
Aku harus bangunin gak ya? Mei terlihat ragu-ragu. Ia menyentuh tubuh Tama. Sedikit hangat.
Tiba-tiba tubuh pemuda itu sedikit menggeliat. "Mama ...," gumamnya.
Apa dia mengigau? Aduh, aku harus bagaimana? Kenapa dia tiba-tiba sakit sih?
Tubuh Tama kembali menggeliat. Kali ini ia bangun dan mendesah pelan.
"Kak, ngak apa-apa?" tanya Mei khawatir.
Pemuda itu duduk. "Mmh. Udara panas ya?" Padahal kamar Mei sedang menghidupkan AC. Tama menguap dan menutup mulutnya. "Udah jam berapa?"
"Sebentar lagi Magrib Kak."
"Mmh." Tama turun dari tempat tidur, pelan. "Aku ke kamar ya?" Ia masih menguap dan melangkah ke pintu.
"Kamu gak papa kan Kak?"
"Mmh? Ngak papa hanya sedikit kepanasan aja." Kemudian ia berjalan melangkah ke arah kamarnya yang hanya berbeda dinding. Ia lalu hilang di balik pintu.
Selepas Maghrib, Mei menengok keluar. Biasanya Tama sudah berdiri di depan kamar menantinya, atau bila ia lama pemuda itu akan mengetuk-ngetuk pintunya, tapi kali ini pemuda itu tak kelihatan batang hidungnya. Sedang di mana dia? Apa dia di kamar? Apa benar ia sakit?
Mei mendatangi kamar pemuda itu dan mengetuk pintu. Tak ada suara. Sunyi. Mei mencoba beberapa kali. Penasaran ia mencoba membuka pintu. "Kak Tama? Kak ...."
Dilihatnya Tama meringkuk di dalam selimutnya memunggungi Mei.
"Kak?"
Terdengar ******* orang menahan sakit. Mei mendekati tempat tidur.
"Kak?"
"Ahh ...." suara pemuda itu pelan terdengar.
Mei mengitari tempat tidur dan melihat wajah pucat Tama dengan butiran keringat di dahi. Ia segera mendekat. "Kak? Kakak kenapa?" Ia menyentuh pucuk kepala pemuda itu.
"Sakit perut Mei," suaranya seperti tercekat di tenggorokan.
"Eh, sebentarnya. Aku panggil Kak Jo dulu." Mei berlarian keluar. Ia mengetuk pintu kamar Kenzo dan memberi tahu.
"Sakit perut?" Kenzo mengerut dahi.
"Ada apa Mas?" Leka datang mendekat.
"Oh, Tama sakit perut katanya."
"Sakit perut?"
"Apa dia demam?" tanya Kenzo pada Mei.
"Oh, iya Kak. Waktu belajar tadi."
"Apa kau tahu apa yang dimakannya?"
"Coklat."
"Coklat? Bukan. Maksudku semangka."
"Semangka? Ngak tau Kak."
Mereka bersama-sama mendatangi kamar Tama.
"Tama? Kamu kenapa lagi? Habis makan semangka ya?" tanya Kenzo melihat wajah pucat adiknya.
"Iya Kak," jawab Tama lemah.
Kenzo hanya menghela napas.
"Kenapa orang makan semangka bisa sakit?" tanya Leka bingung.
"Bisa kalau makannya satu biji dan dalam keadaan dingin. Tama sama dengan Mama yang suka sekali semangka, tapi kalau lagi stres mereka makan semangka dingin bisa sampai satu buah dan setelah itu sakit perut."
__ADS_1
Mei menahan tawa.
"Stres kenapa sih kamu?" Kenzo menatap Mei. "Apa kalian tadi bertengkar atau dia marah karena sesuatu?"
Mei memutar bola matanya mengingat pertengkarannya dengan Tama tadi, tapi apa karena itu ia stres dan makan buah semangka sebanyak itu?
"Ya sudah. Beri saja dia minuman hangat."
"Biar aku minta Pembantu membuatkan teh hangat untuknya." Leka melangkah keluar kamar.
"Tama, kamu mau turun makan atau makan di kamar?"
"Di kamar saja," Tama berucap sedikit merajuk. Matanya basah karena menahan sakit.
"Bisa kan makan sendiri?" Seingat Kenzo, Tama sangat manja saat sakit dan ia biasa disuapi Mama Mariko.
Tama meremas selimutnya. Ia tidak menjawab tapi melirik gadis itu dengan takut-takut. Kenzo tahu maksud hati adiknya. Ia menoleh pada Mei. "Kamu mau kan menyuapi Tama?"
"Eh?" Mei melirik Tama sekilas. "Oh, ya sudah Kak. Gak papa."
