Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Ciuman


__ADS_3

Pramuniaga dan beberapa pengunjung yang kebetulan tak banyak siang itu terkejut dengan aksi nekat Tama. Pramuniaga itu bahkan menahan tawa dengan menutup mulutnya. Dasar anak abege! Nekat banget pacarnya ....


"Aaahh!"


"Ih!!!" Mei mencubit pipi Tama dengan kencang. "Haah ... kamu jahat!" Mei memukuli bahu Tama berkali-kali karena kesal.


"Aduhh, ampun Mei!" Pemuda itu dalam posisi bertahan.


"Kenapa kamu curi ciuman pertamaku! Hehh ...." Mei hampir menangis. Ia masih memukuli bahu Tama.


"Aduhh! Tadi kamu bilang rasa stroberi, jadi aku coba." Tama memberikan argumennya.


"Ya tapi jangan dicoba di bibirku juga, kali. Bodoh!!" Gadis itu kembali memukul Tama. "Kan kamu bisa coba di sini." Mei menunjuk wadah kosmetiknya.


"Ya aku kan bukan cewek. Masa pake itu? Kan lebih bagus coba langsung di ...." Tama tak jadi menunjuk karena wajah Mei yang berubah marah.


"Kamu sengaja ya??!" teriak Mei, memikirkan sebab lain.


"Enggak, beneran enggak."


"Bohong!" Mei kembali memukul bahu pemuda itu.


"Iya!"


"Bohong dosa lho!" Gadis itu menunjuk wajah Tama dengan gemas.


"Emang aku gak tahu, bohong dosa, apa."


Mulut Mei mengerucut kesal. Tama pun iba.


"I-iya, maaf. Aku gak kepikiran sampai situ Mei." Tama tak berani melihat wajah Mei yang masih kesal padanya.


Gadis itu membalik tubuhnya dan bergerak menjauh.


"Eh, Mei. Kamu gak jadi beli?"


Mei bergeming.


"Mei!" Tama mengejarnya. Ia berupaya dengan berbagai cara untuk membujuknya dan itu tidaklah mudah.


Sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah toko es krim dan makan di sana. Mereka membeli es krim cone dan minuman dan duduk berhadapan di sebuah meja kecil di dekat dinding kaca toko itu.


"Mei ...." Tama menatap Mei yang menjilati es krim Vanilanya. "Udahan dong marahnya, aku kan gak sengaja."


Mei masih melirik sinis tanpa suara. Ia hanya menikmati es krim dari tangannya.


Tama pasrah. Sudah bisa membujuknya makan berdua di sana saja sudah merasa beruntung. Itu tandanya gadis berjilbab itu sudah mulai memaafkannya.


Pemuda itu mulai memperhatikan lagi bibir Mei. Sebenarnya tadi aku coba bibirnya memang ada rasa stroberinya, enak. Bibirnya juga kenyal dan lembut, tapi aku kan tidak menciumnya! Sumpah! Menciumnya seperti apa sih? Bibir menempel gitu? Eh, apa tadi bibirku nempel ya? Eh, iya nempel! Pantesan dia marah ya? Aku sudah menciumnya. Mencium itu hanya menempelkan bibir saja kan? Mmh, gak tau juga itu sih. Kayaknya harus tanya Kak Jo deh.


Pemuda itu kembali memperhatikan bibir Mei. Harus aku akui, bibir wanita memang lembut. Apalagi bibir Mei yang rasa stroberi itu, mmh ... enak. Pantas ada yang ketagihan ya?


"Apa liat-liat!" Mei merasa diperhatikan.


"Enggak." Tama sedikit senang Mei mulai bicara. "Jangan galak-galak dong!"


Mei masih mengerucutkan mulutnya sambil menjilati es krim dan maka cone-nya di tangan. Ia masih kesal pada Tama yang terlihat bodoh tapi entahlah, apa benar begitu.


"Eh, kita nonton di bioskop yuk Mei. Banyak film baru yang bagus katanya."


Mei terdiam. Sejujurnya ia belum pernah pergi ke bioskop.


"Mei, mau gak? Seharian kita gak ada kerjaan. Eh, nanti kita mampir yuk, ke restoran Kakak."


"Restoran?"


"Iya restoran. Mbak Leka biasanya yang ngurusin di sana."


"Oh, ya udah."


"Kamu mau coba es krimku gak?" Tama menyodorkan es krim cone-nya rasa coklat yang sudah termakan setengahnya.


"Ngak ah, kan udah bekas mulut."


"Yailah. Gitu aja dipikirin. Aku kan juga pengen coba es krim vanilamu."


Mei berpikir sebentar. Ia akhirnya menyodorkan es krimnya.

