
Tama tersenyum lebar. "Aduuh, Mei. Aku pikir, aku tidak bisa melihatmu lagi." Netranya masih berkaca-kaca.
"Cengeng," Mei mencubit lembut pipi Suaminya. Tak tega juga melihat Suami 'cengengnya' itu menangisinya sementara dirinya pun juga hampir menangis bahagia karena akhirnya ia sanggup bangun dari tidur panjangnya dan bertemu dengan orang-orang terkasih.
"Biarin," ucap Tama mulai terisak.
Mei ingin memeluk Suaminya tapi tangannya tersangkut karena suntik infus masih terikat erat di tangan, malah menyebabkan luka dan berdarah karena ia tanpa sengaja menarik infus itu sedikit kencang.
"Ah, Mei. Tanganmu berdarah." Tama panik dan segera bangkit dari tempat tidur lalu menekan bel di dinding.
"Ada apa Pak?" terdengar suara, menjawab panggilan bel itu.
"Istri saya, infusnya mau lepas Sus," sahut Tama memberi tahu.
"Sebentar ya Pak."
"Oh ya," ucap Tama menambahkan. "Istri saya sudah bangun."
"Baik Pak, ditunggu."
Seorang Suster dan Dokter wanita mendatangi kamar itu. Dokter itu memeriksa Mei dan Suster itu melepas jarum infusnya.
"Bagaimana Dok?" tanya Tama melihat Dokter itu melepas stetoskop-nya.
"Ibunya alhamdulillah sehat, tapi kami dari Tim Dokter akan memeriksa kembali satu-satu masalahnya karena kami baru mendapatkan laporan medisnya dari Rumah Sakit di Tarakan. Setelah kami kaji ulang, kami mungkin akan melakukan pemeriksaan lagi jadi kami harap Bapak bersabar."
Sedikit kecewa karena banyak yang ingin ia tanyakan, Tama akhirnya terpaksa diam, tapi tak lama. Saat Dokter itu pamit, Tama memanggilnya kembali. "Eh, Dok."
"Iya?" Dokter itu berbalik menatapnya.
"Apa ada kemungkinan aku membawanya pulang?"
"Ibu memang kelihatan sehat, tapi kami mempertimbangkan bayi yang berada dalam kandungan Ibu, Pak. Si Ibu sudah mengalami banyak hal di tambah keadaan rahimnya yang masih terlalu muda yang bisa menyebabkan dia keguguran, dan itu jadi pertimbangan kami sekarang. Bukan tidak mungkin kalau bayinya bermasalah bisa berdampak pada kesehatan si Ibu juga," Dokter itu menjabarkan agar Tama mengerti apa yang sedang dikhawatirkan Tim Dokter mengenai kesehatan Istrinya.
"Oh, begitu. Ti-tidak apa-apa kalau memang harus dirawat. Lakukan yang terbaik saja untuk Istriku dan Anakku. Aku tidak masalah." Tama terdengar gugup mendengar keterangan dari dokter itu dan ia hanya bisa pasrah.
"Usahakan Istri Bapak Bed Rest saja. Jangan Izinkan Ia turun kecuali ke kamar mandi, itupun juga usahakan seminimal mungkin."
"Baik Dok."
Dokter dan Suster itu lalu pamit. Tama segera mendatangi tempat tidur Istrinya dengan mata berkaca-kaca.
Mei yang sedang duduk di atas tempat tidur langsung menyadarinya. Ia menyambut suaminya yang naik ke atas tempat tidur. "Ada apa lagi Kak? Kenapa kamu nangis terus?"
Tama mendekatkan wajahnya pada wajah sang Istri. "Kamu jangan sakit lagi ya Mei, aku takut."
"Kak Tama." Mei memeluknya saat pemuda itu menyandarkan kepala di atas bahunya. "Aku kan gak apa-apa Kak, kok Kakak mikir gitu?"
"Aku takut kamu kenapa-kenapa," jawab Tama merengut.
"Kak." Mei melepas pelukannya. "Takut itu karena kita selalu membayangkan yang berlebihan padahal itu belum terjadi dan itu bisa saja terjadi karena kamu membayangkannya. Seperti doa. Jadi kalau kamu tidak percaya itu tidak akan terjadi. Seperti semacam ...."
"Sugesti?"
"Iya. Bukannya dulu aku pernah ajarin? Apa Kakak lupa? Kalau Kakak berkhayal berarti Kakak setengah berharap."
"Enggak kok, aku gak mau itu terjadi." Tama segera mengusap air matanya yang hampir jatuh.
"Nah, makanya berpikir sebaliknya, dan itu pasti tidak terjadi."
"Iya, enggak," Tama masih membersihkan matanya dari genangan air mata. "Mei."
"Mmh."
"I love you." Tama mengecup bibir Istrinya.