Akhirnya Mei menyuapi Tama. Ia memulai dengan memberi pemuda itu minum teh hangat. "Maaf ya? Aku sama ibuku begitu."
"Iya, gak papa Kak."
Tama yang duduk bersandar pada kepala tempat tidur disuapi Mei yang duduk di tepi tempat tidur. Di hapusnya air mata pemuda itu yang sudah berhenti di sekitar matanya. Tama mencoba menghapusnya sendiri dengan kasar.
Saat Mei ingin menyuapkannya lagi, Tama menolak.
"Aku mau minum dulu. Aku masih sakit perut."
Mei kembali meminumkannya teh hangat.
"Sebentar ya? Tungguin aku. Aku masih ingin minum dulu sampai hangat perutku," kata pemuda itu mengiba.
Mei menurutinya. Ia menunggui Tama hingga selesai makan.
Saat Mei berdiri, Tama memanggilnya kembali. "Mei, terima kasih ya?" Pemuda itu kembali membersihkan sisa-sisa air matanya dengan kasar.
"Iya."
Mei menyentuh keningnya yang sudah tidak lagi hangat. "Udah lumayan Kak." Wajah pemuda itu juga mulai segar.
"Mei."
"Yah?"
"You're my angel.(kamu adalah malaikatku)"
"Mmh?" Maksudnya apa? Mei terlihat salah tingkah. "Eh, aku turun ya? A-aku sudah lapar." Buru-buru ia keluar dari kamar itu. Di depan kamar Mei menghela napas panjang.
Kenapa cowok gak jelas itu selalu mengeluarkan kata-kata yang mengganggu ketentraman hati dan jantungnya. Ya allah ... Gadis itu menyentuh dadanya berusaha menghentikan detak jantung yang menolak menjadi biasa-biasa saja, menolak meringankan nada iramanya dan menolak takluk pada permintaan gadis itu. Ia tak mengerti kenapa pemuda cengeng yang tak dewasa itu sering membuat hari-hari bersamanya sangat menyenangkan dengan hanya mengikutinya, padahal tidak dapat dipungkiri Tama pemuda yang jauh dari kata sempurna terlepas dari kebaikan dan keburukannya. Ia pemuda manja, keras kepala, tak punya tujuan hidup, masih kekanak-kanakan dan tidak bisa membela dirinya sendiri. Ia bergantung pada Mei.
Mei kembali menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar. "Tama itu selalu asal bicara. Jangan percaya kata-katanya lagi Mei. Jangan," gumamnya menetapkan hati. Ia kemudian melangkah menuruni tangga.
---------++++---------
Monique gundah. Ke mana suaminya pergi sehabis dari kantor? Aska selalu pulang tepat waktu, itu kata Papa dan Sekretarisnya di kantor, tapi kenapa selalu sampai ke rumah larut malam padahal kantornya terbilang cukup dekat dengan apartemen mereka.
Wanita itu menghela napas pelan dan bersandar di kepala tempat tidurnya. Saat mereka diputuskan menikah, Aska tidak lagi pernah berkata kasar padanya. Ia bahkan terlihat menerima saja dirinya sebagai istri yang sah dan tidak pernah mengeluh. Hanya saja Aska menjadi sedikit pendiam dan sering menghindar. Itu yang wanita itu tidak tahu kenapa. Suaminya sepertinya tidak mau bicara.
Apa ada yang mengganjal di hatinya yang ia tidak ingin aku mengkhawatirkannya? Sejak jadi suamiku ia tidak pernah mengatakan hal-hal yang buruk atau menyakitiku karena itu aku semakin sayang padanya. Ia selalu mengiyakan semua perkataanku, tapi kenapa saat ada masalah ia seperti menelannya sendiri? Apa tidak apa ia merasakannya sendirian? Bukankah aku ada sebagai istrinya?
Monique masih menunggunya di kamar, hingga larut malam.
----------+++----------
Penyelidikan polisi di Jepang akhirnya membuahkan hasil. Ternyata pembunuh Koshino Hino adalah seorang pembunuh bayaran yang terlatih dan orang yang sama yang telah membunuh Kakak Ipar Koshino yaitu Hitoshi Hiro. Hanya saja, pembunuhan ini di dalangi oleh salah satu teman Kenji Aratami, Ayah Kenzo selagi masih menjabat di parlemen dulu. Entah dendam apa pada Kenji, dia mengetahui Kenji menggunakan jasa pembunuh saat membunuh Hitoshi.
