
Bel berbunyi. Mei yang sedang menemani Runi bermain dengan Mimi menoleh. Seorang pembantu bergegas membuka pintu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," sahut Mei beranjak berdiri.
Telah berdiri Ayah dan Ibu Mei di depan pintu.
"Eh, Ibu. Ayah." Mei masih kaku menyambut mereka.
Mereka saling mendekat. Mei mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Tentu saja kedua orang tua Mei mengerti, dari sikap Mei bahwa gadis itu masih belum ingat mereka.
Mei meminta tolong pembantunya untuk memanggilkan Tama untuk turun sedang ia mengajak orang tuanya duduk di kursi sofa bersama Runi. Ia memangku Runi.
"Ayah dengar kamu sudah hamil ya Mei?" Ayah Mei memulai percakapan.
"Ah, iya eh, Ayah."
Ayah Mei tersenyum. "Maaf Ayah datang terlambat ke pestanya Salwa dan baru tahu berita tentang kehamilanmu dari Pak Chris. Apa kamu sehat-sehat saja?"
"Eh, iya Ayah."
"Ayah ikut senang mendengar berita tentang kehamilanmu. Semoga kamu sehat-sehat terus ya Mei?"
"Eh, iya Ayah."
"Ini Ibu belikan makanan kesukaanmu, stik talas." Ibu Mei meletakkan sebuah bungkusan di atas meja.
"Makasih Bu." Mei mengangguk segan.
Mereka berbicara dengan basa basi yang kaku tapi orang tua Mei memaklumi keadaan anaknya.
Tama bergegas menuruni tangga. "Oh, maaf. Maafkan aku, aku sedang sibuk membaca buku."
"Ah, jadi merepotkan," sahut Ayah Mei.
"Oh, tidak kok. Aku sering lupa waktu kalau sedang membaca. Untung ada Runi, ponakanku yang menemani Mei." Tama mencium punggung tangan kedua orang tua Mei.
"Ayah ke sini menengok kalian sekalian karena mendengar kabar kehamilan Mei dari Pak Chris kemarin. Eh, maaf. Ayah datang terlambat kemarin ke pesta dan baru tahu ada insiden di sana."
"Insiden?"
Mereka kembali duduk bersama Tama di kursi sofa.
"Anak Pak Chris katanya istrinya melahirkan dan Kakakmu juga katanya istrinya berbarengan dengan Mei juga hamil."
"Oh, iya. Mereka masih di rumah sakit. Mengenai Mei, dia secara tidak sengaja memeriksakan diri dan ternyata hamil."
"Syukurlah bisa diketahui lebih dini."
"Kamu mau makan apa Mei, nanti Ibu bawain," Ibu Mei menawarkan diri.
"Ah, gak papa Bu. Aku belum kepengen," Mei menghindar dengan sopan. Sulit bagi Mei meminta-minta pada orang yang terasa asing baginya.
"Bagaimana Yah, kerja di Padepokan?" Tama mulai memanggil Ayah Mei dengan sebutan 'Ayah'.
"Ah, alhamdulillah menyenangkan. Ternyata banyak juga orang yang ingin belajar ilmu bela diri. Di hari-hari biasa Senin sampai Jum'at saja ramai juga kelasnya, tapi kebanyakan diisi oleh ibu-ibu yang ingin belajar untuk membela diri selain dari alasan kesehatan. Ayah mengajar di hari-hari itu karena kurang tenaga pengajarnya. Ayah sampai bisa kredit motor ini, dari hasil beberapa bulan kerja di sana."
"Alhamdulillah ya Yah."
"Mmh." Pria itu menoleh pada Runi. "Ini anak Kakakmu?"
"Oh, iya. Runi, salam sama Kakek," pinta Tama pada gadis kecil itu.
"Mmh? Kok Kakek Runi banyak?" protes gadis kecil itu. Ia kini telah berusia 2 tahun.
Semua yang hadir tertawa.
Sebuah mobil berhenti tak jauh dari pintu masuk rumah Kenzo. Seorang pria menatap ke arah pintu.
Kenapa perjalananku selalu berakhir di sini, di depan rumah ini? Apa yang masih tersisa yang ingin kulihat? Yang ada hanya kepahitan belaka, menatap sesuatu yang tak mungkin diraih. Hahh ... resah ini, bagaimana menghapusnya?
Terlihat pintu gerbang rumah itu terbuka. Sebuah motor sedang dinaiki sepasang suami istri beda usia yang dikenal Tristan. Ya, itu adalah orang tua Mei yang akan pulang dan di antar ke depan oleh Tama dan Mei.
Mei, ah ... kenapa rinduku tak pernah habis untukmu? Mengapa hanya padamu rinduku tak pernah padam? Setiap aku berpaling, aku tetap selalu kembali ke sini melihatmu. Mei ... apa kau mengerti segala resahku?
