tidak besar untuk sebuah jalanan umum. 2 orang terlihat di dalam mobil seperti sedang menunggu.


Arya memarkir mobil tepat di belakang mobil itu. Saat ia keluar, ia terkejut melihat bahwa ada 2 orang polisi di dalam mobil itu.


Mungkinkah ini orang-orang, siapa polisi itu? Oh ya, Tristan. Arya bergegas mendatangi pintu dan mengetuknya. Ia ingat kata-kata Kenzo, yang kembali membuatnya khawatir. Sangat.


Pintu terbuka. "Oh, Pak Arya." Ibu Mei membuka pintu.


Arya menyiapkan hati, pikiran dan otak saat di persilahkan masuk, karena ada Tristan di sana.


Dilihatnya beberapa orang tengah duduk mengelilingi meja makan. Tristan, Mei, Tama dan Ayah Mei. Betapa saat itu ia ingin memeluk Tama. Anak itu, ia tidak pernah pergi jauh dari rumah berlama-lama. Tama biar begitu dia anak rumahan yang selalu dilindungi Kenzo dan dirinya.


Saat Tama menoleh melihat kedatangannya, Arya terkejut. Wajahnya, ada bekas luka di sudut bibirnya akibat perkelahian. Rahang Arya mengeras. Bukan apa-apa, Tama tidak bisa ilmu bela diri dan kejadian yang pernah menimpa Kenzo saat SMA kembali menakutkannya. Jangan sampai Tama dikeroyok, dan kalau itu sampai terjadi entah ... setan apa yang akan merasukinya.


"Pak Arya, silahkan duduk Pak." Ayah Mei berdiri menyambutnya.


"Assalamualaikum," Arya mencoba bertindak sopan, sekaligus berdoa, kemenangan ada di pihaknya.


"Waalaikum salam," sahut mereka di sana.


Ayah Mei memberikan kursinya agar Arya bisa duduk di samping Tama. Ia bergeser di sampingnya.


Arya menatap Tama.


"Ayah, maaf." Tama mulai menunduk.


"Apa yang kamu lakukan pada Mei?" Arya segera menarik baju kaos Tama dengan kasar.


"Ayah?"


"Pak, dia tidak begitu," bela Mei.


Terukir senyum kemenangan di wajah Tristan.


"Tunggu, tunggu. Sabar dulu," cegah Ayah Mei.


"Ayah, aku tidak begitu!" Tama membela diri.


"Kau tidur dengannya kan?"


Tama terkejut.


Tristan panik. "Eh, kamar kos-kosan mereka berbeda."


Arya melirik pria itu. "Tapi bersebelahan kan?" tebaknya tanpa pikir panjang.


"Ba-bagaimana Bapak tahu?" Tristan semakin bingung.


"Di rumah juga dia begitu sehingga orang tak sadar mereka bisa saling menemui di kamar masing-masing."


"Ayah, aku tidak pernah berniat buruk pada Mei."


"Jadi, kau pernah tidur dengan Mei tidak?" suara Arya meninggi.


"Eh, itu cuma ... eh, mati lampu."


"Jadi kau pernah tidur dengannya?" Lagi-lagi dengan suara tinggi.


"Apa?" Ayah Mei juga ikut-ikutan terkejut.


"Eh, bukan seperti yang Ayah pikirkan. Waktu itu di rumah Kak Jo ...."


"Di rumah? Kamu melakukannya di rumah?"


Kalimat Arya menghantam pendengaran semuanya.


"Mei, kamu ...." Ibu Mei hampir tak percaya.

__ADS_1


Mei pun seperti disambar petir, berdiri kaku di tempatnya berdiri.


"Itu sudah beberapa minggu. Kemungkinan dia bisa hamil kan?"


Tristan syok, Mei menyentuh perutnya dengan pandangan nanar sedang Tama dengan berurai air mata menggeleng-gelengkan kepalanya. Suara di tenggorokan pemuda itu tak mampu ia keluarkan.


"Pak, bagaimana kalau kita nikahkan mereka segera?" ucap Arya pada Ayah Mei.


Pria paruh baya itu, belum bisa bicara saking syoknya mendengar berita itu. Demikian juga Tristan. Arya segera mendatangi perwira polisi itu dan menariknya keluar. "Maaf ini sudah ranah pribadi jadi sebaiknya Anda pulang saja. Biar sisanya kami yang mengurus. Maaf mereka harus kami nikahkan segera tapi terima kasih. kamu sudah membantu kami menemukan mereka kembali."


