
Tama melirik Mei yang mengintip pada kaca spion mobil.
"Lo suka ya sama Tristan?" Tama langsung ke intinya.
"Cowok keren gitu, gimana gak suka." Mei tersenyum tipis.
"Suka yang gimana? Suka yang karena keren atau suka pengen jadi pacarnya?"
"Kenapa? Katanya kalo aku punya cowok yang disuka, Kakak gak masalah."
"Eh, iya ... tapi kalo Tristan, mending gak usah."
"Mmh? Kenapa?"
"Eh ... dia anak baru juga kayak kamu, terus eh ... tampangnya tua. Iya tua." Tama mencari-cari alasan.
Mei termenung. "Iya sih, tapi itu gak penting kan kalo suka sama orang?"
"Orangnya mencurigakan Mei. Selama ini dia kayak milih-milih temen, tampangnya tua padahal dia pinter. Ya kan? Harusnya kalo orang pinter itu malah lompat kelas, tapi dia kayak tinggal kelas."
"Kamu aja pinter ngak mau sekolah."
"Mei!"
"Segala sesuatu pasti ada alasannya. Mungkin aja dia pernah sakit lama."
Tama mengenyit dahi. Masuk akal sih ....
"Pokoknya kita jangan sudzon sama orang."
"Tapi hari ini dia akrab sama Bella."
Mei diam dan berfikir.
"Aku bukan sudzon Mei, cuma feeling(merasa) aja dia bukan orang baik. Buktinya dia gak tegas soal Bella."
"Segala sesuatu pasti ada penjelasannya."
Tama menghela napas. Susah juga ngasih taunya. "Bukan apa-apa Mei. Gue takut lo cuman dimanfaatin doang, apalagi dia tau sekarang lo Bodyguard gue. Lo pikir, orang kaya yang sombongnya kayak Tristan gitu mau nerima lo kalo lo bilang lo anaknya pedagang lontong sayur, gitu? Pikir lagi deh Mei. Daripada lo sakit hati, mendingan dari sekarang-sekarang lo ngejauhin Tristan."
Mei terdiam. Ucapan Tama ada benarnya. Mana ada orang kaya yang suka sama dirinya?Kulitnya sedikit gelap dan tidak cantik. Apa yang bisa dibanggakan dari dirinya yang bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa? "Eh, Kak kok kita lurus?" Mei melihat mobil jalan ke arah yang berbeda.
"Kita ke klinik."
"Kak gak usah."
"Udah, gak papa." Tama sebenarnya kesal, kenapa Tristan lebih peka dari dirinya. Mei berjuang untuknya tapi ia tidak menyadari kalau gadis itu terluka.
---------+++---------
"Tama, Kakak rasa kamu gak usah ke mana-mana dulu. Gak usah sekolah, gak usah ke kantor, gak usah ke Mal."
Aiko tertawa. "Rasain!"
"Anak kecil. Diem ah!" Tama menoleh pada Kenzo. "Bosen Kak, di rumah." Mulut Tama mengerucut.
"Ya sudah. Kalau ingin ada kegiatan, ke restoran aja. Bantu Leka."
"Ya, Kakak ...." Tama makin menggerutu.
Mei sibuk bermain dengan kucing bersama Runi.
"Ini berbahaya Tama. Sekarang saja kamu bisa selamat sudah untung. Bagaimana kalau lain kali? Kakak gak masalahin kap mobil Kakak yang penyok itu, cuma Kakak kurang suka dengan cara kamu menjaga diri. Standar punya Bodyguard itu dua bukan satu. Apa lagi Mei itu perempuan, Tama. Pasti juga ada batasnya. Orang-orang seperti kita ini tidak bisa tidak punya Bodyguard karena banyak musuhnya." Kenzo menerangkan dengan berapi-api. "Kakak gak mau kecolongan seperti kemarin lagi."
"Tunggu dulu. Banyak musuh? Mas banyak musuh?" Leka kini ikut bicara.
"Eh, itu masa lalu Leka." Kenzo mulai bingung, istrinya menanyakan masa lalunya.
"Masa lalu? Kenapa dengan masa lalumu?"
"Eh, gini Mbak. Ayah kami berbisnis dengan cara yang tidak baik sehingga banyak musuhnya." Tama menjelaskan.
__ADS_1
"Tapi kenapa kamu malah belakangan punya Bodyguard? Kenapa tidak dari dulu-dulu?" tanya Leka pada Tama.
