Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Ke Jogja


__ADS_3

Aska masih menemani istrinya di sebuah bangku panjang di depan sebuah ruang praktek dokter. sore itu, rumah sakit sedikit ramai. Ada beberapa wanita muda juga yang sedang hamil ditemani pasangannya duduk di beberapa tempat terpisah.


"Kalau nanti bayinya perempuan, aku mau kasih nama Clara."


"Mmh, Clara bagus juga."


"Kalau laki-laki?"


"Mmh, Ahmad?"


"Ahmad?"


"Nama-nama Islam kan juga bagus."


"Tapi nama itu ... bukannya nama Ayahmu?"


"Iya ... aku merindukannya. Aku berharap anakku bisa seteguh Ayahku yang mendidik anak-anaknya agama, kerja keras demi keluarga dan menyayangi anak dan istrinya," Netra Aska memerah. Monique menangkup lembut wajah sang suami dengan kedua tangannya dengan tatapan bahagia. Netra Monique pun bahkan telah mengalirkan air mata. Mereka menyatukan kening mereka sambil memejamkan matanya.


Tak beberapa lama, panggilan berikutnya dari suster. "Nyonya Aska Irfan!"


---------+++--------


"Papa, Papa!"


"Apa Sayang?" Kenzo yang memangku Runi di dalam pesawat sedikit kerepotan karena belakangan Runi senang pergi ke tempat baru dan suka bertanya tentang hal-hal yang belum pernah dilihatnya.


Seperti kemarin, waktu diajak menemani Leka ke pasar. Ia menanyakan segala sesuatu yang baru dilihatnya di sana. Bahkan ia jadi favorit ibu-ibu karena aktif bertanya dan punya wajah yang lucu.


"Apa itu?" Runi menunjuk buku-buku yang terselip di kantong belakang kursi di depannya.


"Buku."


"Buku apa?"


"Buku petunjuk penyelamatan." Kenzo mengeluarkan buku itu.


"Penyelam apa?"


Kenzo tertawa. "Bukan penyelam. Penyelamatan."


"Penyelam apa?"


Kenzo dan Leka tertawa.


Lain lagi dengan Tama dan Mei yang duduk di kursi pesawat dekat jendela di sisi yang satunya.


"Aku cuma pegang tangan doang nih?" tanya Tama pada Mei.


"Kenapa?"


"***** gak boleh?"


Mei hanya melengos memandang jendela di sampingnya. Awan berarak dengan indahnya. Begitu dekat.


"Mei."


Gadis itu menoleh. Tama menghela napas. Ya sudahlah. "Gak papa. Kamu mau minum?" Ia menyerah.


--------+++--------


Taksi langsung meluncur tentunya ke kediaman Adi, Kakek Tiri Kenzo dan Tama.


Ayah Arya ini sangat menyayangi cucu tirinya yang ia dapat dari Arya karena merekalah cucu laki-laki yang ia punya, sementara ia mendapat cucu kandung dari Putri anak pertamanya dan Arya anak keduanya yang kedua-duanya perempuan, yaitu Ratih dan Aiko. Hanya cucu laki-lakilah yang dianggapnya penerus.


Adi, kini telah menikah lagi dengan seorang wanita sederhana yang tidak bisa mempunyai keturunan alias mandul. Umur mereka pun tak terpaut jauh. Karena kini umur Adi sudah merangkak tua menjelang 70 tahun, ia sudah bertongkat untuk berjalan. Kadang saat sedang sakit, ia butuh kursi roda untuk melakukan aktivitasnya.

__ADS_1


Adi tentu saja kaget melihat kedatangan rombongan Kenzo dan juga senang akan kejutan ini. Ia menyambutnya di depan pintu.


"Oh, siapa ini, si kecil yang cantik ini?" Adi mendekati cicitnya Runi, dengan tongkatnya.


"Runi Kakek," Kenzo merubah suaranya seperti anak kecil yang membuat gadis kecil itu tertawa bersama Leka. "Oh iya Kek, ini Istriku Leka."


Dengan santun Leka meraih tangan Adi dan mencium punggung tangannya. "Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab Adi dan Istrinya di belakang.


Kemudian rombongan Tama dan Istrinya keluar dari taksi berikutnya bersama Bodyguard Kenzo yang membawakan tas mereka masuk.


"Kakek!"


"Oh, cucuku. Kau cepat besar ya?" Adi mengusap kepala Tama. "Terakhir kapan ya? Oh, hampir setahun lalu."


"Ini Istriku Kek," Tama menarik Mei mendekati Adi. Gadis itu segera mengambil punggung tangan pria tua itu dan menciumnya seperti Leka.


