Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Kisah Yang Terhenti


__ADS_3

Mei pun makin kewalahan karena sendirian bertahan dari serangan hingga suatu saat ia menaiki sebuah tumpukan puing agar ia dengan mudah menyerang mereka dari atas.


Mei mulai menyerang dengan mudah. Para preman itu mulai kewalahan, tapi karena berdiri di tumpukan barang dan puing yang tidak stabil dan sepatu yang sangat tidak mendukung, puing itu bergerak hingga Mei limbung dan jatuh keluar pagar.


"Mei!!" Tama terkejut. Ia mencari keluar pagar.


Gadis itu ternyata masih bergelayutan di tiang pagar yang terbuat dari beton di bawah.


"Mei!!" Tama ketakutan. Ia mencoba meraih gadis itu tapi tangannya tak sampai. "Mei ...." Ia hampir menangis.


Gadis itu berusaha bertahan. Di bawahnya ada pohon dan semak-semak tapi tempatnya tidak tepat di bawah Mei.


Dari kejauhan tampak sopir Tama melambai dengan membawa warga. Ia tampaknya juga curiga karena mendengar suara tawa dari atas sana. Tanpa sengaja bertemu warga yang mengetahui sepak terjak para preman itu, warga beramai-ramai datang memberi bantuan.


Preman itu segera lari kocar kacir, tinggal Mei yang berjuang sendiri dan Tama yang pusing memikirkan bagaimana menolong gadis itu.


Gadis itu bergelantungan di samping tumpukan puing sehingga jauh dari jangkauan Tama. Pemuda itu mencoba memindahkan puing itu, tapi yang terjadi pasir dan debu kotoran puing tumpah ke arah Mei.


"Agg ...." Mei memiringkan kepalanya ke samping karena wajahnya hampir tersiram pasir.


"Maaf Mei, maaf." Tama menjenggut rambutnya sendiri karena frustrasi. Bukannya menolong, ia malah makin menyudutkan posisi gadis itu.


Mei sebenarnya memegang tiang pagar tapi tak bisa penuh karena ada puing di belakangnya sehingga ia harus mencari pegangan yang lain. Tangan yang satu lagi masih terlilit ikat pinggangnya. Ia bisa saja meminta Tama mengambil ikat pinggang itu saat ia melemparnya, tapi kemungkinan terambil oleh pemuda itu kecil. Namun pilihan tak ada. Ia harus mencoba karena tangan yang satunya sudah sulit berpegangan pada tiang pagar itu.


"Mei ...." Tama terlihat mulai menangis.


"Kak, tolong tangkap ikat pinggangku Kak, kalau aku lempar Kak."


"Tapi aku ...."


"Kakak pasti bisa. Ambil ya Kak?"


"Eh?"


Tanpa menunggu persetujuan, Mei melempar ke arah pemuda itu. Segera Tama menangkap ujungnya. Sementara tangan Mei yang satu lagi terlepas dari tiang.


Tama yang mendapat ujung ikat pinggang Mei segera menggenggamnya erat-erat ketika tubuhnya tertarik ke arah pagar dan tertahan di sana. Ia menahan tubuh Mei yang bergelantungan di ikat pinggang itu, tapi tak lama. Pegangannya pada ikat pinggang itu tidak kuat hingga ikat pinggang yang melingkar di jemarinya bergeser turun. "Mei!" Tama mulai panik sementara mulai ada kerumunan di lantai bawah yang ingin membantu mereka.


"Kita bisa tangkap mbak." Teriak warga di bawah mengangkat tangan mereka ke atas.


Namun saat Mei melihat ke bawah, jaraknya masih cukup jauh karena lantai satu dibuat dengan langit-langit yang cukup tinggi. Tak ada waktu untuk berpikir sementara ikat pinggang terus merosot turun, Mei memberi aba-aba. "Kak, tolong lepas ya?"


"Apa? Mei, tidak!"


Mei menjejakkan kakinya ke dinding pagar. "Kak, aku mau melompat ke pohon. Tolong doakan aku selamat. Hitungan ketiga ya Kak?"


"Mei ...." Tama tak rela.


"Satu ... dua ... tigaaa!" Mei menendang dinding pagar dan dengan terpaksa pemuda itu melepas pegangannya. Gadis itu hanya menyentuh pinggiran dahan pohon karena jauh dan langsung jatuh ke tanah. Warga langsung mengerumuni gadis itu yang telah tergeletak pingsan di atas tanah.