__ADS_1


Tama mencobanya. "Enak." Ternyata gak bisa ngerasain dari bekas makanannya. Emang enak cobain langsung ... di bibirnya. Ah, Mei. Kalau itu memang benar ciuman, aku suka menciummu Mei.


Seusai makan di sana, Tama membawa gadis itu ke bioskop. Mereka melihat-lihat film yang posternya terpajang di dinding.


"Sukanya film romance(romantis)? Aku kurang begitu suka." Tama menatap Mei di sampingnya.


"Ngak juga. Film komedi atau action(aksi), gitu. Seru."


"Oh, yang ini aja. Seru. Aku udah lihat iklannya." Tama membawa Mei ke sebuah poster film laga.


"Kayaknya bagus."


Mereka kemudian memesan tiket dan membeli popcorn. Mei takjub dengan pesanan popcorn yang besar yang beli Tama.


"Ngak kebanyakan Kak?"


"Mmh? Ngak. Kan makan berdua."


Kemudian ada panggilan masuk ke sebuah ruangan. Tama membawanya ke sana tapi Mei terlihat ragu-ragu saat masuk.


"Kenapa?"


"Kayak tempat mesum Kak."


Tama tak bisa menahan tawanya. "Mei, bioskop seperti ini. Kamu belum pernah pergi ke bioskop ya?"


"Tapi orangnya gak banyak dan gelap."


"Ya ... karena kita nontonnya kan siang. Kalau malam rame Mei."


Mei menggenggam tangan pemuda itu.


Tama tahu Mei sepertinya gamang. "Mei, percaya padaku. Aku gak bo'ong kok." Ia menarik Mei ke nomor kursi yang tertera di tiketnya.


Mereka kemudian duduk. Mei melihat layar bioskop yang begitu besar. Layar itu kemudian mulai memutar iklan-iklan dari makanan hingga film baru. Ia takjub melihat gambar yang sangat besar dan suara yang besar pula.


Tama mengamati gadis di sampingnya. Betapa mudahnya membahagiakan gadis sederhana seperti Mei. Apapun bisa membuatnya senang. Apapun.


Film pun di putar. Tama tenggelam dalam film yang begitu membiusnya sementara gadis itu sesekali sibuk melihat tempat itu.


Kak Tama membawaku ke sini. Huh ... ini hari yang aneh menurutku. Pagi tadi, baru saja dia ngelamar aku sama orang tuaku. Kesannya sih pura-pura, tapi kemudian dia menciumku dan mengajakku ke bioskop. Apa ini bukan kencan namanya? Atau ... apa aku atau Tama yang terlalu bodoh mengerti ini?


"Iya Kak." Mei mengambil minuman botol Cola di samping dan meminumnya.


Setelah menonton bioskop, mereka masih sempat membeli hp sebelum pulang.


Mobil tidak langsung membawa mereka pulang. Mereka masih sempat mampir di sebuah restoran besar dengan design yang modern dan nyaman. Mobil kemudian parkir di salah satu sudut perparkiran yang rindang dan mereka keluar.


"Ini restoran milik Ayahku, tapi sekarang diurus sama Mbak Leka."


Mei mengedarkan pandangan pada restoran yang terlihat masih ramai di jam makan siang yang hampir saja berakhir itu. Masih ada antrian yang menunggu takeaway atau makan di tempat. Mei belum pernah mendatangi restoran berkelas yang ramai seperti ini. Biasanya ia hanya bisa melewatinya saja.


Begitu masuk ke dalam restoran, begitu banyak orang yang berada di dalam restoran itu. Yang duduk di kursi, yang mengantri dan yang sibuk di dapur.


"Kak!" Tama menghampiri sebuah meja dekat dinding di mana Kenzo duduk bersama Baby Sitter yang sedang memangku Runi.


"Om!" panggil Runi pada Tama.


"Halo. Runi sudah makan belum?" Tama menarik kursinya.


"Om, Om! Udah."


Kenzo tertawa kecil.


"Mbak Leka di mana?"


"Di dapur."


"Aku bantu ya?" sela Mei dan langsung ke dapur.


Tama yang menoleh pada Mei yang pergi, kemudian pada Kenzo, mendapati pria itu mengangkat bahunya. Ia memutuskan untuk duduk bersama kakak kandungnya yang beda ibu itu.


"Kak, boleh tanya gak?" ucap Tama pelan. Ia melirik Ani, Baby Sitter Runi.


"Tanya apa?"


Kembali Tama melirik Ani. Wanita bertubuh mungil itu pun mengerti dan segera beranjak dari kursinya menggendong Runi membuat Kenzo pun ikut menoleh, melihat kepergian Ani.

