Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Bosan


__ADS_3

"Bagaimana kehidupanmu dengan Mariko?"


"Mmh?" Arya melirik Irene. "Aku sangat bahagia, mencintai istri dan anak-anak," Ia berusaha pamer.


"Oh. Anakmu ada berapa?"


"Ada 3." Eh, bagaimana aku akan menerangkan Kenzo? Semoga ia tidak menanyakannya. Arya berusaha menyembunyikan kepanikan.


"Oh ... Apa boleh aku sekali-sekali main ke Jakarta?"


"Eh, boleh saja." Rasanya malas menerima dia. Untuk apa dia ke Jakarta? Rumahnya kan di Amerika.


"Kapan-kapan main ke Amerika ya, tapi beri tahu biar aku pulang."


Arya hanya tersenyum sekedarnya.


Mariko kemudian kembali bersama Ayako. "Mas, sepertinya kita harus tinggal di sini, menunggu penyelidik polisi selesai."


Arya hanya bisa menghela napas. Sudah kuduga. "Setidaknya kita ambil barang-barang kita dulu di hotel."


"Tidak boleh keluar tanpa persetujuannya."


"Ya katakan padanya."


"Iya, sudah. Tidak boleh ke hotel, katanya."


Arya melirik Irene. "Kamu tidak bisa katakan padanya?"


"Di sini, dia itu 'Peraturan yang berjalan'. Apapun yang dikatakannya tidak boleh dibantah."


"Kamu tidak bisa membujuknya?" Arya hampir tak percaya.


"Sekecil apapun permintaannya, harus dilakukan. Almarhum suamiku saja tidak berani membantahnya apalagi aku."


Kembali Arya menghela napas. Ia sempat melihat tadi di halaman depan saat masuk tadi, banyak penjagaan. Pasti di samping dan di belakang juga ada.


Sekilas, Ayako terlihat seperti seorang wanita sederhana yang biasa-biasa saja. Tidak terlihat seperti seorang jagoan yang bertubuh kekar karena tubuhnya kurus dan tidak terlalu tinggi.


Arya dan Mariko terpaksa menurut saja. Hari juga sudah larut malam. Mereka mengantar Mariko dan Arya ke kamarnya.


"Hahh ...." Arya membanting tubuhnya ke atas tempat tidur dan melipat tangannya di belakang kepala. "Aku tahu penyelidikan polisi pasti lama, jadi aku memikirkan kondisi terburuk yang ternyata kejadian. Kita tidak bisa mengontak siapapun termasuk anak-anak bahwa kita baik-baik saja, makanya tadi aku sempat titip surat untuk Kenzo pada pegawai hotel."


"Apa?" Mariko mendekat.


Arya meletakkan satu jari pada mulutnya dan menengok kanan kiri. "Dinding pun punya telinga. Kita jangan sembarangan bicara karena Irene bisa bahasa Indonesia," bisiknya. Sekarang kita tidur saja, karena tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang."


Esok harinya, pagi-pagi, mereka sarapan bersama. Irene memperkenalkan anak kembarnya, Kimiko dan Tomiyo yang sudah besar seusia Aiko. Tak lama kedua anaknya pergi ke sekolah.


Setelah sarapan, Ayako mengajak Mariko ke kantor polisi. Ia meminjamkan bajunya pada Mariko sedang Arya di pinjami baju Koshino.


"Nanti siang kalian bisa pergi ke Mal belanja pakaian," ucap Irene pada Arya. Ia memberikan setumpuk baju suaminya pada pria Jawa itu.


"Kenapa kami tidak boleh kembali ke hotel sih? Aneh!" Arya protes.


"Karena kalian tidak boleh memberi tahu siapapun tentang keberadaan kalian sekarang ini. Kalau kalian balik ke hotel pasti telepon orang lain kan? Makanya kalian tidak boleh kembali ke sana."


"Memangnya kenapa? Aku kan hanya memberi tahu anak-anakku agar tak khawatir!" Arya memberi argumentasi.


"Jangan berbantah-bantahan denganku, bukan aku yang bikin peraturan itu!" ucap Irene sewot. Ia membanting pintunya dengan sedikit keras.


Arya dan Mariko mandi kemudian berganti baju. Mariko pergi dengan Ayako ke kantor polisi sedang Arya tinggal di kamar. Kamar mereka bersebelahan dengan kamar Irene.


Tak lama, Arya bosan tinggal di kamar. Ia melangkah keluar kamar sambil melihat-lihat bentuk bangunan rumah itu dari dalam. Ia menuruni tangga dan berjalan berkeliling, kemudian lewat pintu belakang ia memasuki taman belakang.