Pembunuh bayaran itu juga yang diperintahkannya untuk membunuh Koshino dengan cara yang sama dengan Kakak Iparnya terbunuh, hanya bedanya Koshino dibunuh di tempat lain karena dia adalah juga pembunuh bayaran profesional yang terlatih dengan pedang dan hampir-hampir tak terkalahkan sehingga harus mengeroyoknya dengan beberapa orang yang terlatih pedang. Ia akhirnya meninggal dengan beberapa kali tembakan.
Itu berdasarkan pengakuan dari pembunuh bayaran yang berjumlah 6 orang. 4 anggotanya juga mati di tangan Koshino.
__ADS_1
Teman Ayah Kenzo itu, Nishi Arashi, sengaja menghembuskan cerita tentang anak Kenji karena ia penasaran dengan gosip bahwa anak Kenji masih hidup. Ia menginginkan kejadian itu membuat orang mencari dan memburu keberadaan anak ini. Kemunculannya bisa membuat orang-orang yang tidak suka dengan Kenji bisa menuntut balas pada anaknya.
Sayang, niatnya terpatahkan karena keburu tercium pihak kepolisian. Begitulah berita yang di bawa Mariko pada Arya. Pria itu sangat senang, akhirnya polisi menemukan penjahat yang sesungguhnya.
"Jadi kita akan pulang?"
"Iya Mas." Mariko duduk di pangkuan Arya. Ia mengalungkan tangannya pada leher suaminya dengan mesra. "Aku sudah bekerja keras agar orang melihat ini hanya kasus yang berusaha di miripkan dengan kasus pembunuhan 15 tahun yang silam dan mereka hanya mengejar hantu. Semoga ke depannya tidak ada lagi yang mengungkit kisah lama ini karena hanya menoreh luka."
"Oh, Sayang. Apa Penyairku terluka kembali dengan memory masa lalunya? Bolehkah aku menyembuhkannya?" Arya bertanya dengan nada bercanda.
Mariko hanya tersenyum senang dengan bercandaan suaminya. Segera ia mengecup bibir Arya. "Aku rindu rumah. Aku rindu anak-anak. Apa mereka baik-baik saja?"
"Kapan kita boleh keluar dari rumah ini?"
"Besok pagi."
"Mmh, aku tak sabar menghirup udara kebebasan dan tidur di tempat tidur kita. Mudah-mudahan anak-anak sehat dan tak kurang suatu apapun."
"Hal buruk apa sih yang akan terjadi pada mereka?"
"Mmh, bagaimana kalau kita melakukan pemanasan dan perenggangan dulu secara bersamaan?"
Mariko tertawa lebar.
Mereka kemudian menyelusup masuk ke dalam selimut guna melakukan olahraga yang mereka inginkan.
---------++++----------
Duk!
Kursi Mei sedikit bergoyang. "Ih!"
Duk!
Kembali kursinya bergerak sedikit dan ini mengganggu konsentrasinya. Ia melirik sekilas ke belakang.
"Udah belum? Bisa gak?" bisik Tama sambil melihat kiri dan kanan.
Mei bergeming.
Duk!
Duk!
Duk!
Tama sudah menendang kursi gadis itu berkali-kali tapi ia tak menoleh. Sial, dia gak nengok. Dengan berhati-hati, Tama memiringkan kepalanya menengok ke depan. Aduh, 4 soal lagi belum dia kerjain! Egh! Tama mencoba mengingat nomornya. Ia menyalin jawabannya di selembar kertas lalu ia remukkan. Ia melemparnya pada meja Mei.
Mei menoleh saat melihat kertas itu mendarat di meja. Terlihat Tama melotot memberi kode agar ia membacanya. Gadis itu mengambil kertas itu tapi tak dibukanya. Ia kembali tafakur pada kertas ujiannya.
Sial!
Duk!
Duk!
Sempat melihat guru sedang mengawasi di tempat lain, Mei menoleh dan mengerut kening. "Berisik," bisiknya dan kembali serius pada kertas ujiannya.
Tama kesal. Ia kembali menuliskan di selembar kertas, meremukkannya dan melempar kertas itu pada Mei tepat di telinganya, hingga jatuh ke lantai.
Kejadian ini, ada beberapa murid yang melihat dan membuat senyum di kulum. Termasuk Nathan, tapi ia hanya melihat saja.
Mei sangat kesal karena dari tadi ia tak bisa konsentrasi mengerjakan soal karena Tama terus mengiriminya remukan kertas. Juga menimpukinya. Dengan wajah masam menatap pemuda itu, Mei mengambil kertas yang jatuh. Di bukanya kertas itu.
'Ayo salin jawabannya. Awas aja kalo lo ngulang, atau nilai lo jelek. Gue gantung tuh guru!'
______________________________________________
Author Triple 1, menulis tentang kisah cinta LDRan, bisa di temui dalam novel Truly Madly Love. Gimana, gimana?
__ADS_1