__ADS_1


Tama syok, gadis itu tidak bergerak. Ia berbalik dan menerobos warga yang sedang beramai-ramai berusaha melumpuhkan para preman itu. Ia berlari menuruni tangga dan menemui gadis itu yang jatuh di samping bangunan.


Warga yang berkerumun memberi jalan. Kepala Mei mengeluar darah. Rupanya kepalanya terantuk batu tajam yang tidak besar di dekat kepalanya yang tak ayal membuat Tama menangis dan berteriak. "Mei!!!" Ia memeluk gadis itu. "Jangan tinggalkan aku Mei, tolong panggil ambulan!!"


Untuk mempercepat penanganan, sopir mobil Tama berinisiatif membantu pemuda itu dengan membawa Mei ke dalam mobil. Mobil segera menuju ke rumah sakit terdekat.


Tama terus memeluk Mei. Ia sangat ketakutan karena gadis itu tak juga terbangun. Bajunya juga terkena darah Mei tapi ia tak peduli hingga bunyi hp-nya menyadarkannya.


"Halo Ayah."


"Kamu di mana sekarang? Cepat pulang! Ada yang ingin Ayah bicarakan sekarang padamu," perintah Arya dalam amarah yang tertahan.


"Ayaah ... Bagaimana ini Yah ... Mei kecelakaannn ...." Tama mulai menangis.


"Kecelakaan bagaimana?" Suara Arya di seberang sana berubah cemas.


"Mei jatuh dari lantai 2 dan kepalanya berdarahhh ...." Isak Tama. Ia masih memangku kepala Mei.


"Katakan, kalian ke rumah sakit mana?"


-------+++--------


Sejurus kemudian mobil Tama sampai di rumah sakit milik Chris, yang letaknya tak jauh dari tempat kejadian. Segera dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada gadis itu untuk memastikan tak ada yang terlewati. Tama menunggunya dengan cemas.


Ternyata lengannya retak, dan Mei pingsan. Setelah mendapat kamar, Tama menunggui Mei di sana.


Tama berusaha menyentuh wajah gadis itu dengan menitikkan air mata. Ia kini sadar, sehebat-hebatnya gadis itu dengan ilmu bela dirinya, ia tak rela gadis itu kembali jadi Bodyguard kalau nyawa taruhannya. Ia kini mengerti kecemasan Ayah Mei pada anaknya.


Namun sudah terlambat. Seseorang mengetuk pintu dan mereka semua masuk. Arya, Kenzo, Ayah dan Ibu Mei, mereka tercengang melihat apa yang terpampang di depan mata.


"Mei!" Ayah Mei mendatangi tempat tidur di susul Ibu Mei. Mereka syok melihat keadaan anaknya.


Tama berdiri dengan canggung, memberi jalan keduanya untuk mendekat.


"Tama, kamu berhutang penjelasan pada Ayah!" ucap Arya dengan wajah murka.


Sementara itu, Tristan menyuruh anak buahnya memata-matai Tama dan Mei. Keberadaan warga sekitar yang menolong mereka di tempat kejadian adalah bantuan dari anak buah Tristan dan perintahnya sehingga mereka cepat tertolong. Mendengar Mei terjatuh dari lantai 2 membuat Tristan bergegas ke rumah sakit. Didapatinya pintu kamar Mei terbuka tanpa mereka sadari sehingga pria itu bisa lebih leluasa mendengar semua percakapan yang terjadi di dalam ruangan itu.


Tama menunduk.


"Tama, kenapa kau berbohong pada Ayah dan juga orang tua Mei?" Arya menatap Tama tajam. Rupanya Tama tetap Tama. Di manapun ia selalu bikin ulah.


Tama mengangkat sedikit kepalanya. "Ayah, aku hanya berbohong soal pekerjaan Mei pada Ayahnya, itu saja. Ibunya tahu kok, Mei bekerja sebagai Bodyguard. Aku juga berbohong atas persetujuan Ibunya."


Semua orang menatap Ibu Mei.


"Ranah, kenapa kau sembunyikan ini dariku? Kenapa kau berbohong padaku?" Ayah Mei kini mencecar Ibu Mei.


"Karena kamu waktu itu sakit dan kita butuh uang untuk pengobatanmu. Kebetulan, kamu pernah menggores mobil mewahnya. Dia datang bukan untuk menuntut tapi menawari Mei pekerjaan. Kami berdua berjuang untuk kesehatanmu Bang, bukan untuk foya-foya," ungkap Ibu Mei lirih.

__ADS_1


"Tapi pekerjaan ini sangat berbahaya untuknya," sesal Ayah Mei.