__ADS_1


Rumah itu ternyata mempunyai taman belakang yang cukup luas. Dibiarkan mirip hutan, ditanami dengan tanaman semak dan pepohonan rindang. Ada kolam kecil dan di dekat kolam itu diberi kursi taman panjang di depan sebuah pohon besar yang teduh. Baru saja Arya hendak duduk di sana, seseorang menghentikannya.


"Cotto matte! Nani o su ....(Tunggu dulu. Apa yang ....)" Seorang penjaga berusaha menghentikan pria itu tapi kemudian Irene menahannya.


"Ike!(Pergi)" Wanita itu menghalau penjaga dengan tangan. Penjaga itu menurut dan meninggalkannya.


Arya meneruskan langkahnya ke bangku taman dan duduk di sana. Irene mengikuti.


"Ada apa kau mengikutiku?" selidik Arya.


"Kenapa sih kamu bicara 'pedas' padaku, aku kan yang mengusir penjaga itu untukmu." omel Irene yang merasa mendapat imbas dari kekesalan Arya karena tidak bisa keluar dari rumah itu.


Terlihat pandangan Arya mulai melunak. Ia mulai menyadari kesalahannya. "Maaf tapi aku sedang khawatir memikirkan rumah dan memikirkan anak-anak yang aku tinggalkan."


Irene duduk dan mendekat. Ia menyentuh bahu pria itu. "Jangan khawatir, Ayako pasti akan melepaskanmu setelah kasus suamiku selesai."


Arya merasa tidak nyaman dengan Irene, walaupun ia terlihat baik, entah kenapa, tapi feeling-nya selalu benar.


"Aku lihat kantormu tidak besar, hanya kontraktor kecil dan hanya punya satu perumahan dan itupun untuk menengah ke bawah. Bagaimana kalau kubantu mengembangkan perusahaanmu jadi lebih besar?" Irene mengusap bahu Arya lembut.


Arya menggeser duduknya, menjauh. Irene tetap orang yang sama seperti yang ia kenal dulu, terakhir kalinya. "Maaf, aku tidak tertarik karena aku nyaman dengan usaha yang kubangun sendiri. Lebih santai dan tidak mengejar uang tapi aku bisa tetap fokus mengurus anak-anakku."


"Tapi dengan banyak uang, kamu bisa menjamin kehidupan anak-anakmu kan?" Irene mencoba menyentuh tangan Arya.


Arya menahan geram dengan tawa yang tanggung terdengar. Perempuan macam apa ini, yang baru saja kehilangan suaminya tapi sekarang sudah melirik pria lain. Benar-benar ular! Pria itu menarik tangan Irene yang sedang menyentuh tangannya dan menepisnya. "Bukankah kamu baru kehilangan suami? Sepertinya kamu sudah ingin mencari pengganti."


Irene terlihat senang dengan sedikit menunduk malu. Ini makin membuat Arya muak dengan sikap tak tahu malu wanita itu.


"Aku jamin, kau akan hidup bahagia bersamaku."


Benar-benar gila wanita ini ya? "Kalau aku mau, aku bisa saja mengurus perusahaan Ayahku yang juga besar tapi aku tidak lakukan itu."


"Kenapa? Kau kan bisa kemudian menggabungkan perusahaan itu dengan perusahaan Ayahku."


"Untuk kebahagiaan kita."


Arya tertawa keras. "Aku belum ingin mengganti istriku Irene!" Wanita ini pantang menyerah dan tidak tahu diri. Dia kan juga Kristen. Apalagi yang akan dilakukannya bila aku menyebut itu ....


"Bukankah di agama Islam pria boleh menikah lebih dari satu?"


"Maksudmu, setelah aku menikahimu, aku juga masih bisa menikah dengan yang lain?" Arya mencondongkan tubuhnya ke arah wanita itu, menyodorkan argumen baru.


Namun Irene menganggap Arya mulai menggodanya. Ia mulai terlihat malu-malu dengan pipi memerah sempurna di kulit putihnya itu. "Ya jangan. Cukup aku dan Mariko saja. Jangan tambah yang lain."


Aduuh, wanita ini! Arya lebih ingin menyudahi, karena Irene tidak kunjung mengerti. Lebih baik tidak membuat wanita itu naik darah karena sekarang, nyawa Kenzo terletak pada keluarga Yakuza ini. Ia meninggalkan wanita itu dan kembali ke kamar.


"Arya, Arya!" Irene kemudian merengut kesal.


Beberapa jam kemudian, Mariko pulang membawa berita mengejutkan pada Arya. "Mas, untung kita tidak naik pesawat. Pesawat yang kita ingin naiki, jatuh Mas."


Mata pria itu terbelalak. "Berarti benar bahwa ada hikmah di balik setiap musibah. Walaupun kita ditahan di sini, tapi kita malah selamat dari bahaya yang lebih besar lagi, nyawa kita. Sudah, kita bersabar saja. Kita ikuti saja proses ini, mudah-mudahan ada kebaikan di depan sana."


