Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Ida


__ADS_3

"Ini." Arya memberikan 2 buku yang sangat tebal setebal satu jengkal jari orang dewasa pada Tama.


"Aduh, apa ini Yah." Pemuda itu keberatan menggendong kedua buku itu.


"Buku tentang konstruksi dalam bahasa Inggris. Ini buku paling bagus dan lengkap hanya saja belum ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia."


"Untuk apa buku ini Yah?"


"Untuk dibaca, Tama. Kamu ini gimana." Arya menepuk punggung Tama.


Karena keberatan menggendong buku itu, Tama menepi. Ia meletakkannya di atas sebuah meja yang menempel ke dinding. Ia mengatur napas karena keberatan menggendong buku tadi. "Ayah, untuk apa buku kontruksi? Aku kan hanya butuh buku majemen?"


"Kamu salah. Sebelum memimpin sebuah perusahaan, kamu harus mengenali dulu produk usahamu. Perusahaan Kakek itu bergerak di bidang kontruksi jadi kamu harus tahu sedikit banyaknya tentang konstruksi."


"Iya, tapi tidak harus sedetail itu kan Yah? Aku tidak harus mempelajari semuanya, kan?"


"Sebenarnya semakin detail malah semakin bagus. Itu akan membantumu untuk membuat keputusan untuk sebuah kontrak dan negosiasi."


"Aduh, Ayah. Buku setebal ini?"


"Ini hanya konstruksi dasar. Aku minta kamu menyelesaikan bacanya dalam 3 hari."


Tama tercengang. "Ayah, itu tidak mungkin. Itu berarti aku tidak makan tidak minum dan tidak tidur, dan itu juga belum tentu selesai."


Arya tertawa. "Tidak seperti itu. Kamu harus tahu trik membaca cepat. Kalau kamu bisa melakukannya kau pasti bisa menyelesaikannya sesuai jadwal."


"Bagaimana caranya?"


"Begini. Baca satu bab dengan cepat. Biasanya awal-awal bab itu sulit tapi makin ke belakang akan makin mudah setelah kamu mengenal bacaanmu. Setelah itu buat ringkasannya."


"Jadi aku butuh buku catatan?"


"Iya betul."


"Hah!" Tama menyentuh keningnya.


"Setelah itu, makin ke belakang kamu akan makin banyak melewati bahasan atau hanya melihat sekali saja tanpa perlu membacanya secara rinci karena di bab awal kamu sudah mengerti."


Tama menatap kedua buku tebal itu dengan menghela napas.


"Ayah akan ada di sini membantumu mengerti beberapa istilah atau bab yang tidak kamu pahami, jadi sekarang kau mau baca di mana?"


--------+++---------


Aska merapikan barang barang-barangnya dalam tas. Ia melirik Monique yang tersenyum kecut. "Apa tanganmu sudah sembuh?"


"Gak tau." jawab wanita itu masih dengan mulut mengerucut.


Aska mendekati istrinya dengan duduk di tepian tempat tidur. "Coba sini aku lihat."


Monique memperlihatkan tangannya. Pria itu hanya melihat dari luar karena tangan istrinya masih di perban. "Sepertinya sudah kering." Ia meletakkannya di atas tempat tidur. "Aku hanya datang satu sesi latihan saja nanti, setelah itu aku langsung pulang. Kita akan ke klinik sesudahnya untuk periksa lukamu. Baru setelah itu kita berkunjung ke rumah orang tua kita. Bagaimana menurutmu?"


Bola mata Monique membulat sempurna. "Yang bener Ka?"


"Iya."


Monique segera menegakkan punggungnya dan memeluk leher suaminya. Ia sangat senang. "Iya, mau. Terima kasih."


Aska tersenyum dan mengusap lembut punggung Monique. "Mmh."


--------++++------


Pada awalnya, sedikit sulit. Tama banyak bertanya pada Arya karena banyak istilah konstruksi yang ia tidak mengerti dan mencatatnya. Untung saja sejak kecil, kadang-kadang Tama, Kenzo dan Aiko dibawa ke tempat pembangunan sebuah rumah stau bangunan lain bila Arya sedang mengerjakan proyek baru sehingga mempermudah Arya menerangkan soal konstruksi pada Tama. Pemuda itu juga dengan kecerdasannya bisa cepat menangkap dengan mudah apa yang bacanya sehingga dengan cepat ia mulai nyaman dengan bacaan berat yang sebenarnya adalah konsumsi anak yang kuliah di universitas. Ia juga mulai meringkas tiap bab yang di rasa penting, dan serius mengerjakannya.