Gadis itu tersenyum. Tama mulai menyatukan bibir mereka. Sesuatu yang sudah lama tidak dilakukannya. 2 minggu sudah dan ia memulainya dengan rasa rindu. Mei sudah mulai menikmatinya dengan memejamkan mata ketika ada hal lain yang lebih mendesak datang menjelang. Bunyi perut Mei yang keroncongan. Mereka berdua tertawa.
"Mei kau mau makan apa?" tanya Tama yang masih tertawa.
"Apa ya? Mmh ...."
-----------+++----------
"Ayah belum nengok ke sana lagi ya?" tanya Kenzo pada Arya saat mereka makan malam di rumahnya. Arya, Mariko dan Aiko makan malam di rumah Kenzo karena pembantunya sedang pulang kampung.
__ADS_1
"Belum, nanti habis makan malam rencananya kita bertiga mau ke sana."
"Salam ya buat Tama."
"Apa Tama besok sekolah? Kan waktu liburan sekolahnya sudah habis," tanya Leka memikirkan sekolah Tama.
"Gak bisa Mbak, kan Mbak Mei koma," Tiba-tiba Aiko menutup mulutnya, terlanjur bicara. Ia melirik Ayahnya yang menatapnya tajam.
"Koma? Mei koma?" Leka terperanjat. Lebih tepatnya syok.
Kedua pria itu langsung panik.
"Eh, begini Leka ...."
"Sayang, itu tidak seperti yang kau pikirkan ...."
"Kenapa kamu bohong Mas." Netra indah itu mulai berkaca-kaca.
Terdengar hp Arya berbunyi. Terpaksa Arya mengangkat hp-nya dan ternyata dari Chris. "Halo?"
Arya berusaha fokus mendengarkan di tengah pertengkaran Leka dan Kenzo dan kemudian ia menutup teleponnya. Ia berdehem. Leka dan Kenzo menoleh ke arah pria berwajah Jawa itu yang terlihat tersenyum manis.
"Mei sudah bangun dari komanya."
"Sudah, hentikan ini semua," ucap Leka tak percaya.
"Ayah, jangan keterlaluan berbohongnya Yah!" Kenzo lebih tak percaya lagi.
"Kalau tidak percaya, ayo kita pergi semua ke rumah sakit," Arya menantang keduanya untuk membuktikan omongannya.
Keduanya terlihat bingung.
"Sekarang ...." Arya merentangkan tangannya ke atas untuk menarik ujung lengan kemejanya yang di gulung ke lengan atas agar ia lebih leluasa mengerakkan tangan untuk memegang sendok. "Kita selesaikan makan malam ini dan segera berangkat. Oya, ajak Runi serta juga tidak apa-apa."
Leka dan Kenzo saling berpandangan dalam bingung.
"Eh, tapi jangan lama-lama ya Leka, kesehatanmu," Kenzo tetap memperhatikan kesehatan Istrinya.
"Mmh."
Mereka meneruskan makan malamnya.
"Ayah, pijit lagi." Mei menyodorkan tangannya pada Ayahnya minta dipijat.
Ayah Mei melirik Tama yang berada di sudut lain dari tempat tidur. Pemuda itu memperhatikan tingkah Istrinya yang ternyata sangat manja pada Ayahnya sendiri dan Tama baru mengetahuinya.
"Sudah, malu pada Suamimu, manja pada Ayah begini," Ayah Mei masih memijat-mijat lengan anaknya. "Maaf ya Tama. Biasanya dia tidak begini. Mungkin bawaan bayi kali,"
"Betul, itu pasti bawaan bayi karena sama Ibu dia gak mau dipijit," sahut Ibu Mei.
"Ibu pijitannya sakit," keluh Mei. "Enakan Ayah."
"Itu kan karena Ayahmu gak ada tenaga Mei," kilah Ibu Mei.
"Gak juga. Buktinya ayah ngajar Wushu," tangkis Mei.
"Sudah, sudah. Begitu saja dipertengkarkan. Sudah ya, ayah capek. Kasihan suamimu juga mau duduk di sampingmu."
Tama tersenyum lebar mendengar drama rumah tangga keluarga Mei. Ia hanya menggoyang-goyangkan tangannya sambil tertawa pelan. "Gak papa kok, gak papa."
Pintu diketuk, membuat mereka berempat menengok ke arah pintu. Rombongan Arya, istrinya dan Aiko, juga Kenzo beserta Istri dan anaknya yang di gendong Baby Sitter-nya datang berkunjung, menambah ramai suasana dalam ruang perawatan itu.
"Oh, Pak Arya." Ayah Mei menyambut Arya dengan menyambanginya.
"Aduh, jangan formil begitu Pak, saya jadi gak enak ini. Kan mengunjungi anak sendiri judulnya Pak." Arya jadi tidak nyaman karena Ayah Mei lebih tua darinya.