"Ta ...." Tristan tak bisa berkata-kata karena otaknya sedang mencerna dan hatinya sedang bergemuruh hebat. Ia tak tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukannya. Ia menurut saja saat Arya membawanya hingga ke mobil.


Arya pun kembali ke mobilnya untuk mundur karena jalan itu semakin sempit ke depannya sehingga mobil harus keluar lagi dari tempat mereka masuk. Kemudian mobilnya kembali masuk setelah mobil Tristan pergi dan parkir di depan rumah Mei tempat Tristan tadi memarkirkan mobilnya. Ia segera masuk.


Di dalam, semua orang dalam posisi ambigu, abu-abu. Panik, bingung, resah, marah, hingga kedatangan Arya menjawab semuanya. Ia segera memeluk Tama erat. "Ayah percaya padamu, kamu tidak bohong kan?" ucap Arya lembut di telinga anaknya.


Saat itu juga tangis Tama pecah. Mei lega begitu pula kedua orang tua Mei.


"Bapak ini, bikin jantung saya mau copot," ucap Ayah Mei mengusap dada. Istrinya mendatangi dan menyentuh punggung suaminya.


Arya membiarkan Tama menyelesaikan tangisnya. Pelukan erat pemuda itu menandakan dirinya yang sedang rapuh.


Setelah tangis Tama berhenti, Arya mulai bicara. "Karena mereka ke mana-mana berdua, dan tinggal satu kos-kosan, apa tidak sebaiknya mereka kita nikahkan saja?"


"Pak Arya sungguhan ini bicaranya?" Ayah Mei terkejut.


"Kalau Bapak tidak mempermasalah kata-kata saya sebelumnya, dan saya juga sedikit risih takut orang bilang apa pada keduanya, jadi saya putuskan begitu. Apa Bapak punya pendapat lain mungkin tentang ini?"


Mei terlihat panik. Nikah? Ni-nikah? "A-a-aku ...."


"Mei." Tama melihat wajah Mei pucat.


"A-a-aku ...." Butiran air mata Mei berjatuhan. Ia belum siap dengan kalimat itu karena ia tidak mengenal siapapun selain Tama, tapi mengenal Tama pun juga karena pemuda itu adalah satu-satunya yang ia kenal. Namun untuk menikah ... Ia saja kabur karena Tristan bicara soal pernikahan pada Ayahnya.


Mei berlari ke kamar Ayahnya dan mengunci pintu. Ia tidak tahu itu kamar siapa tapi setidaknya itu tempat ia berlindung kini. Dengan duduk di sisi tempat tidur, ia menangisi nasibnya.


Ayah Mei dan Arya terlihat bingung. Tama memarahi Ayahnya karena membela Mei. "Ayah!"


"Apa? Ayah salah apa?" Arya mengangkat bahu.


"Mei sebenarnya kabur karena Ayahnya membicarakan soal pernikahan dengan Tristan."


Arya dan Ayah Mei saling berpandangan.


"Dia takut menikah dengan Tristan atau soal pernikahannya?" Arya bertanya.


"Dia itu hilang ingatan Ayah, dia tidak ingat siapapun. Kalau tidak kenal siapa-siapa apa mungkin dia bisa menikah sedang dia sendiri saja ketakutan tak kenal orang."


Terdiam sesaat, kedua pria ini menyadari sesuatu.


"Maaf Tama, kau benar. Kita harus menanyakan pendapatnya sebelum melakukan sesuatu," ucap Ayah Mei bijak.


"Kamu benar-benar mengenalnya Tama, kau memahaminya." Arya mengusap kepala anaknya.


"Dia butuh teman makanya Tama menemaninya Yah."


"Ya sudah, terserah kalian saja."


Tama berdiri dan menghampiri kamar Ayah Mei. Ia mengetuk pintu. "Mei, aku di sini."


Mei yang mendengar semua dari balik pintu menghapus air matanya. Ia mendatangi pintu lalu membukanya perlahan.


"Sudah, tidak ada yang memaksamu lagi. Kamu mau apa kerjakan saja."


Namun gadis itu malah memeluk Tama. Ia menangis merengkuh bahu pemuda itu. "Terima kasih," ucapnya pelan.


Kembali Arya dan Ayah Mei berpandangan. Arya menggaruk-garuk kepalanya. "Walaupun aku masih muda tapi aku tidak mengerti pemikiran anak jaman sekarang, tapi paling tidak kita bawa saja keduanya ke rumah sakit karena sepertinya mereka butuh perawatan." Ayah Mei setuju dan mereka semua pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2