__ADS_1


Arya belum pernah melihat Tama seserius ini dalam belajar walaupun ia tahu Tama sebenarnya pintar di sekolah hanya saja anak itu tidak pernah serius menekuninya. Ia baru sadar, ia kurang menggali potensi Tama sehingga kehidupan sehari-harinya kurang terarah. Sekarang ia sendiri antusias ingin mengetahui sampai sejauh mana anak manja ini mampu menoreh prestasi. Apakah bisa seperti yang Chris bicarakan padanya semalam?


Arya akhirnya keluar dari kamar Tama karena pemuda itu tak lagi bertanya dan sibuk membaca dan meringkas bab. Ia bergabung dengan Kenzo di dekat tangga yang sedang menunggui Runi bermain dengan kucingnya.


"Kamu mengisi liburmu dengan begini?" Arya memperhatikan Kenzo yang sedang menyendoki kotoran kucing ke dalam plastik sampah sedang Runi sedang mengejar-ngejar kucing berlari mengitari ruang tengah. Setelah gadis kecil itu kelelahan dan duduk di lantai, Mimi malah datang mendekat dan duduk di samping Runi. Gadis kecil itu dengan senangnya mengusap-usap tubuh kucing itu.


"Oh, iya Yah. Kadang melihat laptop terlalu lama aku bosan. Lama-lama aku bisa ketiduran di depan laptop." Kenzo tertawa. Pria ini memang tidak begitu suka membaca angka dan mendengarkan laporan keuangan, padahal kekayaannya semakin bertambah dan semakin banyak perusahaan di luar negeri yang ingin bekerja sama dengannya, tapi Kenzo mulai membatasinya karena takut orang mulai mencari tahu tentang dirinya.


Perusahaan milik almarhum ayahnya memang membuatnya menjadi Milyader tapi ia juga tidak ingin kehidupan pribadinya diusik media karena itu juga akan membuat orang mencari tahu tentang asal usulnya. Rumah mewah yang sekarang dimilikinya sebenarnya termasuk rumah sederhana untuk ukuran seorang Milyarder di banding rumahnya dulu di Jepang yang sangat besar dan megah. Ia belajar dari Arya hidup sederhana, yang membuat ia merasa nyaman untuk pergi ke mana-mana dan menjadi diri sendiri tanpa banyak orang mengenalnya.


"Aku bikin goreng pisang!" teriak Leka datang membawa sebuah baki berisi sepiring goreng pisang dan 3 cangkir teh hangat.


"Aduh, enak ini. Ayo kita serbu," sahut Arya bersemangat.


Mereka duduk mengelilingi meja makan menikmati pisang goreng, termasuk Runi.


"Pisang," ucap Runi senang. Giginya yang mulai banyak, suka menggigit-gigit makanan yang sedikit keras.


"Ini siapa?" Leka menunjuk Arya.


"Akek."


"Mau sini gendong Kakek!" Arya mengambil saja Runi dari pangkuan Leka dan mencubit lembut hidung gadis kecil itu.


Gadis kecil itu tertawa menatap Arya. Ia menunjuk Mimi pada pria itu. "Mimi ... Mimi ...."


"Oh, kamu mau ngajak Kakek main sama kucing ya? Nanti ya, kita makan pisang goreng dulu."


"Iya."


Sementara itu di lantai dua, Tama sudah menyelesaikan sepertiga dari kedua buku itu. Ia merasa lega. Dengan meregangkan tubuh ia menatap jam di dinding. Masih jam sepuluh. Kira-kira Mei sedang apa ya, sama Ida sekarang?


Ia langsung menghubungi Mei lewat hp-nya. "Halo Mei, kamu di mana?"


"Udah ketemu?"


"Udah tapi harganya mahal jadi gak jadi dibeli."


"Oh, buku apa? Apa mau kubeliin?"


"Apa?"


"Iya, coba tanya Ida. Nanti sekalian aku beliin makan siang. Mau gak?"


"Mmh?" Terdengar percakapan antar Mei dan Ida dan Ida terdengar senang. Gadis itu mengiyakan tawaran Tama. "Boleh Kak."


"Ya sudah. Ini Mal mana?"


Setelah mendapat jawaban dari Mei, Tama segera merapikan bukunya. Ia mengambil dompet dan segera keluar dari kamar lalu berdiri dekat tangga. "Kak, pinjam mobilnya."


"Oh, Tama. Kau sudah selesai membacanya?" tanya Arya dari meja makan.