__ADS_1


"Jangan jauh-jauh ya, dekat-dekat sini aja," ucap Kenzo pada Ani.


"Iya Pak."


"Ada apa sih?" Kenzo menoleh balik pada Tama dengan tersenyum lebar. Seperti ada rahasia yang tidak boleh orang tahu.


"E to ... kissu no koto desu.(Itu, mengenai ciuman)" Tama berahasia hingga harus berbahasa Jepang.


"Aaah, kissu desu ne .... (Oh, soal ciuman)" Kenzo mengangguk-angguk hampir tertawa. "Nde, aite wa?(Lalu orangnya?)" Ia melirik ke arah dapur. Apa Tama membicarakan soal Mei?


"I'm asking in general. What it is? Just touching mouth to mouth?(Aku hanya tanya secara umum. Apa itu? Hanya sentuhan mulut ke mulut saja?)" Tama walaupun lahir di Jakarta, tapi ia bisa berbahasa Jepang dan Inggris berkat Ibunya, Mariko dan kakaknya Kenzo. Aiko pun demikian. Hanya Arya, Ayah mereka yang tidak bisa berbahasa Jepang.


Kenzo kembali tersenyum lebar. "Kissing is everything. Everything that you wanted to do.(Ciuman itu semuanya. Semua yang ingin kamu lakukan.)"


Tama melongo. "Everything?(semuanya?)"


"Aha, everything.(ya, semuanya)"


"Menyentuh, menjilat, menghisap." Kenzo mendekatkan kepalanya pada Tama sambil berbisik.


"Begitu ya?" Tama terpaku tak bergerak. Ia syok.


"Mulutnya itu enak, seksi dan bikin ketagihan."


"Iya, betul." Tama serasa terhipnotis.


"Kamu udah coba ya?"


"Iya, eh ... ngak Kak." Tama tiba-tiba sadar dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya memerah malu. Ia menyadari dirinya telah dijebak Kenzo.


"Bohong ...." Kenzo nyaris tertawa.


"Ih, Kakak. Aku gak ngerti makanya nanya. Udah ah!" Tama mengalihkan wajahnya ke tempat lain sambil mengerucutkan mulutnya.


Namun Kenzo bisa memastikan Tama sudah mencobanya. Ia tersenyum melihat adik kecilnya mulai dewasa. Ia mengusap pucuk kepala Tama.


"Ah, Kak Jo. Aku kan udah gede," tepis pemuda itu pada tangan Kenzo pelan.


Kenzo mengangguk-angguk. "Ya, ya, ya."


Ketika tamu mulai berkurang, Kenzo, Leka, Tama, Mei dan juga Ani, makan bersama. Setelah itu mereka pulang dengan mobil masing-masing. Seperti Tama, Kenzo juga menyetir mobilnya sendiri walaupun diiringi mobil Bodyguard-nya. Ia ingin sekali-sekali menyetir sendiri mobilnya sambil membawa keluarga kecilnya.


---------+++----------


Malam menjelang. Malam begitu damai di rumah itu. Rumah Kenzo. Terdengar suara ketukan di pintu kamar Mei. Setelah memakai jilbab instan, gadis itu membukanya. "Kak Tama? Ada apa Kak?"


"Mmh, boleh aku masuk?"


"Ini kan kamar cewek kak."


Tama tertawa. "Kita kan teman. Memangnya aku mau ngapain kamu?"


"Tapi gak enak dilihat Kak."


Tama menggoyang-goyangkan tangannya, langsung masuk dan menutup pintu. Mei tak bisa berbuat apa-apa.


"Kamu kan pernah ke kamarku, emang aku ngapain kamu?"


"Cium."


"Eh, itu ... tadi." Pemuda itu menggaruk-garukkan kepalanya. "Lupakan saja itu tidak penting."


Tidak penting katamu, boong banget, jerit hati Mei.


Tama menarik Mei dan duduk di lantai. Mereka dudul sambil bersandar pada tempat tidur.


"Aku ingin kita saling mengenal." tangan Tama disandarkan pada lututnya yang dilipat ke atas.


"Hah?"


______________________________________________


Terima kasih reader masih nongkrongin novel author ini. Semangat terus ya bacanya sambil kirim-kirim hadiah ke author berupa vote, komen, like, hadiah ataupun coin. Ini ada hadiah visual Bunda Leka, Papa Kenzo dan Nak Runi di mobil. Salam. Ingflora 💋



Author Icha Lauren menulis kisah misteri pada kehidupan kaum urban. Yang penasaran, kepoin Miss Black Pewaris CEO Yang Terbuang. Kuy!

__ADS_1



__ADS_2