"Amin."


Namun kemudian Arya mulai menyadari kalau dengan musibah ini, Kenzo malah lebih cepat datang ke Jepang mencarinya. Ini makin membuat Arya khawatir.


Kenzo, cepat temukan surat Ayah. Nagoya bukan tempat yang aman untukmu. Cepat pulang sebelum polisi, wartawan atau siapapun itu, menemukanmu di sini, doa Arya dalam hati.


----------+++----------


Tama masuk ke tempat area Game Center sambil melihat-lihat. Mei yang mengikutinya dengan tas baru melihatnya dengan heran.


"Mau apa kita ke sini Kak? Bukannya selesai belanja tas baru, kita pulang?"

__ADS_1


"Gak ah, aku mau main dulu."


"Ini bukannya tempat buat anak-anak Kak?"


"Ini untuk orang dewasa juga. Lihat saja!"


Mei mengedarkan pandangan melihat sekitar. Banyak juga remaja dan orang dewasa bermain macam-macam permainan di sana. Bahkan tempat-tempat itu didominasi remaja seumuran Tama.


"Ayuk Mei, aku ajarin yang gampang." Tama menarik tangan gadis itu.


"Eh, aku gak usah."


Namun Tama tetap memaksa. Ia meminta Mei memasukkan bola ke sebuah ring bola yang sedikit jauh. Ternyata Mei mampu memasukkan bola lebih banyak, bahkan hanya satu kali gagal. Juga memukul boneka binatang yang keluar bergantian, memukul benda dengan palu mainan hingga naik ke batas paling atas permainan tersebut. Bermacam-macam permainan dicobanya dan ia hampir memenangkan semua permainan.


"Ini apa?" Mei menaiki alat permainan itu yang mempunyai lingkaran lampu sedikit menyala di atasnya saat dipijak.


"Oh, ini?" Tama mengisi di sampingnya. Ia memasukkan koin dan terdengarlah lagu yang disertai lampu yang bergerak di lantainya. Ia mengikuti irama sambil menginjak lampu yang bergerak itu. "Pokoknya jangan miss(terlewat) aja," ucapnya sambil menyodorkan koin pada Mei.


Mei mencobanya. Ia sedikit kaku di awal karena harus sedikit menari tapi lama-lama ia bisa mengikuti hingga selesai. Ia kemudian duduk pada sebuah bangku dan menyadari sesuatu. "Aku kenapa harus ikut beginian sih Kak? Harusnya Kakak aja. Kenapa Kakak ngak main tapi malah aku yang main?"


Tama yang turun dari papan plastik itu memegangi lutut dengan mengatur napas karena habis menari sedang Mei kondisinya tidak separah itu padahal ia sudah main lebih banyak games dari dirinya. "Aku kan juga main," jawabnya terengah-engah.


Mei hanya duduk dengan mengatur napas. "Tapi Kakak mainnya baru sedikit. Kan gak penting untukku juga."


"Penting."


"Mmh?"


Tama mengumpulkan tiket yang keluar setelah memainkan berbagai macam game tadi dan mendatangi tempat membeli koin. Ternyata tiket itu ditukar dengan sebuah boneka beruang berukuran sedang berwarna putih. Boneka berbulu tebal itu memeluk sebuah bantal hati berwarna merah.


"Ini hasilnya." Tama memberikan boneka itu pada Mei.


"Ini untukku?"


"Kan kamu yang menangin."


Mei tersenyum lebar menerimanya. Ia melonjak senang hingga memeluk Tama. "Makasih, kamu baik banget. Eh," Ia terkejut menyadari telah memeluk pemuda itu. Ia buru-buru melepaskan.


Tama ikut tersenyum lebar. "Nah kan, siapa yang cari kesempatan tuh barusan."


"Enggak, itu cuma seneng doang." Mei menunduk.


"Masa?" Tama berjalan meninggalkan tempat itu.


"Iya, gak sengaja, khilaf." Mei mengikuti Tama.


"Bo'ong, pengennya tuh!" ledek pemuda itu.


"Ih, enggak!" Mei menendang paha Tama.


"Eh, nendang-nendang gajinya di potong lho!"


"Eh, nggak sengaja." Kembali menunduk.


"Masa?"


___________________________________________


Halo reader, terima kasih masih mengikuti novel ini. Jangan lupa like, komen, vote, hadiah dan juga koin untuk author ya? Ini visual Irene Hiro. Salam, Ingflora 💋



Ada lagi author Reni T. dengan terbarunya tentang mafia. Terjerat Cinta Mafia Tampan. Cekidot!

__ADS_1



__ADS_2