Adi makin melebarkan senyumnya. "Kalian ini, makin membuat Kakek makin tua saja."


Mereka semua tertawa.


Senja merona merah di Jogja sebelum menurunkan layarnya, berganti malam yang penuh suka cita. Obrolan yang dilakukan saat makan malam menambah riuh suasana di kediaman Adi. Pria itu sampai menambah makannya karena bersemangat.


"Pantas Kakek terkejut. Baru saja Arya memberi tahu kalian menikah, eh tahu-tahu sudah muncul di sini. Kakek kira ada apa."


"Tidak ada maksud apa-apa Kek. Hanya karena Kakek tidak hadir di perkawinan kami makanya kami yang mengunjungi Kakek sekalian minta restu dan memperkenalkan pasangan kami," terang Kenzo.


"Sekalian bulan madu?"


Kenzo tersenyum lebar. "Ya, itu salah satunya."


"Mmh, kau pintar sekali Kenzo, mencari istri yang cantik. Persis Arya." Leka tersipu malu.


"Kalau aku Kek?" Tama ikut bicara.


"Kau masih muda Tama. Baru saja aku beri perusahaan dan sepertinya perusahaan itu lambat laun membaik. Kakek mendengar dari banyak orang di sana dan juga tentang Istrimu di perusahaan yang juga turut membantumu. Keputusanmu menikah muda itu pasti bukan isapan jempol semata. Pasti ... dia sangat istimewa."


Wajah Mei semakin merah merona karena malu dipuji sedemikian tingginya padahal saat ini, ia sedang hilang ingatan. Ia tidak ingat sama sekali apa yang pernah dikerjakannya dahulu.


"Tapi ada apa dengan tanganmu?" Adi melihat tangan Mei yang di gips.


"Oh, tidak apa-apa. Hanya sebuah kecelakaan," sela Tama mengakhiri agar tak ada pertanyaan tambahan.


"Oh, jaga Istrimu Tama, baik-baik."


"Eh, iya Kek."


Malam semakin larut. Ingin rasanya Adi mengobrol dengan cucu-cucunya tapi tubuhnya mulai ringkih karena sudah tak muda lagi. Ia harus segera beristirahat.


Mei dan Tama memasuki kamar mereka. Tama segera membuka tas Mei.


"Eh, kamu cari apa?"


"Selendangmu Mei."


Namun saat pemuda itu membuka resleting tas Istrinya, yang terlihat pertama kali adalah bh dan ****** ***** gadis itu.


"Ih!" Mei segera menariknya.


"Eh ...." Tama jadi salah tingkah.


"Udah, nanti aku ambilin." Sebentar kemudian Mei telah mengeluarkan selendangnya. "Nih!"


Tama bingung ingin mengikatkan tangannya ke mana karena tempat tidur mereka dari kayu dan tak ada cela untuk mengikat tangannya ke tempat tidur. "Eh ...."

__ADS_1


"Ke kursi saja," tunjuk Mei pada sebuah kursi untuk meja rias.


Tama pun menarik kursi itu ke dekat tempat tidur mereka dan mengikat tangannya terhubung ke kaki kursi. Setidaknya kalau ia bergerak, kursi itu akan jatuh.


Sebenarnya Mei kasihan pada suaminya tapi memang benar, ia masih setengah hati kalau harus tidur berdua dengan Tama. Ia bisa tidur berdekatan bila sudah merasa aman. Mei pun kemudian naik ke tempat tidur menyusul suaminya.


Tama bangun tengah malam. Dilihat istrinya telah tidur di sampingnya. Ia kemudian membuka ikatan tangannya. Pelan-pelan ia turun dari tempat tidur. Dengan mengendap-endap ia pergi ke kamar mandi. Rupanya Mei belum tidur. Ia lega sang suami ternyata hanya pergi ke kamar mandi. Tak lama Tama kembali. Ia kembali mengikat diri dan pergi tidur di samping Mei yang pura-pura tertidur. Gadis itu, kemudian mengukir senyum di mulutnya kala tidur.


Tama sempat tertidur. Ia tersentak kala istrinya membuka ikatan tangannya. "Mei?" Ia membuka mata.


Gadis itu berada di atas tubuhnya. "Sst!" bisik Mei meletakkan jari di atas mulut.


Kedekatan tubuh mereka membuat jantung Tama berdetak cepat. "Apa?"


Gadis itu tak menjawab. Ia malah turun dari tempat tidur.


"Mei?" bisik pemuda itu.