"Tidak apa-apa. Kalau bukan dari kerja keras Bapak, belum tentu Mei ditemukan," ucap Ayah Mei dengan jujur. Ia sangat berterima kasih anaknya selain ditinggikan derajatnya juga sangat dilindungi di keluarga Arya. Ia merasa sangat beruntung.
"Ia menantu kesayangan. Lihat saja anak saya. Sepertinya ia tidak bisa hidup tanpa anak Bapak. Terima kasih, bapak telah melahirkannya," tunjuknya pada Tama dan Mei.
"Yang melahirkan Istri saya," ralat Ayah Mei.
"Oh, iya. Yang membantu menghadirkannya ke dunia," Arya memperbaiki kalimatnya.
Mereka berdua tertawa.
__ADS_1
Leka dan Kenzo mendatangi tempat tidur Mei. Netra wanita itu berkaca-kaca saat Mei harus bersusah payah duduk dengan dibantu Tama. Ia segera duduk di tepian tempat tidur menatap Mei nanar. "Maafkan aku ya? Aku yang membuatmu seperti ini," Isaknya.
"Leka ...." Kenzo yang duduk di belakang Leka menyentuh bahu Istrinya.
"Tidak Mbak, justru aku juga salah, tapi banyak hal baik yang timbul kemudian," terang Tama.
"Mmh? Apa maksudnya?" Isak wanita itu terhenti.
"Mei kini sudah ingat semua."
"Masa?"
"Iya, dan aku makin sayang sama dia."
Mei mencubit pinggang Tama.
"Eh, iya bener," Tama berusaha meyakinkan Istrinya sambil mengusap pinggangnya yang sedikit nyeri dicubit Mei. "Kalau kamu pernah merasakan kehilangan kamu akan tahu betapa berharganya seseorang itu untukmu." Ia menatap Kenzo dan Leka.
Kenzo mendekap bahu Istrinya dari belakang. Mereka saling berpandangan dan tersenyum.
"Benar," ujar Kenzo masih memandang Istrinya. "Kau akan tahu saat memperjuangkannya." Ia menoleh pada Tama.
---------+++--------
"Aku sudah mengunci pintu," sahut Tama saat menaiki tempat tidur Mei dan masuk ke dalam selimut.
"Untuk apa?"
"Aku ingin tidur tenang denganmu. Biasanya pasti ada yang tugas malam datang dan memeriksamu dan mereka pasti marah kalau liat aku naik ke tempat tidurmu." Tama melingkarkan tangannya pada pinggang Istrinya.
"Ya kan bener, tempat tidur ini kan buat satu orang bukan buat dua orang Kak," Mei mencoba menasehati.
"Tapi kan aku Suamimu," Tama mencoba memenangkan dirinya.
"Dan ini rumah sakit."
Tama menghela napas.
"Rumah sakit yang mengurus aku sakit."
Tama menunduk sambil mengerucutkan mulutnya.
"Kamu menyerahkan pada pihak rumah sakit untuk mengurusku jadi kamu harus ngikutin peraturannya kan Kak?"
Tama hanya diam.
"Yang sabar ya Kak. Mmh ... bagaimana kalau Kakak tanya aja kapan terakhir mereka periksa aku, setelah itu baru dikunci pintunya. Kakak kan bisa bebas tuh setelah itu kalau mau tidur sama aku," usul Mei.
"Istri cerdas." Tama mengecup bibir Mei. Ia segera turun dari tempat tidur. "Tunggu sebentar ya Mei." Ia berlari ke arah pintu dan hilang di baliknya.
-----------+++----------
Pagi itu Tama membantu Mei memasang mukena. Gadis itu duduk di kursi dan sajadah Tama di sampingnya. Mereka sholat bersama.
Setelah sholat, Tama pergi ke kantin membeli sarapan. Tepat setelah mereka selesai sarapan, Supir kantor Tama datang bersama Ibu Mei. Sopir itu membawakan Tama baju dan tas sekolahnya.
"Aku sebenarnya malas sekolah," Tama mengerucutkan mulutnya.
"Eh, gak boleh gitu. Calon Ayah harus rajin," Mei menyemangati.
Ibu Mei tersenyum.
"Kan hari pertama gak penting, cuma basa-basi aja," pemuda itu berkilah.
"Jadwal mata pelajaran, baju baru, guru baru, wali kelas baru ...." Mei menjabarkan.
"Iya, iyaaa ...." Tama menyerah.
"Kan ada Ibu yang gantiin kamu."
"Jadi aku bisa diganti ya?"
"Kamu tak tergantikaaan ... Aduh Kak Tama!" Wajah Mei memerah. Tama terlihat puas.
___________________________________________
__ADS_1
Terjerat Cinta Mafia Tampan oleh author Reni T. menceritakan tentang seorang gadis yang menolong seseorang yang kemudian berbalik menolong dirinya. Mmh, kelihatan misterius ya?