
Kenzo baru saja keluar dari Mesjid Al Ahmadin, mesjid milik Chris yang berada tidak jauh dari rumah Chris. Ia mendadak menerima panggilan telepon saat hampir mencapai mobilnya, dan terkejut melihat siapa yang menelepon. "Halo," katanya dengan suara bergetar.
"Jo, kau di mesjid?"
Pria itu dengan cepat melihat ke sekelilingnya tapi tak menemukannya.
"Al Ahmadin, pasti."
Sekali lagi Kenzo mencari sampai berkeliling mengitari mesjid tapi tetap tak ditemukannya. Di mana dia? Apa ini benar suaranya?
"Jo."
"Ayah, ini benar Ayah kan? Ayah kau di mana?"
"Ayah masih di Jepang, Jo."
"Astaghfirullah alazim." Kenzo memukul keningnya. "Bagaimana Ayah tahu aku di mesjid?"
"Lho, itu gampang. Sekarang kan hari Jum'at kan? Ayah hanya mencocokkan jam di Jepang dan Jakarta dan Ayah memperkirakan kamu pasti berada di mesjid."
"Ya allah Ayah, aku pikir Ayah sudah sampai di Jakarta. Aku sudah mengitari mesjid mengira Ayah berada di sini."
Terdengar suara tawa Arya yang keras di seberang sana. Tawa yang dirindukan. Tawa orang tuanya. Tak terasa air matanya meleleh. Mereka benar-benar masih hidup. Ia segera menghapus air matanya.
"Ayah ke mana aja sih, kok gak kasih kabar? Aku sudah ketakutan tau Ayah, melihat tragedi kapal jatuh itu waktu itu sampai-sampai aku datang ke Nagoya untuk memastikannya. Ternyata Ayah malah enak-enakan bulan madu berdua sembunyi sama Mama."
Arya kembali tertawa. "Tidak, Ayah ada masalah salah paham sedikit di sini jadi gak bisa balik ke hotel, segera. Sekarang Ayah sudah di hotel, rencananya akan pulang besok."
"Ayah sudah dapat pesawat? Apa Ayah kurang uang, nanti aku transfer."
"Tidak, uang ayah masih cukup. Terima kasih ya, bayarin hotel ayah minggu ini, nanti ayah ganti."
"Ayah, Ayah seperti bicara dengan siapa saja. Ini anakmu Ayah!" Kenzo mulai kesal.
"Ya, udah. Jangan marah-marah. Nanti marahnya pas ayah pulang saja. Bagaimana dengan adik-adikmu? Mereka tidak terlibat masalah kan? Bagaimana dengan Tama, apa dia masih sering membolos dan dipanggil guru? Kau bisa mengurus adik-adikmu kan?"
Kenzo memejamkan mata. Hampir tidak. Hampir saja kita kehilangan Tama, Ayah. Maafkan aku, aku sudah ceroboh. Ia membuka matanya kembali. "Sejauh ini aman-aman saja Yah."
"Ok, sampai ketemu besok. Jangan cengeng, ayah bisa lebih parah lagi kalau melihatmu begitu!" Arya mengakhiri teleponnya.
Kenzo mengusap air matanya yang mulai jatuh. Bagaimana tidak menangis? Ayah dan Mama menghilang hingga hampir 2 minggu tanpa kabar berita, bahkan hampir dikira ikut menjadi penumpang pesawat yang jatuh. Ayah, anakmu ini memang bodoh tapi aku rindu!
--------+++--------
Mei menatap cermin kecil di depan dengan mengerut dahi. Dari tadi dia ngeliatin aku terus. Ada apa sih? Ia menoleh ke belakang. "Ada apa?"
Tama yang ketahuan langsung sadar. "Eh, ngak."
"Ngak apa?"
__ADS_1
Tama mengalihkan pembicaraan. "Tadi kamu nyalin jawabanku kan?"
Mei hanya mengerut kening.
"Awas enggak!"
"Kalo enggak kenapa?"
"Ck! Kamu mulai membantah ya, sejak kenal Tristan."
Kok Tristan dibawa-bawa? Aku kan memang udah begini dari dulu. Cari-cari alasan aja nih! "Perasaan, aku udah begini deh dari dulu, kenapa sekarang nyangkut-nyangkutin nama orang lain sih, di sini?"
"Oh, belain Tristan ... Kamu udah susah sekarang dibilanginnya ya?"
Ih, ada apa sih nih orang, tiba-tiba nyalahin Tristan. Ngak masuk akal banget! "Kak Tama kenapa sih, sensitif banget soal Tristan. Apa ada masalah dengannya?"
Iyalah. Aku merasa kamu semakin jauh. Aku gak suka ada orang datang terus langsung ngambil milik gue. Lu Bodyguard gue bukan Bodyguard dia!