__ADS_1
-----------+++--------
Di sebuah ruang perawatan rumah sakit, ramai pengunjung di dalamnya berceloteh dan berkelakar bersama, 2 keluarga induk dari pasangan yang sedang berbahagia mendapatkan bayi.
"Waduh, bayinya lucu sekali ini ya? Mirip siapa ini?" Chris menatap bayi yang digendong Reina dari dekat. Bayi itu, masih kemerahan. Netranya menatap siapa saja yang memandanginya. "Bayi sekarang, berani menatap lagi orang yang menatapnya. Sungguh hebat bayi anak sekarang." Ia menoleh pada Albert.
Monique yang di dampingi Aska di tempat tidur hanya memandangi kedua orang tua dan mertuanya yang saling bercanda tentang anak mereka. Sesekali ia menatap bahagia pada suaminya.
"Jadi namanya hanya itu? Ahmad Junior?" tanya Chris pada Aska dan Monique.
"Terserah Ayahnya saja," ucap Monique tersipu.
"Kamu pasti sangat rindu pada Ayahmu Aska, sampai memberi namanya pada nama Anakmu?" sambung Reina masih sambil menggendong cucunya.
"Eh, iya. Teringat Ayah saat melihat Monique hamil dan itu sangat menguatkan dari dalam." Aska menyentuh dadanya.
Reina kembali menoleh pada bayi Ahmad. "Biar bisa sehebat Kakekmu ya Nak ya?" Ia mengangguk-angguk gemas pada bayi kecil itu.
Tak lama bayi kecil itu menangis. Reina membawakannya pada Monique untuk di susui. Aska menjauh sementara Reina menutup gorden untuk wanita yang sedang menyusui bayi Ahmad. Segera tangisan itu berhenti.
Para pria kemudian pergi mengunjungi kamar perawatan Leka di lantai lain. Chris mengetuk pintu sebelum masuk.
Terlihat Kenzo sedang duduk di tepian tempat tidur mendampingi Istrinya Leka yang tengah di pasang infus di tangannya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." Kenzo menyambutnya. "Oh, masuk ... masuk." Ia melihat kehadiran ketiga pria itu termasuk Aska. "Oh, Aska."
Pria Jepang itu menggiring tamunya duduk di kursi sofa. "Maaf ya Aska, aku salah sangka hingga membuat keributan di pesta pernikahan Salwa. Maaf Om Chris atas tindak ceroboh aku kemarin malam. Aku kurang peka dengan Istri sendiri hingga mengakibatkan kegaduhan semalam. Sekali lagi aku minta maaf." Kenzo menyatukan kedua tangannya.
Chris melirik Aska yang bergeming mendengar permintaan maaf dari Kenzo. Akhirnya ia mengambil alih bicara. "Tidak apa-apa. Tidak ada yang rusak di pesta itu. Malah aku senang mendapat berita bahagia setelahnya. Segala sesuatu terjadi pasti ada hikmahnya. Alhamdulillah hikmah yang menyenangkan, iya kan? Monique segera melahirkan dan kamu bersama Tama mengetahui kehamilan pasanganmu. Bukankah ini berita yang membahagiakan?"
"Iya betul, alhamdulillah." Kenzo bernapas lega.
-----------+++---------
Mei dan Tama naik kelas 2 SMA. Setelah mendapat Rapor, mereka libur selama 2 pekan. Mei dan Tama, Rapor mereka diambil oleh orang tua mereka, Mariko, dan Ibu Mei.
"Wah, Tama nilainya bagus banget," ucap Ibu Mei membandingkannya dengan Rapor Mei. "Kalau Mei cukup untuk naik kelas saja."
"Yang penting keduanya naik kelas Bu, kalau tidak nanti Tama bisa marah-marah karena Istrinya tidak naik kelas." Mariko melirik Tama sambil tersenyum geli.
Tama cemberut. "Ngak gitu juga kali Ma."
"Itu pasti. Kamu sampai berkali-kali mengingetin Mama untuk ngecekin Rapor Mei, apa bukan karena khawatir?" terang Mariko.
"Ya, cuma khawatir kan boleh?" Tama kembali cemberut.
Mei hanya memperhatikan pertengkaran antara ibu dan anak itu. Ia sendiri heran kenapa bisa jatuh hati pada pemuda cengeng yang kesehariannya masih kekanakan itu, tapi itulah cinta. Tidak bisa menyetir ke mana cinta memilihnya. Cinta memang sedasyat itu, hingga banyak orang tenggelam di dalamnya tapi tidak seutuhnya menderita. Mereka malah bahagia.
