Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Kemudian


__ADS_3

"Terus kenapa dibiarkan?"


"Aku kenal Tama gimana, jadi dia gak bakal mungkin bikin aneh-aneh kecuali dia cerita dulu dengan aku atau Ayah. Lagipula dia masih kecil."


"Kalau terjadi apa-apa gimana?"


"Kalau kamu gak ok dengan apa yang dilakukannya kamu bisa tegur dia."


"Lho kok aku?" Leka sedikit bingung.


"Aku kan sudah bilang ke kamu, anggap aja Tama dan Aiko keluargamu, adik-adikmu. Kalau kamu ngak suka dengan tindakan mereka, kamu bisa protes. Aku gak masalah."


Leka mengerut dahi menatap suaminya. "Lemah!" Ia bertelak pinggang.


"Leka ...."


"Itu kan adikmu, kenapa kamu tidak berani menegurnya?"


"Aku masih ingin mengamatinya dulu tapi kalau kamu ingin menasehatinya duluan, gak masalah."


"Lemah!" kembali Leka meledeknya.


Kenzo tak berkutik. Ia tidak ingin bertengkar dengan Istrinya.


Di mobil, Mei melirik Tama dengan heran. "Kak, gak usah gara-gara aku Kakak makan di luar. Aku jadi gak enak Kak."


Dia rupanya mengerti. "Kalau gitu kenapa gak mau makan di rumah?"


"Bukan gak mau makan. Aku mau makan, tapi gak di meja makan. Itu kan tempat kamu dan keluargamu makan."


"Sudahlah. Pusing aku dengerin penjelasan kamu. Sekarang aku mau makan. Temenin aja, temenin!" ucap Tama mengakhiri debat.


Mobil memasuki halaman parkir sebuah restoran cepat saji. Setelah memesan makanan mereka menduduki kursi di meja dekat dinding kaca yang mengarah keparkiran.


"Habis ini temani aku ya, ke minimarket. Aku mau belanja."


"Iya Kak."


Tama mengeluarkan hp-nya dan bermain games. Makannya jadi sedikit tertunda.


"Kak, makan dulu."


"Mmh?" Tama melirik Mei. Dilihatnya makanan Mei sudah habis setengahnya sedang dia makan kentang goreng baru beberapa potong.


"Makan dulu ya Kak, nanti kita gak pulang-pulang." Mei sekarang mulai hati-hati bicara dengan Tama mengingat pemuda tadi sempat marah besar masalah kesalah pahaman kecil itu yang membuat Mei harus berpikir ulang bagaimana bersikap sebagai orang yang di pekerjakan pemuda itu. Ia harus patuh pada peraturan yang dibuat Tama dan menempatkan dirinya di tempat seharusnya. Ia harus bekerja sesuai apa yang dibutuhkan pemuda itu.


"Ya, udah." Tama meletakkan hp-nya. Ia mulai makan dengan benar.


Seusai makan mereka ke minimarket. Tama membeli banyak camilan dan roti dan membawanya ke dalam mobil.


"Kakak kenapa beli sebanyak ini?"


"Aku punya banyak bacaan. Aku ingin membacanya sambil ngemil."


"Oh."


Mobil kembali ke rumah. Ketika Tama sampai ke depan kamarnya, ia mengeluarkan 2 bungkusan plastik berisi roti. "Ini buat sarapan pagimu."


"Mmh?"


"Aku tak suka kau makan di belakang bersama para pembantu."


Mei menerima dan membawanya ke kamar. Tak berapa lama, seseorang mengetuk pintu. Gadis itu sudah tahu siapa yang mengetuk itu. "Kak ... sebaiknya ...."


Tama yang sedang memeluk buku tebal langsung masuk tanpa diminta membuat Mei terpaksa mundur memberinya jalan. Ia menatap meja belajar gadis itu yang masih kosong. "Kamu belum ngerjain tugas ya?"


"Eh, oh iya." Mei mulai ingat tugas sekolahnya.

__ADS_1


"Di lantai ya, biar aku bisa ngecek tugasmu sambil baca buku. Aku udah duluan nyelesain tugas sebelum makan malam."


Tumben dia rajin? Mei melihat Tama juga membawa bungkusan plastik dari Minimarket tapi dengan isi tidak sebanyak tadi.


Mei menggelar bukunya juga di lantai. Sekilas ia melihat Tama yang serius membaca buku tebal itu sambil sesekali menulis sesuatu di buku catatannya. Pemuda itu telah berubah. Ia tidak seperti yang biasa dilihat Mei. Apa benar ia serius mau mengambil alih perusahaan Kakeknya? Di usia semuda ini? Apa yang dikejarnya? Kalau tidak melihat sendiri mungkin Mei juga tidak akan percaya.