Tama tak menjawab. Ia hanya melengos melihat ke arah jendela.
Di sore hari mereka berangkat ke kantor bersama Kenzo. Mobil meninggalkan rumah pria itu.
"Kenapa aku perlu pakai sopir sih Kak? Aku kan bisa menyetir sendiri."
Kenzo melirik Tama di sampingnya. "Karena kejadian demi kejadian yang membuat Kakak sangsi padamu. Lagi pula sopir kantormu tidak datang pagi tadi, jadi pakai Bodyguard Kakak dulu untuk jagain kamu, sekalian kamu kan belum punya SIM."
"Kan ada Mei Kak."
"Ya ... Kakak. Kan capek Kak pulang sekolah terus kerja. Ke Mal untuk refreshing."
Kenzo menatap iba pada Tama adiknya yang di bebani pekerjaan sesulit ini di usianya yang masih sangat muda, tapi ia tidak bisa berbuat banyak karena iapun juga sibuk me-manage perusahaannya di Jepang dan Italia lewat online sehingga ia menerima saja keputusan Kakek mereka memilih Tama sebagai pengelola perusahaan tersebut. Setidaknya hari ini ia menyempatkan diri untuk mengajarkan adiknya di sela kesibukannya di antara keluarga dan pekerjaan.
Kenzo menepuk-nepuk pucuk kepala Tama. "Ayah akan pulang besok, tapi setidaknya kamu bisa membereskan dulu perusahaan itu sebelum ia kembali."
"Beneran Kak?" Terlihat raut wajah adiknya tak percaya.
Kenzo mengangguk pelan.
"Asyik!" Tama melonjak karena gembira. "Ayah dan Mama pulang. Berarti aku cuma sekolah saja. Yes!"
"Kalau kamu tidak mau kerja, serahkan perusahaan pada Ayah, eh tapi ... kamu tak butuh Mei lagi dong? Kamu sudah capek-capek masukin dia ke sekolah kamu, bagaimana?"
Tama tiba-tiba sadar. Ia menoleh ke arah Mei yang terlihat tertunduk di kursi depan. Mei ... aku tak boleh kehilangan dia. Tidak oleh Tristan dan oleh yang lainnya. Tidak, tidak boleh! "Aku boleh gak ya, belajar kerja di sana."
"Mmh, boleh saja. Jadi staf biasa, tapi itu tidak perlu punya Bodyguard kan?"
"Oh, enggak. Ayah kan sudah punya perusahaan. Aku ingin mencoba jadi pemimpin selama Om Hadi masih sakit. Iya, aku bisa kok kalau diajari. Nanti ajari ya Kak, aku pasti sungguh-sungguh belajarnya."
Kenzo hampir tak percaya mendengar ucapan Tama barusan. Ini serius? Apa Tama mulai fokus dengan tujuannya? Apa ini karena ... Mei? Kenzo melirik Mei di depan. Apa segitu istimewanya kah gadis ini di mata Tama? Apa ia cinta pertamanya? Kenzo hanya tersenyum. "Ya sudah."
__ADS_1
Sementara di tempat lain, Aska pulang dengan mobilnya. Kebetulan hari itu ia pulang cepat dan berniat mengunjungi Zack adiknya di rumah Ayahnya, Chris. Tak sengaja saat ia berbelok, ia bertemu mobil Kenzo lewat di depannya. Kenzo sepertinya tidak menyadari keberadaan mobil Aska karena sedang berbicara dengan Tama.
Eh, dia keluar. Bagus deh, kalau begitu. Aku jadi bisa leluasa menemui Leka. Ah, mudah-mudahan bisa masuk rumahnya. Aska segera membelokkan mobilnya ke arah rumah Kenzo.
Tanpa sengaja, Monique pulang dari berbelanja di Mal. Ia melihat Mobil Aska yang melintas di depan mobilnya. "Eh, itu mobil suamiku!" Ia melihat heran pada mobil itu karena pergi ke arah yang berbeda. "Ikuti Pak!" katanya pada sang supir. Mobil saat itu juga berbelok ke arah mana mobil Aska pergi. Mobil Monique mulai mengikutinya.
Aska memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah. Monique tidak tahu itu rumah siapa. Ia meminta supirnya untuk menunggu.
Setelah membuat sedikit keributan dengan satpam di sana, mobil Aska akhirnya diperbolehkan masuk. Mobil Monique tetap menunggu di seberang jalan.