"Tama, kau menjanjikan pada mereka akan bertunangan dan menikahinya. Kamu juga tidak cerita apapun pada Ayah. Jadi kau anggap apa Ayah ini?" cecar Arya.


Tama kembali menunduk. "Ayah, aku tidak bohong. Aku tidak pacaran dengannya seperti permintaan Ayah, tapi aku benar-benar mencintainya Yah, aku ingin menikahi Mei. Aku hanya belum bilang ke Ayah karena aku tidak tahu cara mengatakannya pada Ayah." Ia menjatuhkan diri dan bersujud pada Arya. "Tolong Yah, restui kami."


Kenzo hanya terpanah melihat keberanian Tama di usianya yang masih muda ingin menikahi wanita yang dicintainya. Padahal ia masih sangat muda dan terlalu dini untuk memilih pasangan. Mungkin saja itu hanya cinta pertama yang bisa saja berubah karena jalan kehidupannya masih panjang, sedang dirinya dulu tak seberani itu memperjuangkan cinta pada Istrinya. Hanya keberuntunganlah yang menjadikan mereka bersatu.


"Kamu masih kecil Tama, kamu masih harus menyelesaikan sekolahmu dulu. Jalanmu masih panjang, harapan Ayah kamu bisa bersekolah tinggi, Tama. Tidak hanya berhenti sampai di sini saja," nasehati Arya.


Ayah Mei merasa, anaknya telah menjadi batu penghalang kehidupan Tama. Ia tidak ingin Tama bertengkar dengan Ayahnya gara-gara Mei.


"Ayah, aku mohon." Tama menyentuh kaki Ayahnya. "Aku ...."


Terdengar ketukan di pintu. Seorang berpakaian polisi masuk ke dalam ruangan. "Maaf, aku mendapat laporan ada yang terjatuh di bekas pembangunan Mal dari lantai 2." Pria itu menatap Mei yang terbaring pingsan di atas tempat tidur. "Mei?"


Ia kemudian mencari keberadaan pemuda itu yang ternyata duduk di lantai. "Tama?" Ia pura-pura terkejut.


Tama yang melihat keberadaan Tristan yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu, merasa curiga. Ia segera berdiri sambil mengerut kening dan menatap tajam pada pria itu.


"Oh, apakah kalian saling kenal?" tanya Ayah Mei heran.


Tristan melangkah masuk. "Oh, kebetulan kami dari kepolisian pernah mencari Pengedar Narkoba di sekolah mereka dan berkenalan dengan mereka berdua." Ia menatap Mei yang sedang terbaring lemah di tempat tidur. "Aduh, kasihan sekali. Apa Mei yang jatuh dari gedung itu?" tanyanya pada Ayah Mei.


"Eh, iya Pak. Aku tidak menyangka setelah aku sehat anakku sekarang yang berada di rumah sakit," jawabnya sedih.


Tama ketar ketir, apa dia akan menusukku dari belakang? Pemuda itu makin menyipitkan matanya.


"Mmh, begitu. Oh ya, kenalkan. Nama saya Tristan. Tristan Baskara. Saya ikut prihatin dengan kejadian ini apalagi aku tahu, Mei adalah satu-satunya Bodyguard Tama yang dia miliki. Kabarnya sudah tunangan ya, kapan menikahnya?" Tristan memperlihatkan mimik serius.


Ayah Mei melirik Tama dan Arya dan sepertinya tidak mendapat respon apa-apa sehingga ia memutuskan sendiri apa yang ingin dilakukannya. "Ah, kami hanya orang kecil. Sepulangnya dari sini, mungkin aku akan menikahkan Mei dengan orang lain."


"Eh, tapi ...." Belum selesai Tama bicara, Arya sudah menarik baju Tama ke belakang.


"Sudah, jangan urusi urusan orang lain."


"Ayah ...."


Tristan merasa senang. Ia sudah memastikan ikatan keduanya terputus. "Sebenarnya ... saya sudah lama naksir Mei Pak, apa sekiranya bapak mau menerima saya?"


Ayah Mei terkejut.


"Saya siap kalau diminta menikah segera Pak," Tristan memastikan.


Sialan! Dia bener-bener nusuk gue dari belakang!


Belum hilang keterkejutan, Mei tiba-tiba terbangun. "Mmh ...." Matanya pelan-pelan terbuka. Ia terkejut, begitu banyak pasang mata menatapnya. "Ka-kalian siapa?"


Tristan mengambil tangan Mei dan menatapnya lembut. "Aku tunanganmu, Mei."

__ADS_1


__ADS_2