Tama mengambil sebungkus snack dan membukanya. Ia melirik gadis itu yang sedang menatapnya. "Kenapa, ada yang susah?"


"Mmh, ngak."


"Lalu?"


"Kakak beneran mau kerja sambil sekolah? Apa gak susah Kak?"


"Susah, tapi aku mau ngejalaninnya."


"Kenapa?"


Tama menatap gadis berjilbab di depannya. Apa kamu tidak tahu karena dirimulah aku kini berjuang. Mungkin aku sudah gila, tapi aku sangat takut kehilanganmu Mei. Untuk pertama kalinya aku punya tujuan dan aku ingin mencoba memperjuangkannya. Karena itu aku marah melihatmu dekat kembali dengan Tristan. Aku tidak tahan. Apa aku cemburu? Apa aku jatuh cinta? Untuk pertama kalinya juga aku meragukan perasaanku sendiri. Aku tidak tahu.


"Aku hanya ingin mencoba mandiri. Mencoba tantangan baru. Aku bosan hidup yang biasa-biasa saja," kilahnya.


"Oh."


Kamu lebih baik tidak tahu Mei karena aku yang tahu juga tidak mengerti.


Leka keluar dari kamarnya. Ia menoleh ke arah pintu kamar Mei dan Tama. Ragu-ragu ia mendatangi kamar Tama. Pelan ia menempelkan telinganya di pintu kamar itu tapi tidak mendengar apa-apa. Begitu juga kamar Mei. Pintu kamar itu terlalu tebal untuk bisa mendengar percakapan di dalamnya, tapi kemudian ia memutuskan untuk mengetuk kamar Mei dan membukanya.


Pintu kamar gadis itu ternyata tidak terkunci dan ia langsung melihat Tama dan Mei yang sedang berada di lantai, belajar. Mei dan Tama menoleh.


"Mbak Leka, ada apa Mbak?" tanya Tama heran.


"Oh, eh aku lihat kalian ke mana-mana selalu berdua. Eh, terus aku lihat kamu masuk sini." Tangan Leka bergerak-gerak karena ia bingung harus bicara apa. Ia belum pernah menegur orang sebelumnya tanpa sebab, apalagi dugaannya salah tentang Tama.


"Aku ngajarin Mei Mbak, ngerjain tugas."


"Oh, em." Leka bingung sendiri.


"Apa tidak sebaiknya kamu tidak masuk kamar perempuan, Tama." Leka mencoba memberanikan diri.


"Oh, tapi kan sama saja. Kalau aku pinjam ruangan kerja Kak Jo untuk belajar bersama misalnya, tetap saja satu kamar kami hanya berdua. Itu hanya pindah tempat saja judulnya."


Tama memberi argumentasi yang masuk akal. Leka tak berkutik.


"Kalau begitu, jangan lama-lama ya, tidak enak dilihat orang karena banyak mata di sini."


"Iya Kak."


Pintu di tutup.


"Kak ...."


"Aku tahu, tapi aku tidak begitu kan?"


"Tapi ...."


Tama meletakkan pulpen yang baru diambilnya. "Hanya orang bodoh yang berpikir aku macam-macam. Sebelum aku ngapa-ngapain kamu, kamu pasti sudah menghajarku kan?"


"Eh, iya."


"Nah!" Kecuali kamu mau macam-macam denganku. Tama berdehem.


----------+++--------


Siang itu, Departemen Marketing masih sibuk mengurusi persiapan pembuatan iklan untuk tv. Rojak mendatangi ruangannya untuk menelepon ke ruangan Chris. "Apa? Tidak masuk kantor hari ini?" Ia meletakkan teleponnya.


Tiba-tiba hp-nya berbunyi. Telepon dari Kakaknya Ipah. "Apa Mpok?"

__ADS_1


"Jak, kamu kok belum pulang? Toko bunga diliburin karena Bosmu dan Istrinya ke rumah." terang Ipah. Reina, istri Chris pemilik toko bunga dan Ipah kerja di toko bunga milik istri Chris.


"Hah? Ke rumah? Ada apa ya?"


"Gak tau, tapi sedang bicara dengan Enyak masalah kamu."


"Apa masalah ...." Rojak menepuk dahinya. Ia ingat kemarin malam ia mengungkapkan pada kedua orang tua Salwa bahwa mereka sepakat untuk menikah. Mengenai detailnya ia dan Salwa akan segera mencari waktu yang tepat untuk pernikahan mereka mengingat keduanya juga masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Aduh, Pak Chris ke rumah mau apa ya? "Aku sangat sibuk Mpok, kalau keluar rasanya susah soalnya aku mau meeting habis ini sama tim untuk pembuatan iklan produk. Aku gak ada bisa macet semuanya."