"Itu karena tidak ada yang tahu tentang keberadaan Tama. Tidak juga Ayah." Kenzo tertunduk. Ia mengenang kembali Ayahnya yang mungkin untuk sebagian orang adalah orang jahat tapi baginya tidak. Yang diingatnya adalah memory-memory baik tentang Ayahnya yang menyimpan kerinduan. Bertolak belakang dengan pendapat umum tentang Ayahnya yang jahat di luaran tapi ia berusaha untuk menerimanya dengan lapang dada.
Ya, ia mulai bisa membuka matanya lebar-lebar saat tahu Ayahnya menganiaya Arya dan Mariko saat mereka mau menikah. Ia melihat video penganiayaan itu dari mobil Ayahnya, juga saat Ayahnya terbunuh oleh Koshino Hiro setelah itu. Itu semua ada di video tersebut. Bahkan ia tak tahu harus berkata apa saat Mariko dan Arya yang baru menikah waktu itu menerimanya dengan tulus untuk menjadi anaknya hanya karena ia bertalian darah dengan Tama. Posisinya selalu ia berusaha sikapi dengan bijak sebagai suatu anugrah dari yang maha kuasa karena itu ia masuk Islam mengikuti jejak Mariko, ibu tirinya.
Leka berhenti bertanya saat melihat wajah prianya yang tiba-tiba muram. Ia mungkin telah salah bicara. "Maaf ya Mas, aku mungkin tidak tahu seberapa menyakitkannya masa lalu orang tuamu ...."
Tiba-tiba Kenzo menarik tubuh Leka dan memeluknya. Ia hanya tidak mau Istrinya meneruskan kalimat itu, karena ia sendiri sedang meredam segala kesedihan yang menguar seketika. Ia kadang masih belum sanggup membicarakannya hingga kini.
Leka tentu saja terkejut. Ia melihat Tama mengkode sesuatu. Pemuda itu memberitahu agar bertanya padanya saja bila ingin tahu. Leka mengangguk pelan.
Leka memang tidak banyak tahu tentang masa lalu suaminya, tapi ia tidak berani bertanya bila akan berakhir seperti ini.
---------+++-------
Tama melihat Mei menuruni anak tangga dengan berpakaian baju training. "Mau ke mana Mei?"
Mei menoleh ke arah meja makan. Ada Tama yang sedang minum jus buah.
"Mau jogging Kak, keliling komplek."
"Kita ke Taman aja, aku antar." Tama berdiri.
"Ngak usah Kak." Mei memajukan kedua tangannya berusaha menyetop. "Aku gak mau gajak Kakak ke mana-mana nanti aku di salahin Kak Jo." Mei mengikuti panggilan orang-orang di rumah itu memanggil Kenzo.
"Tapi itu dekat kok."
"Bukan masalah itu Kak. Ini masalah keselamatan. Aku kan Bodyguard-mu, aku memikirkan keselamatanmu Kak."
"Masa itu bahaya?" Tama masih bertanya.
"Kakak!"
Bel berbunyi. Mei membuka pintu. seorang satpam berdiri di hadapannya. "Mbak Mei ada tamunya."
"Aku?"
Mei keluar. Ternyata ada Tristan yang berdiri di depan mobilnya. Ia menghampiri Mei dengan membawa sesuatu di belakang punggungnya.
"Tris, aku kan udah bilang ini bukan rumahku," ucap Mei memelas.
"Aku tahu. Ini rumah Tama kan? Kamu kerja sama Tama, iya kan?"
"Ada apa kamu datang ke sini? Jangan lama-lama ya?" jawab Mei gundah.
"Atau kita pergi keluar, ke mana gitu."
"Ke mana? Apa penting?" Entah kenapa Mei sedikit tak nyaman pada Tristan. Apa karena pengaruh ucapan Tama tadi siang?
"Mmh ... mungkin kamu bisa mempertimbangkan ini?" Tristan mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. Setangkai bunga mawar merah dan satu bungkus coklat batangan.
Mei terkejut. "A-apa ini?" Ia bisa mengira-ngira tapi tak berani menebak.
"Aku menyukaimu."
Mei menatap Tristan, tak percaya.
"Aku jatuh cinta padamu sejak pertama melihatmu."
"Tapi Tristan aku bukan ...."
"Orang kaya. Aku tahu, tapi cinta tak pandang itu."
"Eh ... Tristan. Kita masih sekolah. Di sekolah kita kan gak boleh pacaran."
Tristan tertawa. "Itu kan di sekolah. Kalau di luar kan gak papa."
"Memang begitu?" Mei balik bertanya saking lugunya.
"Ya iyalah Mei. Sekolah tidak mengatur kehidupan pribadi murid-muridnya."