"Sudah Yah, aku boleh main kan Yah?" teriak Tama dari tangga.


"Ya sudah. Besok pulang dari sekolah, ketemu Ayah dulu ya?"


"Iya Yah."


"Kamu ambil di tempat biasa di kamar," sahut Kenzo menjawab pertanyaan Tama tadi.


Tama langsung masuk ke kamar Kenzo.


Sementara di toko buku, Mei dan Ida masih mengobrol sambil melihat-lihat buku.

__ADS_1


"Kamu yakin Mei, dia belum punya pacar?" tanya Ida penasaran.


"Iya. Aku kan dampingin dia terus jadi tahulah."


"Tipe ceweknya kayak apa ya Mei?" pipi Ida sedikit bersemu merah saat mengatakannya. Ia sebenarnya malu bertanya tapi melihat kebaikan hati Tama yang mau membelikannya buku, membuat Ida merasa sedikit berbeda. Ida memang menyukai Tama sudah lama tapi susah mendapatkan perhatiannya. Lewat Mei, tiba-tiba kesempatan itu datang padanya. Bahkan Tama ingin membelikannya buku. Sesuatu yang spesial pasti telah terjadi dan membuat mereka menjadi dekat.


"Aku gak tau sih tapi kayaknya dia suka tipe kayak Bella deh."


"Masa?" Ida terkejut.


"Iya, aku pernah lihat dia godain Bella waktu itu."


Wah, aku sama Bella kalah jauh. Dia kan cantik, foto model profesional sedang aku, apalah. Wajahku biasa-biasa aja, pikir Ida.


Mmh, Tama kenapa tiba-tiba baik sama Ida ya? Apa aku jodohin saja mereka? Boleh juga. Aku kan jadi bisa pergi sama si ganteng Tristan, Mei tersenyum simpul.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Ida heran.


"Kamu suka ya sama Tama?" goda Mei.


Ida tersenyum malu. "Habis mukanya cute(lucu) banget."


"Bagaimana kalau kuajak Tristan?"


Ida mengerut kening. "Maksudnya?"


"Biar aku sama Tristan dan kamu sama ...."


Ida tersenyum. "Kok kamu baik banget sih Mei." Ia tambal malu-malu. Pipinya seketika bersemu merah muda.


"Sebentar, aku telepon dulu ya?" Mei mengeluarkan hp dari dalam tasnya.


--------+++--------


Aska membawa masuk Monique ke dalam rumahnya. Chris dan Reina memang kebetulan ada di rumah karena tadi pagi sudah diberitahu Aska akan kedatangan mereka.


"Waduh, gimana nih? Pengantin baru. Maaf Papa belum jenguk kalian karena kesibukan." Chris yang sedang mengobrol dengan Rojak di sofa ruang tamu langsung berhenti mengobrol dan menyambut anak menantunya.


Pemandangan yang paling dihindari Aska adalah bertemu pria ini. Rojak, pacar saudara kembarnya, Salwa. Baru bertemu saja, sudah mengganggu mood-nya siang itu tapi demi istrinya, ia berusaha tak peduli.


"Ini Pa, ngajakin Monique keluar jalan-jalan. Katanya pengen ditemenin," jawab Aska.


Monique mencubit pinggang Aska dengan wajah malu-malu.


"Aduh, kok dicubit sih?" tanya Aska bingung.


Monique hanya menunduk sambil tersenyum senang. Ia melingkarkan tangannya pada lengan kekar suaminya.


"Biasalah, anggota keluarga baru yang masih malu-malu." Reina datang dari dapur membawa baki berisi teh hangat untuk Chris dan Rojak, ikut menyambut kedatangan Aska dan Monique. Ia meletakkan bakinya, di atas meja dan mendatangi Monique. "Bagaimana kehamilannya? Tidak ada masalah kan?"


"Tidak Ma."


"Baguslah."


"Salwa mana Ma?" tanya Aska.


"Adikmu sedang pergi dengan temannya sejak tadi pagi."


"Lho, Rojak bukannya ...."


"Oh, dia memang mau ketemu Papa, kan sekarang bekerja di perusahaan Papa."


"Apa?" Aska syok mendengarnya. Dia di perusahaan Papa? Apa sekarang dia mau menjilat Papa? Dasar manusia licik! Tidak hanya serakah ingin jadi orang kaya, gembel ini juga mau menguasai seluruh harta Papa. Lalu lu anggap gue siapa hah?

__ADS_1


__ADS_2