"Oh, halo Leka. Kamu sendirian? Suamimu mana?" tanya Aska dengan senyum lebar saat keluar dari mobil. Ia melihat pintu depan terbuka dan melihat wanita itu sedang menunggui Runi bermain dengan kucing bersama Aiko. Aiko mengajarinya menyisir kucing setelah dimandikan dan dikeringkan dengan Hair Dryer. Runi sangat antusias. Ia berjongkok dekat Aiko yang meletakkan Mimi, kucing mereka dalam pangkuan.
"Oh, kamu sudah pintar menyisir kucing?" Aska berdiri di samping Leka memandangi Runi yang asyik menyisir kucing dengan sisir khusus kucing.
Gadis kecil itu terlihat senang. "Om, Om!" Ia menunjuk kucing itu pada Aska.
Hingga kini, Runi masih memanggil Ayahnya sendiri dengan panggilan 'Om' karena kesalahan Aska sendiri. Askalah yang mengajari anaknya memanggil 'Om' saat awal-awal menyembunyikan pernikahannya dengan Leka, mantan istrinya itu. Sekarang wanita itu telah menikah dengan orang lain dan ia menyesal. Ia masih mengharapkannya kembali.
"Mas Jo, baru saja pergi. Apa Abang tidak melihatnya?" Leka memberi tahu.
"Oh, tidak. Sayang sekali." Aska berpura-pura menyesal tapi Aiko tahu pria itu pasti berbohong.
Gadis itu melirik Aska yang sedang berbicara dengan Kakak Iparnya, sinis. Dasar tukang bohong! Pasti tadi ketemu Oniichan di jalan makanya langsung belok ke sini.
"Sore-sore begini, masih panas aja ya? Eh, di depan situ ada toko khusus es krim baru lo. Mau coba gak?" ajak Aska pada Leka. "Kamu juga ikut aja." Ia bicara pada Aiko.
"Kita udah duluan coba, di bawa sama Oniichan kemarin," ucap Aiko tanpa menoleh. Ia sibuk menyisir rambut Mimi bergantian dengan Runi.
"Ah, kita bawa Zack, gimana?"
Aiko langsung berdiri. Matanya berbinar ceria. "Zack? Aku mau ikut kalau Zack ikut," sahutnya berubah haluan. Ia sudah lama menyukai Zack, tapi pemuda itu sibuk saja mengurusi Lydia, adik angkatnya itu. Sejak Lydia kembali pada orang tuanya, Zack malah makin sibuk dengan masuk klub basket dan bermain dengan teman laki-lakinya. Tidak ada waktu tersisa untuk mereka bermain bersama.
Aska sudah lama mengetahui Aiko sangat menyukai adik angkatnya itu, karena itu ia membujuk Aiko dengan mengiming-imingi mengajak Zack serta. Aiko langsung membujuk Leka untuk ikut bersama mereka.
Aska tersenyum dan menunggu hasilnya.
Tak lama, pintu pagar pun dibuka. Mobil Aska keluar dengan membawa Leka, Runi dan juga Aiko.
Sementara di dalam mobil yang lain, Monique syok melihat pemandangan di depannya. Ia melihat suaminya pergi bersama wanita lain. Bukan sembarang wanita tapi mantan istrinya! Matanya menggenang, sedih tak terkira. Betapa bodohnya dirinya mengira suaminya setia.
Tentu saja tidak mungkin, karena dialah yang menyebabkan suaminya gagal menikah dengan mantan istrinya itu. Iya, karena saat itu ia melaporkan dirinya berbadan dua pada calon mertuanya. Karena itulah Aska gagal menikah dengan mantan istrinya itu dan wanita itu langsung dinikahi Kenzo, rival suaminya yang waktu itu hadir di sana dengan izin Chris, Ayah Aska.
Kalau suatu hari Aska tiba-tiba tidak setia padanya itu harusnya bukan hal aneh karena dari awal, bahkan dari dulu Aska tidak pernah mencintainya bahkan membencinya. Bukankah sejak dulu, sejak masih SMP Aska selalu berkata kasar dan menolaknya setiap kali ia menunjukkan rasa sukanya pada pria itu? Aska menerimanya karena berusaha bertanggung jawab dengan masalah pernah mabuk dan menidurinya. Itu saja. Tidak ada yang istimewa. Tidak juga cinta. Lalu kenapa ia menaruh hatinya terlampau banyak dalam pernikahan ini?
Bodoh. Kau bodoh, Monique. Sampai kapanpun pria itu tidak akan mencintaimu. Tidak akan pernah. Mati sajalah kau Monique bersama bayimu agar pria itu hidup bahagia.
______________________________________________
Author Zahroni Nurhafid menulis novel petualangan yang mengagumkan. Terlemah yang Tak Terkalahkan, bercerita tentang peradaban berbeda di jaman yang berbeda dengan tambahan time travelling yang menarik. Sudah kepokah?
__ADS_1