Mei melangkah keluar kantin. Tama hanya memperhatikan saja Istrinya memasuki lapangan sekolah dan berjalan di sana sendirian.
Di saat semua orang sibuk berkumpul di depan dan di dalam kelas untuk mengambil rapor, di lapangan lebih sepi dan lengang. Ia menatap kelas-kelas yang ramai di sekeliling.
Mei hampir saja menabrak seseorang yang sedang bermain basket sendirian di lapangan itu. "Eh, maaf."
"Oh, tidak apa-apa," pemuda itu hanya bergeser. Ia menatap Mei terkejut. "Oh, kamu Mei, yang terkenal itu ya? Bodyguard kan ya?"
Mei hanya menjawab dengan senyuman.
"Kenalkan aku Yogi. Aku Ketua Klub Pencak Silat."
Mei menyambut jabat tangan itu dengan perlahan.
"Mau gak kamu ikut Klub kami?"
"Oh, maaf. Aku mau berhenti sekolah. Rencana mau sambung Home Schoolling."
"Yah, sayang ya?"
"Maaf."
Tiba-tiba Tama berada di antara keduanya. Ia mengatur napas habis berlari demi mendengar bicara mereka berdua. "Ada apa?" katanya masih sambil mengatur napas.
"Oh, tidak ada," Yogi berlalu sambil men-drible (menggiring bola) bola. Pasti susah kenalan ma dia, pacarnya ngikut terus. Heh!
__ADS_1
--------+++---------
Mei bangun pagi dengan duduk di atas tempat tidur dan merentangkan tangannya. "Hah ... aku mau masak pagi ini."
"Mmh, kenapa?" Tama yang masih berbaring di atas tempat tidur membuka sedikit matanya.
"Mau bantuin Mbak Leka masak."
"Sini ... sini," Tama memanggil dengan tangannya.
"Apa?" Mei mendekatkan wajahnya.
Tama malah meraih pinggang Istrinya hingga Mei jatuh dalam dekapan suaminya.
"Eh ...."
"Mmh ... dipelukanku aja biar aku ngerasain di peluk Istri dan anak sekaligus." Tama memejamkan mata sambil tersenyum lebar.
"Tama ...." Mei menepuk bahu suaminya kesal. Ia kembali berada di dalam pelukan Tama. "Semalaman kan udah pelukan. Kamu gak bosen apa?"
"Itu versimu, aku nggak."
"Ih, aku kan gak enak sama Mbak Leka."
"Bodo!" Tama makin mempererat pelukan.
"Tama ...."
"Nanti aku beliin lipgloss rasa jeruk, mau gak?" Pemuda itu melirik istrinya.
"Udah punya."
"Yang belum punya apa?"
"Ih, Tama. Nyebelin ih!" Gadis itu mengerucutkan mulutnya sambil menyentuh lengan suaminya.
"Eh gak boleh gitu. Dosa sama suami."
"Abis suaminya nyebelin."
"Abis kamu gak pernah bilang Sayang."
"Malu tau!"
"Yah, sama suami sendiri malu ... Aku gak pernah malu tuh sama kamu."
"Kamu mah malu-maluin!"
"Kalo gak gitu aku gak dapetin kamu."
"Ih ...." Walau begitu Mei tersanjung hingga wajahnya mulai memerah.
"Kamu coba bilang I love you ke aku?"
"Ihhh ...." Mei selalu menjawabnya dengan mengambang karena memang tak berani mengatakan itu. "Tama ...." Ia masih merajuk.
"Aku akan peluk kamu terus sampe kamu bilang itu."
Pertengkaran itu belum juga usai hingga Mei mendapatkan apa yang diinginkannya. Tama mengalah.
Pagi itu Mei dan Leka pergi ke pasar diantar Bodyguard Leka naik mobil. Bodyguard Leka membawakan belanjaan, sedang Mei diajari Leka cara belanja bahan makanan dengan benar.
"Sejak kapan kamu gak suka nasi?" tanya Leka heran. Ia sedang melihat-lihat daging.
"Aku gak tau Mbak."
Leka melirik Mei. "Oiya, kamu masih hilang ingatan ya? Aduh, aku lupa lagi!"
"Mmh, gak papa Mbak."
Tiba-tiba seseorang mencopet dompet yang sedang dipegang Leka. "Eh, copet!"
Salah seorang Bodyguard Leka mengejar pencopet itu dan mendapatkannya, tapi dompet itu malah di lempar ke tempat lain. Ternyata pencopet itu tidak sendirian. Mei mengejar temannya.
_________________________________________
__ADS_1
Author St Nurul Ng dengan novel terbarunya Gelora Noda dan Cinta, menceritakan tentang salah paham yg berakhir duka. Cekidot!