Kembali Mei mendekatkan jari telunjuknya ke mulut. Ia mengendap-endap ke arah pintu. Sejenak ia menempelkan daun telinga ke pintu.


Tama bingung melihat tingkah istrinya. Apa ada sesuatu di luar sana yang mencurigakan?


Mei membuka pintu pelan-pelan dan mengintip keluar. Tama mendekati istrinya. Ia tidak tahu ada apa di luar sana yang membuat gadis itu tertarik mengintipnya. Mei mengangkat tangan menahan Tama untuk mengikuti. Ia kemudian jalan keluar sendiri.


Tama cemas. Ia berusaha mengintip keluar ke tempat istrinya pergi. Keadaan rumah gelap gulita tak seperti biasanya.


Terdengar keributan yang samar dari kamar Kakek. Tiba-tiba seorang pria berpakaian hitam-hitam keluar dari kamar dan menarik Adi keluar dengan paksa. Menyusul Istrinya bersama seorang pria yang berpakaian sama.


Tama membulatkan mata karena terkejut dan Mei juga langsung bersembunyi dan mengendap-endap ke arah dapur.


Adi, pria tua itu dibawa ke kamar satu lagi. Sepertinya itu ruang kerjanya. Ada gumaman kesal dari mulut Adi dan ocehan marah si pria berbaju hitam-hitam yang setengah berbisik mengomelinya. Tiba-tiba lampu dihidupkan oleh Mei.


Ternyata Kenzo juga terbangun. Ia langsung menyerang pria yang meringkus Adi dan menariknya keluar kamar sedang Mei menyerang pria yang satunya. Pria itu juga terpaksa keluar kamar meninggalkan Adi dan Istrinya yang ketakutan.


Dari arah taman belakang ternyata Bodyguard Kenzo mendengar keributan dan mendatangi rumah yang ternyata telah dijaga oleh 2 orang pria berpakaian hitam-hitam yang langsung menahan mereka masuk. Terjadilah duel dua lawan dua di luar sana.


Siapa mereka? Apa rumah ini dirampok? Mereka ada berapa orang? Tama begitu cemas di dalam kamar sementara Leka juga cemas di kamarnya. Untung saja Runi tertidur nyenyak. Baby Sitter Runi beserta pembantu di rumah itu juga tak berani keluar. Mereka hanya mengintip dari pintu. Apalagi penyerang Mei mengeluarkan pisau.


Mei hanya bersenjata garpu yang di tertawakan oleh si penyerang, tapi setelah menyerang, serangan Mei cukup di perhitungkan karena beberapa kali sempat menusuk lawan.


Kenzo juga tak kalah tangguh. Ia menyerang lawan dengan lincah hingga beberapa kali lawan terkena pukulan tangan kosongnya dan beberapa tendangan.


Di luar pun tak kalah seru, baku hantam para Bodyguard dan penjahat semakin ganas.


Tak butuh waktu lama, Mei berhasil melumpuhkan lawan karena telah menusuk lawan dengan garpu berkali-kali padahal ia menyerang dengan satu tangan saja. Pria itu kesakitan dan akhirnya menyerah, tapi sebelum gadis itu membekuknya terdengar suara pistol yang ditembakkan.


Torr!


Semua mata tertuju pada lawan Kenzo. Pria itu baru saja menembakkan pistolnya ke atas untuk menarik perhatian dan sekarang ia menodongkan pistol itu ke arah Kenzo. Leka menutup mulutnya karena ketakutan. Netranya tergenang seketika. Terdengar suara Runi menangis karena terbangun mendengar suara tembakan.


Pria itu tertawa mengesalkan. "Kalau dengan ini kalian pasti takkan sanggup melawan kan?"


Tiba-tiba sebuah piring melayang mengenai pergelangan pria itu sehingga pistol itu jatuh. Ternyata Mei yang melempar piring itu.


Kesempatan itu di pakai Kenzo untuk menghajar pria itu hingga jatuh tersungkur. Pria itu tak kalah cerdik. Karena pistol jatuh dekat ke kakinya, ia menendang pistol itu pada temannya yang satu lagi tapi sebelum pria itu mengambilnya Mei kembali menendang lagi pistol itu menjauh.


Pria yang diserang Kenzo berusaha mengambil pistol itu kembali dengan berguling ke arah pistol itu dan akhirnya mendapatkannya. Ia mengarahkan pistol itu pada Mei. "Kau, sialan!"


Torr!


"Mei!!!"


___________________________________________


Daripada melamun, reader. Mending baca karya author yang satu ini. Di jamin harimu nendang.

__ADS_1



__ADS_2