"Ya allah Rojak. Ini kan urusan lu."


"Iya, tau Mpok. Coba dengerin deh, mungkin aja Pak Chris datang cuma mau silahturahmi doang. Jadi gak perlu aku Mpok di sana, cukup Mpok aja yang dampingin Enyak soalnye Salwa juga gak ada pan di sana."


"Ho'oh."


"Nah, entuh maksudku Mpok. Coba Mpok dengerin lagi, jangan bikin panik aku di sini dah ya?"


"Ya udah Mpok dampingin dulu Enyak."


Hp dimatikan. Rojak menghela napas. Seseorang mengetuk pintu dan membukanya. "Pak, bisa meeting sekarang?"


"Ok." Rojak segera berdiri.


----------+++---------


Bel berbunyi. Tristan melihat Mei tak beranjak dari kursinya seperti biasa tapi seperti menunggu Tama berdiri. Ia kesulitan mengajak makan siang Mei bila gadis itu tidak pergi lebih dulu ke kantin meninggalkan Tama, tapi kemudian datang Ida. Gadis itu mengajak Mei ke kantin. Kesempatan itu dipakai Tristan untuk bisa ikut rombongan Mei dan Ida.


Tama sebenarnya sengaja mengulur waktu karena ingin melihat Mei dan Tristan berjalan lebih dulu dan ia di belakang. Mei terlihat menjawab sekedarnya setiap Tristan mengajaknya bicara. Pemuda itu sedikit bingung karena Mei sulit diajak bicara.


Mei mengantri di bagian kebab bersama Ida sedang Tristan sehabis membeli sushi, ia kembali berdiri di samping Mei. Gadis itu acuh tak acuh menjawab semua ucapan Tristan.


"Kemarin aku nemu tempat burger baru buka. Keren deh tempatnya. Ntar malem ke situ yuk nongkrongin tempatnya, bagus," ajak Tristan.


Ida hanya melihat saja mereka berdua, sedikit iri.


"Aku gak bisa."


"Kenapa?" Netra Tristan mencari jawaban dari mata gadis itu yang berusaha menghindar.


"Ada kerjaan."


"Yaaa ...." Tristan melirik Tama yang kebetulan datang menyambangi mereka. "Lu jangan semena-mena dong jadi orang. Mentang-mentang Mei pegawai lu, lu suruh dia kerja rodi."


Tama memberi tatapan menusuk. "Bukan urusan lo!"


"Bisa jadi urusan gue karena gue bisa laporin lo ke Badan Tenaga Kerja."


Tama tertawa. "Lo harus punya bukti sedang Mei bakal dukung gue, bukan elo! Ya kan Mei?" Tama menyentuh lengan Mei.


"Eh, iya."


Tristan mengeratkan gerahamnya. Ia kembali kalah dari Tama. Kenapa pria itu bisa menang terus darinya sih? Apa Mei di bawah tekanannya? Awas aja kalo iya!


----------+++---------


Mobil kantor Tama mendatangi rumah orang tua pemuda itu. Mei walaupun sering melihat rumah itu dari seberang rumah Kenzo, ia belum pernah memasukinya.


Tama dan Mei memasuki rumah itu. Rumah yang tidak semegah rumah Kenzo tapi nyaman dan asri. Rumahnya juga rumah biasa tanpa satpam dan Bodyguard menjadikannya terlihat aneh, karena anak-anak mereka kaya raya tapi orang tuanya tinggal di rumah yang biasa saja. Hanya saja rumahnya dan rumah Kenzo tergolong besar untuk para tetangganya yang berasal dari kalangan menengah ke bawah.


"Oh, kamu sudah datang." Arya sedang memainkan sumpit di kedua jemarinya. Tiba-tiba ia melempar kedua sumpit itu tepat ke arah wajah Tama. Pemuda itu terkejut. Sumpit yang mengarah ke kedua mata pemuda itu langsung di tangkap Mei dengan dua jemarinya setelah itu ia coba mainkannya seperti yang Arya lakukan. Pria itu terlihat senang dengan Aksi Mei dan bertepuk tangan.


"Ayah, aku bukan barang cobaan!" protes Tama kesal.


"Bodyguard-mu hebat."


"Kalau meleset bagaimana?"

__ADS_1


Arya hanya mengangkat bahu.


"Ayah!!"


__ADS_2