__ADS_1
"Iya sih."
"Lalu?"
"Apa?" tanya Mei bingung.
"Apa kau menerima cintaku atau tidak?" Tristan setengah tertawa melihat kepolosan Mei.
"Oh, aku ...." Mei berpikir keras. Ia ingat apa yang dikatakan Tama, tapi Tristan sepertinya tidak begitu. Ia kembali memperhatikan wajah pemuda di hadapannya itu. Apa mungkin Tristan hanya memanfaatkannya saja? "Ayahku hanya seorang pedagang lontong sayur keliling." Ia mencoba mencari tahu.
"Iya, lalu?"
"Kamu kan anak orang kaya, bagaimana bisa bersanding denganku?"
Tristan kembali tertawa. "Mei, kan kamu sendiri yang bilang kamu masih sekolah. Kita masih bicara apa kamu bisa menerimaku sebagai pacarmu atau tidak. Aku tidak bicara soal pernikahan. Pacaran saja kita belum tentu cocok, apalagi bicara tentang pernikahan."
Mei bernapas lega. Pernyataan Tristan sangat menyejukkannya.
"Jadi?"
"Eh, oya. Mmh, aku ...."
"Aku gak ngizinin. Dia kerja sama aku dan aku gak ngizinin dia pacaran." Tama keluar memberi tahu.
"Emang ada di ...."
"Ish!" Tama berusaha mendiamkan Mei yang hampir mengungkit soal Kontrak Kerja padahal hal itu tidak tertulis dalam Kontrak itu.
Tristan terlihat sangat kesal. "Harusnya ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan ya?" Ia menggaruk-garuk dahinya.
"Mei terikat Kontrak Kerja dengan aku jadi suka tidak suka ia harus menjalaninya."
"Tapi kan ...." Tristan kehilangan kata-kata. "Hah!" Ia benar-benar geram pada Tama. "Bagaimana kalau aku ambil alih kontrak itu! Berapa milyar harus aku bayar?"
Mei tercengang begitu pula Tama.
"Lihat Mei! Apa orang kayak gini bisa kamu percaya? Dia pasti punya niat jelek sampai-sampai dia berani membelimu dengan harga milyaran. Ayo masuk! Tinggalkan saja orang gila ini di sini." Tama menarik gadis itu yang masih melongo menatap Tristan.
Tristan sangat kesal dan hampir saja membanting bunga dan coklat yang ingin di berikan pada Mei. Sebelum ia kembali ke mobil ia melihat salah satu pembantu di rumah itu yang keluar untuk menyiram taman. Ia mendekati pembantu itu dan menitipkan bunga dan coklat tadi pada pembantu itu agar diberikan secara diam-diam pada Mei. Ia memberi tip beberapa lembar uang merah. Pembantu itu setuju.
Di dalam rumah Mei meributkan Kontrak Kerjanya. "Kak, perasaan Kontrak Kerjanya ...."
"Ish!"
"Kakak!"
"Aku berusaha melindungimu, kalau kamu masih bertanya."
"Tapi kan Kakak tadi berbohong."
"Mau aku tulis sekarang juga di Kontrak Kerja itu?"
"Ih, itu sih curang namanya."
Tama mendekati Mei. "Memangnya kamu mau bilang apa sama Tristan tadi?"
"Bener kata Tristan tadi. Harusnya Kontrak Kerja gak ada hubungannya dengan kehidupan pribadi."
"Kamu kerja padaku! Kalo aku bilang tidak boleh ya tidak boleh!!" ucap Tama sengit.
Mei mengerut dahi. Baru kali ini Tama marah dan tak masuk akal begini. Daripada diteruskan ia memilih menghindar. Dengan kesal Mei berlari menaiki tangga hingga masuk ke dalam kamarnya.
Tama yang masih dalam keadaan marah berjalan ke arah dapur. Ia membuka lemari es. Di saat ia kesal atau marah, biasanya ia butuh pelampiasan dan kebetulan benda itu ada di lemari es.
Satu buah semangka dingin. Ia memotong-motongnya jadi beberapa bagian dan membawanya pergi ke taman belakang dekat jemuran. Di sana ia duduk di pintu yang terbuka dan dengan rakusnya ia memakan buah semangka itu hingga bajunya basah kemerahan. Ia senang mengunyah semangka dingin yang banyak airnya karena membantunya mendinginkan hati dan perasaannya saat itu.
______________________________________________
Author Nunuk Pujianti bercerita tentang kisah cinta saudara kembar yang merugikan salah satunya. Mendadak Nikah, yuk kepoin kuy!
__ADS_1